Berondong Manisku

Berondong Manisku
Royal Suite Room for MP3


__ADS_3

"Kak ..."


"Hmm, kau belum tidur?"


Farrel membelai-belai rambutnya, lalu dengan lembut mengecup pucuk kepalanya.


"Apa tadi rasanya enak?"


Metta mencubit pelan pinggang Farrel, "Iihh..."


"Aw ... sayang, sakit!"


"Kenapa bertanya hal yang konyol seperti itu coba?" Metta memutar tubuhnya hingga membelakangi Farrel,


Sementara tangan Farrel menyusup dipinggangnya, mengecup bahunya dengan lembut, hingga aroma tubuh Metta kembali membangunkan benda keras yang baru saja mengenal tempat barunya, yang hangat dan memberinya sensasi luar biasa.


Dengan menggunakan bibirnya sengaja menyingkirkan anak rambut yang menghalangi tengkuk, dan menyisirnya dengan lembut hingga menggigit sedikit cuping telinga Metta, membuat desiran darah kembali bergelora. Hembusan nafas nya yang hangat membuat Metta memejamkan mata serta menggigit bibir bawahnya.


"Aku hanya ingin tahu," bisiknya dengan suara berat.


Tangannya kembali menyusuri dua benda bulat miliknya dari belakang. Menyusup ke balik kain tipis berbahan satin yang lembut, Mere masnya dengan lembut benda yang ternyata sangat pas dengan kepalan tangannya, memilin benda kecil di ujungnya.


"Aku mau lagi," bisik Farrel.


Dengan lembut dia membalikkan kembali tubuh Metta menjadi kearah nya, memulai serangan-serangan motorik halus yang membuat nafas keduanya semakin menderu.


Decakan demi decakan kembali terdengar diseluruh kamar itu, Farrel tak membiarkan tangannya menganggur, sementara lidahnya saling memagut lembut, dan membuat suhu tubuh kembali memanas.


Metta kembali mende sah, tubuhnya menggelinjang dibawah kungkungan Farrel yang penuh kelembutan. Yang mengajaknya kembali terbang ke nirwana, lagi dan lagi. Terus dan terus memberikan sentuhan yang membuat hormon testosteron yang membuat keduanya kembali bersenang-senang.


Aaahh....


Hingga benda keras itu kembali menerobos tempat terhangat sebagai rumahnya, membuat si empunya mengerang, saat benda itu masuk melesak menyentuh dinding rahim dengan lembut, hingga hormon serotonin (Hormon penenang) bekerja lebih cepat, melupakan rasa sakit yang sebelumnya menjadi rasa puas yang membahana, lagi dan lagi.


Begitu juga yang dirasakan Farrel, keduanya sama-sama kembali melayang, melebihi dosis obat manapun, saat rangsangan dari hormon estrogen (Hormon gairah wanita) membuat Stimulasi


(Pera ngsang)pada benda keras miliknya hingga dapat memacu hebat.


Eeeugghhh... ssshhh..


Aaagghhkk..


Sekian kalinya suara erangan panjang melengking saat mereka berhasil berada di puncak. Farrel membenamkan kepalanya diceruk leher Metta yang basah dan berkeringat. Mengecup nya berkali-kali, lalu berguling dari tubuhnya.


"Terima kasih lagi sayang."


Metta mengangguk, sedetik kemudian dia mendengkur halus dengan tangan melingkar dipinggang Metta, hembusan nafasnya mengenai wajah yang sama sekali belum terpejam.


Metta menatap wajah pria kecil yang sekarang menjadi suaminya. Benar-benar jadi suaminya sekarang.


Dan akhirnya aku benar-benar menikah dengan pria yang tanpa aku duga sebelumnya, menjadi seorang istri. Batinnya berbicara.


Tangannya menyusuri wajah tegas namun masih terlihat polos itu. Menyentuh dahinya turun ke hidung mancung dan berakhir pada bibir yang baru saja memberi nya jutaan sensasi dari indahnya ber cin ta, lalu ikut terlelap dalam pelukan hangat.


.


.

__ADS_1


Tubuh remuk redam seakan tulang-tulang dalam tubuhnya hancur kini dirasakan Metta, terutama dibagian bawah, dia meringis karena ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Membuat gerak tubuhnya menjadi terbatas, lalu matanya beralih pada tangan kekar yang menekan perutnya, lalu menatap Farrel yang masih terlelap begitu damai.


Pria yang belum genap 24 jam menjadi suami nya itu, yang selalu bertingkah konyol tanpa dia duga sebelumnya, namun juga memberikan kesempatan baginya untuk membuka hati yang kini hanya terisi olehnya seorang.


"Pagi sayang ...." ucap Farrel dengan suara berat.


Lalu mendaratkan bibirnya di seluruh wajah Metta.


"Iiihh... kamu ih," ujar Metta menhindari ciuman bertubi-tubi itu.


"Cape yah?" ujarnya mengelus pipi.


Metta mengangguk, Farrel menarik kepalanya. "Cape tapi enak atau cape tapi enaaaakkk." lalu tergelak.


Metta mencubit pinggangnya, "Iiihhhh...."


Lalu dia merekatkan pelukannya, "Sekarang kakak tidak bisa melarangku lagi kan, tidak bisa lagi menahan ku berbuat sesuatu yang baru saja jadi kesukaanku," terkekeh.


