
Mereka pulang dengan bergandeng tangan, bukan ... bukan Farrel dan Metta yang bergandeng tangan, namun Metta menggandeng tangan Nissa, sementara Sri berada didepannya yang diapit oleh Andra.
Banyaknya wartawan dan pemburu berita membuat Metta harus mundur, saat mereka mulai mendekati Farrel dengan mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Nama Farrel Adhinata pun mulai dikenal kancah nasional, pengusaha muda yang berdedikasi tinggi dengan segala prestasinya.
Hingga semua tepak terjangnya menjadi sorotan media, Farrel menghela nafas. gerak-geriknya semakin terbatas.
Dreet
Dreet
Ponsel Farrel berdering, Farrel mengangkatnya tanpa melihat siapa si penelepon.
"Ada apa?" ketus Farrel yang sudah menyangka siapa yang tengah menelepon diujung sana.
"Berpisahlah dengan kekasihmu dan keluarganya, biarkan mereka keluar terlebih dahulu, Mac sudah menunggu dibawah!"
"Kau gila, menyuruhku berpisah dengannya!"sentak Farrel.
Alan menghela nafas sebelum memperjelas kalimatnya, "Bodoh, maksudku kalian jangan pulang bersama!!"
Farrel mengangguk-anggukan kepalanya seraya melihat kearah Metta. "Ya aku faham!"
lalu panggilanpun berakhir. Farrel menghampiri Metta, lalu meraih tangannya.
"Kakak turun duluan, dibawah sudah banyak wartawan, yang pasti akan menyulitkan kita kedepannya, dan pulanglah lebih dulu, Aku sudah menyuruh mang Ujang menjemput,"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan terkenal dimana-mana!" ucap Farrel dengan terkekeh.
"Ish, kau ini masih bisa bercanda!" melepaskan tangan Farrel dengan kesal.
Kenapa aku ingin sekali diakui?Aku tidak mau disembunyikan seperti ini, Ah ... tidak tidak! aku tidak mau terkenal. Bodoh, aku memikirkan apa?
Mac menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk Farrel saat diserbu wartawan. Sementara Farrel melirik Metta dan keluarganya yang melenggang keluar dari arah samping, tanpa dicurigai oleh siapapun.
Sementara Doni yang tengah sibukpun ikut berhambur melindungi Farrel yang sudah terlihat susah bergerak.
Mac menghalau para pemburu berita yang tidak ada bosannya dengan pertanyaan yang itu-itu saja.
"Apa rencana kedepan setelah turnamen ini? Apa perusahaan anda juga akan merambah ke industri game?"
"Apa ada orang yang memacu anda untuk melakukan semua ini diusia muda anda?"
Benar saja Ujang sudah menunggu pintu keluar, dia menyambut Metta dan kedua adik serta Sri yang baru saja keluar,
"Non, mari ...." ucapnya dengan segera mengantar mereka masuk kedalam mobil.
Ada perasaan was-was dihati Metta, tentang bagaimana Farrel menghadapi semua ini di usianya yang begitu muda, melihat Andra yang masih bergelayut manja pada sang ibu, sedangkan Farrel harus bergelut dengan berbagai masalah.
Metta menghela nafas, Sri mengusap punggung tangannya, "Percayalah, dia pasti mampu! kamu tidak lihat bagaimana dia tadi saat berdiri dengan keyakinan begitu."
Mereka masuk kedalam mobil, bertepatan dengan keluarnya Farrel dari gedung itu. Para wartawan yang masih belum puas masih mengekor dibelakangnya dengan berbagai kilatan kamera.
Metta menatapnya dari kaca mobil yang kini melaju menjauh, melihat Farrel yang berjalan tegap serta wajah tanpa ekspresi yang biasa dia perlihatkan saat didepan umum.
"Tenang saja, dia pasti dapat mengatasinya, dia sedang tidak manja seperti kemarin." Sri tersenyum tipis menggoda kegundahan putrinya.
Andra dan Nissa ikut mengangguk, "Aku aja nih nyon, berada diatas podium tadi dengan kaki gemetaran, mau ngomong aja susah Tergagap-gagap! Malu banget,"
"Kamu juga hebat bang sekarang, sebentar lagi terkenal kayak bang Farrel. Tuh lihat hadiahnya juga banyak, bagi nanti yaa!"seru Nissa polos.
__ADS_1
Seketika mereka saling menatap satu sama lain, perkataan Nissa yang masih polos itu membuat mereka terbahak, dan gelak itu dapat menghilangkan sedikitnya kecemasan yang tengah Metta rasakan.
"Sepertinya kita sudah lama tidak pergi bersama, bagaimana kalau hari ini kita pergi tamasya," ucap Metta dengan berbinar.
"Yeee ... aku mau, aku mau...." sorak Nissa.
"Berisik...." sergah Andra. "Tapi ide kak Sha oke juga. Andra yang traktir yaa,"
Kedua bola mata Nissa seketika berbinar. "Yeee...."
Sementara Sri hanya tersenyum haru dan bangga juga bersyukur atas kebahagian anak-anaknya.
"Yah ... lihatlah anak-anak kita, mereka sudah besar! Bahkan sebentar lagi kita pasti punya cucu."
Sri merasa geli sendiri saat batinnya berbicara, dia tak melepaskan senyuman yang terukir di bibirnya.
"Maaf Non, sesuai perintah den Farrel, mamang disuruh mengantarkan kalian pulang, tunggu dirumah nanti den Farrel menyusul, begitu katanya Non," ucap Ujang menyela.
