Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 66 ( Keputusan Sulit )


__ADS_3

Pintu kamar mandi yang terkunci satu jam lebih akhirnya terbuka. Bapak menggendong tubuh Ayu yang saat ini tidak sadarkan diri.


Mereka berdua basah kuyup, hanya terlihat air mata kesedihan yang mengalir. Sudah tidak ada lagi kemarahan yang keluar dari raut muka Bapak.


Anak gadisnya sudah menjelaskan bagaimana kejadian yang sebenarnya. Meskipun Bapak awalnya menolak untuk mendengarkan, tapi melihat kegigihan Ayu yang tidak pantang menyerah membuat Bapak luluh dan mau mendengarkan.


Ayu kedinginan, selama bercerita dia memeluk erat lengan Bapak. Menahan agar Bapak tidak menepis pelukannya. Ayu merasa bersalah karena begitu besar kasih sayang Bapak terhadap dirinya selama ini.


“Tolong” Bapak bingung harus berbuat apa. Melihat Ayu lemas tidak berdaya membuat dirinya merasa bersalah karena terlalu keras.


Malik meraih tubuh Ayu dari tangan Bapak.


Menggendongnya dan membaringkan Ayu di atas kasur. Adam dan Sarah dengan sigap membantu Malik.


“Aku minta supaya kalian semua keluar yah, aku dan Ibu mau mengganti pakaian Ayu yang sudah basah semua” Sarah meraih handuk yang terlipat rapih di atas nakas.


Pintu kamar tertutup rapat. Semua orang sudah berada di luar kecuali Sarah dan Lia. Mereka berdua bekerjasama membantu Ayu berganti pakaian sebelum Sarah memeriksa keadaan Ayu.


Malik terlihat hancur kali ini. Apa yang dia bayangkan terjadi, kemarahan orang tua yang anak gadisnya di renggut kesuciannya.


Rasanya Malik tidak berani menatap netra Hadi yang sampai saat ini masih menatap pintu kamar dengan pilu. Tidak ada pembicaraan, mereka semua diam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Malik bahkan tidak menyadari kedatangan kedua orang tuanya. Sampai tangan hangat Mamih menggengam erat tangannya.


“Mamih” Malik mendekap erat tubuh Mamih. Saat ini Malik membutuhkan sandaran agar tidak goyah dan kuat.


Dengan lembut Mamih membalas pelukkan anak kesayangannya. Rasanya pedih melihat kisah cinta Malik yang tidak semulus kerajaan bisnis nya.


Rama menyodorkan handuk pada Hadi yang masih mengenakan pakaiannya yang basah. Tidak menggubris tawaran Rama. Dia kembali menatap sedih pintu kamar yang terkunci rapat.


“Tolong Tuan, jangan sampai Ayu merasa lebih berdosa jika melihat Tuan sampai sakit” Kata-kata Rama seperti menyentil jantungnya.


Hadi menatap tajam netra Rama, membayangkan jika apa yang Rama katakan benar terjadi. Melihat putrinya saat ini begitu hancur dan tidak mau jika semuanya bertambah rumit. Hadi akhirnya meraih handuk yang Rama tawarkan.


Rama menuntunnya ke kamar tamu. Menyerahkan kaos dan celana Malik yang sekiranya cocok untuk Hadi kenakan.


Rama saat ini bingung, apa yang harus dia katakan, apakah mereka akan mendapatkan pengampunan atas perbuatan Malik. Tapi mereka masih remaja, kesalahan seperti ini sudah di luar batas dan sangat memalukan.


Wajar jika kedua orang tua Ayu begitu marah.


Rama mondar-mandir bingung memikirkan kata yang tepat agar tidak menyakiti perasaan kedua orang tua Ayu. Jika salah mengambil kosa kata yang membuat mereka tersinggung, akan bisa di pastikan putra nya yang akan hancur.


Rama selama ini sudah mengetahui bagaimana Malik begitu bersungguh-sungguh dengan perasaannya.

__ADS_1


Dia benar-benar jatuh hati pada gadis kecil yang selalu membawa kebahagiaan dalam hidupnya.


Terlihat Hadi keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang Rama berikan. Wajahnya masih diliputi rasa sedih. Hadi menganggukan kepala pada Rama kemudian melangkah menuju pintu keluar kamar.


