
"Bu ... besok kak Sha pulang!" ujar Nissa sambil berteriak.
Andra yang tengah membaca buku pun menoyor sang adik, "Gak berisik juga!"
"Awwsss ... abang, sakit tahu!"ucapnya dengan menggaruk kepala.
Ibu Sri yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa sepiring pisang goreng pun merasa heran, "Kalian itu ribut terus, kapan akurnya!"
"Tahun gajah." Ucap mereka serentak.
Membuat Ibu Sri menggelengkan kepalanya berulang kali, bahkan ibu Sri hanya diam saja tanpa kata, menikmati pisang yang masih mengepul hangat.
Nissa menghampiri ibunya, dia menarik kursi meja makan dan menghempaskan tubuhnya begitu saja, "Bu, kak Sha pulang kesini atau tidak?"
"Ibu juga belum tahu Nis, tapi lebih baik kamu bersihkan dulu kamar kak Sha ya, siapa tahu mereka pulang kesini dan menginap."
Nissa mengambil pisang goreng, lalu memasukkan kedalam mulutnya meskipun masih terasa panas,
"Siap komandan." ucapnya dengan mulut
Dreet
Dreet
Ponsel ibu Sri menggelepar-gelepar diatas meja, Nissa yang jarak nya lebih dekat pun meraihnya, lalu melirik layar putih yang menampilkan nama Bunda Ayu.
"Bunda...." gumam Nissa saat menyerahkan ponsel pada ibunya.
Ibu Sri menempelkan ponsel ditelinga kanannya tanpa melihat layar putih itu.
"Ibu, bukan telepon! itu pesan yang masuk,"
Ibu Sri menurunkan ponsel lalu dilihatnya, "Kenapa ibu bisa lupa, perasaan nada dering barusan itu ibu pasang buat telepon masuk."
"Pasti kerjaan abang!" ujar Nissa dengan tatapan mengarah pada kakak laki-laki nya.
Sementara Andra hanya terkekeh, "Emang aku ganti bu, habisnya yang kemarin itu berisik."
Ibu Sri menggelengkan kepalanya, lalu membuka pesan masuk dari bunda Ayu,
Jeng Sri, anak-anak besok akan kembali, kira-kira mereka akan pulang kemana dulu? rumah mu atau rumah ku?"
Aku pengen nya rumah ku, tapi kalau mereka ke rumah mu, gak apa- apa.
Semoga mereka ke rumahku dulu ya jeng. (emotion ketawa guling-guling)
Ibu Sri meletakkan ponselnya begitu saja, dengan bibir yang mengkerut menjadi satu.
"Ibu sebel, tapi juga seneng!"
Nissa yang sibuk mengunyah pun menoleh, "Kenapa memang bu? bunda Ayu bilang apa?"
"Bunda pengen kak Sha pulang ke rumah nya, sama ibu juga pengen kak Sha pulang kesini!" sungut Ibu Sri.
"Yaa elah, ibu- ibu ribet banget! kirain apa," ujar Andra yang langsung menghempaskan tubuhnya di kursi samping Nissa.
__ADS_1
"Tapi ibu juga senang, kakak kalian begitu disayang dan diterima oleh keluarga besar Adhinata, mereka tidak peduli keadaan kita yang begitu berbeda." ujar ibu Sri yang menyusut sudut mata yang menganak.
"Karena kak Sha orang baik, walaupun galak dan pemarah." ucap Andra terkekeh.
"Setuju....!" timpal Nissa yang ikut terkekeh.
"Semoga mereka pulang kesini."
Nissa mengangguk, sedangkan Andra memutar malas kedua bola matanya, tak peduli.
.
.
Langit membentang berwarna biru, dengan gumpalan awan putih menjadi penghiasnya, sementara burung besi berada dilandasan dan siap terbang.
"Sayang sudah tidak ada yang tertinggal kan?" Koper, tiket pesawat, visa, pasport, souvenir oleh-oleh, hmm ... apa lagi ya?" Metta menghitung semua dengan lipatan jari jemari.
"Aku gak di itung?" Farrel terkekeh.
"iiihh ... apaan coba! Yang ada bukan kamu yang tertinggal, tapi aku ... aku kan gak tahu jalan pulang!" ujar Metta dengan mencebikkan bibirnya.
"Tenang saja, kakak tidak akan kesasar kok, kan jalan pulangnya ada disini." tunjuk Farrel pada dadanya sendiri.
Metta mengulum bibir, "Apaan coba, ada-ada aja kamu tuh!"
"Habisnya aku gak tahu apa saja yang kakak bawa, sampai harus nambah doble bagasi cuma buat oleh-oleh, kita bisa pesan online juga nanti sayang!" Farrel menjumput hidung mancung istrinya.
