
Seseorang mendekat ke arah mereka, dengan di apit oleh kedua orang.
"Jadi ini sebabnya kau tidak mau menjual rancangannya padaku?"
Farrel menoleh ke arah suara, tidak ada raut kaget saat melihatnya, apalagi takut, wajahnya datar saja, dengan seutas senyum terbit dari satu ujung bibirnya.
"Mr Fernando?"
Pria tua itu menyodorkan tangan ke arahnya, membuat Alan yang memperhatikannya dari sudut ruangan mulai menajam, lirikannya pada Leon menjadi kode untuk mulai waspada, namun Farrel menggerakkan tangan ke arahnya, membuat langkah Alan terhenti dan kembali mundur, begitu juga Leon, Mac pun yang menyuruh anak buahnya tetap waspada didepan pintu.
"Kenapa dia bisa masuk begitu saja Mac?"
"Dia membawa undangan Bos!!"
"Siapa yang mengundang nya?" ucap Alan datar lalu menghilang di ruang kontrol.
"Tetap waspada ditempat kalian masing-masing, jangan lengah!"Seru Alan dari alat komunikasi yang tersambung pada ear phone masing-masing anak buahnya.
"Tentu saja, karena ini alasannya, rancangan sendiri untuk gedungku sendiri, bukankah suatu kebanggaan? Seberapa tinggi tawaran pun tidak akan sebanding dengan kepuasaan diri sendiri. Aku rasa kau juga faham itu Mr Fernando."
Prok
Prok
Fernand bertepuk tangan dengan keras, terlihat kedua mata pengawal yang berada di sampingnya memicing waspada.
"Jangan membuat ulah Mr Fernand, kau tahu persis apa yang bisa aku lakukan padamu!"
Fernand tergelak, sementara Erik berjalan menghampiri ayahnya, "Dadd... jangan membuat keributan di sini!"
"Ya ampun, kenapa kalian mencurigaiku? Aku hanya memenuhi undangan saja, jauh-jauh aku datang kesini, kalian tidak menghargaiku, dasar anak-anak muda zaman sekarang."
"Aku tidak mengundangmu sama sekali."
Membuat Alan yang kini berdiri di belakang Farrel pun terhenyak, Kalau Farrel tidak mengundangnya, lalu siapa yang mengundangnya.
"Ayah yang mengundangnya!" Seru Arya yang berjalan ke arah mereka.
"Ayah?"
"Apa?"
"Arya....Lama tak jumpa, aku minta maaf atas kekacauan yang di lakukan oleh putriku, aku sangat malu akan hal itu!"
"Sudahlah, itu sudah masa lalu, tidak usah diperdebatkan lagi."
"Aku juga minta maaf, atas ketidak sopanan kedua anak ku, mereka tidak menghargai orang tua."
"Tidak apa, wajar saja, karena aku pernah berlaku buruk pada mereka, dan sekarang aku kesini juga sekalian mau minta maaf."
Fernand mengulurkan tangannya pada Farrel, pria muda itu melirik sekilas pada Alan, menunggu sang kakak mengangguk, tak lama kemudian Alan pun mengangguk. Membuat Farrel merasa yakin tidak ada rencana atas kedatangannya.
Farrel menyambut tangan Fernand yang masih menggantung, mereka benar-benar berjabat tangan,
"Ayo Fer, kita kesana!" ajak Arya padanya.
Membuat tangan yang saling menjawab itu terlepas begitu saja, dia kemudian mengikuti langkah Arya, sementara dua orang anak buahnya mengikuti dengan mengambil jarak, begitu juga Erik, walaupun dia mendapat sorotan tajam dari Alan juga dari Leon, namun mereka tidak sama sekali membuat keributan.
"Sampai dimana tadi sayang?"
"Tahu ah," ujar Metta kembali tersipu.
Para tamu undangan mulai menghampirinya, berbincang-bincang serta memberikan selamat padanya. Sesekali meminta foto dengannya.
__ADS_1
Metta menarik jas, "Aku mau ke Dinda dulu,"bisiknya.
"Hati-hati sayang, perhatikan langkahmu!" ujar Farrel mengecup pipi Metta, membuat wajah itu kembali memerah bak tomat matang.
"Shaaunn...aku kangen banget!"
"Aku juga, gimana kabarmu? Mama sama padamu?"
"Mereka baik, mereka senang aku punya teman sebaik dan seberuntung kamu Sha!"
"Ah ... omonganmu!"
Mereka tergelak bersama.
Sementara di sudut tempat lain
"Kak Doni!" teriak Nissa saat melihat Doni yang melintas.
Mau tidak mau Doni menghampiri Nissa, juga Andra, sementara Ibu mereka tengah duduk satu meja dengan Arya dan Ayu, serta Fernand.
"Hai Niss...apakabar?"
"Baik kak, kak Doni sama siapa ke sini?"
"Sama ....!"
"Sama pacarnya lah Niss! Gimana sih, pake ditanya segala," seloroh Andra.
Membuat Doni gelagapan sendiri, dan menggaruk kepalanya.
"Benar kak? Memangnya pacar kak Doni yang mana?" ujarnya dengan manik yang menyapu seluruh ruangan.
"Kepo banget sih Lo!"
"Hah...ee ... iya gitu deh!"
"Ya udah mana, kalau kak Doni bohong, dan ternyata gak bareng pacarnya, Nissa aja yang jadi pacar kak Doni. Iya...iya...."
