
Ayu termenung sepanjang perjalanan, hatinya begitu pilu memikirkan bagaimana kedua orang tua yang selama ini merawatnya penuh kasih sayang begitu saja Ayu campakkan. Kasih sayang yang selalau Ayu bagikan pada setiap orang berkat hidupnya yang selalu banjir kasih sayang dari kedua orang tuanya.
“Kita mampir untuk makan malam yah, Kak Rey akan masak makanan paling enak.” Malik mengangguk mewakili Ayu yang masih terlihat kosong pandangan matanya.
“Kak, aku mau pulang saja.” Ayu takut jika saat ini harus bertemu dengan Jofan. Belum siap rasanya melihat wajah Jofan saat ini. Ayu merasa berdosa dengan apa yang terjadi pada keluarga Jofan.
Mereka sangat dekat sampai Jofan menceritakan bagaimana keluarganya hancur berantakkan. Masih terngiang ucapannya yang tidak akan memaafkan perempuan yang sudah membuat keluarganya tidak lagi harmonis.
Malik menghela nafasnya panjang, dia tidak bisa jadi Malik seperti biasanya yang selalu mengambil tindakan tanpa persetujuan orang lain. Mencoba mencari jawaban dengan Rey yang memutuskan, Malik tidak enak hati menolak tawaran Rey yang sudah sudi membantunya mengurus Ayu.
“Kalu begitu kita mampir ke super market saja untuk belanja bahan makanan. Kita masak di apartemen saja yah….ok…” Ayu mengangguk. Malik lega karena Rey bisa memahami situasi dengan cepat.
Malik membantu Ayu berganti pakaian, entah apa yang membuat hati Malik begitu pedih melihat Ayu yang biasanya bersinar kini redup. Tidak ada lagi senyum yang biasanya selalu dia suguhkan dalam keadaan suka dan duka. Hatinya kosong tidak terisi, hanya ada kesedihan yang mengisi jiwanya.
Tolong jangan terlalu lama menderita, aku benar-benar tidak bisa melihatmu seperti ini terlalu lama. Aku bisa mati perlahan karena melihat kamu begitu hancur. Malik berteriak dalam hatinya yang ikut hancur melihat Ayu.
“Kau tunggu di sini, nanti aku bangunkan saat makanan sudah siap.” Malik menyelimuti tubuh Ayu dengan selimut tebal agar tubuhnya hangat. Rasanya enggan meninggalkan Ayu seorang diri, tapi Malik tidak enak membiarkan Rey menyiapkan makanan sendirian.
“Kenapa kau ke sini. Jaga Ayu saja, aku seorang professional!.” Rey mendorong tubuh Malik yang mendekati dapur. Malik tertawa kecil, semenjak pertemuannya terakhir kali, baru kali ini Malik merasa Rey seperti keluarganya. Malik bersyukur Ayu punya banyak orang yang sangat mencintainya dengan tulus.
“Aku sangat bersyukur punya kalian semua, aku butuh dukungan besar.” Malik berkaca-kaca, hatinya lemah meski terus mencoba terlihat kuat.
“Dia juga berharga untuk kami, aku yakin dia juga merasakkan apa yang kami rasakan. Kita harus tunjukkan kalau dia tidak punya pilihan lain selain menerima kita. Jika tidak, kami akan selalu menempel dan mengganggu hidup kalian. Hehehehehhe……” Rey terkekeh mencoba membuat Malik rileks.
Malik kembali ke kamar setelah menerima penolakkan untuk membantu Rey. Sepertinya Rey bisa membaca isi hati Malik yang tidak ingin meninggalkan Ayu sendirian. Malik tersenyum menatap wajah Ayu yang terlelap di bawah selimut tebal. Wajah yang satu hari penuh Malik lihat penuh kesedihan.
