Berondong Manisku

Berondong Manisku
Ini kenyataan, bukan mimpi


__ADS_3

Tidak ada penyesalan terbesar dalam hidupnya selain menyadari seseorang itu berharga, justru setelah seseorang itu hilang. Penyesalan yang selalu datang terlambat, penyesalan yang justru membuat hidup Doni berubah.


Hampir sebulan Tiwi meninggalkannya, semenjak itu pula Doni berubah menjadi lebih pendiam, dia tidak peduli dengan gadis-gadis yang mencari perhatiannya. Tidak peduli lagi dengan wanita.


"Doni, kamu baik-baik saja kan?"tanya Farrel saat mereka baru saja keluar dari lift dan menuju ruangannya.


Setiap melewati ruangan tempat Tiwi dulu bekerja, Doni selalu menengokkan kepalanya. Berharap semua ini adalah mimpi belaka, masih berharap dia dapat melihat Tiwi kembali dan meminta maaf, kalau perlu dia akan bersujud meminta maaf.


Setelah seperkian detik, Doni kembali berjalan, "Hm... jangan khawatir! Aku baik-baik saja." ujarnya pada Farrel.


Farrel mengangguk, lalu mereka masuk kedalam ruangan.


"Pergilah mencari pacar! Agar hidupmu kembali bersemangat."


"Kau sudah seperti bapak-bapak! Aku sedang tidak berminat untuk mencari gadis!" ujarnya dengan ketus.


Farrel menghela nafas, dia prihatin dengan keadaan Doni, yang terus meratapi keadaan dan penyesalan nya.


"Besok aku akan pergi ke sekolah Andra, untuk menghadiri kelulusannya, aku ingin kau ikut," ucap Farrel dengan menduduki singgasananya.


Doni duduk dikursi di depan Farrel, dia memeriksa beberapa berkas yang sudah menumpuk.


"Tidak terima kasih aku sudah ada janji dengan orang."


Farrel menahan berkas yang akan dibawa olehnya dengan tangan, "Benarkah? Dengan siapa? Pria atau wanita."


Doni menyipitkan matanya, "Kenapa kau sangat ingin tahu?"


Farrel menoyor kepalanya, "Aku hanya ingin tahu, kau masih normal atau tidak! Kau hanya bermain dengan teman-teman mu yang aneh itu."


"Choco pie lah, panthera lah, teh cooljack, si ono tuh" Farel berdecak.


"Luciano...."


"Nah itu!" ujarnya dengan jentikkan tangan.


Doni meletakkan berkas yang akan dia periksa itu di meja kerjanya, lalu menghempaskan dirinya di kursi.


"Itukan name account, mana ada yang memakai nama lengkap sesuai akta kelahiran. Kau ini hanya tahu pendanaan nya saja, mana tahu tentang serunya punya name account."


"Heh black ... kau menyepelekan aku?"


"Panggil yang benar! black roses. Black ... black kau kira aku anjing!" ucap Doni dengan sewot.


Farrel tergelak, rasanya sudah lama mereka tidak bercanda seperti dulu, kesibukan mereka yang membuat mereka jarang sekali mempunyai waktu yang santai seperti dulu.


"Bagaimana kalau besok kita pergi ke kampus? Sekalian ku ingin memperpanjang masa cuti ku!" Ucap Farrel dengan alis turun naik.


Doni berdecak, "Padahal aku ingin menyelesaikan kuliahku akhir tahun ini, kalau kau memperpanjang lagi, itu artinya aku juga harus ikut cuti."


Tok


Tok


Pintu terbuka, Metta masuk kedalam ruangan,


"El ... kamu baik-baik saja kan?"


Farrel mengangguk, "Hanya sedikit butuh pelukan."


Doni yang mendengarnya pun hanya memutar bola matanya malas, sedangkan Metta menyipitkan matanya lalu menutup pintu.


"Kau ini ada-ada saja!"


Farrel terkekeh, "Apa sudah waktunya minum obat?"


"Huum ..." ujarnya dengan menyerahkan beberapa vitamin dan juga obat untuk mengurangi rasa mual yang diresepkan dari dokter.

__ADS_1


Farrel mengenadahkan tangannya, lalu meminumnya sekaligus. "Apa kakak juga sudah meminum obat?"


"Tentu saja, mana mungkin aku sendiri lupa!" ujarnya dengan menyerahkan botol air mineral padanya.


Kehamilan Metta sudah menginjak sembilan minggu, namun sama sekali tidak merasakan gejala-gejala, bahkan mual sekalipun, berbeda dengan Farrel, sampai saat ini dia kerap kali merasa mual meski tidak separah seperti sebulan yang lalu.


Doni yang memperhatikan mereka dari belakang pun merasa hatinya sedikit perih, andai saja waktu bisa diputar, mungkin keadaan akan berbeda, dan sekarang bukan hanya Farrel dan Metta yang bahagia, namun juga dia dan,


Astaga, Tiwi maafkan aku. Sampai saat ini aku masih berharap ini semua mimpi, kamu dan anak kita. Maafkan aku yang menjadi pria pengecut seperti katamu.


Tak terasa kedua matanya terasa perih, dan mulai mengabur. Berkali-kali menghela nafas berat.


Metta menyenggol lengan suaminya, dengan mata yang mengarah pada Doni. Dia merasa tidak enak hati pada Doni.


"Lebih baik aku kembali, Doni mungkin tengah memikirkan Tiwi dan anaknya lagi, lebih baik kamu hibur dia atau apa gitu El...."


Farrel mengangguk, "Sebentar lagi aku akan keluar untuk meeting, mungkin dengan keluar dia bisa melupakan sejenak." ujarnya dengan terus mengelus perut Metta.