"Sembarangan lo ngomong dek! Mau abang sumpel tuh mulut." sentak Andra.
"Abang aja punya pacar, kenapa Nissa gak boleh?"
"Abang aduin kak Sha lho!"
Kedua mata Nissa sudah memerah, membuat Doni menjadi kalang kabut,
"Oke...oke kak Doni bawa pacar kak Doni kesini. Tunggu yaa!"
"Weeee...." menjulurkan lidah pada kakak laki-lakinya.
Doni berdecak berulang kali, bisa-bisa nya dia terbawa permainan anak kecil yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu. Lalu setelahnya dia malah kebingungan sendiri.
Doni keluar gedung, dia berdiri menghadap taman kecil dengan lampu-lampu menyala warna warni. Hingga dari kejauhan dia melihat Siluet bayangan perempuan yang tengah duduk.
"Tia...."
Perlahan-lahan Doni menghampirinya, Tia yang tengah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi itu sontak kaget melihat Doni sudah berdiri di depannya.
"Ngapain lo disini?"
"Gak ngapa-ngapain, sumpek aja gue di dalam dari tadi, jadi gue keluar dari angin!"
Doni duduk disampingnya,
__ADS_1
"Lo sendiri ngapain disini? Bukankah tugas lo didalam banyak?"
"Gue juga sumpek, jadi gue cari angin deh disini."
Tia menyenggol bahu milik Doni dengan bahunya, "Apaan sih, gak kreatif banget, jawaban gue itu!"
"Suka-suka gue lah!" ujarnya dengan menghela nafas berat.
Gue harus ke dalam dan memperkenalkan pacar pada Nissa, gue gak mau Farrel dan istrinya marah lagi kayak tempo hari gara-gara masalah yang di per buat oleh bocah itu!
"Lo mau tolongin gue gak?" cetusnya pada Tia.
"Tolongin apa dulu nih?"
"Jadi gini ...."
"Kak Doni, ih ternyata di sini! Nissa nunggu-nunggu kakak lho!" ujar Nissa yang tiba-tiba saja sudah berada di depannya.
Tatapan matanya membola pada Tia, memandangnya dari atas hingga bawah, "Jadi ini pacar kak Doni?"
Glek
Doni maupun Tia menelan saliva dengan susah payah, namun mereka tidak mengeluarkan kata sanggahan maupun pengakuan.
Nissa mengulurkan tangan pada Tia, "Hai kak, Aku Nissa, kakak benar pacarnya kak Doni?"
Tia yang merasa di bombardir itu melirik Doni, dengan cepat Doni menggenggam tangan Tia, "Sayang, tuh ditanyain Nissa, dia itu sudah aku anggap adikku sendiri, jadi dia selalu ingin tahu siapa gadis yang aku cintai, ayo sayang kenalkan dirimu!"
Tia gelagapan, meski hanya mengada-ngada kenapa puluhan bintang menggelitik di perutnya, hatinya terasa berbunga-bunga walaupun itu hanya bualan semata.
Dengan ragu Tia menyambut tangan Nissa, "Tia... Pacarnya kak Doni!" ujarnya dengan suara pelan.
"Ngomong yang keras sayang, Nissa tidak mendengarnya!"
Kedua manik Tia membola ke arah Doni, membuat Nissa akhirnya cekikikan.
"Orang pacaran lucu banget yaa, kok Kak Tia malah melotot!"
"Karena dia malu Nissa," ujarnya kembali menggenggam tangan Tia.
"Baiklah, Nissa harus kembali ke dalam! Takut ibu cariin Nissa, bye kak Doni, bye kak Tia." Nissa beranjak dan berlalu masuk begitu saja, tidak ada raut sedih maupun kecewa.
"Dasar bocah, ucapan saranghe yang selalu diucapkannya tidak bermakna sebenarnya."gumam Doni menatap punggung Nissa.
Tia menginjak kaki Doni dengan keras, "Apaan sih lo, ngadi -ngadi jadi orang! pake bilang gue pacar lo. Sembarangan!"
"Sorry, gue lakuin ini supaya dia berhenti gangguin gue, gue gak nyaman, dia itu udah gue anggap adik gue sendiri! Jadi itulah gue minta pertolongan lo."
Tia berdiri, dengan kedua tangan berkacak dipinggangnya, "Tapi gue belumbbilang mau apa enggak bantuin lo!"
Tanpa disangka Nissa kembali keluar dan menghampiri mereka kembali, Doni segera mengalungkan tangannya pada Tia, sementara Tia merasa jantungnya berhenti saat itu juga.
"Kak Tia kenapa marahin kak Doni? Nissa gak terima ya, tadinya Nissa pengen kasih ini buat kak Tia, tapi gak jadi." ketus Nissa yang meletakkan segelas minuman dimeja.
"Kak Doni itu jodoh Nissa nanti, kak Tia hanya jagain saja sekarang! Nissa bakal ambil kak Doni nanti, kalau Nissa sudah boleh pacaran! Jadi kak Tia jangan besar kepala, karena kak Doni cinta kak Tia." ucapnya dengan satu kali tarikan.
"Bye...." ujarnya kemudian berlalu kembali, meninggalkan segelas minuman yang tadinya akan dia berikan pada Tia.
Tia menatap Doni, begitupun sebaliknya.
"Freak gak sih?" gumam Tia.
"Makanya itu! Lo harus bantuin gue!"
__ADS_1