
Aldo melepaskan tangan Nikita dengan paksa, dirinya sangat khawatir tapi juga percaya jika dokter Adam tidak mungkin menyakiti Nikita. Mereka dahulu pernah menjadi sahabat saat kuliah di Jerman.
“Nona berpesan agar menjaga Nikita dengan baik. Dia hanya tersesat kata Nona.” Aldo berbisik di telinga Adam sebelum meninggalkan ruangan. Adam melotot meminta Aldo agar bergegas meninggalkan mereka.
“Nik, apa yang membuatmu takut saat melihatku.” Nikita hanya menunduk membuang pandangannya dari Adam. “Aku tidak pernah membencimu, kita sahabat Nik. Kau ingat!” Nikita mengusap air matanya dengan kasar.
“Aku ingin pulang.” Ucapan pertama yang jelas menggambarkan perasaannya saat ini. Adam menghela nafasnya.
“Malik bukan laki-laki jahat jika kau tidak memancing emosinya. Dia juga dulu sangat mengagumi dirimu.” Nikita masih tidak bergeming. “Kita harus tau suasana hatinya saat ini, dia hanya takut ada hal buruk yang akan membuatnya menyesal karena tidak menjaga Ayu dengan baik. Sebesar itu cinta Malik pada istrinya Nik.” Adam duduk di depan Nikita. Mengangkat dagunya agar Nikita menatap matanya.
“Aku tau. Aku tidak akan lagi mengusik mereka. Aku mohon lepaskan aku.” Kali ini Nikita benar-benar terlihat sudah tidak berdaya. Adam paham bagaimana perasaan wanita yang dulu pernah jadi sahabatnya.
“Aku tau tidak semudah itu melupakan dan melepaskan cintamu pada Malik. Tapi dulu Malik tidak serius dengan perasaannya. Dia masih anak-anak saat itu. Nik…. Kau mendengarku?” Nikita mengangguk.
“Jangan bersedih, kau wanita yang sangat sempurna. Aku bahkan tidak percaya diri saat dulu menyukaimu. Laki-laki mana yang tidak mau punya wanita sebaik dan secantik dirimu Nik.” Nikita menagkup wajahnya. Isak tangisnya mulai terdengar, suara yang sangat menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Adam memeluk Nikita sebagai bentuk perhatiannya sebagai seorang sahabat. Tidak mungkin dirinya membiarkan sahabatnya menangis dan bersedih hati tanpa tau harus bagaimana menyikapi kondisinya saat ini. Adam juga harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di masa lalu yang menyeret Nikita menjadi korban.
“Kemana Aldo bisa mengantarmu pulang? Apa kau yakin sudah baik-baik saja?” Adam mencoba melakukan apa saja agar bisa membantu Nikita. Wajahnya tersenyum bahagia saat mendengar Adam menawarkan Aldo untuk mengantar dirinya.
“Aku sebenarnya bisa saja pulang sendiri. Aku tidak mau merepotkan.” Adam menggeleng. Wanita tidak bisa dipercaya begitu saja apalagi dalam kondisi hatinya yang sedang bersedih. Mereka bisa saja melakukan perbuatan tidak masuk akal di luar kendali mereka, dan jika sudah sadar mereka baru meyadari perbuatannya sangat merugikan dirinya sendiri.
“Aku tidak akan biarkan kamu pulang seorang diri. Jika demikan aku tidak akan mengijinkanya.” Adam mengancam Nikita agar mau mengikuti keinginanya agar bisa mengantar Nikita dengan selamat.
“Baiklah, aku mohon jangan katakana apapun pada Malik. Aku benar-benar bodoh tidak memikirkan perasaannya.” Adam mengusap puncak kepala Nikita. Dia sudah kembali menjadi gadis manis yang seperti dulu Adam kenal.
Adam membantu Nikita mengepak barang-barangnya. Ada album kecil yang terselip di tumpukkan baju milik Nikita. Adam membuka album yang berisi kenangan Nikita, Malik dan dirinya saat masih menjalin hubungan baik. Kenangan indah yang tidak akan mungkin dia sendiri bisa lupakan.
“Jadilah sahabat kami Nik. Sarah dan Ayu pasti bisa menerima kehadiranmu sebagai sahabat kami.” Nikita tersenyum, rasanya tidak mungkin mejalin persahabatan dengan orang yang pernah dia cintai.
