Berondong Manisku

Berondong Manisku
Menginap di rumah mertua2


__ADS_3

"Kakak...." seru Farrel dengan kepala yang menyembul dari dalam kamar.


Ibu Sri, Andra, Nissa serta Metta pun menoleh bersamaan dengan Farrel yang membuka pintu kamar.


Metta bangkit dan menghampiri nya.


"Ayo El makan dulu, aku sudah lapar!" ujarnya.


" Kakak menungguku? Hmm manisnya istriku," ujarnya mencubit pelan pipi Metta.


Andra dan Nissa terkikik melihat kearah mereka, apa lagi mendengar kata yang baru saja Farrel ucapkan. Isteriku.


"El iiih ... malu tahu!" gumam Metta dengan mata membulat.


"Sama orang lain malu, sama keluarga sendiri malu. Semuanya kakak merasa malu." Farrel terkikik.


"Udah ayo ahk, aku sudah lapar."


Padahal aku juga malu sih, apalagi melihat cara ibu tersenyum padaku. Itu benar-benar memalukan.


Akhirnya mereka berdua berjalan menuju meja makan, sedangkan kedua adik dan ibunya sudah hampir selesai.


"Maaf nak El, kita tidak menunggu." Ujar ibu Sri.


"Iya bang, habis kalau kalau nunggu abang bangun, aku gak sanggup. Biar kak Sha saja." ucap Nissa dengan mulut penuh makanan.


"Tidak apa-apa bu, Nis."


"Aku yang ada apa- apa, aku sudah lapar!" sungut Metta.


"Maaf sayang...."


Andra memutar kedua bola nya jengah, hal yang membuatnya merasa aneh, melihat laki-laki lain selain dirinya kini ada di rumahnya. Merebut semua perhatian dari keluarganya, ada perasaan belum rela sepenuhnya, merasa tersaingi sebagai laki-laki pelindung keluarga.


Namun juga dirinya merasa tenang, kakak perempuan yang dulu banyak menyimpan luka. Hari ini tampak berseri, dan tatapan Farrel pada kakaknya itu. I know it, it's love


Metta mengangguk, lalu dia menyiapkan piring untuk Farrel, mengisinya dengan nasi serta lauk untuknya, baru mengambil untuk dirinya sendiri.


Begitu pun dengan ibu Sri yang tersenyum melihatnya, walau pun dia sudah selesai dengan piring yang telah tandas, dia tetap berada di meja makan. Memperhatikan anak perempuan pertamanya yang baru saja menikah.


Dirinya tidak kalah lega sekarang, segala kekecewaan, kesedihan, yang disimpan sendiri oleh anaknya kini berubah. Menjadi kebahagiaan yang tiada tara, menemukan seseorang yang tepat untuk nya, menerima semua yang ada dalam dirinya, bahkan keluarganya pun menerimanya dengan baik.


Semoga kalian selalu bahagia. batin Ibu Sri.


Setelah makan malam itu, ibu Sri langsung menuju kamar untuk beristirahat. Nissa pun sudah masuk kamar dengan dalih mengerjakan tugas, padahal dia pasti menonton film korea yang menjadi favoritnya. Begitu pun Andra yang tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir sekolahnya.


Metta membersihkan meja makan, dia membawa piring kotor ke dapur, sedangkan Farrel yang seusai makan malam memilih duduk disofa dengan ipad yang kini berada di atas pahanya.


Pekerjaan yang menumpuk setelah masa liburannya habis. Huft....

__ADS_1


Puluhan email, notifikasi, meeting yang sudah tidak bisa di reschedule lagi. Dan semua pekerjaan yang akan dia lakukan setelah ini. Farrel memijit keningnya pelan. Dengan banyak nya pekerjaan ini sudah dipastikan dia akan sibuk sekali.


Farrel mengambil ponsel lalu mendial nomor kontak Alan.


"Apa?"


" Kau ada dimana?"


Alan terdengar berdecak, "Ada apa, kalau kau menanyakan tentang pekerjaan, lebih baik besok saja. Aku sudah lelah."


"Hei bodoh, aku saja belum bertanya apa-apa!"


"Itu resiko yang harus kau tanggung, akibat rencana serta semua hal dadakan konyolmu itu."


Tut


Sambungan telepon diputuskan begitu saja oleh Alan, sementara Farrel berdecak dan melemparkan ponsel begitu saja di sofa.


