
"Tunggu sebentar," Metta menahan lengan Farrel yang sudah bangkit dari duduknya. Lalu dia menariknya hingga Farrel kembali duduk.
"Apa...?hem...." Farrel melekatkan kedua maniknya tepat diwajah Metta.
Metta yang terkesiap melihat wajahnya itu sontak mendorongnya, "Ih ... mundur! ini tempat umum,"
Membuat Farrel tergelak, gadisnya, kekasih hatinya, tunangannya, calon istrinya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah dia temui, langka dan wajib di lindungi. The one and only.
Namun tak pernah juga sekalipun menolak jika mereka di Privat Room, Vip Room, haissh...dasar gadis berego tinggi. Batin Farrel
"Apa maksud Ricko dengan kasus mas Faiz yang kamu cabut?"
Farrel menggelengkan kepalanya, "Gak ada maksud,"
"Ih, aku ngomong serius, kamu mencabut kasus itu?" Farrel mengangguk.
"Kenapa? Dia kan memang merugikan perusahan, bahkan memanipulasi semua nya,"
"Dan memang dia harus mendapat hukumannya kan?"
"Dia kan sudah mendapat hukuman, sakit nya dia sudah lebih dari hukuman untuknya,"
"Iya juga, terus kamu juga yang rekomendasikan tempat pemulihan yang baik?" Farrel kembali mengangguk.
"Setelah bernegosiasi dengan pengacara dan dokter yang menanganinya, itu pun masih dalam pengawasan pihak polisi, baru setelah surat pencabutan kasus keluar. Kita hanya membantu sama situ saja,"
"Kamu gak dendam?"
"Untuk?"
"Ya karena dia berbuat seperti itu pada perusahaan pada mu!" Farrel menggeleng.
"Aku lebih mengkhawatirkan kakak, jika dia tidak di obati sampai tuntas, dia akan terus menganggu kakak. Dan mungkin kejadiannya akan lebih parah dari yang dia lakukan kemarin."
Metta menatap nanar pada Farrel, yang kini menatapnya juga namun dengan alis tebal yang sengaja dia naik-turunkan berulang kali.
Ish....orang lagi kagum juga, merusak suasana aja, dasar konyol. Batin Metta
Metta memukul lengannya, "Kebiasaan, aku lagi ngomong serius,"
"Ini udah serius sayang, kurang serius apa lagi coba aku ini!"
Metta membuang muka, "Tahu ahh...nyebelin!"
Farrel menautkan jarinya disela jari Metta, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang bergerak mengelus punggung tangannya.
"Udah kita bahas yang lain, bukankah kakak tidak nyaman membahas 'mas-mas' itu?" Farrel terkekeh.
Kamu benar El...bahkan Aku belum mengatakan apa-apa, tapi kamu udah menyadarinya.
Metta menangkup kedua pipi Farrel, "Manisnyaaa...." uyel-uyel pipi.
"Yuk, pulang!"
"Gak cium aku dulu?" ungkap Farrel dengan mencondongkan pipinya ke samping,
Metta menusuk pipi Farrel dengan telunjuknya, "Maunya...yuk ahk!" ungkapnya sambil berdiri menarik lengan Farrel.
Farrel terkekeh, Lalu menggelengkan kepalanya. Mereka keluar dengan bergandeng tangan, saling menggenggam menuju perusahaan,
"Jalan-jalan gini enak juga yaa,"
"Cape, sakit kaki pula...." seloroh Metta menyela
"Ih dasar, jalan kaki itu bagus buat kesehatan tulang, biar kuat ...."
"Iya ...iya tuan genius! baik...." delik Metta ke arahnya.
"Ih...dasar!" Farrel mencubit ujung hidungnya.
"Masih harus nunggu sekitar 6 bulan lagi ya sampai Andra lulus," Metta mengangguk,
"Sabar ... Buru-buru amat mau kemana sih!"
Farrel merengkuh bahu Metta dan mulai membisik,
"Aku mau menghabiskan Cherry ku sampai tidak bersisa."
__ADS_1
Metta membulatkan matanya, Lalu menarik diri. " El... astaga!"
Farrel tergelak dengan sedikit berlari, dia masuk kedalam gedung divisi,
Bruk
Farrel menabrak seseorang, " Maaf Aku tidak sengaja!"
"Hai bro, are you ok?
"Kau ... disini juga? ngapain...."
"Ada sedikit urusan, baiklah aku buru-buru," ungkapnya dengan menepuk bahu Farrel lalu kembali melangkah keluar setelah tersenyum pada Metta.
"Lho itu kan ....? Ujar Metta yang saat ini sudah berada disamping Farrel.
"Hmm... Leon ngapain kesini? kalau pun ketemu Alan harusnya kan ke gedung utama,"
Metta mengerdikkan bahunya, "Mungkin nyasar, bisa jadi kan?"
"Kau benar sayang, mungkin dia nyasar," ucapnya dengan kembali menggenggam tangan Metta dan masuk dengan beriringan.
.
.
Jam kerja telah usai, saat nya raga meminta haknya untuk diistirahatkan. Mac melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sementara Metta yang mulai mengedip dengan lemah bertanda dirinya lelah dan mengantuk.
"Tidurlah sayang, nanti aku bangunin kalau udah sampai rumah!" ujar Farrel menarik kepalanya yang dia sadarkan di bahunya.
Sementara Farrel sibuk dengan ipad dan segala macam pekerjaan yang sempat tertunda maupun yang akan dikerjakannya.
Dreet
Dreet
Ponsel Farrel berdering, namun dia kesulitan mengambil ponsel dari balik jasnya karena lengannya kini menjadi bantal Metta. Hingga diapun mengabaikan panggilan telepon yang berdering berkali kali.
