
“Hai, saya ingin minta bantuan. Tolong kumpulkan orang sebanyak mungkin, mereka akan saya ajak rekreasi ke Dufan secara gratis. Makan dan minum semua gratis.” Aldo antusias karena semua orang suka yang gratisan termasuk Aldo.
“Tuan apa anda baik-baik saja? Kami saja baru pernah 1 kali dalam hidup kami menginjakkan kaki di Dufan. Mana mungkin Tuan mampu membayar tiket untuk banyak orang. Pasti Tuan mau mengerjai kami kan?” Aldo lesu mendengar dirinya yang tidak sedikitpun mendapat kepercayaan.
Aldo mengeluarkan kartu nama dalam dompetnya. Menyodorkan pada 3 gadis remaja yang duduk santai di pinggiran dermaga pantai Ancol.
“Aku tau perusahaan ini. Ini termasuk perusahaan besar di Asia.” Ketiga gadis itu melirik tajam pada Aldo. Mengamati Aldo dari ujung kepala sampai ujung kakinya dan kembali saling berbisik.
Apa kali ini berhasil. Aku banyak membuang waktu dan tidak satu orang pun percaya padaku. Kalian harapan terakhirku. Aku mohon percayalah padaku. Aldo meracau dalam hati, berharap ketiga gadis yang ada di hadapannya mau mempercayai perkataannya.
“Apa imbalan yang akan kami dapatkan.” Gadis yang cukup dominan kini berdiri di hadapan Aldo melipat kedua tangannya.
Kedua sahabatnya masih mengamati duduk di belakang gadis yang berdiri.
“Apapun, silahkan minta apapun. Asalkan bantu aku mengumpulkan semua orang yang ada di sini untuk aku traktir menikmati wahana Dufan.” Gadis itu menyeringai, otak nakalnya sedang menyusun rencana mengambil keuntungan.
“Akan aku pikirkan. Berapa lama waktu yang kami punya?” Menarik tangan kedua sahabatnya yang terkejut karena persetujuan salah satu dari mereka untuk membantu laki-laki yang tidak mereka kenal.
“Aku beri waktu 10 menit. Kumpulkan sebanyak mungkin orang dan bawa mereka mengantri ke are Dufan.” Aldo sumringah, akhirnya tugas pertama selesai dengan baik.
Hmmm...Hmmm
Terdengar suara microfon yang sedang di tes oleh seseorang. Aldo melanjutkan langkah nya memasuki arena Dufan.
“Pengumuman, hari ini bagi siapa pun boleh memasuki wahana Dufan dengan gratis.
Semua fasilitas yang ada di dalam Dufan bisa kalian nikmati dengan gratis, tanpa di pungut biaya sepeserpun. Silahkan segera merapat ke wahana dan mengantri dengan tertib.”
Aldo terkejut, kenapa ide itu tidak muncul di otaknya. Dia sibuk ke sana kemari mencari bantuan untuk mengumpulkan orang.
Aldo menyaksikan dengan mata kepalanya orang-orang berlarian ingin mendapatkan giliran masuk pertama.
Mereka semua bahkan sibuk menelpon saudara, kerabat, teman untuk datang dan menikmati fasilitas gratis Dufan hari ini.
Aldo mengacak rambutnya dengan frustasi, dia bahkan menjanjikan gadis itu imbalan apapun yang dia inginkan. Bagaimana ini! Aldo masih mematung menyaksikan antrian yang mulai padat.
“Aku sudah memenuhi permintaan Tuan. Sekarang aku minta imbalanku.” Aldo tercekat melihat gadis tadi sudah ada di depan matanya.
“Apa yang kau inginkan?” Aldo masih mencoba bersikap tenang.
“Berapa permintaan yang bisa Tuan kabulkan?”
Dia pikir aku Om Jin yang akan memberinya 3 permintaan. Teriak Aldo di dalam hati.
“Satu permintaan, kenapa kamu aneh sekali bertanya seperti itu.” Aldo mulai curiga dengan senyum di wajah gadis yang ada di hadapannya.
“Berikan aku pekerjaan di perusahaan tempat Tuan bekerja.” Aldo terkejut dengan permintaan gadis di hadapannya.
Aldo kira dia akan meminta semua harta benda yang sudah Aldo kumpulkan dengan susah payah selama ini.