Bahkan Ayu meneteskan air mata dalam tidurnya, malik mengusap lembut air mata Ayu. Malik memutuskan masuk ke selimut yang menutup tubuh Ayu. Mendekapnya dengan penuh kasih sayang agar Ayu bisa tidur dengan tenang. Malik ikut terlelap karena tubuhnya juga kelelahan.
Rey menuliskan catatan kecil di atas tudung saji, tidak tega membangunkan Malik dan Ayu yang sedang tidur. Mereka pasti sangat lelah hari ini, tidur mungkin lebih mereka butuhkan daripada makanan enak yang sudah Rey siapkan.
Rey memutuskan untuk kembali ke restaurant menjemput Ana yang masih menjaga Jofan. Laki-laki keras kepala yang tidak mau mendengarkan ucapannya sedikitpun untuk menunggunya di rumah. Jofan tetap bersikeras menunggu Rey sampai kembali.
“Kak Rey…..” Jofan langsung lari saat melihat mobil Rey memasuki parkiran. Ana sampai ikut lari takut Jofan berbuat yang tidak-tidak.
__ADS_1
“Kau tidak bisa menunggu ku di rumah? Lihat Kak Ana yang sudah lelah seharian menjagamu!.” Jofan menatap Ana penuh rasa terimakasih. Rey marah tapi sangat takut melihat kenyataan jika sampai Jofan mennagis di depanya. Air mata Jofan adalah kelemahan terbesarnya.
“Ceritakan apa yang terjadi? Kenapa aku tidak diperbolehkan menemui Ayu?” Jofan selalu bicara langsung ke intinya.
“Ckckckckck” Rey berdecak mendengar pertanyaan Jofan yang menyerangnya langsung saat dirinya turun dari mobil.
“Kak…..” Jofan terus merengek menarik-narik kemejanya.
“Kau tidak bisa membiarkan aku masuk dulu dan minum, aku sangat haus. Hmmmm…..hhmmmmm….” Rey memegang tenggorokanya yang kering.
Jofan langsung lari ke dalam mengambil botol air mineral yang ada di lemari pendingin. Menarik kursi dekat pintu masuk agar Rey tidak berlamal-lama lagi menunda cerita yang ingin segera dia dengar lansgung dari mulut Rey.
Jofan menepuk kursi yang sudah dia tarik agar Rey segera duduk. Kali ini Rey tidak lagi bisa mengelak. Dia terpaksa duduk dihadapan Jofan yang sudah memasang dua telinganya siap mendengarkan Rey yang tidak berhenti menghela panjang nafasnya.
“Kenapa kau terus menarik nafas? Apa sangat berat apa yang akan Kak Rey sampaikan?” Jofan merasa kasihan karena Kak Rey tahu lebih dulu dari dirinya.
“Apa kau bisa bersikap dewasa untuk menerima apa pun yang terjadi? Ini waktunya kita berjuang mendapatkan kepercayaan dari Ayu.” Jofan menyipitkan mata tidak paham dengan maksud ucapan Ka Rey.
“Apa kau mencintai Ayu sebesar kau tidak mau kehilangan dirinya?” Rey mencengkeram pundak Jofan.
“Awwww…..apa kau tidak bisa bicara to the point? Kau membuatku bingung. Apa Ayu tidak bisa menerima diriku sebagai saudaranya?” Jofan membulatkan matanya setelah menyingkirkan tangan Rey dari pundaknya. Rey tersenyum akhirnya Jofan bisa menangkap isi dari pesannya.
“Bukan tidak menerima, kita tau dia tidak mungkin tidak mencintai kita. Dia gadis yang kita cintai bahkan sebelum kita tau siapa Ayu sebenarnya.” Rey menatap tajam mata Jofan yang mulai sayu.
“Aku membayangkan dia lari ke pelukkanku karena bahagia.” Jofan merasa bodoh dengan sikapnya yang tidak berpikir panjang.
“Tidak ada yang salah dengan sikap kita. Justru kita sudah benar menyikapi kondisi yang terjadi. Kita tidak akan bisa mundur kebelakang untuk merubah masa depan.” Rey menatap lekat netra Jofan yang mulai menghindari matanya.
