
Malik menyiapkan makan malam yang cukup enak, kali ini keahlian masaknya sangat berguna di saat-saat seperti ini. Malik harus memastikan makanan yang masuk ke tubuh Ayu memiliki banyak kandungan nutrisi yang baik. Ayu cukup berat menjalani hari-harinya akhir-akhir ini. Malik ingin memberikan yang terbaik untuk wanita yang sangat dia cintai.
Makanan sudah terhidang di meja makan dengan rapih, Malik melangkah menuju kamar untuk membangunkan Ayu yang sedang menikmati alam mimpinya. Malik menyingkap selimut yang menutupi tubuh Ayu dengan rapat, memberikan sentuhan-sentuhan lembut di wajah Ayu agar Ayu terganggu dan segera membuka matanya yang masih terpejam.
“Ahhh……aku masih mengantuk Kak.” Ayu berbalik memunggungi malik. Malik hanya tersenyum merasa senang menggoda Ayu.
“Muahhhh….”Malik mengecup pipi Ayu. Ayu yang masih malas pun akhirnya membuka matanya. Kak Malik tidak akan membiarkannya tidur jika sudah begini.
Ayu duduk bersandar kasur, menggaruk rambutnya yang terasa gatal kemudian mengucek matanya agar bisa menyesuaikan dengan sinar lampu yang cukup terang. Malik menikmati pemandangan yang ada di depannya dengan perasaan berbunga-bunga.
“Kau sudah sadar?” Ayu mengangguk. Malik segera menuntuk Ayu menuju meja makan agar segera mengisi perutnya.
“Aku tidak nyaman Kak, sepertinya asam lambungku kambuh.” Ayu meletakkan kepalanya di atas meja makan. Tidak punya kekuatan karena perutnya terasa melilit.
Malik menyendokkan nasi ke piring Ayu. Kejadian seperti ini sering terjadi karena Ayu punya masalah dengan lambungnya. “Ayo makan meski Cuma sedikit, setelah ini minum obat dan kamu bisa kembali istirahat.” Ayu mengangkat kepalanya. Makanan yang ada di meja terlihat sangat enak.
Dengan telaten Malik menyuapkan sedikit demi sedikit sampai makanan habis tidak tersisa. Malik hafal betul porsi makan Ayu seberapa besar. Setelah selesai Malik membawa Ayu kembal ke kamarnya agar bisa segera istirahat setelah memberinya obat. Malik menyiapkan baju tidur karena Ayu masih memakai seragam sekolah.
Ayu berusaha memejamkan matanya yang sulit sekali terpejam. Malik yang kelelahan dan terlihat sudah tertidur dengan pulas. Ayu keluar kamar memainkan ponselnya agar tidak mengganggu Kak Malik yang sedang istirahat.
Saat ini jam menunjukkan pukul 23.30 P.M, Ayu melihat foto-foto lamanya di social media dengan sahabat-sahabatnya. Banyak foto yang membuat Ayu tersenyum karena ingat kejadian-kejadian lucu bersama teman-temannya.
Ting tong…..ting tonggg…..
Ayu terkejut mendengar bel apartemen Kak Malik yang berbunyi di tengah malam. Siapa malam-malam begini bertamu ke rumah orang. Ayu mengintip Kak Malik yang masih terlelap, tidak tega membangunkan Malik yang baru saja memejamkan mata.
Ayu melangkah mendekati pintu masuk, mencoba mencari tau siapa yang datang malam-malam begini. Ayu terkejut melihat Nikita berdiri dengan pakaian sangat seksi dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya.
Entah apa yang merasuki Ayu, dia sangat emosi dan membuka pintu dalam keadaan marah. Ayu berdiri bertolak pinggang di depan Nikita. Wanita tidak tau malu yang masih saja menggoda suaminya.
“Mau apa kesini tengah malam, Kak Nikita tidak malu?” Ayu sama sekali sudah tidak takut, dia harus bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
“Kenapa aku harus malu. Yang seharusnya malu itu kamu, kamu sudah merebut Malik dariku.” Nikita berteriak sampai suaranya menggema di lorong aparetem yang sangat sepi.
“Kami saling mencintai. Kak Malik sudah tidak mencintai Kak Nikita. Kak Nikita hanya bagian dari masa lalu Kak Malik.” Ayu berbalik ingin segera masuk tapi Nikita menahannya. Nikita menyeret tubuh Ayu membawanya keluar dari apartemen.
