Berondong Manisku

Berondong Manisku
kakak, tunggu aku!


__ADS_3

Metta kaget dengan tindakan Farrel yang tiba tiba, bahkan tak pernah menyangka apa yang baru saja dilakukan bocah itu. Namun disisi lain Metta tak mampu menolaknya. Dia merutuki dirinya yang ternyata menginginkannya.


" Astaga Sha, loe udah gila" hatinya mulai bersuara.


" Apa yang kau lakukan?" ucap Metta setelah mendorong tubuh Farrel.


" Aku mencium kakak " Jawab Farrel dengan seringaian di bibirnya.


" Kau fikir hal ini main main hah?


Farrel menggelengkan kepalanya


" Tidak "


" Lantas kenapa kau melakukannya?"


" Aku hanya melakukan apa yang ingin ku lakukan " sahut Farrel dengan tatapan yang begitu meneduhkan.


" Ah..Kenapa dia manis sekali " batin Metta


" Apa kau tidak tau malu, lihat lah orang orang disini melihat apa yang kamu lakukan"


" Jadi kakak ingin kita melakukannya ditempat lain?" Farrel mengangkat ujung bibirnya ke atas.


" Apa yang gue bicarakan" batin Metta


Metta berusaha menutupi rasa gugup yang sedang menyerangnya, namun Farrel dapat melihatnya dengan jelas.


"Bodoh bukan itu magsudku" Ucap Metta menaikan nada bicaranya.


" Apa kakak ingin ku cium lagi?" Ucap Farrel


" Kau sudah gila!!"


Farrel mencondongkan tubuhnya kedepan, mendekatkan wajahnya dengan wajah Metta. Metta memundurkan tubuhnya kebelakang, namun sial karena kursi yang Metta duduki itu paling ujung dan menempel dengan tembok dibelakangnya. Metta tidak bisa menghindar, dia memejamkan matanya.


Farrel yang terus mencondongkan wajahnya tersenyum melihat Metta tengah memejamkan mata.


" Sial kakak terus menggodaku" batin Farrel menahan hasratnya untuk mencium nya lagi.


" Apa yang kakak lakukan hem" ucap Farrel,


jari nya diarahkan ke wajah Metta guna mengambil bulu mata Metta yang terjatuh.


Saat itu juga Metta tercengang dan membuka matanya.


Farrel menunjukan bulu mata yang baru diambilnya.


" Aku hanya mengambil ini"


" Apa kakak benar benar menunggu ciumanku" Kali ini Farrel terkekeh.


" Kamuu.." Metta menekankan ucapannya, mengepal tangan nyaa menahan kekesalan. seiring rasa malu datang menyergapnya,


" Berhentilah main main " Metta kali ini menggebrak meja. Menutupi semua rasa kesal, gugup serta malu yang datang mengeroyok dirinya.


Farrel sungguh dapat menerka dengan mudah apa yang sedang dialami Metta, terlihat jelas tercetak di wajah cantiknya. Dan lagi lagi Farrel ingin terus menggodanya. Membuat kesal Metta menjadi candu baginya.


" Jadi Kakak ingin aku seriusin" Farrel terkekeh.


" Kau benar benar gila" ucap Metta dengan bibir yang mengerucut.


Farrel tertawa terbahak dan memegangi perutnya.


" Kakak ini sangat lucu dan menggemaskan, sudah.. aku tidak tahan lagi"


" Aku benar benar menyukai kakak " tukas Farrel.

__ADS_1


Metta lagi lagi tercengang, dia tidak bisa menerka semua sikap Farrel terhadapnya.


Manik hitam yang membulat sempurna itu terus diarahkannya pada Farrel yang sangat menyebalkan baginya.


" Kau sungguh menyebalkan" gumam Metta, namun Farrel masih bisa mendengarnya.


Farrel hanya terkekeh mendengarnya.


" Sekarang kakak makan lah"


" Aku tidak akan menggoda kakak lagi"


Acara makan siang mereka terasa sunyi, tidak ada perdebatan lagi diantara mereka, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar, sesekali Farrel menatap Metta.


Sementara Metta merasa dirinya terjebak dengan perasaan nya sendiri. Padahal selama ini dirinya sangat lihat menyembunyikan perasaannya, namun entah kenapa sekarang dia tidak berhasil menyembunyikan nya.


" Aku seperti orang yang bodoh saja" Batinnya terus mengutuk dirinya sendiri.


Matahari tepat berada di ubun ubun kepala, teriknya menusuk pertahanan kulit. Rasa hangat menjalar keseluruh tubuh, dan terlihat warna biru mendominasi luasnya langit. Diiringi angin sepoi yang setia menggerakkan dahan dan daun.


Mereka keluar dari cafe, berjalan beriringan dengan senyum sumringah tercetak jelas diwajah Farrel, sementara Metta memasang wajah datar tanpa ekspresi. Mereka melewati taman yang lumayan ramai.