Rama sedikit berlari kemudian mengunci pintu kamar. Semua orang yang ada di depan pintu Kamar yang Ayu tempati sampai terlonjak karena pintu di tutup begitu keras.


“Apa yang Ayah lakukan Mih? Dia akan membuat mereka lebih membenci Malik Mih!” Malik begitu takut Rama akan memperkeruh keadaan.


Malik berlari, mencoba membuka pintu kamar namun pintu sudah terkunci rapat. Malik berlari mencoba mencari kunci cadangan.


Tapi karena pikirannya sedang tidak karuan, Malik tidak berhasil menemukan dimana kunci cadangan dia letakkan.


“Ayah, aku mohon jangan bertindak seperti ini. Aku mohon Ayah! Buka pintunya!” Malik berusahan membujuk Rama agar mebukakan pintu yang dia kunci dari dalam.


Ketegangan begitu terasa diantara Rama dan Hadi yang saat ini berada di dalam kamar yang terkunci. Hadi menatap Rama dengan tajam, kali ini Hadi sedikit mendengus. Dia melihat garis muka Rama yang begitu mirip dengan Malik.


“Maaf kan saya Tuan. Saya Rama, saya...”


“Jangan basa-basi saya tau siapa anda. Apa mau Mu?” Hadi bersedekap. Orang kaya biasanya akan menggunakan cara licik untuk meyelesaikan masalah.


“Aku mohon, berikan kesempatan pada putraku untuk menebus perbuatannya” Rama berlutut. Hadi sampai syok melihat Rama yang terlihat begitu berwibawa berlutut di hadapannya.


“Kau membela anak mu yang tidak tau diri?” Hadi masih diliputi rasa kecewanya.


“Anak saya masih sangat kecil, dia tidak pantas di pelakukan seperti ini. Kenapa anda tidak menjaga putra anda dengan baik?” Kali ini Hadi tersulut.


“Mereka memang sudah melakukan kesalahan besar. Tapi apa mereka tidak bisa kita beri kesempatan? Jika tidak percaya dengan putraku, tolong percaya padaku. Aku akan merawat Ayu dengan baik, dengan tanganku sendiri.” Hadi melihat Rama begitu tulus dengan ucapannya.


Hadi tidak menggubris, dia keluar membuka paksa pintu yang di halangi Rama sedari tadi.


Dia tidak bisa mengambil keputusan dalam suasana hati nya yang sedang kalut. Tidak mau menyerahkan anak gadisnya pada orang-orang yang tidak tepat.


Hadi melangkah keluar, terlihat Malik, Adam, dan Aldo sedang duduk di sofa ruang tamu. Hadi melengos, masih tidak mau menatap Malik. Padahal Hadi mengakui kalo Malik sangat bertanggung jawab mengakui segala perbuatannya.


Terlihat Lia, dokter Sarah dan seorang wanita paruh baya yang sudah bisa di pastikan dia adalah Ibu dari Malik yang sedang memeluk erat tubuh Ayu. Hadi menghentikan langkah kakinya. Terkejut dengan pembicaraan mereka yang terlihat begitu akrab.


“Anakku sayang, sampai kapan pun dan apapun yang akan terjadi kamu tetap anakku. Kita sudah sepakat bukan! Ayuna adalah anak gadisku yang sangat cantik.” Terlihat Mamih yang sedang memeluk Ayu dan berkata begitu lembut. Sarah dan Li terharu melihat kedekatan Mamih dan Ayu.


Selama ini hubungan Ayu dan Mamih memang seperti orang tua dan anak. Mamih sering kali menemani Malik dan Ayu jalan bersama, karena Ayu tidak mau hanya jalan berdua bersama Kak Malik.


Hadi melihat sorot mata Ayu yang begitu nyaman dalam dekapan wanita paruh baya yang belum dia kenal. Sepertinya mereka memang orang-orang baik yang akan membuat kehidupan Ayu menjadi lebih mudah dari sebelumnya.

__ADS_1


Kali ini Hadi harus melapangkan dadanya, mencoba menerima takdir Allah yang menyeretnya dan putrinya sejauh ini.


