
Setelah urusannya selesai dikampus, Farrel kembali ke kantor. Doni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Mac saat ini tengah menemani Alan.
Jalanan yang semakin padat membuat mereka terjebak dalam kemacetan. Doni menyalakan tape mobilnya dan memilih lagu kesukaannya.
"Bos, rasanya sudah lama kita tidak bersenang-senang, aku rasa hidupku sekarang semakin sibuk." kelakar Doni sambil terkekeh.
Farrel yang berada disampingnya itu menghela nafas, dia menyandarkan kepalanya dibantalan kursi.
"Kamu baru kerja sekitar seminggu yang lalu, tapi bicara seolah sudah berpuluh tahun! Apakabar denganku yang semakin tidak punya waktu untuk sekedar menyalurkan hobi," Ucap Farrel dengan mata terpejam.
Doni masih mengotak-atik tape mobilnya, mencari lagu yang cocok baginya. "Untung aku bukan orang kaya," gumamnya.
"Memangnya kamu tidak mau jadi orang kaya?bagaimana kalau kita bertukar posisi seharian ini, aku lelah!" Farrel masih memejamkan matanya.
"Nih orang mulai ngaco!" Doni menggelengkan kepalanya.
Laju mobil saat ini hanya merayap, bunyi klakson masih terdengar silih meraung saling beradu.
"Orang-orang pada bego! sudah tahu jalanan macet, masih saja terus membunyikan klakson," umpat Doni.
"Apa tugas yang aku berikan sudah selesai?" sela Farrel masih dengan memejamkan matanya.
Doni menggelengkan kepalanya, meskipun Farrel tidak melihatnya, "Masih perlu waktu Rel, tugasku itu sedikit rumit."
"Apa susahnya sih, ketimbang gitu doang!"
Doni menolehkan kepalanya, "Gitu doang gimana, suruh orang nyari barang langka begitu itu perlu waktu. Kamu enak hanya memberikan sketsanya doang."
"Kamu fikir membuat sketsa sebesar itu gampang?" kali ini Farrel membuka matanya.
Doni terkikik, "Gampanglah, orang buatnya pake cinta," ledeknya.
"Sialan!" Farrel tergelak.
"Lagian ada-ada saja, kenapa gak beli apa kek, kapal pesiar kek, mansion kek, ini malah membuat suatu yang rumit." Doni mengerdikkan bahunya.
"Kamu gak bakal faham seninya, gak semua orang menyukai uang!" Farrel membela diri.
"Seni bercinta yang ada!" cibir Doni dengan kedua alis yang dia turun naikkan.
Farrel mendorong baru Doni hingga sudut kaca jendela mobilnya, "Sialan emang!"
Lalu mereka tergelak bersama.
Sementara dikantor
"Mettasha, Pak Farrel belum datang yah?" ucap Tiwi dengan membenarkan kaca matanya yang menempel di pangkal hidungnya.
Metta menoleh pada Tiwi, dengan sorot mata menajam seolah bertanya "Ngapain nanyain pacar orang!"
"Heh, malah ngeliatin doang! udah dateng belum?"
__ADS_1
Metta mengerdikkan bahunya, "Cari saja sendiri!" lalu berlenggang pergi.
"Sialan emang tuh orang, pantesan aja gak ada satu pun pria yang mau dekat-dekat sama dia." cibir Tiwi.
Tidak lama kemudian Farrel dan Doni sampai dikantor, mereka langsung masuk ke gedung divisi umum. Saat melewati para karyawan Farrel langsung tertuju pada meja Metta yang ternyata kosong,
"Kemana kakak."
Farrel melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sementara para karyawan yang melihatnya masuk mengucapkan sapaan pada mereka.
"Pagi Pak."
"Siang Pak."
Ucapan dari mereka berbeda- beda, namun Farrel hanya menganggapinya dengan anggukan. Sementara Tiwi berseringai saat melihat Farrel yang baru saja datang.
Doni membukakan pintu, membiarkan Farrel masuk duluan lalu dia mengekor masuk kedalam ruangannya.
"Enak banget sih jadi Bos, disapa tiap hari, disambut senyuman karyawan, apalagi karyawan para gadis-gadis cantik uuhh." kelakar Doni sambil menutup pintu.
Farrel mengernyit, "Mau coba? sekalian sama tanggung jawab dan segala kesulitannya!"
"Oh, tentu saja tidak. Aku lebih suka suara tepuk tangan saat naik di podium no 1 di ajang Esport," ucapnya dengan menggerak-gerakan tangan berulang kali.
