
Mohon maaf, mohon maaf ini ujian.
Yang tidak suka boleh melipir tapi like dan komen
Yang suka jangan lupa like dan komen.
(Sama saja😘)
.
.
Hmmm...aaahh."
Farrel semakin bergerak, "Katakan jika sakit,"
Metta mengangguk, "Pe...pelan aaahh"
Hingga akhirnya mereka menyatukan kedua tubuhnya semakin dalam, begitu pun benda keras itu menerobos masuk ke ruang sempit. Semakin dalam, hingga urat-urat organ dalam milik Metta terasa putus. Bukan kesakitan lagi melainkan sesuatu yang menyeruak hebat, keindahan tiada tara yang pertama kali dirasakannya, hingga tak mampu diungkapkannya, namun seluruh alam menjadi perwakilan apapun perumpaannya.
Bukan akhir dunia, namun ini lah awal dari dunia barunya. Hingga pergerakan berubah semakin cepat, kedua tubuh sama-sama bergelinjang, mengikuti ritme yang tak pernah ada di dalam buku petunjuk musik dan nada mana pun.
Euuhghh....aaahhaaahhkkkk
Metta menjadikan punggung Farrel sebagai pegangan, dia kembali melenguh hebat, Farrel pun menggeram,
Sementara tautan kedua lidah tidak terlepas, sama-sama bergerak cepat, saling beradu nafas panjang dan dalam,
Euuhghh.. mmmmppshhh aaahkk
Farrel semakin mendorong benda keras itu dalam, terasa hangat dan sangat menjepitnya keras, kemudian berubah menjadi berkedut yang menggelitik, sensasi yang baru saja dia temukan. Membuat dadanya bergetar.
Eeugghhh
Gerakan demi gerakan tercipta, tanpa dia pelajari sebelumnya, mengangkat lalu melambung, kembali bergerak perlahan lalu berpacu bak penunggang kuda, Sementara kedua tangan masih sibuk bergerilya di tempat yang membuatnya semakin tinggi di awan.
Eeeuhhgghh...sssshhh ...aaaahhh
Des ahan, lengguhan, rintihan yang sudah tidak bisa ditahan kembali lolos begitu saja, suara decakan entah sudah berapa ratus yang keluar dari keduanya. Begitu hebat, begitu dasyat.
El .... aaahhhhhkkkkk
Yaaa saaayaangg aaahhhgghhh
Euhhhhggghh ... aaahhh
Sesuatu yang mendesir hebat dari ujung kaki naik dan naik ke ubun-ubun kini dirasakan Farrel, dan berpusat di lutut kemudian menyerbu bersama ke pusat inti, berkumpul jadi satu sampai akhirnya sesuatu yang menyerang hangat menerobos masuk dan mengalir menyusuri jalannya sendiri.
Tanpa arahan dari siapapun, mereka sama-sama terbang ke angkasa, melambung tinggi hingga berada di puncak nirwana bahkan menari dan berlarian diatas sana, mencecap segala rasa bahagia yang membahana, lalu menembus cakrawala dengan berjuta kali lipat keindahannya. Kedua perisai terlepas, dan masing-masing berperan sama pentingnya, saling mencengkeram hebat.
__ADS_1
Aaahkkkkkkk.....eeeeugggghhhhh.
Lengguhan panjang dari keduanya menjadi tanda bahwa mereka telah sampai ke puncak nirwana, yang tidak lagi dapat di ungkapkan oleh kata. Berjuta kali lipat rasa yang ada didunia seakan tidak mampu yang hanya dapat dirasakan oleh mereka. Otot-otot melemah sendirinya, keduanya kini saling memandang, dengan dada yang turun naik, dan bermandi peluh.
Merasai kehebatan dengan segala kekuatannya, penyerahan diri dengan segala kerelaan dan keiklasannya, dengan menjadikan satu sama lain menjadi rumah tempatnya pulang.
Hingga kedua tubuh melemah, menyisakan seutas senyum dari bibir keduanya, Farrel menyusut air bening di sudut mata, lalu mengecup kedua maniknya yang terlihat kelelahan.
"Maaf...." ucapnya lirih.
"Hei, kenapa minta maaf." ujar Metta dengan suara yang tak kalah serak.
Perlahan Farrel menarik benda yang masih terlihat keras itu, dan menatap seprai dengan bercak merah diatasnya, sesuatu kebanggaan tersendiri bagi pemilik yang dapat menjaganya dengan baik.
