
"Nak El, sudah pulang ternyata?" seru Sri yang melihat Farrel masuk bersama Metta kedalam rumah.
Farrel menghampiri dan menyalaminya , " Iya bu, baru tadi pagi,"
"Lho, kenapa gak istirahat? memang gak cape nak dijalan?"
"Iya cape bu kalau pulangnya jalan kaki mah," sela Andra menggoda ibunya.
"Ish ... kau ini!" Sri memukul lengan Andra yang tengah bermain game.
"Lagian ibu pake ditanya, Kalau bang Farrel cape juga, dia gak bakal muncul disini bu, ya pasti sekarang lagi bobo nyenyak di kamarnya! Iya gak bang?" Timpal Nissa.
Farrel hanya mengumbar senyum, sungguh dia menjelma sebagai sosok pemerhati dirumah itu.
Farrel duduk disofa, sementara Andra dan Nissa berselonjor kaki dibawah karpet, dia memperhatikan kedua adik Metta yang sebentar lagi akan menjadi adiknya juga. Sementara Metta langsung masuk kedalam kamar nya dan berganti pakaian.
"Ndra? kelulusan sekolahmu kapan?" ujarnya
"Gak sampe 6 bulan lagi," Farrel mengangguk.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa cuma tanya saja!"
"Bang, kok aku gak ditanya?" celetuk Nissa.
Andra menarik sedikit rambut adiknya, hingga meringis, "Nyambar aja sih!"
"Biarin, weee," ujar Nissa dengan menjulurkan lidahnya.
"Terus persiapanmu ke negara M bagaimana?" tanya Farrel kembali.
Duh nanya mulu perasaan....batin Andra.
"Minggu depan bang aku pergi, ini ngurus dulu surat perijinan buat sekolah, mereka minta surat ini itu karena aku harus absen di Try Out sekolah, demi pergi ke sana,"
"Kalau ada yang bisa ku bantu bilang saja, jangan sungkan. Kalau perlu aku bisa datang kesekolahanmu untuk mengurus perijinan." ucap Farrel dengan mengangguk-nganggukan kepala nya.
"Wah, repot- repot! tapi itu ide bagus, mereka bisa lebih percaya kalau abang yang datang, secara yang datang itu sponsor terbesar," Andra terkikik namun Metta yang baru saja keluar dari kamar langsung membulatkan kedua maniknya menatap Andra.
"Memangnya kamu gak repot kalau ngurusin perijinan ke sekolahan Andra?" tanya Metta yang langsung mendudukkan dirinya disamping ibu nya.
Farrel menggeleng, "Sama sekali enggak, aku kan abangnya, Iya gak Ndra?"
Andra malah menatap Metta begitupun dengan dia yang menatap Andra yang terlihat menahan senyumnya agar tidak melebar. Lalu sejurus Andra mengangguk ragu, sementara Nissa menggaruk kepalanya tak mengerti.
"Jadi kapan ke sekolahan nya Ndra?"
"Lusa bang,"
"Oke ... kalau gitu!" ucap Farrel yang semakin mantap jika dia sudah menjelma menjadi seorang kakak dirumah itu.
Lalu Andra merebut camilan yang berada ditangan Nissa dan langsung memasukkannya kedalam mulutnya. "Iiihh...Jorok!"
.
.
"Doni, batalkan semua meeting hari ini." Ucap Farrel yang bangkit kursi kebesarannya, dia bangkit lalu merapikan jas yang dikenakannya.
__ADS_1
"Heh, gak bisa gitu dong! meeting akan dimulai setengah jam lagi," ucap Doni yang baru saja memeriksa berkas yang akan di bawa saat meeting.
"Bisa ...atur saja! untuk itu aku mempekerjakanmu bukan?"
Doni berdecak, "Terserah situ bosnya..., lagian mau kemana coba?"
"Aku akan pergi mengurus adikku dulu!" dengan penuh bangga Farrel menyatakannya didepan orang lain.
"Hah ...." Doni terbelalak,
Farrel menepati janji nya sebagai sosok kakak yang mengurus adik nya dengan mendatangi sekolahan Andra untuk mengurus perijinan. Meskipun harus meninggalkan meeting sekalipun.
Sementara Doni kembali berdecak, karena sudah pasti akan kerepotan menghandle klien yang mungkin sudah setengah perjalanan ketempat meeting, syukur-syukur jika klien yang dia hadapi dapat memaklumi, Kalau tidak dia akan selalu menjadi bulan-bulanan kekesalan para partner.
Namun Farrel adalah Farrel, dia akan melakukan hal yang ingin dia lakukan tanpa ada yang dapat menghentikannya, kecuali satu orang. Mettasha.
Farrel kini berjalan menuju lift nya, bukan ift yang biasa dia pakai sama seperti para karyawannya. Kali ini dia sengaja memakai lift khusus, agar lebih cepat atau apalah yang penting tidak tidak terlambat dan tidak mengecewakan adiknya.