Metta mencapit hidungnya, "Tergantung, memangnya apa kesukaanmu sekarang?"


Farrel mere mas lembut benda bulat miliknya bergantian, " Ini... dan ini..."


Metta tersentak kaget, "Iiihhhh...nakal!!"


Farrel tergelak, "Biarin, kita nakal sama-sama kok! iya kan, kakak juga boleh pilih bagian mana yang jadi kesukaan kakak mulai saat ini."


"Iih...apaan! Udah ah aku mau mandi," Metta menyingkap selimut dan turun dari ranjang.


Namun lagi-lagi dia meringis, Farrel yang ikut bangkit pun hanya menggaruk kepalanya, "Sakit banget yaa?"


Metta mendelik, "Tahu ah ...!"


Lalu dia beranjak dari duduknya, secepat kilat Farrel menggendongnya.


"Iiihh...aku kan bisa sendiri!"


"Gak apa-apa, aku suka adegan begini!"


"Adegan begini apa? ujarnya saat dibawa masuk kedalam kamar mandi.


Adegan gendong-gendongan," menurunkan Metta dan mengecup pipinya.


"Aku ikut mandi yah," imbuhnya lagi dengan alis yang bergerak naik-turun.


Metta membulatkan matanya, "Enggak mau, udah sana! nanti mandi nya makin lama kalah kamu ikut."


Farrel yang langsung mengisi bathtube dengan air pun tergelak, "Kalau udah selesai, panggil aku yaa."


Lalu mencium pucuk kepala dan berlalu keluar. Metta yang hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Lalu menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Berjaga-jaga jika Farrel tiba-tiba masuk kedalam.


Dia terperangah melihat dirinya sendiri dalam pantulan kaca,


"Astaga rambutku!" gumamnya saat melihat rambutnya kusut berantakan.


Lalu berdecak saat penglihatan nya beralih pada leher dengan banyak titik-titik merah. "Astaga banyak banget, bagaimana aku bisa menutupinya."


Air dalam bathtube pun penuh, dia melepas pakaian nya dan masuk kedalam nya, kali ini dia kan menikmati berendam dalam bathtube lebih dari kemarin. Air hangat yang diberi campuran aroma terapi yang menenangkan.

__ADS_1


Membuat tubuhnya yang lelah itu mendapatkan kembali energinya, Namun saat dia naik matanya mengarah pada paha yang juga terdapat tanda kepemilikan.


"Ya ampun disini juga ada,"


Metta urung naik, dia mendekat pada cermin yang memperlihatkan lekuk tubuh polos nya yang kini dipenuhi titik-titik merah bak terkena alergi.


"Leher, dada apalagi, perut juga ada astaga... paha ya ampun," gumamnya saat menatap bagian-bagian yang dia sebutkan.


Metta menggelengkan kepalanya namun seutas senyum lolos dari bibirnya, saat mengingat seberapa kali Farrel membuat nya melambung. Lalu masuk kembali kedalam bathtube dan membenamkan dirinya.


Tak lama dia keluar dari kamar mandi, melihat kamar yang sudah bersih dan rapi kembali, ranjang yang sudsh berganti membuatnya malu,


"Harusnya itu kan tugasku," gumamnya lalu keluar mencari Farrel.


Meja makan sudah penuh oleh berbagai hidangan yang dipastikan diantarkan oleh pelayan hotel, namun juga tidak menemukan Farrel disana.


"Kemana sih?" ujarnya.


Lalu dia membuka pintu yang terhubung dengan kolam renang pribadi, dan menemukan Farrel yang tengah berenang,


"Hai sayang, cantik banget!"Ujarnya dari tepi kolam, dengan dua tangan melipat.


"Kenapa malah berenang?"


Farrel naik dari kolam renang dan menghampirinya, dengan air yang mengucur diseluruh tubuhnya, tangan kekar dan perut penuh kotak-kotak serta....


Astaga big O....


Metta diam menelan saliva saat penglihatannya mengarah pada benda keras yang semalam membawanya terbang berkali-kali, kini tercetak jelas dalam swim shorts- nya.


"Kenapa?" tanya Farrel


Tanpa tahu jika Metta susah payah menelan saliva nya. Bodoh apa yang aku fikirkan.


"Enggak, yuk sarapan dulu!"


Metta membalikkan tubuhnya namun Farrel menangkap tangannya, hingga dia terhuyung menabrak tubuh Farrel yang basah.


"Iihh... apaan, basahkan jadinya."


"Sekalian basah saja yuk! Mau gak? kita balap renang, yang kalah wajib kena hukuman."


Metta mengerdikkan bahu "Apaan ih aku gak mau! Aku lapar mau makan!"


Namun Farrel adalah Farrel, "Kakak sudah tidak bisa melarangku melakukan kesenangan,"


Dengan sekali gerakan Farrel menggendong Metta dipundaknya.


"Sayang... Astaga turunkan aku! Kamu itu mau culik aku apa?" meronta-ronta


"Iya, kamu mau kan aku culik!"


Metta terus meronta, "El ...udah deh main-mainnya aku lapar. Turunkan aku!!"


Farrel tergelak, "Beneran mau turun?"


"Iya aku mau turun,"

__ADS_1


Byurrr


__ADS_2