Berondong Manisku

Berondong Manisku
Masalah diantara rencana bahagia2


__ADS_3

Dua hal yang terjadi berkaitan dengan Alan tidak bisa lepas begitu saja dari fikiran Farrel, bagaimana mungkin dia yang tengah berencana menikah dalam waktu dekat itu, membiarkan saudaranya sendiri dalam masalah.


"Aaahhhkkkkk...Alan sialan! Bagaimana bisa dia menyimpan sesuatu yang besar ini sekian lama."


"Sabar Mas...."


Mac hanya menatap Farrel dari spion, " Dia juga tidak akan mungkin hanya diam saja, dia pasti akan bertindak, kita tunggu saja!"


"Sampai kapan Mac, aku ini akan menikah?"


"Iya Mas...."


Bahkan hari ini sudah diucapkannya ratusan kali.


Bayangan senjata api sungguhan yang baru dia lihat sore tadi, dan juga kehamilan Tasya yang masih belum diketahui siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.


Farrel merogoh ponsel yang dia letakkan dibalik jaket nya, kemudian mendial nomor Doni.


"Kemarilah, temui aku di apartement." ucapnya dari sambungan telepon lalu memutuskannya sebelum Doni menjawab.


"Rel ta api, kebiasaan!" Doni yang tengah bersantai dihari liburnya.


Tak lama mobil yang dikendarai Mac sampai di apartemen. Mac membuka seat belt yang masih melingkari pinggangnya. Lalu turun bertepatan dengan mobil Doni yang baru saja sampai.


"Kau gila yah, aku bahkan tidak mempunyai libur sedikitpun." ujar Doni dengan berdiam diri dipintu masuk lobby apartemen.


"Sorry... Tapi masalah ini lebih penting dari pada hari liburmu itu." ujar Farrel yang sudah keluar dari mobil saat Mac akan membuka pintunya.


Kemudian mereka beriringan masuk kemudian masuk kedalam lift. Farrel, Doni, serta Mac. Hanya mereka ber-3 yang berada didalamnya, hingga Farrel pun leluasa bertanya.


"Kamu masih suka bertemu Tasya?" tanya nya saat pintu lift tertutup.


"Tasya...?" Farrel mengangguk, "Tidak pernah lagi,"


"Di kampus?" Tanya Farrel kembali.


"Tidak pernah juga, bahkan namanya saja sudah tidak lagi aku dengar." jawabnya lagi.


Doni menatap heran, "Tumben nanyain dia! Awas lho ketahuan."


"Apaan emangnya? Kakak sudah tahu kok," mengerdikkan bahu.


Doni mengernyit, "Seriously, dia tahu kalau kamu ...."


Farrel menoyor Doni, "Heh bego, jangan mikir macam-macam, aku hanya tanya kau tahu tidak, gak lebih dari itu yaa,"


"Aku ini akan segera menikah!" tambahnya lagi.

__ADS_1


Nah kan sudah diucapkannya lagi. Batin Mac.


"Ya...ya terserah kau saja!" jawab Doni tak peduli.


Ting


Lift terbuka, Farrel berjalan keluar disusul oleh Mac dan Doni di belakang yang hanya saling memandang kemudian saling membuang muka. Cih


"Jadi kita mau ngapain nih Rel?" tanya Doni masih dengan penasaran.


Mac membuka pintu plat milik Farrel,


"Dih, dia sekarang jadi tukang pintu!" cibir Doni saat Mac membuka pintu lebar untuk Farrel masuk, namun saat Doni hendak masuk, Mac menutupnya.


"Sialan kau Mac, awas saja nanti kalau aku sudah punya plat sendiri." ucap Doni menahan pintu agar tidak tertutup.


Mac menatap tajam kearahnya, dan dibalas dengan tatapan tajam pula. "Apa kau...."


"Kalian bisa tidak bekerja sama sekali saja," Hardik Farrel yang membuat keduanya langung berburu masuk hingga keduanya saling bertabrakan diambang pintu.