Tidak sedikit orang memperhatikan mereka khususnya memperhatikan Farrel, tentu saja itu karena tinggat ketampanan nya yang diatas rata rata.


" Liat cowonya cakep banget"


" Benar benar cakep"


" Apa dia artis"


" Siapanya kakak itu"


" Ah aku mau jadi pacarnya"


" Apa dia mau ku ambil jadi menantu"


" Ah..calon imamku baru saja lewat"


" jodohku..aku disini "


Metta mendengus kasar, Suara suara riuh terdengar dari segerombolan perempuan, mungkin sepantar Nissa adiknya. Bahkan para ibu ibu pun ikut memperhatikannya, namun Farrel bersikap tidak perduli sama sekali.


" Astaga orang orang pada kenapa yaa"


" Tuh biji mata sampe keluar semua"


"Kayaknya gak pernah liat cowok cakep,, eeh"


Batin Metta seraya diam diam memperhatikan Farrel.


" Dia memang tampan " eeh..


Farrel menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Metta. menarik bibirnya melengkung.


" Kakak, Aku serius dengan ucapanku" tukas Farrel


" Ucapan yang mana, banyak yang kau bicarakan dari tadi" timpal Metta


" Aku benar benar menyukai kakak" sahut Farrel


Metta terdiam, entah apa yang harus dia katakan. Dirinya saja tidak mengerti tentang apa yang sekarang dirasakannya.


" Aku akan berusaha dengan keras, jadi kakak harus tunggu aku yaa" lanjut Farrel.


" Tunggu..tunggu apa?? " batin Metta


" Berusaha untuk apa?"

__ADS_1


" Ah..aku benar benar tidak mengerti" Metta bermonolog dengan dirinya sendiri.


Sebenarnya dia ingin bertanya, bahkan banyak pertanyaan melintas dikepalanya. Namun kata kata itu tercekat di tenggorokan.


Farrel menuju mobilnya, membuka pintunya untuk Metta, setelah memastikan Metta masuk dia melangkah memutar ke arah kemudi. Dan diam diam Metta mengikuti pergerakan Farrel.


" Astaga dia benar benar manis"


" Jantung please bekerja sama lah dengan baik, kau milikku..kenapa malah memihak padanya"


Farrel masuk kemudian tersenyum kearah Metta yang sedang menatapnya lekat, kemudian menggosok pelan kedua matanya.


" Aw..mataku sakit"


" Kamu kenapa" ujar Metta panik, tangannya terlihat gelagapan hendak memegang kepala Farrel atau matanya.


" Mataku sakit karena melihat malaikat cantik sedang menatapku" sahut Farrel terkekeh.


Metta terhenyak, membenarkan posisi duduknya dan mendekap kedua tangan didadanya.


" kau fikir aku akan luluh dengan pujian menjijikan itu"


" Kamu benar benar sakit,"


Farrel tertawa melihat Metta yang kesal.


"Salah Kakak kenapa sangat menggemaskan begitu"


Metta mengerucutkan bibirnya, dirinya benar benar merasa dipermainkan oleh bocah itu, namun entah kenapa hatinya justru merasa sedang tersenyum. Hatinya benar benar berkhianat pada dirinya sendiri.


" Sudah ayo pergi, jam makan siang ku sudah berakhir " tukas Metta kemudian.


____


"Sha..loe kemana sih gue sampe jamuran nungguin loe" seru Dinda saat Metta tiba dimeja kerjanya.


" loe fikir loe tempe bisa jamuran " sahut Metta sambil mendaratkan tubuhnya dikursi.


" Eeh gue serius..loe tadi kemana" ucap sahabatnya itu.


" Emm.. anu.. tadi gue ada urusan "


Metta belum siap jika menceritakan semua pada Dinda. Dirinya juga merasa malu jika sahabatnya itu tau kalo dia baru saja pergi dengan bocah yang menyebalkan namun sangan Tampan dan manis itu.


membayangkan nya saja membuat bibir Metta melengkung tipis.


"Woi..malah senyum senyum loe"


" Ada yang loe sembunyiin dari gue yaa " Dinda memicingkan kedua matanya .


" Apaan sii enggak kok" sahut Metta gelagapan.


" Loe gak mau cerita nih sama gue " Dinda mendekap kedua tangan ke atas dadany.


"Ok Fine kalo gk mau cerita, loe emang gak nganggep gue sahabat loe, gue gak akan nanya loe lagi " ujar Dinda kemudian berlalu meninggalkan Metta.


" Bukan gitu din..Ok nanti gue ceritain tapi gak sekarang" sahut Metta.


Sementara Dinda tersenyum, memang begitulah Metta, harus selalu memberinya sedikit ancaman jika ingin Metta menceritakan apa yang terjadi. Kalo tidak Metta pasti akan menyimpannya rapat rapat.


" Dasar peak, harus selalu diancam begini"


Dinda berbalik dan memasang wajah datarnya , pura pura marah.


" Ok..gue tunggu loe siap"


kemudian berlalu menuju meja kerjanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2