
"Kita pulang ..." Metta mengangguk.
"Kenapa kamu ada disini? bukankah harusnya kamu sedang menghadiri rapat akhir direksi?" tanya Metta saat sudah berada di dalam mobil.
"Aku sengaja memundurkan waktunya,"
"Apa ada masalah?" Farrel menggeleng, "Lalu kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa perasaan ku tidak enak dan ingin menyusul kakak." Farrel meraih tangan Metta dan menggenggamnya.
"Maaf seharusnya aku menuruti saranmu tadi,"
"Sudah Tidak apa-apa,"
"Apa kakak baik-baik saja,? Faiz menyakiti kakak?"
"Aku terdorong saat menahannya, dan aku yakin dia gak sengaja melakukannya."
"Sepertinya dia butuh perawatan yang lebih baik lagi,"
"Iya, sepertinya begitu!"
Metta menatap lekat kekasihnya itu, "Kok aku merasa kamu lebih dewasa sekarang?"
Farrel menautkan jarinya disela jari Metta, "Kakak, aku kan harus belajar lebih dewasa lagi, apalagi nanti kalau kita su- "
"Su- apa mau bilang apa, jangan macam-macam!"
Farrel terkekeh, "Kakak ikut aku ke kantor ya,"
"Maaf Pak manager, tapi hari ini saya libur. Masa di suruh ke kantor juga!" mendelik kearah Farrel.
Farrel terkekeh dan menarik tubuh Metta, mengecup pipinya, "Menemani Bos sendiri kan bisa," bisiknya di telinga Metta.
Metta menggeser tubuhnya kembali, "Ih, kamu ...!" jangan bersikap seperti itu," Metta melirik Mac dari belakang kemudi.
"Mac tidak melihat apapun, iya kan Mac?"
"Saya tidak melihat apapun Mas," sahutnya dengan melihat spion.
"Tuh kakak dengar sendiri kan?" Farrel terkekeh.
"Kalian sama saja."
Tak lama kemudian mereka sampai diperusahaan, Mac turun lalu membuka pintu untuk Farrel, lalu berlari kecil membuka pintu yang ternyata sudah terbuka, " Tidak usah Mac, aku bisa buka sendiri! " rasanya terlalu sungkan, dan juga tidak terbiasa.
Mac mengangguk, lalu mundur beberapa langkah, membiarkan Farrel dan Metta berjalan terlebih dahulu, lalu dia mengekor dibelakangnya.
Farrel menggenggam tangan Metta, menyusuri Aula perusahaan, membuat para karyawan melihatnya penuh tanya, apalagi penampilan Metta terlihat biasa saja, dia bahkan hanya mengenakan jeans dengan atasan kaos dan juga sneaker biasa, rambutnya dia gerai begitu saja, dengan riasan yang tampak natural.
Semua mata memandang kearah meraka, menelisik genggaman tangan mereka, tatapan mereka membuat Metta rendah diri, dia berusaha melepaskan genggamannya. Namun Farrel semakin erat dan tidak ingin melepaskan.
Farrel berjalan dengan gagah, tubuhnya yang tumbuh semakin tegap, wajahnya berubah menjadi datar, bak topeng yang selalu siap di balik jas yang dia kenakan, wajah Farrel berubah dalam hitungan menit.
"Tegakkan bahu kakak, berjalanlah dengan percaya diri, I won't let you go ( Aku tak akan melepaskanmu)"
Ada rasa yang menghangat didalam sana, Metta tersenyum melihat ke arah Farrel yang juga tengah melihatnya.
"Percaya padaku," ucapnya lalu Metta mengangguk.
Mereka berdua masuk kedalam lift, diikuti Mac dari belakang. "Apa kakak gugup?"
Metta menoleh, "Harusnya aku yang bertanya padamu?"
"Ya sudah, kakak tanya saja!" Farrel terkekeh.
