
Maaf membuatmu terluka,
Maaf pula membuatmu merana,
Rasaku ingin memiliki,
Meski nyatanya menyakiti.
Metta berbaring diranjang rumah sakit karena kelelahan dan trauma ringan akibat insiden yang terjadi beberapa jam yang lalu, sedangkan Andra tengah ditangani dokter diruang operasi karena tulang dilengannya patah.
Meski sudah diperbolehkan pulang namun Farrel memaksa dokter merawatnya secara intens, bahkan dengan sengaja menyewa kamar vip dirumah sakit itu.
"Sudah kubilang aku tidak apa apa, kamu berlebihan sekali." Ucap Metta saat suster keluar setelah memasang infus di tangannya.
"Kakak itu butuh istirahat, kakak bahkan belum makan dari pagi"
"Tapi aku mau lihat Andra, lagian juga aku ini sehat" Metta mencebikkan bibirnya dengan hidung yang mengembang.
"Sudah pokoknya kakak istirahat disini, sampai benar-benar pulih. Aku juga sudah kabarin ibu dan Nissa"
Metta menepuk dahinya sendiri, "Ah, aku benar-benar lupa memberitahu mereka."
"Kubilang kakak jangan banyak fikiran, biar aku yang mengurus semuanya!Kakak mengerti?" Mencubit pelan ujung hidung kekasihnya itu.
"Astaga, aku hanya memikirkan ibu. Kamu itu terlalu berlebihan."
"Maaf ya ka aku menempatkan kakak pada posisi berbahaya seperti tadi," Farrel menggenggam tangan Metta.
"Kamu ternyata menyimpan banyak rahasia."
"Tidak banyak, hanya sedikit" Farrel terkekeh.
"Ayo ceritakan tentang dirimu yang tidak aku tau?" Metta menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Farrel mengernyit, "Untuk apa, kakak sudah tau semuanya kan."
"Ceritakan!" bentak Metta.
"Jangan memasang wajah seperti itu, aku tidak tahan ingin mencium kakak"
"Astaga El,"
Farrel mendekatkan wajahnya dan memajukan tubuhnya hingga hampir menekan tubuh Metta yang tengah berbaring.
"El, ini Rumah sakit, aku juga lagi sakit,"
"Aw..aw" Metta berpura pura meringis.
Farrel tertawa dan menarik tubuhnya hingga posisi semula,
"Hahaha, sudah kubilang jangan banyak fikiran, menurutlah kak."
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan dari luar, Farrel membuka pintu dan melihat Mac yang membawa kantong besar di tangannya.
"Masuklah Mac, simpan disana" ujar Farrel menunjuk satu set sofa di sudut ruangan.
Lalu Mac menganggukkan kepalanya kearah Metta dan melangkah masuk sesuai perintah.
"Kalau gitu saya permisi Mas"
"Terima kasih ya" ucap Metta saat Mac melewati dirinya.
"Terlalu manis tidak juga baik untuk seseorang"
__ADS_1
"Apa?"
"Senyumnya kakak terlalu manis pada Mac"
"Apa sih El" Metta menatap jengah.
"Kamu tuh ih...." Metta membalikkan tubuhnya hingga menghadap tembok.
"Astaga baru kali ini gue jijik sama diri gue sendiri"
"Kakak mau makan apa? buah atau roti?"Farrel membongkar isi kantong yang dibawa Mac.
" Tidak mau, aku tidak lapar" jawab Metta tanpa mengubah posisi.
"Ada bubur juga, kakak makan ya"
"Enggak!" jawabnya ketus.
Farrel mendekati ranjang dan memeluk Metta dari belakang, "Udah dong, jangan marah"
Metta melepaskan tangan Farrel yang melingkar di pinggangnya, "Udah sana, Aku mau tidur" ucapnya memejamkan mata.
"Kakak, jangan marah lagi" Farrel mencium rambut Metta.
"El, hentikan. ini rumah sakit"
"Yang berlebihan dia atau gue sih ini sebenernya."
Sementara anak buah Alan yang menjemput ibu Sri dan Nissa telah tiba dirumah sakit.
"Jadi dimana mas anak-anak saya?"ucap Sri saat memasuki koridor rumah sakit.
"Disana bu, sebentar lagi sampai."
"Bu gimana keadaaan kak Sha dan bang Andra" Ucap Nissa mengapit lengan Sri.
