
Malik sudah berdiri di depan Jofan setelah memastikan Ayu aman berada di dalam mobil yang tidak jauh dari jangkauan pandangan matanya.
"Mau bicara apa Fan?" Malik melipat kedua tangannya, menajamkan pandangan matanya.
Aku gemetar, bagaimana ini. Aku harus mulai dari mana! Kenapa kata-kata yang sudah ku susun dengan rapih hilang begitu saja!. Menggerutu dalam hati.
"Cepat Fan, aku tidak punya banyak waktu. Ayu harus segera istirahat." Malik merasa Jofan sedang kebingungan. Momen yang tepat untuk menunjukkan wibawa nya di depan Jofan.
"Tapi jangan memarahi Ayu ya Kak. Aku sedih melihatnya menangis tadi." Jofan membuka suara atas kegundahan hatinya.
Malik serasa di tusuk benda tajam mendengar perkataan Jofan. Ternyata dia sudah menyakiti Ayu dengan sikapnya. Malik merasa terharu Jofan khawatir Ayu akan dapat masalah, makanya dia merasa bingung ingin buka suara.
"Tenang saja, apa yang mau Jofan katakan. Katakan saja!" Pura-pura cuek padahal hatinya berbunga-bunga melihat kenyataan Jofan sangat peduli pada adik kandungnya.
Paling tidak ikatan yang sudah terjalin selama ini tidak akan menguap begitu saja saat identitas Ayu sudah terbongkar. Entah kapan waktunya.
"Ayu melihatnya menangis entah apa yang membuatnya sesedih itu. Dia selama ini selalu bahagia bagaimanapun keadaannya." Johan terbawa suasana.
"Benarkah?" Malik merasa bersalah, ada andil perbuatannya juga kenapa Aku sangat sedih.
"Aku memaksakannya untuk bercerita, tapi dia tetap bungkam. Dia masih ragu untuk menceritakan yang sebenarnya." Malik mencoba menerka apa yang ada dalam benak Ayu.
Malik memandangnya lekat, Ayu terlihat menyandarkan kepalanya di kursi mobil memejamkan mata. Dia gadis keras kepala yang tidak mau meninggalkan sehari saja ujian sekolah padahal sedang sakit.
"Apa yang dia katakan lagi?" Kembali fokus pada Jofan.
"Tidak ada, awalnya aku pikir dia sedih karena tidak Kak Malik ijinkan pergi camping Minggu depan." Malik menyipitkan matanya.
"Camping? Ayu tidak membahasnya." Malik jadi ingat kejadian semalam, saat Ayu membawakan minuman ke ruang kerjanya.
"Dasar gadis itu. Bisa-bisa nya dia bertingkah seperti itu hanya untuk minta ijin camping." Malik tersenyum sendiri. Bicara lirih, Jofan hanya garuk-garuk kepala tidak mendengar jelas ucapan Kak Malik.
"Apa boleh Ayu pergi bersama kami Kak? Aku janji akan menjaganya." Jofan berubah jadi manis di depan Kak Malik. Seolah Jofan sedang bicara dengan Kak Rey. Entah apa yang membuatnya nyaman sampai bisa bertingkah ke kanak-kanakan.
"Akan aku pikir kan, dia akhir-akhir ini sedikit lemah kesehatannya. Aku harus lebih hati-hati menjaganya." Malik tidak mau Ayu sakit lagi, bukan tidak mau memberikan ijin.
Banyak hal penting akhir-akhir ini yang harus Malik kerjaan. Perusahaan yang sedang berkembang pesat membuat Malik kehilangan banyak waktu bersama Ayu.
"Jika di ijinkan, aku akan menjaga Ayu dengan baik." Jofan tersenyum manis seperti gulali.
"Jangan tersenyum begitu padaku!" Malik merasa heran dengan sikap Jofan yang berubah setelah dirinya menikah dengan Ayu.
Selama dia mengenal Jofan, Malik mengenalnya sebagai anak laki-laki yang dingin dan tidak banyak bicara. Tapi sekarang malah terbalik, dia sangat cerewet seperti Mamih.
