
Dor
"Farrel!!"
"Alan!!"
Semua orang tersentak kaget, termasuk Alan sendiri, peluru nyaris mengenai kepalanya, tanpa aba-aba Farrel menembakkan timah panas itu tepat mengenai cuping telinga Alan, dan berakhir tepat di foto Alan yang berada di belakangnya.
Foto yang sama yang terpasang di lobby perusahaan PT Adhinata, foto dimana Alan masih usia remaja dan Farrel yang masih berumur sekitar 10 tahun.
Mac terperangah melihatnya, dia nyaris berlari ke arah Alan, namun Alan sendiri mencegahnya dengan mengangkat tangannya.
Metta dan Dinda tak kalah kaget mendengar suara tembakan yang berasal dari bawah, dan bersiap-siap untuk keluar.
"Ini peringatan keras untuk mu! Aku tidak akan memaafkan mu jika ayah dan bunda tahu soal ini."
Farrel melemparkan senjata itu tepat di kaki Alan, "Lakukan apa yang harus kau lakukan Al!"
Lalu dia berjalan keluar dari plat itu dengan membanting pintu dengan keras. Alan terduduk lemas, darah mengucur dari cuping telinganya, namun bukan itu yang membuatnya lemah, Ayah dan bunda.
Metta keluar menyusul Farrel, sementara Dinda membantu Alan dengan membawanya duduk di sofa,
"Kau tidak apa-apa?"
Alan mengangguk, "Dia adikku, dia tidak mungkin menembakku, dia hanya marah!"
Dinda tak menjawabnya, dia membawa kotak peralatan P3K yang selalu ada di sudut ruangan, lalu membersihkan luka-luka Alan.
"Mac ... aku baik-baik saja, pergilah! Susul Farrel, aku takut dia bertindak!"
Mac mengangguk, setelah memastikan Alan tidak apa-apa dia keluar untuk menyusul Farrel dan juga Metta.
"Mac...." Panggilnya lagi.
"Siapkan anak buahmu dan tunggu aba-aba dariku!"
Mac mengangguk, walaupun dia tidak paham dengan apa yang Alan dan Farrel rencanakan, tapi dia tahu, Farrel tidak akan mengijinkan mereka menyentuh keluarganya. Begitu juga dengan Alan.
.
.
"El ... tunggu aku! El...."
Metta berlari kecil menyusul suaminya yang tengah dirundung amarah itu, dia keluar dari plat tanpa menunggunya atau ingat padanya.
Farrel terus berjalan hingga dia sampai di lift yang akan membawanya turun.
Metta terengah-engah dengan memegangi pinggangnya, Farrel melihatnya dan memegang tangannya, "Maafkan aku! Jika aku terus disana, aku takut tidak bisa mengontrol diri."
Metta mengangguk, dia menguap bahunya untuk sekedar menenangkannya.
Ting
Pintu lift terbuka, mereka masuk ke dalamnya, sebenarnya Metta punya banyak pertanyaan, namun dia memendamnya untuk saat ini. Lebih baik dia diam saja, karena Farrel masih memperlihatkan wajah datar nya, wajah yang nyaris tak pernah ditunjukan padanya kecuali saat berhadapan langsung dengan pemegang saham dan wakil direksi, dan saat ini lebih datar dari itu. Guratan-guratan kemarahan masih tampak jelas di wajahnya, dengan bibirnya yang mengatup sepanjang perjalanan menuju mobil, namun begitu, dia tak melepaskan tangan istrinya.
__ADS_1
Saat sampai di mobil pun dia langsung menyandarkan punggungnya disandarkan kursi, dengan memejamkan kedua matanya, sesekali hanya helaan nafasnya yang terdengar.
Mac masuk ke dalam pintu kemudi, melirik ke arah belakang sekilas lalu melajukan mobilnya.
"Aktingmu sangat bagus bos!" ujar Mac sesaat setelah mobil keluar dari basement.
"Akting? Acting apa?" Metta menatap Mac dari arah belakang lalu beralih pada suaminya.
Farrel menarik bibirnya tipis, "Tentu saja, dia selalu harus digertak, jika tidak dia tidak akan mengatakannya sendiri!"
"El ... apa yang kau maksud, akting apa?"
Farrel menoleh pada sang istri yang masih terlihat bingung itu.
"Aku hanya berpura-pura tahu semuanya, menelepon seseorang untuk mengirimkan info tentangnya, dan membuka pesan seolah itu dari orang yang aku suruh!"
"Agar Alan mengatakan semuanya dengan jelas, dengan begitu aku tahu dan...."
"Dan apa...?"
"Dan apa yang akan dia lakukan setelah ini, dia sudah siap jika suatu saat mereka menyerangnya, dia juga sudah siap jika dia akan masuk penjara. Bodoh!"
"Dia telah mempersiapkan semuanya dengan sempurna, aku bisa melihatnya dari dia bicara, selalu seperti itu." ungkapnya lagi.