"Maaf membuatmu sakit dan berdarah." ucapnya dengan menyusut kening berpeluh itu.
"Tidak apa-apa, memang harusnya begitu." jawabnya dengan lemah.
Metta mengusap pipi Farrel yang juga terlihat kelelahan akibat permainan hampir empat puluh lima menit itu, yang berakhir dengan sama-sama menang.
Meski Farrel tak mengerti banyak tentang hal itu, namun tubuhnya lah yang bereaksi. Sifat alami dari sebuah senyawa yang tidak ada di hukum kimia manapun.
"Kemarilah," Farrel menarik kepalanya dan menjadikan lengannya menjadi bantal.
"Terima kasih."
Mereka saling mendekap, menikmati pelukan di ujung waktu, dengan segala keindahannya. Farrel terus mencium rambut Metta yang kini terlelap didalam dekapannya.
"Eeuuhhhggg...." Metta mengerang saat Farrel kembali menciumi wajahnya.
"Aku lelah sayang," lirihnya.
"Istirahatlah...."
Farrel menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut dan Metta kembali terlelap. Dia turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu masuk kedalam kamar mandi. dan membersihkan dirinya dengan terus tersenyum, meskipun punggungnya kini terasa perih, akibat cakaran Metta, namun tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan hasil jerih payahnya yang berbuah manis dan enak tentu saja.
Jadi begitu yaa rasanya, bahkan berlipat-lipat lebih hebat dari apa yang aku dengar.
Pintu kamar mandi terbuka dan Farrel kembali naik kedalam ranjang, masuk kedalam selimut dan mendekap wanita yang sekarang menjadi istri untuk selamanya.
"Aku mau ke kamar mandi," lirih Metta dengan membuka sedikit kedua matanya.
"Besok saja, lebih baik Kakak istirahat saja." mencium bahu polos nya.
Wangi shampo menyeruak dari rambut Farrel, " Curang, kamu saja sudah wangi begini, tapi melarangku!"
Lalu dia menyibakkan selimut dan beranjak turun, "Aaaahh...." kaget sendiri.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hanya sakit sedikit! Ulah kamu itu." kemudian terkikik.
"Biar ku bantu ke kamar mandi,"
"Ti--daakk...."
Suara menolak belum selesai terucap, namun dirinya sudah berada di pangkuan Farrel yang membawanya ke dalam kamar mandi.
"Sudah kubilang aku bisa sendiri," ujar Metta dengan tubuh masih terbungkus selimut.
"Tidak apa-apa, kalau kakak sudah selesai, panggil aku ya!"
Metta mengangguk, dengan merekatkan selimut, "Sudah sana keluar dulu."
"Aku sudah melihat semuanya, kenapa masih malu juga," ujar Farrel terkikik.
Metta menyalang kearah nya, "Sudah sana!!"
Farrel berlalu dengan gelak tawa, lalu keluar dari kamar . Tak lama Metta keluar dari kamar mandi, namun Farrel lagi-lagi tidak ada dikamar.
Metta hendak naik ke ranjang saat Farrel masuk membawa nampan dengan 2 gelas di atasnya
"Sudah selesai?"
"Sudah, kau bawa apa?" ujarnya dengan melihat nampan ditangan Farrel.
Farrel menyodorkan gelas itu padanya," Segelas cokelat hangat untuk istriku tercinta."
Metta tersenyum dan meraihnya."Terima kasih sayang."
Mereka pun menenggak hingga tandas, Farrel meletakkan gelas yang telah tandas itu diatas nampan dan membawanya kembali keluar, sementara Metta masih menyandarkan punggungnya ditepi ranjang.
Farrel kembali masuk, dan ikut naik kedalam ranjang, meraih tubuh Metta dan mendekapnya.
"Kakak sudah lelah, tidurlah...." ujar Farrel dengan mencium kening Metta lama dan dalam.
Metta mengangguk."Terima kasih."
Terima kasih atas seluruh cinta, semua rasa dan semua kejutan-kejutan yang kau berikan padaku.
Metta melingkarkan tangannya, dipinggang Farrel dan membenamkan kepalanya di dadanya, lalu memejamkan matanya perlahan.
"Kak ..."
"Hmm, kau belum tidur?"
Farrel membelai-belai rambutnya, lalu dengan lembut mengecup pucuk kepalanya.
"Apa tadi rasanya enak?"
__ADS_1
.
.