
"Yah, apa bisa kita bicara sebentar?" ujar Farrel pada ayahnya.
Arya mengangguk, " Ayah juga ingin membicarakan sesuatu dengan mu."
Mereka berdua berjalan ke arah balkon, duduk dikursi yang menghadap ke sebuah taman kota. Dengan angin sore hari yang mulai terasa dingin sekaligus menyejukan itu.
"Kau duluan saja yang bicara," ujar Ayah Arya, dengan menggeser kursi hingga mereka berhadapan.
"Ayah saja duluan, aku takut kualat, kalau mendahului orang yang lebih tua." ujarnya terkekeh.
"Kau ini," sentak Arya.
"Baiklah, baiklah aku duluan, jadi begini yah, ayah tahukan rancangan gedung pencakar langit milikku?"
Arya mengangguk, "Ya, yang pengerjaannya masih lima puluh-enam puluh persen itu kan? Kenapa, kau kekurangan dana?"
Farrel menggelengkan kepalanya, " Ayah masih ingat kontraktor yang bertanggung jawab atas pengerjaannya?"
"Ya, dia rekomendasi dari teman ayah! apa yang hendak kau bicarakan, kau membuat ayah pusing El." jawab Arya menggelengkan kepalanya.
"Sudah terlalu banyak orang yang ingin menawar dengan harga tinggi, aku harus segera menyelesaikan gedung itu yah!"
Arya mengangguk, "Itu karya pertamamu yang langusng mendapat sorotan terbanyak se-Asia, ayah rasa pilihan mu tepat El, dengan tidak melepaskannya begitu saja, bahkan dengan banyaknya penawaran yang menarik, benar bukan?"
Farrel mengangguk, Bahkan ada yang rela memberikan anak gadisnya sebagai bonus, dia sudah gila.
"Lalu apa yang akan kamu perbuat?" tanya Arya.
Metta datang dengan membawa nampan dengan dua cangkir, "Teh hangat untuk ayah,"
"Susu coklat untukmu." ucap Metta dengan tersenyum pada suami kecilnya.
"Terima kasih sayang."
Metta mengangguk, "Aku masuk dulu ... Ayah aku masuk dulu," ujarnya bergantian.
"Jadi bagaimana?" tanya Arya.
"Apanya?" ujar Farrel yang konsentrasinya buyar begitu melihat Metta.
Arya berdecak, "Kau ini, kecil-kecil...."
Farrel menggaruk tengkuknya, Arya kembali berdecak, "Kau mirip denganku." lanjutnya dengan terkekeh.
"Pantas saja kalau begitu!" ujar Farrel terkekeh.
"Jadi yah, aku akan menggabungkan beberapa perusahan yang berkompeten di bidangnya agar pembangunan ini bisa selesai tepat waktu." jelas Farrel.
"Kau benar, ya sudah kau bisa meminta Alan membantumu, Ayah akan membantu jika kau membutuhkan nya El." ungkap Arya.
"Tentu Ayah, aku masih akan terus meminta dukungan dari Ayah,"
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Arya kembali.
Farrel menggelengkan kepalanya.
"Aku belum memikirkannya," ucapnya menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
"Kalau begitu, kau harus memikirkannya dengan baik, ayah akan selalu mendukungmu.
Farrel mengangguk, "Iya yah, nanti aku fikirkan
"Lalu ayah, apa yang akan ayah katakan padamu?
"Ini tentang Kakakmu alan?" Ayah sudah tahu, dia tengah dengan seseorang perempuan."
Farrel terhenyak, "Jadi Ayah sengaja memindahkan gadis aneh itu menjadi sekretaris nya Alan?"
Arya mengangguk, "Ayah ingin melihat bagaimana Alan menghadapi gadis itu,"
"Yah, jangan coba-coba melakukan hal-hal yang akan memancing kemarahan Alan, ayah tidak akan bisa menduga apa yang akan dia lakukan jika dia marah!"
Ayah pasti shock jika tahu kalau Alan terlibat perdagangan senjata api ilegal selama ini, meskipun selama ini orang-orang kepercayaan nya saja yang bekerja.
"Jangan melakukan hal yang ayah lakukan padaku dulu, Alan jauh menyeramkan daripada aku." ujar Farrel mengingatkan.
"Ayah rasa tidak, karena jelas dia tidak lebih bodoh dari mu El."Ucap Arya lalu tergelak.
"Ayah... El? Apa yang sedang kalian bahas?" tanya Ayu yang tiba-tiba sudah berada dibelakang mereka.
"Biasa bun, urusan pria. Iya kan El?"