__ADS_1
“Berikan nomor telponmu. Aku akan menghubungimu besok. Sekarang nikmati permainan yang ada di dalam sana.” Aldo lega tidak mendapatkan kejutan kali ini. Biasanya dia selalu saja sial dalam keadaan seperti ini.
“Hey, siapa namamu?” Aldo bahkan lupa tidak menanyakan nama gadis yang sudah membantunya.
“Aku Aleta. Tolong segera hubungi aku ya Tuan.” Aleta dan teman-temannya menghambur memadati antrian masuk Dufan.
Aldo tersenyum sendiri, gadis yang tadi membantunya lumayan cantik. Dia juga punya hati yang baik ternyata. Aldo memukul kepalanya sendiri, dia terkejut dengan isi kepalanya yang selalu di penuhi senyum gadis-gadis cantik.
Aldo terlalu lama jomblo jadi halu.
Semua wahana sedikit demi sedikit sudah di padati oleh kerumunan orang dari berbagai usia. Mereka terlihat begitu bahagia. Stand makanan tidak kalah ramai karena tertulis Gratis di setiap stand nya.
“Ayo Kak, kita harus cepat-cepat antri. Jika tidak kita bisa ada di natrian paling belakang.” Ayu menarik tangan Kak Malik yang terkejut dengan orang-orang yang ramai entah datang dari mana.
Tanpa membantah Malik mengikuti langkah kaki Ayu yang membawanya mengantri di wahana pertama. Ayu mendapatkan giliran kedua setelah wahana penuh oleh kloter pertama.
Pelan tapi pasti sebuah perahu besar mulai di ayun dengan kecepatan yang berangsur bertambah. Teriakan histeris mulai terdengar di telinga Malik. Dia heran karena mereka berteriak hanya karena perahu yang mereka naiki.
Berbeda dengan Ayu, saat ini Ayu sedikit was-was karena permainan yang ada di hadapannya sedikit memacu adrenalinnya. Tangannya sedikit berkeringat.
“Apa kau khawatir? Tenang saja, aku akan menjaga Ayu dengan sepenuh jiwa ragaku.” Malik mencoba menggoda Ayu yang sedikit pucat karena diliputi rasa khawatir.
Tangan Malik semakin erat menggenggam tangan Ayu. Menepuknya pelan mengusir rasa khawatir sedikit meskipun masih tidak bisa hilang.
Tawa puas terlihat dari setiap orang yang turun dari wahana, ada beberapa yang sedikit limbung karena merasa pusing setelah di ayun begitu cepat.
Malik menarik tangan Ayu, memilih bagian perahu paling belakang. Ayu menahan langkahnya, dia ingin berada di tengah-tengah namun Kak Malik tidak mengindahkan keinginan Ayu.
Tapi Malik tidak menggubris, dia tetap menolak siapa pun yang mau melangkah ke barisan yang dia isi hanya berdua bersama Ayu.
Aldo dari kejauhan melihat Boss nya yang sudah mulai bertingkah. Segera Aldo mempercepat langkahnya. Mencoba menenangkan pengunjung lain dan menyuruhnya untuk mencari tempat lain.
Setelah pertempuran sengit, semua orang memilih mengalah. Tidak mau berurusan dengan orang seperti Malik yang menguras emosi.
Ayu hanya tersenyum melihat tingkah Kak Malik yang begitu menggemaskan.
Genggaman tangan Kak Malik cukup mengisyaratkan untuk dirinya tidak ikut campur. Jadi Ayu hanya mencoba tersenyum pada siapa pun yang marah pada mereka berdua karena merasa kesal.
Ayunan dimulai dengan lembut, perlahan memacu jantung dan berdetak cepat mengikuti irama permainan. Ayu berpegang erat pada tangan Kak Malik yang tidak melepaskan tangannya.
Teriakan-teriakan kecil mulai terdengar, Ayu mulai bisa mengendalikkan rasa takutnya, melonggarkan sedikit pegangan tangannya.
Sekarang berbalik, tiba-tiba tangan Kak Malik mencengkeram erat tubuh Ayu dalam pelukannya.
Tapi bukan pelukkan mesra, lebih pada pelukkan orang yang sedang ketakutan.