"Baik Kak, jaga Ayu yah. Jangan membuatnya menangis lagi." Jofan sudah berbalik dan siap melangkah meninggalkan Malik.
__ADS_1
Tapi langkahnya terhenti karena Malik menarik tas Jofan, menahan nya karena masih ada yang ingin Malik bahas.
Malik melihat Ayu sekali lagi yang masih memejamkan matanya di dalam mobil. Memastikan dia tidak memperhatikan perbincangannya dengan Jofan.
"Jofan, ada yang masuk ke rumah kami semalam. Dia melukai pelipis Ayu dan membuatnya menangis." Malik mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Jofan merasa heran, bagaimana bisa itu terjadi. Rumahnya bahkan seperti istana negara yang di jaga ketat.
"Kak Malik tau siapa orang nya?" Jofan mencurigai Oji. Sudah sejak lama Jofan merasa tidak nyaman dengan kehadiran Oji dalam hidup Ayu.
"Coba lihat video ini. Aku dan Rey menebak orang yang sama. Tapi itu hanya dugaan, karena kita tidak punya bukti kuat siapa dia." Malik masih mencoba mengumpulkan bukti.
"Iya, seperti nya dia pelakunya. Aku akan buat perhitungan." Jofan naik pitam. Dia sangat geram melihat video yang Malik tunjukkan.
"Jangan ambil tindakan gegabah, salah-salah kita bisa kehilangan barang bukti. Dia bukan orang sembarangan, dia bisa membobol keamanan rumah dan menghapus beberapa jam rekaman CCTV di sekolah." Jofan mengerutkan keningnya semakin tidak percaya.
Ternyata Ayu di teror Oji selama ini. Kenapa dia tidak pernah ceritakan pada kami sahabatnya. Pasti ada yang tidak beres.
"Kalau begitu kita harus bekerja sama menangkap dia. Kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja." Jofan berjanji tidak akan mengampuni Oji dalam hatinya.
"Baiklah Jofan, tolong jaga rahasia ini. Jangan sampai Ayu tau kita menyelidiki kasus ini. Dia menutupi semuanya, entah apa yang laki-laki ini katakan." Malik tersenyum masam, ada rasa kecewa namun tidak bisa keluar dari bibirnya.
Mereka menyudahi pembicaraan siang ini. Malik memutuskan segera pulang agar Ayu bisa istirahat dengan baik.
Ayu tertidur pulas ternyata saat Malik masuk ke mobil. Malik meraih jaketnya yang ada di kursi belakang untuk menyelimuti tubuh Ayu agar tetap hangat.
Malik menyudahi aksinya, dia tidak mau Ayu terganggu dari istirahatnya. Malik segera melaju menembus jalanan yang siang ini sedikit lengang.
Tidak lama mereka sudah sampai di rumah. Seperti biasa Malik Menggendong nya sampai ke kamar karena Ayu masih tertidur.
Malik segera turun setelah memastikan Ayu tidak dalam bahaya. Memastikan semua pintu dan jendela kamar terkunci rapat agar tidak ada lagi orang yang bisa masuk sembarangan.
Langkahnya cepat menuju dapur, Malik memilih beberapa sayuran, daging ikan segar untuk di olah. Malik ingin memastikan makanan yang Ayu makan bergizi dan sehat.
"Tuan muda, biar bibi saja yang buatkan. Tuan muda mau buat apa?" Sapa Bibi kaget merasa tidak enak hati melihat Malik sibuk di dapur.
"Tidak perlu Bi, hari ini Malik yang masak untuk Makan siang." Malik memang hobby sekali masak.
Memastikan perut orang-orang terkasihnya mendapat asupan makanan sehat dan lezat.
Terdengar nada dering ponsel Malik menggema. Dia bahkan terkejut sendiri karena suara nada ponsel yang begitu nyaring memekik di gendang telinga.
"Iya, kau mengejutkan saja Al. Ada apa?" Malik memaki Aldo yang tidak bersalah.
"Maaf Bos" Aldo hanya pasrah meminta maaf atas kesalahan yang dia tidak tau apa sebabnya.