__ADS_1
"Tadinya aku ingin bertanya, tapi tidak jadi ..." Metta merengut.
"Memangnya kenapa?"
Metta terkekeh, "Aku sudah tau jawabannya."
"Ih Kakak kenapa jadi menyebalkan,"
Metta tertawa, "Sudah ayo pasang topeng yang tadi, mana, disimpan dimana, kita akan segera sampai." Metta menyibakan jas Farrel.
Farrel merangkul pinggang Metta, "Kakak jangan memancingku ya!"
Beruntung pintu lift terbuka, Metta dengan cepat menarik dirinya, Mac yang sedari tadi berdiri dibelakang hanya diam, entah apa yang dia fikirkan, membuat Metta yang merasa malu sendiri.
Mereka masuk kedalam ruangan, tempat Farrel akan berkerja, ruangan yang didesain sendiri olehnya. Meskipun sekarang masih Alan yang sering menggunakannya dari pada dirinya sendiri.
Metta terpukau melihat ruangan, Matanya tidak berhenti berkeliling, "El, ini ruanganmu bekerja?"
"Kenapa hem, kakak suka?" Farrel memeluk Metta dari belakang.
"El lepas, ada Mac!"
"Aku suruh keluar kalau begitu! Mac-...?"
Metta terkesiap, "Jangan ... Mac jangan pergi! Kau ini ...," ucapnya melepaskan tangan Farrel yang masih erat di pinggangnya.
Membuat Farrel tertawa saat Metta memperlihatkan kepanikan, "Kakak kenapa sangat menggemaskan sekali," Farrel mencubit pelan hidung Metta.
"El, sebentar lagi kamu rapat, jangan bercanda terus!" Metta menggosok hidungnya yang gatal.
Pintu ruangan terbuka, Alan masuk kedalam dengan beberapa berkas ditangannya, "El, astaga disini kau rupanya!" menatap Metta dengan sekilas.
Kedatangan Alan sontak membuat Metta kaget, dia tidak berani memandang Alan yang dia tau sebagai CEO dingin dan angkuh.
"Kau membuat pacarku ketakutan Lan, apa wajahmu sedingin Es seperti ini setiap hari?"
Farrel terkekeh, "Ketus sekali ..."
Alan menoleh, kearah Farrel, "El, kau sudah siapkan semuanya?"
"Hem," Farrel menjawab dengan meniru gaya Alan.
"Apa laporan ini sudah kau baca?"
Farrel memasukan tangan kedalam saku celananya, meniru cara Alan berdiri dan bicara, "Jangan banyak bertanya!"
Metta bahkan tersentak, dia hanya diam memperhatikan dua pria yang berada dihadapan nya itu. "Sepertinya mau bertengkar,"
"Hei, ada apa denganmu? Aneh ...Kau sakit?"
Alan menghampiri Farrel, menempelkan tangan di dahinya, "Aku tidak ada-apa." Farrel melepaskan tangan Alan.
"Pppfftt...Kau ini kenapa?" Alan tertawa, sedangkan Metta menatapnya heran,
Farrel ikut tertawa, "Seperti itu lah dirimu ...pantas saja dirimu itu terkenal dengan sebutan Manekin hidup"
Metta menyorot tajam pada Farrel, dia takut Farrel mengadukan siapa yang memanggilnya begitu. slalu beralih pada Alan yang tengah tertawa lepas.
"Ternyata dia bisa juga tertawa."
"Sialan kau!" Alan memukul bahu Farrel yang masih tertawa.
Alan mengambil berkasnya, dan menyiapkan semua yang akan dibutuhkan nya saat rapat. "Sudah ayo kita pergi El, rapat akan segera di mulai."
"Kakak kau tunggu disini yaa, jangan kemana-mana!"
__ADS_1
Metta mengangguk, " Iya ..."
Alan tiba-tiba menarik sudut bibirnya, dia menatap Metta, lalu tersenyum. "El, aku duluan ya ..."