"Jadi kamu tidak tahu sama sekali yang terjadi sebenarnya?" tanya Metta.
Farrel menggelengkan kepalanya, "Awalnya, tapi sekarang aku tahu! Dan semua gara-gara kau Mac yang tidak pernah memberikan ku info sedikitpun." sentak Farrel padanya.
"Tugasku menjaga rahasia, dan menjalankan perintah! Saat Alan memberiku perintah, aku akan melakukannya, membungkam mulutku walau nyawa taruhannya, begitu pula denganmu, aku akan melakukan hal yang sama! Dan caramu barusan luar biasa, kau tahu dari mulutnya sendiri, bukan dari aku!"
Mac berseringai, "Itulah sebabnya dia memilihku untuk menemanimu."
Metta masih terlihat bingung dengan penuturan mereka, lantas apa yang akan dilakukan Alan selanjutnya, dia tidak bisa membayangkan.
"Apa itu artinya kau akan membiarkan kakakmu melenyapkan mereka semua?"
"Apa kau ingin kita semua yang mereka lenyapkan?" Farrel balik bertanya padanya.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak bisa membayangkannya."
"Kita tunggu saja, biarkan Alan yang menyelesaikan apa yang telah dia mulai. Walaupun pada akhirnya dia akan dipenjara juga!"
Hening
Farrel kembali menyandarkan punggungnya, dengan tangan Metta yang terus dia genggam.
"Kakak jangan khawatir, Alan pasti akan mengurusnya dengan baik, yang aku takutkan justru bunda dan ayah tahu soal ini."
Benar juga, rasanya seperti mimpi, keluarga dekat kita terlibat dengan sesuatu yang besar, senjata api, penyelundupan, anak buah yang royal, kesetiaan, bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Melihat senjata api dengan matanya sendiri. Yang biasa dia lihat di film-film action.
Farrel menatap Metta dengan ekor matanya, dia memperhatikannya yang tengah terdiam melamun. Tangannya terulur membelai rambut hitam nya.
"Apa yang kakak fikiran hem?"
"Aku hanya tidak pernah menyangka semua yang baru saja terjadi, aku juga takut kamu bersikap konyol dengan senjata itu."
__ADS_1
Farrel menarik tipis bibirnya, "Tidak mungkin, tidak ada alasan bagiku untuk menggunakan senjata, kecuali sangat terdesak, ada orang yang menganggu keluargaku misalkan!"
"Dari mana kau belajar memegang senjata?"
"Dari game online." ucapnya datar.
Metta membulatkan kedua manik hitam miliknya. "Game online? Memangnya sama? Kau ini, bagaimana kalau tadi meleset, kau mengenai kakakmu sendiri!"
Metta memukul bahunya, "Kau selalu saja bersikap konyol, keterlaluan ... membuat aku sangat takut."
"Maafkan aku kak!" ujarnya menarik kepala Metta, membenamkannya di dada bidang miliknya.
"Aku tidak akan main-main soal ini! Bagaimanapun juga dia saudaraku. Dan aku tidak akan membiarkan dia kesusahan sendiri."
Metta melingkarkan tangan dipinggangnya, "Jangan berbuat aneh-aneh yang membuatku takut seperti tadi."
.
.
Alan tak sedikitpun meringis, saat Dinda membersihkan luka di pelipis dan sela bibirnya. Dia hanya memejamkan mata sesaat saat Dinda membersihkan luka gores di cuping telinga nya.
"Apa Farrel juga jago dalam menembak, tepat sekali dia hingga tak sampai melukai telingamu, cuma tergores sedikit saja."
"Entahlah, setahu ku dia tidak pernah memegang senjata kecuali saat bermain game."
Dinda mengernyit, "Apa dia diam-diam mempelajarinya?"
"Tidak mungkin, Mac pasti melaporkan semuanya padaku."
Dinda pun menutup kotak P3K dan menyimpannya kembali setelah selesai.
"Diam lah disini sampai aku kembali, jangan kemana-mana! Hubungi aku jika ada sesuatu. Kau paham? Jangan membuka pintu untuk siapapun."
Dinda mengangguk, beberapa hari ini dirinya sudah mulai terbiasa dengan ketegangan yang kerap terjadi.
"Apa kau akan pergi?"
"Aku akan ke kantor menemui Jerry,"
"Lakukan apa yang harus kau lakukan Al."
Kata-kata Farrel kembali terngiang, dia memang harus melakukannya, melenyapkan mereka semua sebelum mereka yang melenyapkannya.
"Aku pergi dulu!"
.
.
Biar lebih dapet Feelnya Baca kisah Alan dan Dinda di Assistant love, biar lebih afdol.
Jangan lupa kasih like, komen, rate 5, gift, dan vote.
Dan lope-lope untuk yang setia baca❤terima kasih.
__ADS_1