Farrel membalikkan tubuhnya, "Nah aku baru ingat, bagaimana dengan Andra? Apa menurutmu dia akan berhasil jika lengannya masih belum sembuh total?"
"Tenang saja, masih ada waktu sampai kompetisi itu berlangsung, dan Andra cukup berpotensi. Hanya harus terus dilatih saja."
"Kuserahkan dia padamu!" dengan terkekeh.
"Sialan!" Doni ikut terkekeh.
"Sudah, mari kita bekerja! sebentar lagi aku harus ke kantor pusat menemui ayah."
Doni mengangguk, dia membuka agendanya hari ini dan memeriksa apa saja yang harus dilakukan oleh sahabat sekaligus atasannya itu.
"Hari ini hanya ada meeting dengan para staf pengadaan barang dan juga nanti siang ada 1 meeting diluar."
"Baiklah," Farrel duduk di kursi kekuasaannya lalu memeriksa berkas yang sudah bertumpuk dimejanya.
"Kau ingin aku buatkan kopi Bos?"
Farrel menaikkan sudut bibirnya keatas, "Tidak usah, nanti kekasih ku yang akan membuatkannya,"
"Nih, salah satu diantara kesibukanmu! masih bisa bertemu setiap hari dengannya."
Farrel terkekeh namun dia tetap pandangan tetap pada berkas yang tengah dia periksa.
Sementara Metta mengaduk coffelatte yang dia buat untuk Farrel, "Selesai ...Eeumh" Metta menghirup aroma yang menyeruak dalam gelasnya.
"Iya deh, iya yang bikin nya pake sayang itu gak bakal ada tandingan apa-apa," ucap Dinda yang tiba-tiba muncul dari belakang.
__ADS_1
Sontak Metta kaget, dan menoleh kebelakang, " Astaga, udah kayak hantu tiba-tiba muncul!"
Dinda menepuk lengan sahabatnya, "Heh, sembarangan kalau ngomong! dasar Shaun udah bucin sama berondong," cibirnya.
Metta menarik pelan rambut Dinda, "Kaca woi...ngaca!" lalu melangkah keluar dari pantry dengan gelas kopi yang dia bawa.
Namun tiba-tiba dia berpapasan dengan Tiwi saat akan kembali keruangannya,
"Eh Sha, itu buat Pak Farrel kan? Sini biar aku bawa, sekalian aku mau memberikan laporanku," ucapnya dengan tangan yang sudah mengenadah.
Metta menautkan kedua alisnya, "Sudah biar aku saja, lagian ini kan bukan tugasmu!" ucapnya dengan ketus.
"Gak apa-apa biar sekalian, jadi nanti kamu tinggal duduk dan menyelesaikan tugasmu, bukankah nanti ada meeting dengan staff gudang?" Ucap Tiwi meyakinkan.
"Memang benar, lagipula jika aku tetep bersikekeh, mereka pasti curiga."
"Kamu benar, ya sudah nih kamu aja yang nganterin ke ruangannya, dan jangan lupa ada Asistennya juga, aku belum sempat menawarinya juga!" Ucap Metta pada akhirnya.
Tiwi mengacungkan ibu jarinya, " Beres ..."
Lalu Tiwi membawa nampan itu dari Metta dan melangkah menuju ruangan Farrel. Tiwi merapihkan terlebih dahulu roknya sebelum mengetuk pintu.
Tok
Tok
Namun tidak ada jawaban dari dalam, Tiwi berinisiatif untuk langsung masuk saja. Dia pun membuka pintu dan melenggang masuk, tak lupa dia mengunci pintunya, lalu berseringai.
Tiwi melangkahkan kakinya kearah meja Farrel, "Maaf Pak Farrel, aku membawa kopi untuk bapak,"
Namun kursi yang biasa didudukinya mengarah kebelakang hingga Tiwi tidak melihat Farrel. Tiwi semakin mendekat kearah kursi dengan menggoda. Dia melangkah bak seorang model.
Dengan beraninya tangan Tiwi menyusuri bantalan kursi, "Pak El sedang ngapain?" ucapnya lembut dengan suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu.
Namun tetap tidak ada jawaban dari Farrel, yang terdengar hanya deheman kecil dan juga hembusan nafasnya.
"Sepertinya Pak El lelah, apa mau aku pijat." Suaranya semakin mendayu, ditambah tangan Tiwi yang mulai menjalar dibagian bahunya dari belakang.
"Oh... Shi't. " Pekiknya pelan.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran karena itu membuat Author receh ini tambah semangat. Tapi jangan loncat loncat dong yaa klik like nya.
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.
Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini
Terima kasih buat semua dukungannya
__ADS_1