Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kepala Divisi baru


__ADS_3

Farrel belum juga pulang kerumah, ada sesuatu yang harus di urusnya mengenai pekerjaannya di kantor, Alan malah tengah sibuk, beberapa hari ini dia absen dari kantor karena beberapa urusan berkaitan dengan perusahaan miliknya sendiri.


Andra sudah pulih dan sudah diperbolehkan pulang, sementara Metta kembali disibukan oleh beberapa laporan pekerjaan, hingga hampir setiap hari pulang terlambat.


Hari ini suasana kantor mendadak riuh, setelah posisi kepala divisi cukup lama kosong, hanya pewakilan dari divisi pemasaran yang ikut menghandle pekerjaan, begitu juga karyawan sempat berspekulasi tentang kandidat yang cocok menggantikan Bastian. Silih dorong bahkan silih sikut menjadi hal biasa terjadi disebuah perusahaan.


Dan hari ini, spekulasi mereka terpatahkan oleh pengumuman tentang akan datangnya kepala divisi yang baru. Dan sebuah mobil hitam berhenti didepan pintu masuk.


"Coba tebak, kepala divisi kita perempuan atau laki laki,"ucap Dinda pada rekan satu ruangannya.


"Gue sih berharap laki-laki ya,"


"Memangnya kalau laki-laki kau mau apa hah?"


"Ya, kali aja jadi jodoh gue, kita kan gak tau ya kan,?


Beberapa ada yang terkikik namun ada juga yang berdecak malas.


"Rasanya gue mending gak punya atasan kayak kemarin kemarin tahu gak."


"Enggak tau, ppfftt." ucap Dinda."Awas loe," balas rekannya lagi.


Sementara Metta hanya bergeleng, sesekali ikut tertawa pelan saat ada yang lucu. Mereka kembali harap harap cemas saat mobil yang dari tadi sudah terparkir, namun tidak ada yang keluar dari dalamnya.


"Taruhan tua apa muda,? sikut Dinda pada lengan Metta.


"Sama saja, mau tua mau muda pekerjaan gue tetep gini gini aja." Sahut Metta yang tidak mengalihkan pandangan pada layar komputer di depannya.


Hingga derap langkah kaki mulai terdengar semakin jelas, bertanda sosok yang tengah menjadi buah bibir diantara mereka itu mulai memasuki ruangan.


"Perhatian semua," ucap Manager pemasaran yang selama ini menggantikan Bastian sementara.


Orang-orang seketika terdiam," Hari ini, kita kedatangan manager baru untuk menggantikan Pak Bastian." Menghela nafas, lalu menoleh kearah pintu, "Mari kita sambut manager kita yang baru."


Derap kaki kian mendekat, sepasang sepatu pantofel terlihat, dengan balutan satu stel kemeja dan jas berwarna hitam, membalut tubuh tinggi tegap, semua orang terpana melihat sosok pria beriris mata coklat yang kini berdiri dengan gagah. Mereka seakan terpesona oleh keindahan dihadapan nya.


Namun tidak untuk Metta dan juga sahabatnya, mulut mereka menganga dengan saling menatap tak percaya.


"Astaga, apa itu dia,? Dinda menyenggol lengan sahabatnya.


"Entahlah, gue gak salah lihat kan?"


"Baiklah, teman-teman tanpa menunggu lama lagi. Ini dia manager baru kita," tepuk tangan mulai terdengar riuh.


"Silahkan Pak," manager pemasaran mengangguk.


"Baik, terima kasih atas sambutannya. Perkenalkan nama saya Farrel Adhinata, manager di divisi ini selama 3 bulan kedepan."

__ADS_1


"Jadi selama itu, mari berkerja sama dengan baik."


Para karyawan tampak terkagum serta bangga dengan manager yang masih terlihat muda itu.


"Astaga, itu beneran dia kan"


Tidak ada kekonyolan dari sosok berdasi hitam dengan garis gold yang membuatnya lebih elegan. Raut wajahnya pun terlihat datar, bukan wajah yang sering membuatnya kesal itu.


"Bagaimana ada pertanyaan?"ucap manager pemasaran.


"Berapa usia Pak manager,?"


"Iya betul, sudah punya pacar belum Pak?" lalu disusul oleh tawa dari rekan rekan yang lain.


Dengan senyum simpul disatu sudut bibirnya, Farrel memasukkan satu tangannya kedalam saku celananya.


"Itu privasi," menyorot pada Metta, "Saya tidak harus menjawab pertanyaan semacam itu. Disini"


Metta semakin dibuat tidak percaya, "Dia beneran El yang selama ini gue kenal,?" bibirnya mengatup menunggu jawaban berikutnya. "Baik, kalau begitu kita mulai saja bekerja."


