Berondong Manisku

Berondong Manisku
Foto keluarga


__ADS_3

"Apa maksudmu?"


"Jadi benar kamu tidak mengetahuinya?"


Metta penasaran apa yang dimaksud oleh Faiz, siapa?


"Apa maksud aku bekerja pada siapa?"


"Kamu benar benar tidak tau dengan siapa kamu berurusan Sha?"


"Apa maksud ucapannya, aku tidak mengerti"


"Katakan saja apa?"


"Kamu akan percaya jika aku mengatakannya?"


"Apa .."


"Pak Faiz..?"


Faiz menoleh kerarah suara yang memanggil namanya, "Ah..Pak Alan, kebetulan sekali kita bertemu disini?"


Metta yang tengah mematung pun sontak kaget dan menoleh ke arah Alan, lalu menunduk memberi hormat.


Alan menatap Metta dengan tajam, seolah anak panah yang siap meluncur.


Metta akhirnya berlalu dari sana, meninggalkan Faiz serta Alan yang masih diam termenung di sudut cafe tersebut.


"Akhirnya gue bisa pergi juga, tapi gue masih penasaran, apa yang tadi dia maksud tadi"


"Lancang sekali anda menemui Dia disini" ucap aLan dingin, menarik kursi yang sebelum nya di pakai Metta, lalu mendaratkan tubuhnya.


"Maaf tapi ini urusan saya dan tidak ada hubungannya dengan anda" Faiz menenggak minumannya.


"Dia karyawan saya, berarti jelas ada hubungan nya dengan saya"


Faiz berseringai, "Kau disini diutus olehnya?"


"Bukan urusan anda"


"Kalau begitu anda juga tidak perlu tau urusan saya dengan karyawan anda"


Faiz bangkit dari duduknya dan langsung keluar dari sana.


"Sialan, dia mencoba main main dengan ku"


Alan merogoh ponselnya lalu mengirimkan pesan pada seseorang.


.


Sementara Metta kembali ke kantor dengan langkah kaki yang sedikit pincang akibat terkilir.


"Sha, astaga lo dari mana?gue khawatir nyariin lo, mana hape lo gak dibawa lagi,"


"Sorry tadi gue ada urusan"


"Lo tau gak semua ruangan ini heboh ngomongin lo,"


"Apaan lagi sih, demen amat ghibahin gue" Metta berlalu menuju mejanya.


"Katanya lo tadi dibawa cowo cakep"


Uhuk..


"Astaga, pelan pelan bisa gak si lo, jadinya keselek kan" Dinda menepuk nepuk pelan punggung sahabatnya itu.


"Gue gak apa apa Din"


"Jadi siapa tadi yang bawa lo pergi?"

__ADS_1


"Orang gila"


"Hah.."


" Cx hah heh hah heh aja sih lo"


"Serius lo, masa anak anak bilang orang itu cakep, lo bilang orang itu orang gila?"


"Udah lah Din, gak penting juga ah." Metta beranjak dari duduk nya dan berlalu.


"Sekarang lo mau kemana, mending gue anterin."


"Ya udah anter gue ke ruang kesehatan, gue mau minta obat luka buat tangan gue"


"Astaga, udah kaki pincang, tangan luka. Kasian amat sih hidup lo"


"Berisik, hayoo bantuin" Dengan gisuh Dinda segera menyusul Metta.


"Mba Metta ya, karyawan teladan perusahaan, tumben mba kesini" Ucap dokter Riska,


"Dok bisa saja, memangnya aku tidak bisa sakit"


"Hahaha, aku bercanda. kenapa?"


"Nih dok, dia luka ditangan sama di kaki katanya tadi abis kerusuhan sama orang gila" cibir Dinda dan langsung mendapat cubitan Metta dilengannya.


Dokter Riska mengeryit "Mari kita lihat luka mu Mba"


Metta duduk di blangkar pasien, menaikkan kakinya dan dokter Riska segera memeriksanya.


"Luka nya tidak parah, mba Metta oles kan saja salep ini 2 kali sehari, dan ini salep untuk kaki mba ya"


"Makasih yaa dok,"


"Sama sama, sebaiknya mba Metta istirahat saja. lagi pula sebentar lagi juga jam kerja berakhir"


" Bener Sha, lo istirahat aja disini ya, gue balik ke ruangan bentar buat ngambil tas lo. Jangan pulang dulu entar gue anterin lo pulang okey" Dinda mengeratkan ibu jari dan telunjuk nya hingga berbentuk huruf O.