Dia kembali menggulir ipad nya, memang benar. Inilah tanggung jawabnya, dan segala resiko yang harus dia ambil karena tindakan konyolnya yang mempercepat acara pernikahan dengan wanita pujaan hatinya.


Ngomong-ngomong tentang wanita pujaan hati, Farrel mengedarkan mata mencarinya, rumah sederhana dengan segala kehangatan berada didalamnya, rumah yang membuat pribadi Metta mandiri dan sulit ditaklukannya dulu.


Kini dia menarik bibirnya hingga melengkung penuh, lalu bangkit dari duduknya menuju sumber suara berisik denting piring dan air yang bergemiricik di dapur.


"Sayang, belum selesai?" ucaonya dengan tangan yang menyusup pinggang sang Istri.


Farrel terkekeh, "Memangnya kamu mencuci piring sambil melamun apa? Hem...."


Gerakan mencuci tiba-tiba tidak fokus, piring yang sedang dibilasnya kembali dia gosok memakai sabun pencuci piring. Astaga.


Farrel tetap memeluk Metta dari belakang, nafas lembut dan hangat menyerbu tengkuk dan telinga Metta. Membuatnya frustasi.


"El, hentikan, aku geli." ujarnya dengan tubuh bergerak bergelinjang.


"Aku bahkan tidak melakukan apa-apa! Itu piring baru saja kakak bilas, kenapa pakai sabun lagi?" Farrel terkekeh.


Metta berdecak, "Iya gara-gara kamu."


"Kok aku disalahin," ujar Farrel.


"Udah deh, mendingan kamu ngapain kek disana, bukan nya tadi sedang memberikan pekerjaan kantor? Memang sudah selesai?" tanya Metta menutupi rasa gugupnya.


"Biar aku menyelesaikan tugasku, agar cepet selesai!" imbuhnya lagi.


Farrel sengaja menyentuh cuping telinganya, "Memang nya kalau sudah selesai, kita mau ngapain?"


Metta mencondongkan tubuhnya, "El....ih Astaga! geli tahu...."


Farrel tergelak lalu memutarkan tubuh Metta, dengan bertumpu pada kedua tangan yang menekan wastafel. Menatap Metta yang terlihat gelagapan dengan lekat.

__ADS_1


"Are you happy?" tanyanya kemudian.


Metta berdecak, namun dengan bibir yang terangkat tipis. "Apa sih, selalu bertanya begitu?"


"Hanya ingin memastikan, are you happy with me?" tanyanya mengulangi.


Metta mengangguk kecil, "Hm ... i'm happy of course."


Farrel menyunggingkan senyuman, "Kalau gitu, cium aku,"


"Iiihh ...kebiasaan deh!" ujarnya mencipratkan air pada wajah Farrel, lalu tergelak dengan menyekanya kembali.


"Kakak ..." sungut Farrel.


Metta terkekeh, dengan kembali menyeka."Maaf...!"


Menyentuh wajah Farrel yang tengah menatapnya dalam, menyentuh rahangnya dengan guratan garis yang semakin tegas.


Kedua netra saling beradu, begitu juga dengan kedua bibir yang diisi oleh ukiran melengkung.


"Apa kakak sekarang sedang menahan ingin mencium ku?" goda Farrel dengan gemas.


"Farrel...!"


Metta memukul bahu suaminya, "Ngeselin deh!"


"Kenapa banyak berfikir, aku sudah tahu kalau kakak memang ingin mencium ku! Benar kan?" Farrel terkekeh.


Metta menepis tangan suaminya yang mengkungkung tubuhnya, "El ... jangan ngawur! Siapa yang mau menciummu!"


"Semakin mengelak, semakin kelihatan...." ujarnya terkekeh.


"Farrel ih, aku mau mencuci piring!"


Tanpa diduga, Farrel semakin merekatkan kungkungannya, " Lebih baik kita bersenang-senang saja!"


Tak menunggu lama, Farrel meraih dagu Metta dan melu matt bibir yang menjadi candu baginya. Yang tipis dan semakin merona.


Mencecap manisnya benda kenyal yang membuatnya selalu ingin dan ingin. Dimana pun mereka berada.


Nissa yang tiba-tiba masuk ke dapur pun menabrak pintu.


"Oouunnchh....!"


Membuat aktifitas mereka terhenti, Metta kembali mencuci piring dengan mendelik tajam pada Farrel.


"Aku bilang juga apa? Ketahuan kan kita...!"


Farrel menggaruk tengkuk. Menatap Nissa yang langung berbalik tanpa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2