Farrel menggelengkan kepalanya. "Mac jaga sikap mu, jangan meladeni bocah tengil itu!"


Mac mengangguk. Sedangkan Doni mencebikkan bibirnya, Terserah.


"Jadi untuk apa kau menyuruhku kesini? Hanya untuk bertanya soal Tasya?"


"Kenapa tidak bertanya saat tadi ditelepon, tidak usah menyuruhku kesini jika hanya bertanya soal itu!" Doni mendaratkan tubuhnya disofa.


"Ada tugas untukmu, 2 tugas! Aku akan belikan kau sebuah apartemen jika kau bisa melakukan tugas ini dengan baik," Ujar Farrel dengan meletakkan soft drink di atas meja.


Doni menatap Farrel dengan mata yang berbinar, "Seriously??" Farrel mengangguk.


"Apa tugasnya?"


"Pertama, kau selidiki tentang kehamilan Tasya?"


"Hah...Seriously!? Tasya hamil?"


"Hm...aku melihatnya tadi siang, dan ini ada hubu--"


"Jangan bilang ini ada hubungan nya sama kamu? Astaga...." Doni menepuk keningnya.


Lagi-lagi Farrel menoyor sahabatnya itu, "Denger dulu...."


Mac menyalang pada Doni. Bodoh


"Kehamilan Tasya ada hubungannya dengan seseorang, gak usah tahu..., yang jelas aku gak ada hubungannya." jelas Farrel.

__ADS_1


Doni menganggukkan kepalanya, "Oke, aku faham! Terus yang kedua?"


"Yang kedua paling penting dari pada yang pertama," tukas Farrel dengan wajah yang lebih serius lagi.


"Apa...?"


Mac yang sedari tadi berdiri pun ikut mencondongkan tubuhnya sedikit agar dapat mendengar bosnya itu berbicara dengan pelan.


"Percepat pelatihan Andra,"


Doni sontak membulatkan matanya kearah Farrel. sementara Mac tersentak lalu menggelengkan kepalanya.


"Mana bisa begitu Rel..., Itu kan ada sistemnya, gak bisa-gak bisa!" Doni mengibas-ngibas tangan nya.


"Ya sudah, kalau gitu. Kau kerjakan tugas yang pertama, dan...."


"Apa ...?"


Farrel mengetukkan jari dimeja, "Aku cancel Apartementnya,"


Doni berdecak, "Heh... mana bisa begitu!"


"Terserah..., pilihan ada di tanganmu, kalau kau berhasil dua-duanya, kau dapat apartement, kalau hanya satu tugas,"


"Void agreement (Perjanjian batal)" imbuhnya kemudian.


"Sialan..., kau sama licik nya seperti dia!" tunjuknya pada Mac yang kini menatap nya dengan nyalang.


Farrel mendengus, "Aku jelas beda kemana," ucapnya kemudian.


Doni terlihat berfikir, dengan tangannya yang berulang kali mengusap dagu, hingga akhirnya,


"Oke aku ambil dua-dua nya!" ucapnya dengan tangan yang terulur.


"Oke deal...Segera kabari aku hasilnya!" Doni mengangguk.


Setelah itu Doni kembali pulang dan meneruskan pekerjaannya yang tadi tertunda.


"Mas, apa kau yakin Doni bisa mempercepat pelatihan Andra? Kenapa bukan Mas saja, bukankah Mas Farrel donatur utama dalam pelatihan itu?" ujar Mac.


Farrel kembali mendudukkan tubuhnya disofa, "Tentu saja bisa, dia kan atlet senior. Dia juga pelatih inti. Kalau aku sendiri yang turun, kakak pasti marah padaku,"


"Bisa-bisa dia membatalkan pernikahan kalau itu terjadi." Imbuhnya lagi.


Mac mengangguk, "Benar juga Mas..."


Benar juga apa yang di katakan Doni, dia licik juga.

__ADS_1


"Hei Mac...aku tahu apa yang kau fikirkan."


"Aku tidak mengatakan apa-apa?" Ucap Mac.


__ADS_2