“Sepertinya akan lebih baik jika aku menghilang dari kehiduan kalian. Kehadiranku hanya akan membuka luka lama.” Nikita sudah sadar akan kesalahanya. Dia benar-benar menyesali kebodohanya mengikuti ide Lissa yang sangat gila.
“Sudah selesai?” Nikita mengangguk, mentari bersinar sangat cerah pagi ini seolah menyambut hari baru yang penuh kebahagiaan.
__ADS_1
“Nona sudah siap!” Aldo berdiri dengan wajah secerah mentari pagi dan senyum seindah pelangi di ujung senja. Nikita sudah merasa lebih baik setelah menerima semua kenyataan yang harus dia hadapi dengan lapang dada.
“Kak Nikita.” Nikita berhenti merasa ada suara yang sangat dia kenal memanggilnya. Bagaimanapaun Ayu sangat berjasa karena berhasil menyelamatkan hidupnya.
Nikita berbalik, benar saja Ayu berdiri depannya dengan senyumnya yang sangat ramah. Malik memang tidak pernah salah mencintai Ayu selama ini. Dia bahkan berbesar hati membantunya saat dirinya hilang arah.
Ayu lari memeluk Nikita dengan hangat, Nikita membalas pelukkan Ayu. Hanya beberapa jam menganal Ayu, tapi rasanya seperti menemukan sahabat yang sudah lama sekali dia kenal. Bahkan tidak ada satupun sahabat yang menyayanginya sebesar Ayu.
“Maafkan aku Ayu. Aku harap semua kesalahanku tidak membuatmu membenciku.” Nikita berpasrah diri. Ayu menggeleng, tidak ada alasan bagi dirinya membenci Nikita.
“Aku harap Kak Nikita bisa membuka hati untuk laki-laki lain yang pasti akan sangat mencintai Kaka dengan tulus.” Ayu meneteskan air mata, dia memang sangat cengeng.
“Jangan menangis, aku tidak pantas mendapat perhatianmu setelah apa yang aku lakukan.” Nikita mengusap air mata Ayu. Pemandangan yang sangat menakjubkan bagi Aldo. Dua wanita yang mencintai satu pria saat ini terlihat saling menyayangi.
“Aku tidak menyesal menyelamatkan Kak Nikita. Kaka pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk kehidupan yang lebih baik.” Malik melihat Nikita saat ini tulus meminta maaf.
Ayu meminta Malik memberikan ucapan perpisahan pada Nikita, tidak baik melepaskan seorang sahabat dengan amarah. Ayu menarik tangan Malik agar mau memafkan kesalahan Nikita.
“Aku memaafkanmu, jangan mengulanginya.” Nikita tersenyum melihat Malik bicara tanpa menatap dirinya. Jelas dirinya melakukannya demi Ayu.
“Aku tulus memafkanmu. Kau boleh datang kapan pun sebagai sahabat kami.” Kali ini Ayu yang tersenyum bahagia, akhirnya dia bisa menerima permintaan maaf tulus Nikita.
Semalam saat Ayu mencoba meyakinkan Malik bahwa Nikita tidak punya maksud menyakiti dirinya, Ayu mengajak Malik menemui Nikita untun meminta penjelasan langsung darinya. Mereka berdua mendengar bagaimana Adam dan Nikita saling mencurahkan isi hatinya semalam. Nikita hanya hilang arah dan tidak bisa mengendalikan perbuatannya.
“Jika seperti ini, aku sangat bahagia. Aku tidak punya Malik sebagai cinta sejatiku, tapi sebagai gantinya aku punya kalian semua sebagai sahabatku.” Ayu memeluk Nikita dengan erat. Sungguh kejadian yang tidak pernah dia sangka akan berakhir dengan penuh kebahagiaan.
Aldo lega perjalanannya mengantar Nikita di awali dengan suka cita. Ternyata penilaiannya pada Nikita selama ini salah, dia benar-benar wanita baik seperti yang Dokter Adam ceritakan padanya. Dia juga punya wajah yang sangat cantik membuat semua orang sangat kagum pada kcantikannya.
“Aldo, apa kau sudah punya pacar” Wajah Aldo langsung pucat mendengar pertanyaan dari Nikita.
“Aku sudah punya pacara Non.” Aldo menggaruk kepalanya, dia berpikir jika saat ini Nikita akan mengutarakan cinta pada dirinya.
“Kenapa menatapku seperti itu.” Nikita mengeluarkan dua topi dari dalam tasnya yang punya ukuran berbeda dengan model yang sama. “Berikan ini pada pacarmu Al. Aku membuatnya khusus untuk orang yang tidak bisa aku miliki.” Nikita menyodorkan topi yang ada di tangannya.