__ADS_1
Ternyata di bawah Nikita membawa dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan seragam serba hitam menggunakan masker. Ayu langsung bergidik ngeri ingat saat dirinya dan Sarah di culik. Ayu menyesal karena keluar begitu saja tanpa membangunkan Malik.
“Tolllo…..”Mulutnya di bekap dengan kain yang sudah di beri obat bius. Ayu lunglai tidak sadarkan diri. Dengan mudah Nikita membawa Ayu dari apartemennya.
Malik masih tidak sadar apa yang sedang menimpa Ayu, dirinya sangat lelah sampai tidak sadar Ayu sudah tidak ada di apartemennya.
***
Aldo sedang kasmaran dengan gadis bernama Aleta yang beberapa bulan terakhir mengisi kekosongan hatinya. Malam ini Aldo sangat bahagia Aleta akhirnya menerima tawarannya untuk bisa makan malam berdua. Aldo tidak menyia-yiakan kesempatan, Aldo berdandan setampan mungkin agar Aleta jatuh hati pada dirinya.
Restaurant mewah dengan berbagai makanan enak mampu membuat senyum Aleta merekah. Aldo mencari tau beberapa jenis makanan kesukaan Aleta agar tidak salah mengajaknya makan malam ini. Aleta sangat puas karena Aldo memberinya fasilitas paling bagus, Aleta merasa tersanjung dan mulai membuka hatinya.
Aldo sengaja tidak membawa kendaraan pribadi agar bisa berjalan-jalan menghabiskan waktu lebih lama bersama Aleta. Berjalan sepanjang trotoar ditemani cerita-cerita lucu yang membuat Aleta terbahak mendengarnya. Mereka membuat beberapa orang yang melihatnya ikut merasa bahagia.
“Kak, kenapa kau suka padaku. Aku kan hanya orang biasa saja Kak.” Aleta merendah, rasanya aneh saat Aldo bilang suka pada dirinya. Aleta tau bagaimana gadis-gadis di kantor yang lebih cantik dan punya jabatan tergila-gila pada Aldo.
Aldo mengangkat bahunya. “Cinta tidak butuh alasan.” Pipi Aleta merona mendengar kata-kata Aldo. Dia sangat malu sekaligus tersanjung.
“Kak Aldo apa punya mantan yang sampai saat ini Kak Aldo ingat?” Aleta masih menyisakan sedikit cinta di masa lalunya. Tapi Aleta yakin bisa lepas jika laki-laki yang mencintainya sebaik Kak Aldo.
“Apa Kak Aldo masih mencintainya?” Aleta tertinggal beberapa langkah di belakang. Wajahnya cemberut membuat Aldo tersenyum.
“Kenapa? Apa kau cemburu?” Aldo meraih tangan Aleta. “Kenapa menanyakan hal yang kamu tidak suka jawabanya. Dia hanya masa lalu.” Aldo mencoba meyakinkan Aleta.
“Bisa saja cinta itu akan bersemi kembali Kak.” Perempuan memang paling suka memancing pembicaraan yang akan membuat keributan. Padahal dunia bisa damai tanpa pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang akan membawa bahaya.
“Jangan marah, kenapa kau menanyakannya.” Aldo merasa frustasi Aleta menolak tangannya. Aldo meremas kerah bajunya merasa geram. “Aku tidak punya perasaan apapun lagi, dia bahkan sudah menikah dan punya 2 putra.” Aleta berjalan sangat cepat merasa sangat marah.
“Kaka sampai tau dia punya 2 putra, berarti selama ini Kaka masih mengikuti perkembangan hidupnya. Itu cinta Kak!” Aleta lari menghindari Aldo. Aldo mengejarnya agar Aleta tidak semakin marah.
Aldo menarik Aleta dalam pelukannya setelah berhasil mengejarnya yang lari cukup kencang. “Saat ini hanya ada kau di dalam hatiku. Aku benar-benar bersahabat dengannya. Kami berhubungan baik sebagai seorang sahabat. Tolong jangan marah.” Aldo mampu meredam emosi Aleta. Dia tidak lagi menolak Aldo, Aleta merasa bersalah karena dia yang memicu keributan.