"Ya udah gue istirahat bentar disini aja"


Ruang kesehatan memang disediakan perusahaan khusus untuk para karyawannya, sedangkan Metta sangat jarang sekali datang ke ruang kesehatan, selain dirinya jarang sakit, atau memang tak pernah sekalipun ijin hanya untuk pergi ke ruang kesehatan.


Ruangan kesehatan yang letaknya berada di ujung gedung, menyatu dengan gedung utama yang jelas Metta tidak pernah datang kesana kecuali untuk Meeting, itu pun dengan jalur yang berbeda. Dan itu sangat jarang sekali.


.


.


"Tunggu Din" seru Metta saat melewati lobby kantor utama.


Dinda menghentikan langkahnya" Ada apa?"


"Itu foto yang di pajang keluarga pemilik perusahaan yaa" Metta menelisik pigura besar berisi satu keluarga.


"Hem..itu keluarga Adhinata, pemilik perusahaan ini."


Terdapat foto seorang kakek yang diapit laki laki dan perempuan disisi atasnya sementara dipinggir kanan seorang laki laki muda serta seorang anak berusia sekitar 9tahun berada sejajar dengan sang kakek.


"Yang tengah itu Pemilik utama dan itu diatasnya anak dan menantunya, dan lo bisa tau donk itu pria tampan yang memakai jas hitam"


"Pak Alan si manekin hidup" gumam nya pelan.


Namun pandangan Metta justru berfokus pada anak kecil berpakaian kemeja hitam yang di balut dengan rompi rajut berwarna abu abu.


"Lalu anak kecil itu siapa?"


"Ya anaknya juga, ya kali adik lo yang bawel itu"


"Maksud gue itu kemana dia, gue gak pernah denger tentang dia di perusahaan ini"

__ADS_1


"Ya lo kan paling gak mau tau urusan yang begituan, tapi gue sempet denger dia calon CEO termuda, entahlah mungkin dia tengah belajar bisnis diluar negeri."


Metta mengangguk ngangguk kan kepalanya.


"Perasaan muka istri tuan Adhinata dan anak kecil itu gak asing buat gue,"


"Kenapa lo malah penasaran sama yang bocil, mentang mentang punya pacar berondong" cibir Dinda.


"Lo apaan sih," Metta merogoh ponsel nya yang seharian ini tidak dilihatnya.


"Astaga, ponsel gue mati lagi Din"


"Ya udah sih, gue anterin lo pulang ini"


"Ya udah yu"



Farrel uring uringan saat tiba di kamar hotel yang sudah dipesankan Alan.


"Kakak kemana sih, dari pagi dihubungi selalu tidak bisa, sedangkan besok aku harus pergi lagi"


Tring..


Sebuah foto foto terkirim dari nomor tidak dikenal, Foto foto yang memperlihatkan Metta dan Faiz yang tengah berdua, berpegangan tangan dan juga Faiz yang tengah menggendong Metta.


"Apa maksudnya ini?"


Farrel sungguh tidak percaya apa yang di lihat nya, dia melemparkan ponselnya ke tengah ranjang.


"Aku gak percaya kakak ngelakuin itu padaku"


Dia meraih kembali ponsel yang dilemparnya lalu menghubungi Alan.


"Lan, apa Faiz dateng ke kantor hari ini?"


"Way, tenang ada apa?bukannya lo baru sampe?"


"Cepat jawab pertanyaan ku Alan"


Alan terdengar menghembuskan nafas.


"Iya dia memang ke kantor, kita ada meeting dengan perusahaannya. Tapi ternyata dia terlambat. Memangnya ada apa?"


"Gue dikirimin Foto oleh seseorang yang tidak dikenal"


"Foto?? foto apa?


"Nanti gue kirim ke lo, dan gue minta lo awasin Faiz, dan jagain cewe gue"


"Pasti lo tenang aja"


"Ya sudah kabarin gue terus El, disana juga ada anak buah gue yang jagain lo kalau ada apa apa"


"Thank Lan"


Tak masalah bro"


Setelah menutup sambungan telponnya, Farrel kembali mengdial nomor kekasihnya.


"Kakak astaga...."


Farrel kembali melempar ponselnya itu.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan terus dukung karya receh ini yaa..


__ADS_2