Lalu Farrel beserta beberapa orang dari divisi pemasaran dan bagian personalia berbalik pergi dan masuk kedalam ruangannya, ada perasaan perih di hati Metta, Farrel yang selalu menyebalkan berlalu begitu saja melewati dirinya.


"Apa dia benar-benar El," memejamkan mata, "Astaga...."


Tubuh Metta merosot didalam kursi kerjanya, bahkan Farrel tidak mengatakan apa-apa dan terus saja memberikan kejutan kejutan yang membuatnya terheran. Berbanding 180 derajat dengan Farrel yang selama ini selalu bertingkah konyol dan menyebalkan.


Tak lama rombongan dari bagian personalia dan divisi pemasaran tampak keluar dari ruangan, diikuti Farrel yang ikut keluar juga.


Metta yang masih belum sadar sepenuhnya melonjak dari duduknya. "Sa-Saya, em- m, Pak." mengangkat tangan kirinya.


Farrel melihat sekilas pada Metta, "Keruangan saya sekarang juga," ucapnya dingin dengan berlalu.


Tubuh Metta mendadak lemas, lututnya seolah tak mampu menopang tubuh lagi. "Sha, lo baik baik aja kan?"


Metta mengangguk, namun wajahnya terlihat pias. Dia bahkan tidak tahu harus memanggil dengan sebutan apa pada kekasihnya itu. Kekasih yang begitu banyak menyimpan rahasia. Dan benar-benar tidak bisa ditebak.


Metta mengambil berkas berkas yang sudah selesai dikerjakan, lalu pergi dengan gontai menuju ruangan Bastian, ah maksudnya ruangan Farrel. Merapikan roknya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengetuk pintu.


Tok


Tok


Metta menunggu jawaban dari dalam, "Hem..."


"Maksudnya apa suara hanya deheman barusan,"


Dengan ragu Metta membuka handle pintu, "Masuklah," Suara yang selama ini selalu terdengar manja berubah menjadi datar.

__ADS_1


Metta berjalan masuk, dia melangkah mendekati Farrel yang tengah duduk di kursi yang dulu ditempati Bastian tanpa menoleh sedikitpun padanya.


"Astaga, kenapa gue merasa aneh gini?"


"Simpan saja di meja,"


Lagi-lagi kata kata itu diucapkannya dengan datar, pandangan nya tak juga beralih pada dirinya maupun berkas berkas yang telah dia letakkan di meja.


Metta menunggu Farrel memanggilnya "Kakak..."


"Simpanlah Kak," Atau "kakak, menurutlah."


Namun Farrel tak juga mengatakannya, Dia hanyut dalam pekerjaannya sendiri dan Metta merasa diabaikan. "Kenapa aku harus peduli"


"Ka- ka- Kalau begitu saya permi-si"


Metta melangkah menuju pintu, hatinya kini terasa sakit, karena Farrel mengabaikannya, langkahnya menghentak seiring kekesalan yang tak mampu dia keluarkan.


Namun pintu yang baru saja hendak dibukanya, tertutup kembali oleh dorongan tangan dari arah belakang, Metta terkesiap dengan tangan yang kini mengerat pinggangnya, "Mau kemana hem,"


Farrel mendorong tubuh Metta hingga menempel dipintu, gerakan yang tiba-tiba membuat Metta membalikkan tubuhnya dan jarak mereka menjadi sangat dekat, membuat jantung Metta berpacu lebih kencang.


Hembusan nafas Farrel mengenai wajahnya, yang kini semakin merona, "Kakak tidak bisa pergi begitu saja,"


Entah kenapa hatinya lega mendengar Farrel memanggil dengan biasanya. "Kukira kamu lupa siapa aku,"


"Mana mungkin, aku bahkan rela melakukan apapun untuk kakak," menyelipkan anak rambut Metta kebelakang telinganya.


Farrel mendekat pada wajah Metta hingga hembusan nafas kian memanas, "Bahkan aku semakin gila karena kakak," ucapnya tepat di telinga.


Dengan nafas yang memburu Farrel menyambar bibir Metta yang tipis menggoda, melu'matnya sangat dalam, dengan lidah yang menari kian lihai, membuat Metta terbuai dan membuka mulutnya dan ikut menari didalam sana.


Tangannya semakin mengerat di pinggang Metta, hingga turun ke bawah menyentuh bokongnya yang sintal, membuat Metta melenguh seketika.


"Aaaahhhk...."


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan terus dukung karya remahan aku ini yaa. Jangan lupa juga mampir di karya kedua aku yang masih beberapa bab itu.


...^^Assistant Love^^...


Karena ini hari senin, dan vote sudah tersedia. Boleh lah vote karya aku🤭 yaa,, Atau bunganya barangkali, kopi juga boleh lah.. 😊

__ADS_1


Selamat Hari senin❤


Terima kasih😘


__ADS_2