
"Maaf ... aku tidak sengaja!" ujarnya pada Metta.
"Tidak apa, aku juga minta maaf."
Setelah itu dia masuk kedalam toilet sementara Metta kembali ke ruang vip,
"Sayang, kenapa lama?"
Metta memutar bola matanya malas, penyakit posesif suaminya tengah kambuh,
"Istrimu hanya pergi sepuluh menit ke toilet, kau sudah sangat resah, sudah seperti ibuku yang kehilangan satu sendok miliknya!" Kelakar Doni.
"Diam kau, aku tidak minta kau bicara!"
Seketika Doni mengatupkan bibirnya.
Tak lama kemudian tim perusahan yang akan melakukan meeting pun tiba, meraka masuk dengan di antar oleh waiters, Doni terperanjat saat melihat Tia yang masuk setelah Fara.
"Kita bertemu lagi Pak?" Ujar Fara menyodorkan tangan, namun Farrel mengabaikan tangan yang masih menggantung itu,
"Kamu...?"
Tia mengangguk, "Halo ... " ucapnya.
Metta tak kalah kaget saat melihat wanita yang hampir bertabrakan dengannya di depan toilet ternyata Tia.
"Kakak mengenalnya?"
"Tidak, hanya saja tadi bertemu dengannya di toilet, kita tidak sengaja bertabrakan.
"Benarkah??" Aku bilang juga apa, kakak tidak mau aku antar, jadinya begitu kan!" ucap Farrel yang kemudian menatap tajam pada Tia seolah hendak marah padanya, karena membahayakan istri dan anaknya, " Bagaimana kalau tadi kakak terjatuh, aku tidak akan memaafkan wanita itu!"
Metta menatap ke arahnya, "Sudah El, ngomelnya nanti saja," gumamnya.
Dia pun mempersilahkan mereka untuk duduk. Doni masih terkesima melihat Fara, namun Tia menancapkan kedua mata padanya dengan tajam, membuat Doni mendecih ke arahnya.
Dia lagi ... Dia lagi.
Mereka pun mulai berbicara tentang pekerjaan, sesekali Farrel melirik Doni yang tengah menatap wajah Fara. Hingga dia harus menyikutnya beberapa kali untuk mengingatkan nya.
Fara sendiri mulai merasa risih, dia menatap Doni dengan jengah, membuat Tia kembali membulatkan mata ke arahnya dengan tajam.
"Maaf aku permisi sebentar!" Ucap Fara yang bangkit lalu meninggalkan ruangan Vip itu.
Doni yang masih penasaran pun ikut keluar dan mengikuti Fara.
"Fara ...maksud ku bu Fara!"
Fara menoleh, lalu kembali berjalan masuk kedalam toilet, hingga Doni memilih menunggunya keluar.
__ADS_1
Sesaat kemudian Fara keluar, dan tersentak karena melihat Doni yang bersandar di tembok dengan tangan yang bersikedap.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu!"
"Harus berapa kali aku katakan, Aku bukan wanita yang kamu maksud, aku ini Fara. Dan aku baru kembali ke kota ini, Aku sudah menikah dan aku punya anak." terang Fara.
"Apa. mungkin kalian kembar, maksud ku kamu dan wanita yang aku maksud?" ucap Doni yang masih penasaran.
"Tidak...." tukasnya.
"Sudah aku bilang, berhenti mengganggu bu Fara, apa kau tidak mengerti juga!" Ujar Tia yang menyusul Fara.
"Gue gak nanya pendapat lo!" jawab Doni ketus.
Tia maju mendekat, "Gue gak peduli, lo udah mengganggu kenyamanan bu Fara! ngerti gak lo cowo aneh!"
"Heh ... gue hanya mastiin kalau dia bukan wanita yang aku cari, aku hanya memastikan!"
"Alasan klasik," gumam Tia.
Fara pun kembali berjalan masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Doni dan Tia yang tengah ribut itu.
"Gue udah bilang, gue hanya mastiin saja."
"Terus sampai kapan? Sampai rambut lo beruban semua, baru kau akan menyerah?"
"Dasar cewe gila!" Doni mendecak,
Brakk
Doni mendorong tubuh Tia hingga membentur tembok, "Jangan banyak bacot, dan jangan ikut campur urusan gue! Ngerti lo."
Doni menghempaskan tubuhnya begitu saja, membuat Tia kaget melihatnya.
Lalu Doni meninggalkan Tia begitu saja, dia melihat punggung Doni yang tengah marah itu hingga masuk kedalam ruangan.
"Kenapa dia begitu marah! Apa tebakan ku benar?"
.
.
Doni kembali masuk ke dalam ruangan, dia menghempaskan tubuhnya di kursi, air mukanya tiba-tiba berubah buruk, Tia yang baru saja masuk pun duduk disebelah Fara. Dia pun menunduk dengan wajah yang mengkerut.
"Sepertinya kita sudahi saja dulu meeting ini! Ujar Farrel yang suasana hatinya pun ikut memburuk.
"Tapi El....!" gumam Metta.
"Saya setuju, lebih baik kita rescejule lagi nanti!" ujarnya dengan membereskan berkas diatas meja.
__ADS_1
Farrel mengangguk, dia pun menutup laptopnya kembali,
Setelah kepergian Fara dan Tia, Farrel menggebrak meja.
Brakk
"Aku ingetin sekali lagi sama kamu, pisahkan urusan pekerjaan dan juga masalah pribadi! sentaknya pada Doni.
Metta mengelus lengannya, "Sudah El ... ayo, lebih baik kita kembali saja."
"Sorry bos!" ujar Doni.
"Dan harus berapa kali aku bilang, dia bukan Tiwi!" ujarnya Farrel kembali.
Doni terdiam, Kenapa sesulit ini menerima kenyataan jika Tiwi dan anakku ternyata sudsh meninggal.
"Ayolah Don! Aku tahu ini berat, tapi ini memang kenyataan yang harus kamu terima."
Metta terus mengusap lengan Farrel.
"Lebih baik kau pulang saja, kamu butuh waktu sendiri Doni!"Tambah Metta.
"Dan kamu juga sayang!" Ucapnya pada Farrel.
Mereka lantas keluar, Metta dan Farrel berjalan melewati beberapa sudut kafe tersebut.
Namun Tia terlihat menunggunya, sengaja menunggunya.
"Aku mau minta maaf!"
Doni mengabaikannya, dia terus berjalan keluar menuju mobilnya, walaupun Tia mengikutinya dari belakang.
"Sekali lagi gueminta maaf sama lo, jika kata-kata gue bikin lo tidak nyaman."
Doni masih terdiam, dia tetap berjalan seolah tidak ada siapapun yang mengikutinya.
"Hei ...gue minta maaf!" Ujar Tia dengan menarik ujung jas milik Doni dari belakang.
Doni berbalik, "Gue udah bilang, jangan ikut campur dengan masalah gue. Dasar Cewe aneh!"
"Gue baru saja meminta maaf! Tapi sepertinya lo pendendam sekali."
"Pergilah dari sini!" gumam Doni dengan menyorot padanya.
"Heh ... dasar cowo tak tahu diri, lo fikir di dunia ini hanya ada lo dan kesedihan dengan semua masalah- masalah lo!"
Doni mengepalkan tangannya, dan meninju kearah wajahnya, hingga Tia memejamkan kedua matanya.
Brakk
__ADS_1
Kepalan tangan Doni mengenai mobil bagian belakang, "Harus berapa kali gue bilang! Tapi lo gak paham juga?"
"Jangan ikut campur!!"