"Hah, apa itu tadi. Apa dia sedang tersenyum? Dinda harus tau ini ..." Metta merogoh ponselnya.
"Baiklah, aku segera menyusul."
Farrel mendekat pada Metta dan, "Ingat yang aku katakan, jangan kemana-mana yaa!"
"Aku tunggu di kantorku saja bagaimana?"
Farrel menyelipkan tangannya di leher Metta,"Tunggu aku disini, jangan kemana-mana!kalau perlu kakak kunci pintunya!"
Metta mengangguk begitu saja, sentuhan Farrel di lehernya membuat sesuatu mendesir dalam tubuhnya. Farrel tiba-tiba menyambar bibir Metta dan melu'mat lembut. "Itu hadiah karena kakak menurut padaku."
Metta terkesiap, "Apa... menurut dan tidak menurut, hadiahnya sama-sama menguntungkan kamu!"
Farrel terkekeh, " Kalau gitu nanti kakak ambil keuntungan bagian kakak setelah aku kembali oke." mengerling pada kekasihnya itu.
"Ish... Kau ini! sudah sana pergi,"
"Bos, waktunya pergi" Doni menyembuhkan kepalanya dari balik pintu.
"Hai kakak..."
"Sudah kubilang jangan memanggilnya kakak!" Farrel mendaratkan pukulan dibahu Doni.
.
.
Akhirnya Rapat akhir Direksi telah dimulai, semua sudah duduk di tempatnya masing-masing. Termasuk Arya sebagai Direktur Utama,
" Terima kasih atas kehadirannya semua dihari yang ceria ini, terutama untuk Direktur Utama perusahaan yang sangat sibuk ini," kelakar Farrel mengawali pembukaan Rapat akhir.
Semua orang tampak tersenyum, tak terkecuali Arya yang sesaat melihat Farrel bak melihat sosok dirinya saat seusianya.
"Baiklah sesuai kesepakatan para pemegang saham dan Dewan Direksi yang memberikan saya kesempatan, akhirnya hari ini saya Farrel Adhinata akan memberikan laporan kinerja saya selama batas waktu yang telah disepakati."
"Don, tolong bagikan sekarang."
Doni membagikan lembaran laporan pada semua orang, termasuk Arya, setelah selesai Doni kemudian kembali berdiri dibelakang Farrel, menyalakan Proyektor besar yang berada di depan.
"Baiklah, silahkan dicermati baik-baik."
Beberapa orang terlihat sangat puas, mengamati semua laporan tertulis maupun yang ditampilkan dalam Proyektor yang menyala, mengangguk-ngangguk dan tak sedikit yang terkesima dengan pembawaan Farrel menakjubkan.
"Baiklah semua sudah saya lampirkan, hasil kerja keras yang saya peroleh. Terima kasih atas waktu dan kesempatan besar yang diberikan kepada saya."
Farrel menutup Rapat dengan begitu memukau, tidak ada rasa gugup maupun ragu. wajahnya terpancar sempurna dihari itu melebihi biasanya.
Suara tepuk tangan riuh bahkan pria tambun yang sangat meragukannya tempo hari kini dia melakukan Standing applause yang diikuti oleh yang lainnya.
"Congrats MR Farrel, your achievements are so stunning."( Selamat Tuan Farrel, pencapaianmu begitu memukau).
Farrel tersenyum dengan puas, semua kerja kerasnya selama ini berhasil, semua orang bangga padanya. Para pemegang saham menyalaminya, Dewan direksi memberikan dukungan penuh agar Farrel menduduki posisinya sebagaimana mestinya.
Seseorang menatapnya dengan bahagia, pelupuk matanya memanas, bulir bening menganak diujung mata. "Ayah bangga padamu Nak."
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa..
__ADS_1
Terima kasih untuk semua dukungannya🌷🌷
Happy weekend❤