Metta mengangguk, "Kalau gitu aku keluar dulu!"


Farrel bangkit dari duduknya dan merengkuh bahunya, "Kakak hati-hati, jangan banyak bergerak, jangan terlalu capek da---"


Metta mencubit pipinya pelan, "Iya Papa bawel."


Beberapa saat kemudian


"Waktunya meeting," ujar Doni yang beranjak dari kursinya.


"Diluarkan?"


Doni mengambil ipad yang berisi agenda kegiatan Farrel. Lalu menggulir ke tanggal hari ini.


"Ada dua meeting hari ini, satu di kafe daerah xx dan satu di kafe dekat sini."


Farrel mengangguk, seraya memakai jas nya kembali."Kita kemana dulu?"


"Kafe xx dulu, mereka ingin memajukan meeting hari ini atas permintaan salah satu kepala cabang mereka. Katanya klien mereka ada yang memundurkan waktunya sama dengan jadwal kita." jelas Doni.


Doni mengerdikkan bahu, "Mungkin takut bentrokan."


.


.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke kafe di daerah xx, Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beberapa kali kliennya itu sudah meneleponnya.


"Aku baru kali ini berhadapan dengan klien yang rewel, kita sudah minta waktu, mereka yang memajukannya!"


"Dan kita minta waktu karena terjebak macet, mereka tidak terima! Dasar egois." gerutu Doni.


Sementara Farrel hanya terdiam disampingnya.


"Katakan pada mereka, jika tidak dapat menunggu lima menit lagi, kita rescedule lagi saja." ujar Farrel yang ternyata tengah berfikir dalam diamnya.


Doni menepikan mobilnya, lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu mengirimnya ke nomor Klien yang akan melakukan Meeting kali ini.


Lalu dia kembali melajukan mobilnya. Jarak mereka dengan kafe tersebut pun tidak jauh lagi, tak lama mobil pun berhenti dipelataran parkir Kafe tersebut.


Farrel merapikan pakaiannya, begitu juga dengan Doni, gak lama mereka keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kafe.


Seorang wanita menyambut mereka dengan tatapan menyalang. Bahkan sebelum Farrel dan juga Doni mendudukkan dirinya di kursi.


"Apa seperti ini dedikasi kalian terhadap perusahaan?" ujar Wanita yang menyambut mereka.


Doni sudah mendecih, dia terlihat ingin menjawabnya, namun Farrel menggelengkan kepalanya.


"Maaf, tapi kami sudah meminta tenggat waktu, karena terjebak macet!" ujar Farrel dengan tenang.

__ADS_1


Wanita itu tampak mendengus, "Kita tunggu atasan saya, beliau sedang ke toilet!"


"Cih, gayanya saja tidak mau menunggu, tapi ternyata kita masih disuruh menunggu juga!"cibir Doni.


Tak lama kemudian


"Maaf membuat kalian menunggu," ujar wanita yang disinyalir sebagai CEO dari perusahaan yang akan meeting dengan mereka.


Farrel berdiri menyambutnya, begitu juga Doni yang terhenyak tiba-tiba. Saat melihat wsnita yabg didepannya itu tersenyum dan mengangguk kearah mereka.


Astaga, apa ini mimpi?


Bahkan Doni tidak berhenti menatap ke arahnya. Membuat asistennya itu jengah dan berdehem. Barulah Doni mengalihkan pandangannya.


Sorot matanya saja sama, senyumnya, bahkan potongan rambutnya, yang membedakan hanya dia lebih banyak tersenyum dan juga ramah.


Farrel harus beberapa kali menyenggol lengan sahabatnya itu, agar Doni kembali fokus dalam mencatat poin-poin penting. Namun sepertinya Doni malah kembali terkesima dengan CEO wanita dihadapannya.


Hingga meeting pun akhirnya selesai, Mereka tengah berbicara santai,


"Maaf, apa aku boleh bertanya sesuatu?" ujar Doni tiba-tiba.


"Ya...."


"Berapa umurmu?"


Tak disangka asisten yang duduk disampingnya itu menyela, "Maaf itu pernyataan paling tidak sopan!"


Doni mengangguk, "Maaf, saya hanya ingin tahu,"


Wanita itu menarik bibirnya tipis, "Tidak apa, kalau begitu kami permisi!"


Mereka pun akhirnya berpamitan, namun Doni yang kepalang penasaran justru menyusulnya keluar.


"Tunggu....!"


Wanita itu kembali berbalik, "Ya kenapa lagi?"


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Wanita itu tersenyum, "Sepertinya tidak, permisi!"


Doni tidak kehilangan akal, dia kembali menyamai langkahnya, "Tapi aku rasanya sudah mengenal mu."


Wanita itu tampak geram,


"Berhentilah main-main! Saya harus kembali bekerja."


"Tapi aku sedang tidak main-main, rasanya kamu tidak asing bagiku!"


Asisten wanita itu menghampiri Doni. "Berhenti bertingkah seperti bocah! Jangan menganggu atasan kami atau kau akan berhadapan denganku!"


Doni mematung, dia menatap mobil itu melaju dan menghilang, sementara wanita itu memandang Doni dari spion.


Farrel yang menyusul nya dari belakang pun menepuk bahunya, Doni menoleh,


"Rel Kau melihatnya kan? Dia mirip sekali dengan Tiwi, apa itu dia?"


"Sadarlah, Tiwi sudah tidak ada lagi, ini bukan mimpi, ini nyata, dia hanya kebetulan mirip."


"Tapi...."


"Lebih baik kita kembali sekarang! Biar aku yang menyetir, kau harus istirahat agar tidak berhalusinasi." ujar Farrel yang berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Doni masih terpaku ditempatnya.


"Aku sudah gila."

__ADS_1


.


.


__ADS_2