“Kita berjuang bersama, kita pasti bisa memenagkan hatinya agar bisa menerima kita sebagai bagian dari keluarganya.” Ana memeluk Jofan menenangkan hatinya yang mulai goyah.
“Apa dia menolak kita Kak?” Jofan patah hati. Hatinya jadi mellow terbawa suasana.
***
__ADS_1
Malik terbangun di tengah malam, perutnya keroncongan karena belum makan apapun seharian. Dia teringat Rey yang Malik tinggalkan sendiri di dapur.
“Rey….Rey….Maaf aku tertidur.” Malik tidak mendapati Rey di manapun. Malik menuju dapur memeriksa tudung saji yang di atas nya tertempel ketas memo.
“Aku membuat makanan ini dengan penuh harapan agar rasa cintaku bisa sampai pada Ayu. Selamat menikmati.” Kak Rey menggambar wajah tersenyum di kertas memo.
Malik tersenyum membaca pesan yang di sampaikan, Malik kembali ke kamar untuk membangunkan Ayu. Dia harus minum obat dengan teratur agar bisa pulih.
Malik membelai lembut pipi Ayu yang merona, memanggil namanya perlahan agar Ayu tidak merasa terganggu. Tidak lama Ayu mengerjapkan mata, perlahan Ayu duduk mengumpulkan kesadarannya yang masih belum penuh.
“Ayo kita makan, setelah makan Ayu boleh melanjutkan istirahatnya.” Ayu mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki Malik yang berjalan menggandeng tangannya.
Ayu masih tidak seceria biasanya, pasti sangat berat memikul beban yang saat ini menimpanya. Malik tidak merasakan kebahagiaan meski Ayu memaksakan senyum di bibirnya. Pasti tidak mudah menerima semua takdir yang harus Ayu lalui selama ini. Malik berusaha keras agar Ayu bisa kuat dan kembali percaya diri. Semua bukan kesalahannya, semua takdir yang maha kuasa.
Matanya berkaca-kaca membaca memo kecil di atas tudung saji, ingin rasanya meraih kertas memo yang di tujukan untuk dirinya, tapi tangannya kaku tidak bida di gerakkan. Ayu malah sibuk menyeka air matanya yang mengalir begitu saja.
Huahuahuahuah……
Tangis Ayu pecah begitu saja, Malik sampai terkejut mendengar Ayu tiba-tiba menangis. Malik buru-buru memeluk Ayu, dadanya berdetak kencang. Maling serasa jantungan setiap mendengar tangis Ayu yang meledak begitu saja.
“Tenang sayang, tenang yah.” Malik hanya bisa menghibur Ayu dengan cinta kasihnya. Tidak bisa menyelami lebih dalam isi hati Ayu.
“Aku tajut Kak.” Ayu bicara sambil sesenggukan.
“Apa yang kamu takutkan, kita semua mencintaimu. Kita akan menunggu sampai Ayu siap menerima takdir Tuhan yang mempersatukan kita semua menjadi sebuah keluarga yang sangat berharga.” Malik menyeka air mata yang banjir membasahi wajah Ayu.
Cukup lama Ayu menangis, Malik dengan setia menenangkan Ayu yang masih terpukul. Wajahnya sampai sembab menangis seharian. Tubuhnya yang kurus semakin ringan di pangkuan Malik.
“Kau tau, aku tidak pernah ingin melihatmu menangis. Aku seperti sedang Tuhan hokum saat melihat Ayu menangis.” Malik mengecup puncak kepala Ayu yang masih ada di pelukkannya.
“Maaf kan Aku.” Ayu menengadahkan wajahnya yang berada di bawah wajah Malik.
“Kalau Ayu mau minta maaf, Ayu harus makan. Ok!” Ayu menuruti permintaan Malik. Cacing-cacing di perutnya juga sudah menggeliat karena Ayu tidak makan dengan baik.
__ADS_1