Sri dan Nissa sampai di depan kamar rawat Metta, "Jadi anak saya didalam?"
"Betul bu,"
"Kalau begitu kita masuk Nis" Sri membuka handle pintu dan tercengang melihat Farrel yang tengah memeluk dan menciumi Metta yang merajuk dari belakang.
"Kakak, udah dong jangan marah terus."
"Ih, diam lah aku lagi kesal"
Mereka tak menyadari Sri dan Nissa sudah berada diambang pintu.
Kheem..
Nissa berdehem, membuat Farrel dan Metta sontak kaget dan melihat kearah pintu.
"Ibu, Nissa" ucap Metta gelagapan.
"Kalian sedang ngapain?"
Farrel menggaruk tengkuknya yang tak gatal sementra Metta menarik selimut hingga menutupi dadanya.
"Maen soror aja bang, ini rumah sakit" Nissa mendelik lalu mendekati Metta.
Sri hanya menggelengkan kepalanya, lalu mendekat dan memeluk tubuh anak pertamanya.
"Kalau gitu aku keluar dulu ya kak, bu, Nis" ucap Farrel, membiarkan satu keluarga itu mengobrol dengan leluasa.
Mereka mengangguk "Makasih nak Farrel" Sri mengelus bahu Farrel dengan lembut.
Farrel keluar dan menutup pintu, dia kemudian duduk dibangku yang tersedia di depannya. Mengotak ngatik ponsel lalu berlalu ke ruangan Operasi untuk melihat Andra.
__ADS_1
"Mac, tunggu disini ya,"
"Siap Mas"
"Syukurlah kamu baik baik aja Sha,"
"Iya bu, allhamdullilah. Tapi Andra sedang dioperasi, tangannya patah."
"Iya, ibu sudah tahu sebentar lagi ibu akan melihatnya kesana."
"Maafin aku ya bu, gak bisa jagain Andra"
"Gak apa apa, semua sudah ada yang mengatur, dengan kalian selamat saja ibu bersyukur sekali Sya" Sri menangis memeluk anaknya.
"Kok bisa kakak diculik begitu, Mas Faiz itu keterlaluan sekali. Kucabik cabik nanti kalau ketemu" Nissa mengepalkan tangannya.
"Sudah Niss, tidak baik menyimpan dendam, semoga sesudah ini dia bisa berubah."
"Amiin" jawab Metta dan Nissa serentak.
"Ya sudah ibu pergi melihat Andra dulu ya, kamu istirahat" Ayu mengelus kepala Metta.
"Bu, sebenarnya aku sudah boleh pulang sejak selesai diperiksa," Sri mengernyit.
"Tapi El malah membuka kamar Vip ini untuk aku istirahat." Metta mencebikkan bibirnya.
"Ya, sudah tidak apa apa. Dia baik sekali mau merawat anak ibu yang keras kepala ini."
"Kok ibu malah belain dia, bukannya aku"
"Kakak seperti tidak tau ibu saja, bang Farrel kan anak emas ibu, betul kan bu?"
"Hus, kamu ini" Sri memukul pantai Nissa.
.
.
Sementara Dokter sudah keluar dari ruang operasi, Farrel berjalan menghampirinya.
"Gimana om, keadaan Andra?"
"Dia baik baik saja, Dia juga masih muda. Pertumbuhan tulangnya pasti akan cepat."
"Terima kasih om atas bantuannya"
"Itu sudah tugas om El, sebentar lagi pasien dibawa ke ruang inap, sementara ini biarkan dia istirahat dulu ya"
Farrel mengangguk, "Kalau begitu, El pergi memberitahu keluarganya dulu."
Farrel berbalik setelah berpamitan namun dokter yang tidak lain om nya itu memanggilnya kembali.
"El, jangan membuat bundmu kesusahan. Darah tingginya kemarin sempet kumat,"
Farrel berbalik lagi," Makasih om"
Farrel teringat bunda, akhir akhir ini waktunya habis di kantor dan di kampus. Dan juga kesalah pahamannya saat di kapal membuat Farrel enggan lama lama berada dirumah.
"Bunda, aku kangen meluk bunda."
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan terus dukung Author yaa, terima kasih sebesar besarnya untuk yang selalu setia dan kasih Othor semangat yang luar biasa sampai detik ini. Aku terhura,
__ADS_1
Happy Weekend guys 😘