Berondong Manisku

Berondong Manisku
Dua adik sudah cukup


__ADS_3

Cup...


Bibir Metta tepat berada di pipi Farrel.


Farrel menarik sudur bibirnya hingga melengkung, kembali mengemudi dan fokus memecah jalanan.


Sementara Metta tercengang, dadanya bergemuruh. Dihari yang sama harus mengalami 2 kejadian ,dicium farrel dan mencium Farrel. Dan rasa menggelitik itu semakin kentara.


" Kau sengaja kan?? menoleh pada saat yang tepat" ujar Metta dengan kesal, dengan memukul punggung Farrel beberapa kali.


"Tidak, Aku hanya beruntung saja" ujar Farrel.


Jawaban yang semakin membuat Metta geram, kembali memukul punggung Farrel bahlaj lebih keras dari sebelumnya.


" Kakak yang menciumku, kenapa menyalahkan aku" sahut Farrel meringis.


" kau sungguh menyebalkan"


Metta berusaha memundurkan tubuhnya sedikit kebelakang, mengurai pelukan nya dan beralih memegang besi yag ada dibelakang joknya.


" Sialan, jantung ku benar benar berkhianat" batin Metta.


" Lho ini jalan mau kerumahku " tukas Metta melihat jalan yang dia hapal walau dengan menutup mata.


" hem.." ucap Farrel


" Bukannya kau ingin pulang"


" Aku seorang laki- laki sejati, mana mungkin membiarkan seorang perempuan mengantar ku pulang" ucap Farrel dengan bangga.


Metta membisu, entah dia mau ngmong apa semua tercekat di tenggorokan.


" Sikap bocah itu membuatku pusing"


"kadang menyebalkan, membuatku semakin kesal tapi tiba tiba bisa melakukan hal yang manis seperti ini".


Sepeda motor sudah berhenti tepat di depan rumah Metta, Mereka pun turun.


" Kamu bawa motorku saja" Ujar Metta membuka helmnya.


" Kalo aku bawa motor besok kakak pake apa? "


" jangan-jangan besok kakak ingin aku jemput yaa" ujae Farrel dengan menaik turunkan alisnya sebanyak 2 kali.


" ish..kau ini " Metta menepuk kasar lengan Farrel.


" Berhenti bicara macam-macam"


" Dan berhenti menggodaku"


" Cx kakak kenapa galak sekali "


"Mau kucium lagi" Farrel menggodanya.


Metta membulatkan tajam kedua manik hitam nya pada Farrel,


"Ekkhem.. Kalian sedang apa toh disini? bukan nya masuk ? Tanya ibu yang baru saja datang.


" Sha..ayoo ajak nak Farrel masuk,!"


" Enggak bu..dia mau langsung pulang


" iyaa bu .."


tukas Metta dan Farrel berbarengan.


Sang ibu menatap keduanya bergantian, bibirnya melengkung ke atas.


" Ayoo nak Farrel masuk" ujar Sri menggandeng lengan Farrel.Meninggalkan Metta yang masih di belakang.


" Ayo kak..masuklah" ujar Farrel mengajak Metta.


" Heii ini rumah ku, kenapa malah aku yang jadi..."


Metta menghentikan ucapan nya dan menunjuk dirinya sendiri..


" Aahkk..terserah lah" Metta melangkah langsung masuk ke kamarnya, melewati mereka.


" Dih ibu maen gandeng aja, emang dia truk mesti di gandeng segala" tukas Nissa yang tengah menonton Film korea kesukaannya.


Kedua matanya menatap sinis ke arah Farrel.


" Hust...gak boleh ngomong begitu" sahut sang ibu.

__ADS_1


" Udah Sana kedapur buatkan minum dulu "


" Ayoo nak farrel silahan duduk, maafkan Nissa yaa,"


Farrel mengangguk,


" Ga apa apa bu, Nissa kan bercanda " sahut Farrel dengan mengedarkan pandangannya mencari Metta.


"Kakak kemana sih, apa dia tidur?" Batinnya sambil melirik jam tangannya.


" Niih minumannya" ucap Nissa ketus.


" Makasih yaa dek"


" Dek..dek..gue bukan adek loe"


" Iyaa sekarang memang bukan, tapi nanti bakal jadi adek juga"


Farrel terkekeh.


" Ngarep loe.."


Nissa berbalik meninggalkan Farrel.


" Dek tunggu.."


Nissa membalikkan tubuhnya.


" Apa.."


Farrel merogoh dompetnya, mengeluarkan lembaran biru yang menggoda iman Nissa.


Melihat Nissa tak mengedipkan matanya, Farrel menarik tipis bibirnya ke atas.


" Niih buat kamu"


Jiwa miskin Nissa meronta melihat 2 lembaran biru mengibar ditangan Farrel. Tangannya terangkat ingin menyambar secepat kilat.