Perkataan Ujang merusak kegembiraan yang sudah terbayang di pelupuk mata, Nissa merengut dengan mencebikkan bibirnya yang mungil. Sementara Andra mendengus kasar. Metta? Apalagi , ingin sekali dia mendatanginya dengan berkacak pinggang dan juga menerkamnya sekalian.
"Sudah ada baiknya kita pulang saja, lebih baik kita rayakan dirumah saja, Ibu akan memasak enak hari ini, bagaimana? hem ... mau?" goda Sri.
"Tapi dia tidak bisa seenaknya begini bu." lirih Metta.
.
.
Mereka sampai dirumah, Metta turun disusul oleh Sri dan Nissa dibelakangnya, Sedangkan Andra keluar dari pintu depan.
"Tidak ada yang tertinggal kan?" sungut Metta kemudian langsung masuk ke halaman rumahnya.
Dia berhenti sesaat ketika melihat beberapa orang yang tengah berdiri dengan berbagai barang-barang yang hampir memenuhi halaman rumahnya.
"Depkolector Bu?" Andra yang menyeruduk dari belakang.
Satu orang menghampiri Andra dengan senyum bak iklan pasta gigi.
"Mas Andra yeekan, cuco deh ihhh ...." ucapnya dengan mencuil dagu Andra dengan lembut.
Andra menepis tangan kekar namun gemulai itu dengan kasar. "Apaan sih!" gidiknya.
Metta maju melindungi Andra, "Siapa kalian? Ada urusan apa kalian kesini?"
"Wow, ini pasti kakak yang tidak boleh dipanggil kakak sembarangan, upps baru saja aku mengatakannya cyin!!" dia menoleh kearah teman-temannya dibelakang dengan terkikik.
Terlihat rekan-rekannya dibelakang sudah berdecak dan juga bergeleng kepala. Sementara Metta masih membulatkan kedua maniknya menatap tajam.
"Ullala... gadis pemberani! Pantas saja membuat Fairrel begitu memujanya dan menghempaskan ekye begitu saja!"
" Mas Farrel bos," ujar temannya dari belakang.
" Mas Fairrel, anak kesayangan mommy Ayu yang cantik jelita membahana,"
Metta sudah terlihat kesal, "Jangan banyak bicara kalian mau apa?"
"Uuugghh...jangan galak Cyin aku takut!"
Metta mendengus, "Ya Tuhan, kenapa ada mahluk seperti ini dirumahku?"
"Ayo ibu, cepat buka pintunya, kita sudah pegal menunggu dari tadi, sudah bercucuran keringat ini." Pria gemulai itu mengibas-ngibaskan tangan nya.
__ADS_1
Sri membuka kunci pintu rumahnya, lalu masuk, diikuti oleh Andra yang berlari dengan takut dan juga Nissa yang bergidik dibelakang Andra. Sementara Metta masih menunggu diluar dengan waspada.
"Ayo... anak-anak bereskan semuanya!" Bawa dan tata semuanya didalam." ucap pria gemulai itu dengan tepukan di tangannya.
Satu persatu dari mereka masuk membawa berbagai macam boks dan juga buah-buahan yang terpasang dalam sebuah keranjang besar.
Astaga, apa-apaan ini?
Metta masuk kedalam, dan semua sudah ternyata rapi di meja makan, karena tidak dapat memuat banyak, sebagian memenuhi meja diruang tamu dan sebagian di dapur.
"Selesai... selamat menikmati semua hidangan yang sangat istimewa ini!" ucap pria itu saat semua rekannya selesai menata.
"Jangan galak-galak cyin, takut kesaingi sama eyke iya khan," ucapnya dengan bibir yang bergelombang.
Tidak lama suara deru mobil terdengar didepan, Farrel keluar ditemani Mac, Farrel masuk setelah mengucap salam.
"Astaga, Mas Fairrel ...Sini sama Miss." menangkup kedua pipi Farrel namun Mac menepisnya dengan cepat.
Farrel bergeser disamping Metta. Namun Metta menatapnya dengan tajam.
"Iih, galak sekali! Eyke gak suka pria galak." Ucapnya dengan mencebikkan bibirnya.
Sementara Farrel tengah terkesiap dengan kemarahan Metta yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Pergilah, kalian sudah selesai kan?" Farrel berujar dengan delikan kearahnya.
"Iih, kalian memang sepaket ya, sama-sama galak! gemes kan eyke jadinya."
"Mac ...."
Mac terlihat mengangguk, "Pergilah sekarang atau kuseret keluar!"
"Iih ... Astaga kalian bener- bener membuat Miss kesal, Miss mau lapor Mommy!" ucapnya dengan menghentakkan sepatu boot yang dia pakai lalu keluar dari rumah.
Semua orang menatap heran, lalu semua rekannyapun menyusul keluar.
"Maafkan kelakuannya, dia memang begitu! tapi dia itu chef yang handal meskipun agak begitu...." ucap salah satu rekannya yang terlihat sudsh berumur.
"Kalau begitu kami pamit Mas Farrel, Mba, salamkan kami pada nyonya Ayu," ucapnya kemudian keluar menyusul temannya.
"Jadi kamu yang menyuruh mereka?" Farrel bergeleng.
"Bunda yang menyuruhnya, bukan aku,"
"Sama saja!" Metta memejamkan matanya,
" Lalu makanan sebanyak ini bagaimana menghabiskannya." ucap nya kesal.
Farrel mengusap bahu Metta, "Sayang, jangan marah! Nanti anak kita kebangun."
Metta terbelalak kearahnya, Farrel tergelak, berlari menghampiri Sri yang tengah duduk dimeja makan.
.
.
Ikuti juga perjalanan Dinda dan Tasya juga Alan di karya kedua ku. Terima kasih semua
.
__ADS_1
.