__ADS_1
“Aku kira….Hehehehehe….” Nikita merasa aneh dengan senyum Aldo.
“Terimakasih Non, pacarku pasti sangat suka. Topinya sangat bagus.” Nikita ikut tertawa merasa lucu dengan tingkah Aldo.
Perjalanan sangat menyenangkan, Nikita wanita yang penuh perhatian dan teman perjalanan yang cukup menyenangkan. Aldo sampai betah berada dekat-dekat dengan Nikita selama perjalanan. Kalau saja tidak ada Aleta di hatinya, mungkin Aldo bisa jatuh cinta pada Nikita. Dia pantas dapat laki-laki yang mencintainya dengan tulus.
Akhirnya Nikita dan Aldo sampai juga di rumah yang cukup besar di kota Bandung. Ada gadis seumuran Ayu yang keluar menyambut kedatangan Nikita. Wajahnya tidak asing, Aldo seperti pernah melihatnya. Nikita mempersilahkan Aldo untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya untuk kembali pulang ke Jakarta.
“Ini the hangat, silahkan di minum.” Aldo menahan tangan gadis yang menyuguhkan minuman padanya. Aldo pasti tidak salah lihat. Dia sangat menegnal siapa gadis yang ada di depannya saat ini.
Tut….tut….tut….
“Kak lepaskan, kenapa menarik tanganku.” Martha merasakan nyeri ditangannya karena meronta mencoba melepaskan tangannya dari Aldo.
“Iya Kak Al, ada apa Kak.” Aldo menarik tubuh Martha mendekati layar ponselnya. Aldo yakin Jofan kenal dengan wanita yang saat ini bersamanya.
“Kau kenal dia, bukankan dia sahabatmu saat kalian camping? Kau ingat Fan.” Jofan tidak lagi mendengar kabar Martha setelah camping sekolah. Dia hilang bagai ditelan bumi.
“Iya, Martha. Kenapa kau bisa bersama Kak Aldo.” Jofan penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aldo mematikan panggilan videonya. Dia ingin tau alasan dirinya saat ikut camping. Aldo memang curiga pada Martha sejak kedatangannya.
“Jelaskan kenapa kau ada di rumah Nikita. Apa kau sedang menyamar? Apa yang sedang kau rencanakan?” Martha bercucuran keringat, dia takut kejahatannya terbongkar.
“Al…..” Nikita melepaskan tangan adiknya dari Aldo. “Ada apa? Kenapa kau menyakitinya.” Nikita memeluk Martha.
“Sepertinya kecelakaan Ayu saat camping ada hubunganya dengan dia. Jelaskan apa yang kau lakukan, kau tau bagaimana Nona ku sangat menderita setelah kejadian itu!” Aldo tidak lagi berbelas kasihan.
“Apa benar? Apa kau menyakiti Ayu?” Nikita jatuh terduduk lemas saat Martha menganggukkan kepalanya. Pasti Martha melakukan perbuatan jahat pada Ayu karena ingin melihat dirinya bahagia.
“Kenapa kau bertindak sejahat itu. Apa yang membuatmu melakukannya?” Nikita histeris karena selama ini keluarganya yang sudah membuat kekacauan dalam rumah tangga Ayu dan Malik. Pantas saja Lissa menjelaskan kronologi kecelakaan dengan sangat detail pada dirinya.
“Aku tidak tahan Kaka menderita karena tidak bisa memiliki laki-laki yang sangat kaka cintai. Aku hanya ingin melihat Kaka bahagia.” Martha memeluk Nikita sambil terisak. Dia tau perbuatannya tidak bisa di maafkan.
Martha selama ini tidak bisa tidur dengan tenang, bayang-bayang wajah Ayu selalu menghantuinya. Ayu orang pertama yang menerimanya tanpa rasa curiga, dia bahkan tidak membedakan dirinya dengan sahabat-sahabat lainnya. Dia sangat baik dan bijaksana memperlakukan Martha dengan sangat baik.
__ADS_1
Martha sampai tidak bisa hidup tenang selama ini setelah perbuatannya yang menjatuhkan Ayu ke dalam jurang yang cukup dalam. Dia sering memimpikan Ayu yang datang berlumuran darah dalam mimpinya memintanya bertanggung jawab. Meski sedih perbuatannya terbongkar, ada perasaan lega karena tidak lagi jadi beban berat seperti yang selama ini dia rasakan.