" Eit..ada syaratnya"


" Apaan ada syaratnya segala"


" Liatin kakak dulu, koq gak keluar keluar, apa kakak tertidur?"


" Gitu doank syaratnya?"


" Gampang itu bang..." Nisaa menjentikkan jari telunjuk nya kemudian menyambar 2 lembaran biru itu ditangan Farrel.


Farrel hanya menggelengkan kepala saat melihat perubahan dari Nissa.


🍁🍁


" Kak ..kak..."


" Kakak tidur yaa"


" Iyaa.." sahut Metta


" Tidur koq masih bisa jawab"


"kaak pacar kakak masih diluar tuh "


Nissa baru aja masuk ke dalam kamar kakaknya yang tengah berbaring.


" Lah dia belum pulang juga."


Nissa mengerdikkan bahu nya.


" Mana aku tau kaak.."


" Justru aku disuruh liatin kakak, ketiduran apa enggak katanya."


Seketika Metta menutup mulutnya.


" Maafin Nissa yaa Alloh, tapi sekali ini doank kok, maafin Nissa kak Sha" batin Nissa


Metta hanya berdecak heran, melirik jam yang simpan diatas meja.


" Bang andra juga belom pulang kak"


" Kemana tuh bocah jam segini belum pulang"


"

__ADS_1


" Iyaaa kak, yaa udah Nissa balik ke kamar duluu yaa"


Sementara Andra sudah berada diruang tamu bersama dengan Farrel.


" Eeh elu disini "


" Hem..kenapa emang?


" Gue gak yakin kalo loe pacar kakak gue, secara gue tau kakak gue "


Farrel mengernyit,


" Gue juga yakin kakak gue gak bakal suka sama cowok model loe apalagi loe lebih muda,


Yaa kali seumuran adiknya " Andra mengherdikan bahunya.


" Kalo ternyata kakak loe suka gue?"


" Yaa kali cowok seumuran adiknya dipacarin, yang jelas cowok udah dewasa aja kakak gue gak mau " timpal Andra.


" Yaa liat aja nanti, Kakak loe pasti milih gue"


" Percaya diri sekali anda yaah"


" Kita liat aja, dan sampe loe bikin kakak gue sakit hati, gue gak akan tinggal diem " Andra menunjuk kedua bola matanya sendiri kemudian diarahkan pada Andra sebagai kode.


" khem..."


Suara deheman Metta membuat perdebatan Farrel dan Andra terhenti, tatapan saling menajam keduanya beralih ke arah suara.


" Loe kemana aja nyon, loe gak liat jam apa?" Tukas Metta pada Adiknya.


" Tadi habis T.O langsung diajakin nongkrong bentar kak"


Pplukk...


Sebuah bantalan kursi melayang ke arah Andra.


" Aw...Kak" Andra memegang kepalanya.


" Kalo nongkrong inget waktu, kasih kabar juga kalo kemana mana" ujar Metta kesal.


" Gue udah bilang ibu koq tadi, nih buktinya" Andra merogoh ponselnya dan memperlihatkan pesan yang dia kirim pada ibunya.


Namun ternyata ada tanda jam di pesan yang dikirimkannya itu.


" Kak..nomornya ..." Nissa muncul dari belakang pintu kamarnya.


" Apa loe..nih dia nih adik kampret ngabisin data internet gue yang udah sangat terbatas buat nontonin cowo cowo yang suka bengong doank" ujar Andra


" Ngeles aja" tangan Metta memukul bahu adiknya.


"Pppfftt.."


" Apa loe ngetawain gue " tukas Andra pada Farrel.


" Enggak" sahut Farrel menahan tawa


" Entar loe bakal rasain apa yang gue rasain sekarang" sahut Andra dengan menaikkan sebelah sudut bibirnya keatas.


" Kakak gak bakal ngelakuin itu sama gue" tatapan tajam dia arahkan pada Andra.


" Yaa kan kak " ucap Farrel beralih menatap Metta.


Ppluk..


Bantalan kursi melayang ke arah Farrel.


" Dua adik udah cukup, jangan nambah masalah " ketus Metta menyilangkan kedua tangannya didada.


Farrel meringis dan mengusap pelan kepalanya, sedangkan Andra tertawa dengan memegang perutnya.


" Rasain loe, gue bilang juga apa"


" Eeh ehh...ada apa koq ribut-ribut gini "


" Yaa ampun Sha, kenapa marahin anak ibu" ucap Sri yang membulatkan kedua matanya ke arah Metta dan beralih menatap Farrel.


" Emang Dia anak ibu??"


Ketiga nya saling menatap.


🍁🍁

__ADS_1


Sempet meragu sih diri ini buat lanjut, tapi balik lagi diri sendiri juga yang mengatakan segala sesuatu yang sudah dimulai, kudu bisa di selesaikan, Semangat dirikuπŸ˜‚πŸ˜‚


Salam geje😘


__ADS_2