Lalu terdengar dering ponsel yang lain, bukan ponselnya melainkan ponsel Metta, antara mengambilnya dan mengangkatnya atau membangunkan Metta yang terlelap di pelukannya.
"Ada yang nelpon?"
Farrel mengangguk, "Dari tadi,"
Metta merogoh ponsel dari tasnya lalu melihat siapa yang meneleponnya berkali-kali.
You have 6 miss call
Bunda Ayu
Metta mengernyit saat tahu siapa yang meneleponnya adalah, " Bunda El?" ujarnya dengan menoleh kearah Farrel.
"Hmm, punyaku lebih banyak," Farrel terkekeh saat memperlihatkan ponselnya pada Metta.
You have 15 miss call
Bunda❤
"Pasti sangat penting, coba aku telepon balik," Metta mendial nomornya namun dering telepon terdengar dari ponsel milik Farrel.
"Nih, bunda telepon aku lagi!" memperlihatkan layar ponselnya pada Metta sebelum mengangkatnya.
"Halo bun,"
"Anak nakal kemana saja! kenapa baru mengangkat telepon bunda,"
Samar-samar terdengar suara ayah dari belakang, Sudah Bun, bicara sajalah tidak usah marah marah!
"Kesel aku yah, berapa kali bunda menelepon gak diangkat dari tadi,"
"Iya maaf bun, aku dijalan mau pulang, nih mau nganterin dulu calon mantu bunda pulang juga, habis itu aku langsung pulang,"
"Kamu lagi sama Sha, ya ampun dia denger dong bunda marah-marah, Maaf ya Sha! terdengar bunda terkekeh.
Metta menggelengkan kepalanya, pasalnya Farrel dengan sengaja meloadspeakerkannya.
"Ya sudah kalian cepat pulang, bunda tunggu disini."
__ADS_1
Tut
Bunda Ayu menutup teleponnya sebelum Farrel bertanya,
"Maksudnya bunda disini dimana?"
Metta mengerdikkan bahunya, " Ya dirumah kamu El, masa dirumah aku!ada-ada aja kamu tuh, bukankah bunda dan ayah juga baru pulang."
"Hmm..." Farrel lantas memasukkan ponsel nya kembali dalam saku jasnya.
Hingga mobil berhenti tepat didepan rumah Metta,
"Lho itukan mobil ayah,"
"Betul Mas, mobil tuan besar," sela Mac.
"Nah berarti nunggu di sini maksudnya tadi,"
"Nah kamu akhirnya pulang juga," ucap bunda Ayu saat memeluk Metta,
"Bun, kok aku gak dipeluk?" Ujar Farrel terkekeh.
"Kamu anak nakal, bunda sebel!" menepuk lengannya.
"Ya ampun jeng, kasihan lho nak Farrel." Gantian Ibu Sri yang mengelus lengan Farrel.
Astaga, jangan sampai ibu juga ketularan bersikap berlebihan seperti bunda. Batin Metta.
"Ya sudah jeng kita tukeran anak saja kalau begitu,"
Semua orang tergelak, tanpa terkecuali Mac yang hanya menggelengkan kepalanya namun sudut bibirnya terangkat tipis.
.
.
"Oh iya bunda sama ayah ngapain disini?"tanya Farrel setelah mereka menikmati makan malam bersama,
"Yang jelas membicarakan banyak hal mengenai pernikahan, iya kan jeng." ujar Bunda Ayu.
"Iya jeng...."
Membuat senyuman Farrel mengembang tiada tara, hanya dengan membayangkannya saja. Lalu dia beranjak meninggalkan para orang tua dan mencari Metta.
Sementara Metta tengah menggantikan Ibu Sri mencuci piring, Ibu Sri sendiri telah duduk disamping bunda Ayu, disampingnya ayah lalu berhadap,hadapan dengan Farrel yang duduk disofa sendiri.
Nissa membantu mengambil piring yang kotor, sementara Andra sendiri belum pulang karena harus ikut TO terakhir sebelum besok dia terbang ke negara M.
"Kak, kalau kakak nanti menikah, bang Andra juga jadi jarang dirumah, nanti aku tinggal berdua saja sama ibu," ucap Nissa merengut.
"Lho, bang Andra kan gak selamanya disana, dia akan tetap di rumah ini kok Nis, lagian kakak kan bisa kesini juga, gak mungkin sampai ninggalin kamu sama ibu,"
"Lagian kan kakak juga nikahnya nunggu abang kamu pulang, kan abang yang jadi wali nikah nya juga Niss,"
"Jadi sekitar 3 bulan lagi kak Sha nikah dong yaa?" Metta mengangguk.
"Cie...yang mau nikah?" Goda Farrel yang tiba-tiba sudah ada diantara mereka.
Membuat Metta hampir saja menjatuhkan piring yang dia pegang, lalu berdecak ke arah Farrel.
"Ih, abang ngagetin aja! pake cie-cie segala lagi, kan abang yang mau nikahnya juga,"
Farrel terkekeh, " Iya Niss, bercanda."
"Eh, bang dapet salam banyak dari teman-teman aku di sekolah!pada nanyain kapan bang El ke sekolah lagi."
Kali ini gelas yang dipegang Metta hampir terjatuh,
"Memang ngapain dia Niss disekolah kamu, goda-godain temen kamu?"
"Berasa paling tampan gitu?"
"Berasa paling keren? hem...."
"En-ngga.... kok!"
Metta menoleh pada Farrel dan Nissa yang berada disampingnya, "Lalu apa...?"
__ADS_1