Lia dan Sarah hanya saling memandang saat melihat Hadi mematung di depan pintu masuk. Lia menocoba berjalan menghampiri suaminya.


Lia hanya mampu tersenyum, Hadi saat ini sudah terlihat sedikit tenang. Sudah terlihat aura Hadi yang selama ini terpancar dalam dirinya sebagai laki-laki penyayang dan penuh kesabaran meskipun belum sepenuhnya kembali.


“Bapak sudah enakan?” Lia menuntun Hadi menemui Ayu dan Mamih yang masih tertegun.


“Perkenalkan saya Ajeng Tuan, saya Ibu dari Malik.” Kali ini Hadi menyambut tangan Mamih. Tidak menepis dan mencoba menghadapi situasi ini dengan kepala dingin.


Lagi-lagi Ayu tidak bisa menahan air matanya. Dia masih emosional mengingat perbuatannya yang menyakiti perasaan bapak begitu dalam. Mencoba tersenyum pun percuma, matanya tidak bisa berbohong.


Tetap saja memancarkan kesedihan yang mendalam.


“Mari kita bicara sebagai orang tua. Dokter, saya titip anak saya sebentar.” Hadi menuntun istrinya ke ruang tamu. Mamih mengikuti dari belakang.


Aldo dan Adam sudah bersiap berdiri memberikan ruang untuk kedua orang tua bertukar pikir. Mencoba menyelesaikan segala permasalahn dengan cara yang baik.


“Jangan pergi, jadilah saksi untuk Malik dan Ayu” Hadi mempersilahkan keduanya duduk kembali.


Aldo dan Malik saling pandang kemudian duduk di antara kedua orang tua yang saling menyayangi anak-anaknya tanpa batas.


“Tuan Rama, saya sebelumnya minta maaf karena selama ini anak kami banyak merepotkan keluarga kalian” Hadi


“Jangan bicara seperti itu, dia anakku juga” Mamih memang sangat mencintai Ayu seperti dia menyayangi Malik.


Lia tersenyum, dia sudah menyaksikan sendiri bagaimana kedekatan putrinya dengan wanita cantik yang memperkenalkan dirinya sebagai Mamih dari Malik.


“Aku akan merawat Ayu. Aku akan meminta Tuan Hadi mempercayakan Ayu untuk kami rawat. Aku akan bertanggung jawab.” Rama sedikit memelas.


“Perbuatan mereka memang harus di pertanggung jawabkan. Akan lebih baik jika Ayu dan Malik kita nikahkan agar tidak terjadi fitnah.” Malik sedikit kaget karena Hadi menyerahkan Ayu pada dirinya.


“Apa tidak apa dengan Ayu. Dia masih sangat kecil dan masih banyak waktu untuknya memilih apa yang akan menjadi keputusannya.” Rama ragu karena kasian pada Ayu yang pada akhirnya akan jadi korban karena menikah terlalu muda.


“Aku tidak akan membatasi kemauan Ayu. Aku akan mendukungnya dengan segala cara yang aku mampu.” Malik gemetar mengutarakan pendapatnya.


“Apa kali ini aku bisa mempercayakan anak ku pada Malik? Dia masih sangat kecil dan masih harus banyak belajar menjadi wanita yang baik dan berbakti.” Malik tidak mampu membendung air matanya.


“Apa benar aku di beri kesempatan untuk menjaga Ayu dengan jiwa raga ku?” Malik menatap satu persatu semua yang ada di hadapanya.


Malik memeluk Mamih, kali ini Mamih sangat bahagia melihat air mata bahagia Malik yang tidak terbendung. Semua yang ada di dalam ruangan tidak mampu menahan air mata.

__ADS_1


Butuh kepercayaan diri yang besar melepas anak gadis yang masih sangat kecil pada laki-laki yang baru saja dia kenal. Tapi melihat niat baik mereka yang tidak lari dari tanggung jawab menyadarkan Hadi bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat bertanggung jawab.


“Ingat, jika Ayu tiba-tiba datang dan memintaku untuk membawanya pulang. Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua melepaskan Ayu pada orang yang sama.” Malik mengangguk mendengarkan perkataan Hadi yang begitu tajam menghujam jantungnya.


__ADS_2