__ADS_1
"Bos, ada pemilik perusahaan bernama dragon datang. Dia ingin mengajukan kontrak kerja sama Bos." Aldo berkata penuh penekanan.
"Pelajari kontrak kerja yang dia ajukan Al. Setelahnya ringkas isi nya dan beritahu aku. Aku tidak bisa kesana hari ini. Ayu masih sakit." Malik merasa menyesal karena Aldo harus menggantikan perannya.
"Baik Bos, akan saya teliti isi kontraknya." Aldo menyudahi telponnya begitu saja.
Berani sekali dia menutup telponnya, sudah mulai kurang ajar dia. Gerutu Malik pada ponsel di tangannya.
"Bos, maafkan aku. Aku tidak bermaksud memutuskan sambungan telpon." Aldo merasa bersalah dan langsung menghubungi Malik kembali. Jika tidak akan ada perang yang membuatnya pusing.
"Ok, peraturannya hanya aku yang boleh mematikan sambungan telpon. Jangan lupa itu Aldo." Kali ini Malik merasa puas. Dia bahkan tersenyum sendiri menatap ponsel yang sudah tidak terhubung lagi.
Malik kembali fokus dengan hidangan sehatnya. Membuatnya dengan teliti agar rasanya selezat tampilannya.
Setelah siap Malik menempatkan sayur, ikan dan nasi di dalam piring yang terpisah di atas nampan.
Membawanya ke kamar agar Ayu segera makan siang. Malik rasa Ayu sudah cukup istirahat dan perutnya tidak boleh di biarkan kosong terlalu lama.
Ternyata Ayu sudah bangun, dia duduk di atas kasur. Menyandarkan badannya di antara bantal yang tersusun di belakang tubuhnya.
Mengingat ucapan Jofan tadi siang membuat Malik ingin menguji seberapa sedih jika dia mendiamkannya.
Malik membisu duduk di hadapan Ayu. Tidak berkata apapun, hanya tangannya yang bergerak menyuapkan makanan ke mulut Ayu.
"Kak Malik yang membuatnya? Bibi tidak pandai membuat menu makanan seperti ini." Ayu mengulas senyum ceria nya, tapi tidak ada reaksi dari Kak Malik. Dia membisu.
Apa dia masih marah yah? Aku harus bagaimana supaya dia tidak marah lagi yah. Ayu mencari ide.
"Kak, aku ingin sekali jalan-jalan sore. Soal-soal ujian tadi membuat otakku harus berpikir keras." Memijat tengkuknya dengan ekspresi kelelahan.
Malik tetap membisu, dia sebenarnya sedang menahan diri agar tidak merespon Ayu. Dia merasa terharu dengan tingkah lucu Ayu yang di buat-buat agar dirinya melunak.
"Kak, ayo kita jalan-jalan Kak." Ayu menggoyangkan tangan Malik yang memegang nampan.
Malik melotot ke arah tangan Ayu. Seolah tidak suka dengan tindakan Ayu. Padahal berbanding terbalik dengan suasana hatinya.
Ayu segera melepaskan tangannya dari tangan Kak Malik. Takut di terkam karena matanya sudah sangat tajam.
Ayu tidak berusaha lagi, dia sangat takut jika Malik sudah seperti ini. Tapi Ayu tidak bisa didiamkan terlalu lama, dia orang yang sangat melankolis dan mudah sekali menangis.
Ponsel Malik lagi-lagi berdering, Malik mengangkat ponselnya duduk di atas kasur. Tiba-tiba saja ide gila muncul di benak Ayu.
Dia turun dari kasur, duduk bersimpuh di hadapan Malik yang masih sibuk dengan pembicaraannya di telpon.
Malik sontak kaget melihat Ayu menangis berlutut di hadapannya. Tangannya memeluk kaki Malik dengan air mata yang berderai.
__ADS_1
Apa yang kamu lakukan, berdiri. Malik mencoba mengangkat tubuh Ayu, tidak berhasil. Ayu bersikeras sampai Malik mau memaafkannya.
"Aku mohon bicaralah padaku Kak. Aku minta maaf." Suaranya sesenggukan membuat hati Malik terenyuh.