Sebenarnya Aleta hanya sedang menguji seberapa besar cinta Aldo pada dirinya sebelum memutuskan mnerima cinta Kak Aldo. Dia harus yakin jika kali ini tidak akan ada penyesalan di kemudian hari.
“Kenapa kau tersenyum?” Aldo merasa aneh, perempuan memang tidak bisa di tebak suasana hatinya. Mereka bisa berubah sesuka hati.
__ADS_1
“Ayo kita pulang, aku besok bisa kesiangan.” Alete menggandeng tangan Aldo. Mereka meneruskan dengan jalan kaki karena tempat tinggal Aleta cukup dekat dengan restaurant.
Sepanjang perjalanan Aleta menceritakan masa kecilnya, berbagai macam hobi yang sangat dia sukai dan menceritakan bagaimana keadaan keluarganya. Aldo orang yang sangat baik sampai Aleta bisa dengan mudah merasa nyaman.
Biasanya Aleta suka memilih teman curhat, dia bahkan lebih memilih diam daripada salah curhat. Tapi Aldo berbeda, dia mampu menempatkan dirinya membuat Aleta merasa nyaman saat bercerita. Dia tidak lagi menahan diri karena ingin sama-sama saling mengenal lebih jauh.
Selesai mengantarkan Aleta, Aldo bergegas pulang untuk menyiapkan materi meeting besok siang. Aldo sangat bersemangat karena kali ini proyek yang dia kerjakan cukup besar, tanpa campur tangan Malik. Dia berhasil meyakinkan perusahaan lain untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan yang ada di bawah kepemimpinan Malik.
Aldo mendapat pesan dari Ed ditengah malam. Aldo langsung membukanya karena biasanya pesan Edward bersifat penting.
Al, coba cek apakah Nona bersama Bos. Saat ini posisi alat pelacak mereka berada di tempat yang berbeda. Tapi saat ini posisi Nona sudah tidak lagi bisa terlacak. Bos sudah tidak lagi menempatkan orang untuk mengawasi Nona. Edward
Aldo terkejut menerima pesan yang cukup mencekam ditengah malam. Berulang kali Aldo menghubungi ponsel Malik namun tidak ada jawaban. Aldo segera meraih kunci mobilnya dan bergegas menuju apartemen Malik.
Tidak lama Aldo sudah sampai di depan pintu masuk apartemen Malik. Bel Aldo pencet berulang-ulang tapi tidak ada juga yang kunjung keluar dari dalam apartemen. Ponselnya pasti di silent karena Malik tidak mau waktu istirahatnya diganggu.
Aldo akhirnya memutuskan membuka password pintu masuk tanpa seijin Malik. Ini keadaan genting yang harus segera dia pastikan keadaannya saat ini.
“Bosss…..Bosss….Bosss kau di dalam.” Suara Aldo sangat kencang sampai Malik terkejut.
Malik membuka matanya perlahan, dia mengira suara Aldo ada di dalam mimpinya. Tapi ternayata dia sungguh ada di depan matanya.
“Bos, dimana Nona.” Malik baru sadar Ayu tidak ada di sebelahnya.
“Aku…..” Malik mencoba mengingat keadaan sebelum dia terlelap. “Apa yang terjadi?” Malik tersentak. Aldo segera lari ke ruangan kerja Malik untuk membuka CCTV apartemen milik Malik.
Malik mengikuti Aldo ke ruangan kerja. “Apa yang terjadi? Apa Ayu baik-baik saja Al!.” Malik meremas tangan Aldo yang sedang mengutak atik komputer. Dirinya sama khawatirnya dengan keadaan Ayu saat ini.
Melihat Malik limbung, Aldo yakin semua ini terjadi tanpa sepengetahuannya. “Bos kenapa bisa tidur pulas sementara Nona pergi entah kemana.” Aldo marah pada Malik karena tidak menjaga Ayu dengan baik.
Malik jatuh terduduk di tidak percaya kejadian seperti ini kembali terjadi, dan lebih parahnya dia tidak tau padahal Ayu tinggal satu atap dengan dirinya. Malik tidak bisa menahan diri, amarahnya memuncak sampai tidak bisa mengendalian emosinya.
Ahhhhh…….ahhhhhh…….
Malik berteriak histeris akan kebodohan yang lagi-lagi dia lakukan. Air mata bercucuran, Malik sangat menyesali semua ini kembaki terjadi pada Ayu.
__ADS_1