"Aku gak mau, gak ada seni nya! Kalau gitu, ngapain jauh-jauh pergi, tapi pulang gak bawa oleh-oleh."
"Siapa tahu kita pulang bawa anak--"
Ucapan Farrel terhenti karena Metta menyenggol lengannya, "Denger, pesawat kita bukan?"
Farrel terkekeh, "Iya ... yuk,"
Menurutnya sikap Metta semakin lama semakin menggemaskan, apalagi setelah menikah. Mungkin semua keraguannya sudah tidak ada?
Farrel mendorong troly ketempat pemeriksaan, sementara Metta menunggu di gerbang masuk dengan dokumen di tangannya.
Setelah petugas bandara memeriksa semua dokumen, mereka masuk ke ruang tunggu pesawat, tak lama kemudian panggilan pesawat yang akan mereka tumpangi terdengar.
Metta menghela nafas, saat memasuki pesawat, mengucapkan salam perpisahan pada negara B yang menjadi mimpinya, sementara Farrel yang terus memegang tangan nya tersenyum.
"Jangan sedih, kita bisa kesini lagi nanti!" ujar nya lembut.
"Siapa bilang aku sedih, aku hanya tidak percaya waktu 2 minggu rasanya cepat sekali, tahu-tahu udah mau pulang!"
Seorang pramugari cantik mengantarkan mereka ke kursi pesawat. Perjalanan kurang lebih 18 jam akan mereka tempuh untuk kembali pulang.
.
"Pasti akan melelahkan, lebih baik kakak tidur, hem!" ucap Farrel beberapa saat ketika burung besi itu mengudara.
Metta mengangguk, dia menyandarkan kepalanya, namun Farrel menariknya hingga dia bersandar dibahunya.
__ADS_1
"Bahuku ini ada, untuk menjadi sandaranmu, sayang!"
Membuat Metta menatap jengah, dia mencubit pipinya dengan keras. " Astaga... iihhh,!"
Seseorang terlihat melirik mereka berdua, lalu berseringai dan kembali menatap keluar jendela.
.
.
18 jam kemudian
Pesawat mendarat dengan sempurna, membawa sepasang pengantin kembali ke tanah air,
Farrel menggeret koper berwarna hitam, dengan setelan casual celana jeans warna berwarna navy dipadukan dengan T-shirt berwarna putih, sepatu kets serta kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung.
Sedangkan Metta memakai mini dress floral perpaduan putih dengan biru ditambah jaket denim crop, dan tas selempang kecil, dengan rambut hitam yang di terurai bebas.
Mereka baru turun dari pesawat yang membawa mereka kembali ke tanah air. Doni dan Mac sudah menunggu mereka diruang tunggu.
"Seperti nya itu mereka Mac," ucao Doni saat kedua bola matanya menangkap sosok Farrel dari kejauhan.
Mac mengangguk, mereka sama-sama berjalan mendekat. Dan ternyata benar, sosok yang ditunggu akhirnya kembali,
"Hai Don, Mac apa kabar? tanya Metta terlebih dahulu menyapa mereka.
"Baik, kita disini semakin baik dan juga repot karena tugas dari suami anda." ledek Doni.
"Jangan sembarangan bicara, nih bawa koper! Kita pulang, kita sudah lelah, iya kan sayang?" Ujarnya dengan menggenggam tangan Metta lalu menariknya untuk kembali berjalan.
"Jangan terlalu ramah pada pria lain, sekalipun itu Doni." bisiknya pada telinga Metta.
"Astaga, aku kan hanya menyapa!"
Farrel merengkuh bahunya, "Sama saja sayang, aku gak suka!"
Sementara Doni dan Mac hanya saling pandang dan kembali berjalan mengikuti mereka dari belakang.
"Posesif sekali dia, masa menyapa saja tidak boleh? Dasar Rel ta api, bucin akut!" gerutu Doni.
Mac hanya memalingkan wajahnya, dia tak peduli pada ocehan Doni.
"Farrel...."
Seru seseorang dari belakang, membuat Doni dan Mac
menoleh, begitu pun dengan Farrel, yang diikuti oleh Metta.
Orang itu berjalan mendekat, dengan rambut coklat bergelombang mengayun diterpa angin, senyum manis dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya.
"Benarkan, aku tidak salah lihat!" ujarnya kemudian.
Farrel menyipitkan kedua mata, menatap seseorang yang kini berada dihadapannya dengan uluran tangan padanya.
"Kau ....?"
__ADS_1
"Yes i'am...." ucapnya dengan tergelak.