Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 114 ( Aku Akan Berjuang )


__ADS_3

Adam kaget saat turun lift dan mendapati Malik ada di depan pintu lift dengan koper besar di tangannya. Adam memicingkan mata tidak percaya degan apa yang Malik lakukan.


Malik tidak menatap Adam. Pandangan matanya menghindari kontak dengan mata Adam. Dia tidak mampu mengatakan apapun. Adam pasti sangat kecewa saat ini.


Adam menghembuskan kasar nafasnya, dia tidak boleh bersikap kekanak-kanakan layaknya Malik.


Adam menarik koper Malik, menahannya agar tidak masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup begitu saja. Menyisakan dua insan manusia yang sudah berteman sejak mereka kecil saling menatap penuh tanda tanya.


"Kau tidak mau menceritakan apapun padaku? Kau mau memendamnya sendiri? Aku yakin kau tidak akan mampu." Adam menggertak Malik.


"Lepaskan!" Malik menarik paksa koper yang ada di tangan Adam di tarik secara paksa.


"Hanya sebatas ini, semudah itu kamu menyerah? Aku tidak habis pikir kau bisa bersikap sembrono seperti ini." Adam menarik paksa koper sampai terlempar cukup keras.


"Jangan ikut campur. Kau tidak tau bagaimana perasaanku saat ini!." Malik berteriak sambil mendorong tubuh Adam agar menjauh darinya.


Tubuh Adam terpojok di tembok. Malik dipenuhi amarah yang bisa menghancurkan hidupnya. Dia harus bisa menjernihkan pikirannya.


"Aku tau, kau pengecut. Kenapa kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Lalu bagaiman dengan Ayuna. Bagaiman dengan perasaan dan masa depan nya!" Giliran Adam berteriak dan meremas kerah kemeja Malik.


"Aku tidak punya pilihan lain." Malik meraih koper yang terlempar dan meninggalkan Adam begitu saja.


"Ingat, kau akan menyesal. Kami semua tidak akan mendukung keputusan dan jalan keluar yang kamu ambil secara pengecut seperti ini." Malik mendorong Adam yang masih menahan pintu lift.


Sebenarnya Adam tau isi hati Malik yang sebenarnya. Dia tidak pernah mencintai orang lain seperti dia mencintai Ayu. Baginya Malik yang ada saat ini hanya rasa kecewa pada dirinya sendiri. Dia merasa gagal dan menyalahkan dirinya sendiri terlalu jauh.


Adam memutuskan pergi ke kediaman Rama yang tidak jauh dari apartemen. Ayu pasti saat ini butuh dukungan dan hiburan.


Suasana rumah sepi saat Adam membuka pintu utama. Tidak tampak satu orang pun yang ada di sana. Hanya ada Aldo yang tampak kesulitan membawa berkas yang bertumpuk di tangannya.


"Pagi Dok. Mau cari Bos yah?" Aldo menyapa Adam dengan ramah.


"Tidak, aku mencari Ayu." Adam memeriksa sekitar, tapi tidak ada satu orang pun yang terlihat.


"Eh...tadi Nona." Aldo bingung harus bicara apa. Tapi sepertinya Dokter Adam bisa membantu Nona.


"Katakan, ada apa dengan Ayu." Adam yakin Ayu saat ini sedang bersedih, Aldo pasti melihat nya.


"Tapi Nona minta jangan bilang siapa-siapa. Dokter janji yah jangan membocorkan rahasia ini." Aldo takut kena omel.


"Tenang saja, rahasia aman." Adam semakin penasaran.


"Nona tadi menangis. Dia bilang Bos pergi meninggalkannya. Tapi Nona bingung harus menyusulnya atau dia harus pergi dari rumah ini. Dokter, tolong selamatkan Bos dan Nona. Mereka saling mencintai, Bos pasti tidak akan sanggup hidup tanpa Nona." Adam tersenyum mendengar ketulusan dan perhatian Aldo.


Dia benar-benar menjaga Malik dengan segenap jiwa. Malik sangat beruntung punya Aldo yang selalu mendukungnya, membuat Adam sedikit iri.


"Akan aku usahakan. Aku akan bicara pada Ayu." Adam menepuk pundak Aldo dan berlalu mencari keberadaan Ayu.


Ayu tidak ada di kamar nya, Adam melangkah mencari ke kamar lain. Pintu kamar depan tidak di kunci, Adam membuka perlahan dan tampak Ayu yang sedang menangis dalam diam. Tangannya sibuk mengusap air mata yang tidak berhenti mengalir.