“Kak, kau baik-baik saja?” Ayu sedikit meringis karena Malik sedikit menyakitinya.
“Tidakkkk.... Ahhhhhh, tolong berhenti.
__ADS_1
Ahhhhh....” Teriakkan Kak Malik memekik memenihi udara. Siapa saja yang ada di sana pasti bisa merasakkan ketakutan dari teriakkannya.
“Kak tenang lah, kita akan baik-baik saja.”
“Tolong....Aldo....Tolong hentikan....” Teriakkan yang sama diulang Malik sampai wahana berhenti berayun.
Ayu memeluk tubuh Malik yang sudah gemetar. Menggenggam erat tangannya dengan senyuman dari raut wajah manisnya, merasa sedikit lucu karena Kak Malik tidak pernah bertingkah kekanakan.
Malik benar-benar ketakutan. Wajahnya pucat dan keringat bercucuran membasahi kaos yang dia kenakan.
“Tadi kau gagah berani, tapi lihatlah, kau teriak paling kencang di antara kami semua Tuan.” Teriak seorang perempuan yang berdebat sebelum wahana di mulai. Sedikit mengejek.
“Maaf Nyonya, maafkan kami” Ayu sedikit sedih mendengar Kak Malik di teriaki seorang perempuan yang marah padanya.
Malik tidak berdaya, dia masih limbung di pelukkan Ayu. Ini pertama kali dirinya menaiki wahana yang terlihat biasa saja tapi mematikan.
Aldo memapah tubuh Malik mencari tempat yang cukup nyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lemas. Ayu sudah hilang entah kemana, Malik menepis tangan Aldo yang sedang memapah tubuhnya.
“Dimana Ayu!” Malik berputar mencari wanita kesayangannya. “Ayuna, Ayu.” Malik mencoba mengumpulan kesadarannya yang bertebaran di ayun dengan cukup keras.
“Nona Ayu, tadi dia berjalan di belakangku.”
Plak...
Malik memukul pundak Aldo yang sedang sama bingungnya mencari keberadaan Ayu.
“Kau tidak bisa di andalkan. Bagaimana bisa kamu kehilangan Ayu dan malah memapahku.” Aldo menunduk tidak berani melawan.
“Aku hanya mencoba memahami situasi Boss. Aku pikir...” Aldo melihat sosok Ayu yang berjalan mendekat. Namun kata-katanya tercekat karena Malik mencengkeram kerah bajunya.
“Ingat Aldo, jika aku dan Ayu dalam keadaan terpojok. Kau harus menyelamatkan Ayu, jangan hiraukan Aku. Kau harus tau prioritas hidupku saat ini.” Ayu mematung mendengar perkataan Kak Malik yang membuat nya terharu.
Hanya ada air mata yang tiba-tiba saja membasahi sudut matanya. Ayu mengusapnya, berjalan pelan dan mencoba tidak mengejutkan Malik yang ternyata begitu menghawatirkannya.
“Kak.” Ayu menyodorkan sebotol air mineral dan tidak berani memandang mata Malik yang mengintimidasinya. Tentu saja Ayu hafal betul raut wajah ini sedang marah padanya.
Malik memeluk tubuh kecil yang dia cari.
“Jangan pergi kemanapun tanpa memberitahuku ataupun Aldo. Kau mengerti?” Malik menyentuh dagu Ayu yang menunduk.
“Jangan sedih, aku hanya khawatir. Aku tidak marah padamu.” Malik kembali memeluk tubuh Ayu yang masih mematung.
“Aku hanya mencari minum Kak. Aku hanya ingin membantu.” Ayu kembali menjulurkan air mineral yang ada di tangannya.
“Tidak perlu membantuku, itu tugas Aldo.” Malik menarik tangan Ayu duduk di bangku dekat kedai bakso.
Setelahnya mereka hanya menikmati wahana ringan dan tidak memacu adrenalin. Padahal Ayu sudah mencari tahu wahana apa saja yang menantang adrenalinnya.
Tapi ya sudah, semua demi Kak Malik.
__ADS_1
Sepertinya jantungnya mudah sekali tergunjang. Lain kali Ayu harus lebih hati-hati agar Kak Aldo tidak menjadi sasaran kemarahan Kak Malik.