"Hum ... beginikah jadi seorang kakak?" Farrel tersenyum hanya dengan memikirkannya.
Seorang kakak?
Punya adik dua.
Farrel terkikik, untung saja dalam lift itu tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya. Hingga tingkahnya tidak perlu diketahui orang lain atau bisa jadi ditertawakan.
Ting
Lift terbuka, Farrel langsung melangkah keluar dan menuju mobilnya yang sudah siap didepan pintu keluar.
"Mac?"
Dreet
Dreet
Ponselnya bergetar, Farrel merogoh ponsel didalam saku dibalik jasnya. Menatap jengah pada nama seseorang yang terpangpang di layar yang menyala itu.
"Hm....apa?
"Cx ... kau mau kemana? bukankah harusnya kau meeting dengan bagian perencanaan proyek itu?"
"Aku dijalan, kau atur saja! kalau sudah selesai, aku akan kesana." Farrel dengan gesit menutup sambungan telepon itu.
Alan mendengus, "Kebiasaan!"
Farrel memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jasnya, melirik jam tangan lalu tersenyum tipis entah pada siapa. Dan semua tidak luput dari penglihatan Mac yang Menatap nya dari spion.
Tak lama kemudian Farrel sampai disebuah sekolahan, dengan gerbang tinggi yang kini tertutup, bertanda jam belajar masih berlangsung didalam sana.
Mac kembali masuk setelah bercengkrama dengan security yang membuka gerbangnya, lalu dia masuk kembali kedalam mobil.
Tak lama kemudian Farrel masuk, kedalam sebuah ruangan dengan tulisan 'Ruangan kepala sekolah'
Seseorang menyambutnya dengan senyum yang nyaris penuh disepanjang bibirnya.
"Perkenalkan saya kakaknya Andra," dengan bangga Farrel memproklamasikan dirinya,
Kepala sekolah itu terlihat memperhatikan wajah lalu beralih pada penampilan Farrel dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Silahkan duduk, apa kau kesini untuk mengurus perijinan nya?" Farrel mengangguk.
"Betul adik saya itu," ujarnya dengan penuh penekanan.
"Maaf tapi setahu saya kakak nya Andra itu seorang perempuan, apa anda....? Ucapnya menggantung karena suara ketukan dipintu.
"Ooh ... Andra mari masuk! kakak mu sudah datang," ucapnya pada Andra yang berdiri diambang pintu.
Dengan mengernyit, Andra melihat Farrel yang dia kira akan datang bersama Metta, namun ternyata datang seorang diri. Andra masuk dan duduk disamping Farrel. Membuat Kepala sekolah itu tertegun melihat mereka yang tampak seumuran meski tubuh Farrel lebih tegap dengan wajah yang lebih tegas.
Setelah selesai dengan urusan nya Farrel keluar ruangan disusul oleh Andra dibelakangnya.
"Makasih ya bang," ucap Andra, yang dibalas dengan anggukan.
Irfan serta Jaka menghampiri mereka, dan menatap Farrel dari atas hingga ujung sepatunya.
Jaka menyikut lengan temannya, "Ini ... Orang yang Andra bilang?"
"Mungkin ... sepertinya iya!" bisik Irfan.
"Sepertinya kita tidak jauh beda, tapi dia kok terlihat lebih mentereng dari pada kita,"
"Daripada kita, elu aja sendiri!" toyor Irfan kemudian berjalan dengan cepat kearah Andra.
"Ndra ayo," ucap nya dengan bola basket di tangannya.
Andra dan juga Farrel menatap kearahnya, "Kalian mau main basket?"
"Ayo ...kau bisa dribble bola kan? bukan hanya file file kantoran yang biasa kau pegang!" Andra meragukan Farrel.
"Hm...sedikit!"
"Kalau kau kalah, kau harus mentraktir kami jajan," ucap Irfan dan disusul kekehan oleh Andra dan juga Jaka.
"Jajan, cih! dia bahkan bisa membelikan mu siomay beserta penjualnya." ucap Andra
Farrel berdecak, Jadi ini yang ditakutkan kakak, mereka benar-benar tidak dewasa. Yang mereka fikirkan hanya jajan, bahkan aku bisa membelikan mereka satu toko sekaligus, yaa meskipun aku tidak punya teman seakrab ini selain Doni.
Mereka kini berada ditengah lapangan, terlihat para siswa perempuan yang menatap Farrel dengan berbinar, bak melihat artis korea yang menjadi idola mereka.
Banyak bibir berdecak kagum bahkan terang terangan melakukan cat calling pada Farrel.
Suit...suit
Andra siapa itu Ndra...kenalin dong.
Suit...suit
Aaaaaakkkh....
Tak ayal sebagian dari siswi perempuan itu berteriak memberi dukungan saat Farrel melakukan shooting (Memasukkan bola basket kedalam keranjang lawan) lalu dengan cekatan melakukan three point (Melempar dari jarak jauh)
Membuat Mereka mendengus kasar,
"Astaga ... kalian ini"seloroh nya
.
.
__ADS_1