"Apa aku boleh masuk?" Adam merasa kan pilu di ulu hatinya.

__ADS_1


"Ah...." Ayu mengusap air matanya lagi. Dia mengangguk, bibirnya sulit sekali di gerakkan. Kelu dan tertahan.


Adam duduk memandang wajah Ayu yang merah, matanya sembab dan masih ada sisa-sisa air mata di sana.


"Dokter boleh memeluk Ayu?" Adam merentangkan kedua tangannya.


Ayu mengangguk, dia menangis sesenggukan di pelukan Adam. Merasa malu dengan apa yang terjadi saat ini.


Adam membiarkan Ayu menangis cukup lama. Perlahan suara tangisnya mereda. Mamih sedari tadi memperhatikan Ayu dari balik pintu. Dia tidak kalah sedih melihat Ayu saat ini.


Gadis yang biasa nya selalu bahagia dan ceria berubah jadi gadis yang diliputi rasa sedih dan kecewa karena sikap puteranya.


"Ayu pasti yakin Malik tidak mungkin bisa melepaskan dan meninggalkan Ayu begitu saja." Ayu mengangguk.


"Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku membuat Kak Malik menderita?" Adam menggeleng. Ayu selalu menjadikan dirinya orang paling bersalah.


Padahal Malik lah yang saat ini tidak bisa mengontrol emosinya. Dia egois dan tidak memikirkan perasaan Ayu dan keluarganya.


"Apa kau mau aku bantu berjuang mempertahankan rumah tangga kalian? Atau Ayu akan menyerah!" Adam melihat keraguan, Ayu juga pasti tidak bisa berpikir apa yang terbaik saat ini. Pasti ada keraguan dan ketakutan.


"Apa menurut Dokter Kak Malik akan memaafkan ku?" Ayu takut kesalahan nya fatal dan tidak bisa di maafkan.


Adam tersenyum, dia tidak pernah menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa dirinya, selalu merasa semua yang terjadi karena kesalahan Ayu sendiri.


"Apa kau merasa melakukan kesalahan? Kenapa Ayu selalu menyalahkan diri sendiri." Adam menggenggam erat pundak Ayu. Mencoba menyadarkan Ayu atas kesalahan yang orang lain perbuat.


Ayu menggeleng, dia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kak Malik berubah begitu saja. Ayu tidak tau kesalahan apa yang sudah dirinya lakukan.


Adam tersenyum, membelai lembut puncak kepala Ayu seperti adik perempuannya. Gadis ini memang selalu jadi sumber kebahagiaan banyak orang. Jika Sarah tau keadaan Ayu saat ini, dia pasti akan marah besar pada Malik. Dia pasti akan sangat kecewa dan marah pada Malik.


"Kita berjuang bersama, jangan pernah mundur. Jika Malik masih keras, selalu jadi Ayu yang menjadi sumber kekuatan kita semua agar bisa berdiri tegak di samping Malik." Ayu mengangguk. Dia harus berjuang, banyak orang-orang yang mencintai dirinya dan Malik.


Adam membawa Ayu turun untuk makan siang. Ayu pasti belum makan karena tenggelam dalam kesedihan.


Mamih sedang duduk di meja makan ditemani Cloe saat Adam dan Ayu turun.


"Cloe, tumben sekali aku melihatmu di jam ini." Cloe menghampiri Adam dengan senyum ramahnya. Cipika cipiki seperti biasa karena mereka cukup dekat.


"Biasa Kak, Cloe memeriksa secara berkala. Kebetulan Cloe kosong di jam ini." Mereka semua duduk di meja makan, menikmati makan siang yang sudah tersedia.


Mamih berlagak biasa saja, seolah tidak tau apa yang terjadi pada Ayu. Setidaknya hal ini membuat Ayu lebih nyaman pasti nya.


Suasana makan siang begitu tenang, hanya suara sendok yang berdenting meramaikan suasana.


Selesai makan siang Ayu diantar Pak Dodo ke apartemen Malik. Hatinya berat meninggalkan Mamih. Tapi dia harus berjuang. Jika masalah dibiarkan begitu saja, pasti akan semakin sulit diselesaikan.


Mamih awalnya bersikeras mengatakan Ayu, tapi Ayu meyakinkan Mamih Kak Malik tidak mungkin menyakitinya. Dia pasti akan luluh jika Ayu meyakinkan Kak Malik dengan cintanya.