Farrel terkesiap dengan kedatangan bunda, " Ii--iya bun, ini hanya masalah pekerjaan saja."
Ayu memicingkan kedua matanya kepada mereka, "Kalian menyembunyikan sesuatu hal yang bunda tidak tahu!"
"Bunda, tidak ada yang disembunyikan. Lagian apa yang mau disembunyikan dari bunda? Semua tahu." ujar Arya yang memegang tangan Ayu.
"Yang dikatakan ayah benar bun, tidak ada yang kami tutupi dari bunda,"
"Ya sudah, bunda masuk lagi." ujar Ayu yang kemudian masuk kembali kedalam.
Setelah kepergian bunda, Farrel menghela nafas, begitu juga dengan Arya.
"Nanti malam kau ikut ayah yah, ada undangan makan malam dari teman lama Ayah yang baru saja tiba dari luar negeri."
"Harus yah?"
"Hmm, hubungi juga Alan, ajak dia pergi!"
.
.
"El, apa aku perlu ikut? tanya Metta.
"Tentu saja sayang, kau harus ikut! Kalau kakak tidak ikut ya aku juga tidak mau ikut." Ancam Farrel.
"Iihh ... Kau ini."
Akhirnya mereka keluar dan langsung menuju ke sebuah hotel sesuai alamat yang diberikan oleh Arya pada mereka.
Arya, Ayu, Alan sudah berada disana, sedangkan Farrel dan Metta baru saja tiba dan bergabung dengan mereka dalam sebuah meja besar.
"Seperti nya terjebak macet saat akan ke sini."Ujar Arya.
__ADS_1
"Iya, ayah benar! Bahkan sangat macet sekali." timpal Farrel.
Seseorang berjalan kearah mereka, dalam balutan jas yang sangat mewah.
"Maaf terlambat," ujarnya pada mereka berlima.
Semua menoleh, kearah suara, termasuk Farrel yang kini tersentak setelah setahu siapa yang mengundang makan malam keluarga itu.
"Fernand? Kau memang selalu terlambat." ujar Arya yang kini berdiri menyambutnya, disusul oleh sang istri yang juga ikut berdiri.
Farrel membuang wajahnya malas, saat melihat ayah Arya ternyata juga mengenal Fernand.
Fernand menatap Farrel, bergantian menatap Alan dan seorang wanita cantik yang berada di dekat Farrel.
"Mr Farrel? Kau kau itu?" Seru nya tak percaya.
Farrel berdiri dan menyalami Fernand, "Ya, ini aku,"
"Mereka anak-anak ku Fernandes," ujar Ayu, yang sudah bisa menangkap rasa tidak nyaman pada Farrel saat dia tahu pria tua itu.
Mereka menyantap jamuan makan malamnya dengan khidmat, kecuali Farrel yang terlihat biasa saja. Metta menatap Farrel yang terlihat jengah dengan semua yang dikatakan oleh Fernand pada ayah dan bunda nya.
Termasuk Alan yang berhasil menangkap gelagat aneh dari Farrel. Seseorang dari arah pintu mendekati meraka.
" Daddy, paman, bibi. Semua nya, maaf aku terlambat."
"Nah ini dia, yang aku ceritakan di telpon padamu tempo hari." tukas Fernand.
Farrel mendengus kesal saat melihat Chaira berada di hadapannya, dia sudah menduga kalau Chaira juga akan datang, namun Farrel tidak bisa menduga ayah dan bunda mengenal Fernand dengan baik.
"Wah, cantik sekali, siapa namamu Nak?"
"Chaira tante, tapi panggil saja Aira." ujarnya dengan menyelipkan sedikit rambutnya di belakang telinganya.
Chaira tersenyum pada Farrel, membuat Metta menatapnya dengan tajam, Farrel menggenggam tangan nya dengan lembut dan menenangkannya.
"Bukankah kau juga mempunyai anak laki-laki?"
Fernand mengangguk, "Betul, tapi dia mungkin tidak akan datang kesini. Dia tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya."
Setelah semua selesai dengan hidangan yang ada diatas meja, dan kini menu berganti dengan menu penutup.
"Ar, bagaimana dengan tawaran ku tempo hari?"
Arya berseringai, "Kau masih berminat Juga rupanya."
"Tentu saja, bagaimana?"
"Dad, sudah lah!"
"Sepertinya tidak cocok untuk yang kedua, bagaimana jika dengan anak kami yang pertama.
Uhuk
Alan terdesak, Farrel menyodorkan minuman kearahnya, Apa yang dimaksud bunda?
Apa bunda tahu tentang sesuatu? batin Farrel.
__ADS_1