Ayu menghela nafasnya saat memasuki pintu apartemen. Password nya masih sama. Kak Malik mungkin lupa merubahnya.


"Pak, terimaksih banyak sudah mengantar Ayu." Pak Dodo sebenarnya enggan meninggalkan Ayu seorang diri.

__ADS_1


Ayu yang ingin sendiri, tentu saja dengan penjagaan ketat meskipun orang nya tidak tampak. Pak Dodo pergi setelah melaporkan Ayu dalam keadaan aman pada Malik.


***


Aldo melihat mendung sepanjang hari di ruangan kerja Malik. Dia tidak banyak bicara seperti orang bingung. Aldo yang lebih banyak bicara, suasana yang membuat Aldo tidak nyaman.


"Bos, ini sudah hampir pukul 8 malam. Apa tidak sebaiknya Bos pulang. Pekerjaan kita juga sudah selesai." Malik membisu, pandangan matanya kosong.


Tidak lama Malik berdiri meraih kemeja nya. Meninggalkan ruangan tanpa berkata sepatah katapun.


Aldo mengikuti nya dari belakang, Aldo lebih nyaman jika mengantarkan Malik agar sampai ke rumahnya dengan selamat. Dalam keadaan begini Aldo harus lebih tenang dan banyak mengalah.


"Kita ke apartemen." Aldo memutar balik karena mengambil arah ke rumah besar.


"Bos tidur di apartemen?" Merasa aneh, dia masih teringat Ayu yang menangis di hadapannya pagi tadi.


Aldo memarkirkan mobil Malik dengan apik. Membiarkan Malik naik ke apartemen nya seorang diri.


Malik melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah cukup malam karena dia mampir membeli makanan sebelum pulang. Biasanya Ayu sudah tidur di jam ini.


Malik perlahan membuka pintu, langkahnya berat. Masih belum siap melihat kesedihan di wajah gadis kecil yang sangat dia cintai.


"Kak Malik sudah pulang." Tidak tampak kesedihan di wajahnya. Malik tau Ayu hanya berpura-pura.


Tampaknya Ayu masak makanan kesukaannya. Wanginya menggoda selera Malik untuk mencoba makanan yang Ayu buat dengan susah payah.


Kakinya melangkah ke kamar setelah meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja makan dengan cukup keras.


Masih sangat berat bagi Malik menyudahi sikapnya yang kekanakan. Dia masih merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri.


Ayu membuka bungkus makanan yang Malik lempar di atas meja. Menatanya dalam piring agar bisa dinikmati dengan makanan yang sudah Ayu masak.


Setengah jam Ayu menunggu Malik yang tidak juga keluar dari kamarnya. Berdzikir dalam hati agar tetap berpikir positif dan tidak mengingat kesedihannya.


Ayu tersenyum Melihat Kak Malik yang keluar dengan piyama tidurnya. Matanya masih sama, tidak menatap Ayu sedikitpun.


Dengan telaten Ayu menyendok kan makanan dalam piring. Menyodorkan nya pada Kak Malik. Ayu gemetar karena selama ini Malik tidak pernah bersikap dingin padanya.


Suasana makan sangat sunyi. Biasanya Kak Malik akan memuji makanan yang dia sediakan apapun rasanya. Malik sendiri merasa bibirnya kelu. Ingin sekali memeluk Ayu dan mendekapnya dengan penuh cinta kasih.


Selesai makan Malik langsung masuk ke dalam kamar tanpa sepatah katapun. Dia masih membisu.


Ayu merasakan sesak di dadanya. Berulang kali menghembuskan nafasnya dengan berat. Ayu memejamkan matanya sebentar, mengumpulkan kekuatan agar bisa lebih sabar menghadapi ujian hidupnya saat ini.


Ayu membereskan meja makan sebelum tidur. Mencuci piring perlahan karena tangannya gemetar.


Prangg......


Benar saja, gelas yang dia pegang jatuh, pecahan gelasnya berserakan dan melukai kakinya sedikit.


Ayu menangis terisak dibawah wastafel tempatnya mencuci piring. Sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Ayu memukul dadanya berulang kali karena terasa tercekik.

__ADS_1


Malik menatap sedih punggung Ayu dari balik pintu yang dia buka sedikit. Malik benar-benar dilema, dia tidak mau membuat Ayu dalam bahaya. Tapi sikapnya saat ini malah membuat Ayu terluka.


__ADS_2