
Ayuna sangat senang mendengar kabar dari Jofan. Ada setitik harapan untuk bisa tetap melanjutkan sekolah. Masih banyak jalan yang bisa di tempuh, jangan terlalu dini untuk menyerah dengan suatu keadaan.
Siang ini Ayu ditemani Jofan menemui Rey. Ayu sangat bahagia dan sangat deg-degan. Dia takut kalo Kak Rey yang di ceritakan Jofan tidak sebaik aslinya.
“ Apa Kak Rey sangat baik?” Ayu tidak percaya begitu saja dengan perkataan Jofan.
“Tenang saja, jika dia macam-macam katakan saja”. Jofan tersenyum mencoba menenangkan Ayu yang terlihat tegang.
“ Mas Jofan suka berbohong, Ayu tidak percaya”. Tidak ada bantahan dari mulut Jofan, dia hanya tersenyum.
Ayu mencoba mengumpulkan keberaniannya sebelum memasuki restaurant.
“Heemm”. Ayu mengeluarkan kasar nafasnya.
Jofan sudah menunggu Ayu di depan pintu, tangannya menahan pintu dan mempersilahkan Ayu untuk masuk terlebih dahulu. Senyum tidak lepas dari bibir Jofan.
Saat memasuki restaurant, Ayu mendapati ruang restaurant yang memiliki tata ruang yang sangat mewah. Dindingnya didominasi warna hitam, dan hiasan-hiasan yang menempel di dinding didominasi warna silver.
Mata Ayu terkagum-kagum melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya. Sampai melupakan tujuan utamanya datang ketempat itu.
Jofan yang melihat Ayu hanya geleng-geleng kepala. Jofan membiarkan Ayu menikmati sejenak waktunya sebelum bertemu dengan Kak Rey.
“ Ehhh.....(Ayu tersadar ), maaf yah. Ayu malah jadi asik sendiri”. Ayu berlari ke arah Jofan yang berdiri jauh dari tempatnya saat ini.
Jofan masih mengukir senyum “ Kau sudah selesai, nanti Ayu akan datang ketempat ini setiap hari, Kak Rey pasti akan senang. Sekarang sudah siap menemui Kak Rey?”. Jofan memandang Ayu yang masih tampak ragu.
“ Iya Mas Jofan, Ayu sudah siap”. Ayu mengikuti langkah Jofan dari belakang.
Tok...Tok....Tok..... “ Kak Rey". Jofan berteriak dari balik pintu ruangan Rey. Tanpa dipersilahkan tangannya sudah membuka sendiri pintu yang tidak di kunci.
“ Kak Rey”. Jofan masih saja berteriak.
Tangan Rey mengisyaratkan agar Jofan tidak berisik. Dia menyuruh Jofan dan Ayu untuk menunggu sebentar.
__ADS_1
“ Kalian mau MATI ? Bereskan apa yang harus kalian bereskan. Jangan membuatku mengulangi kata-kataku. Mengerti ?”. Rey menutup telpon dengan kasar, dia terlihat sangat marah dengan orang di balik telpon.
Langsung saja kakinya melangkah dan duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Sedari tadi Ayu memperhatikan Kak Reya dengan seksama. Dia sangat takut saat melihat Kak Rey begitu marah.
Dia langsung gemetar melihat Kak Rey yang tidak bersahabat. Tangannya berkeringat dan jantungnya berdebar-debar. Dia mencoba mengumpulkan keberanian agar terlihat kuat didepan Jofan.
Sudah banyak pengorbanan yang Jofan lakukan, dia harus menghargai setiap kesempatan yang datang dan harus bersemangat.
“ Kau yang bernama Ayuna?”. Ayu hanya mengangguk, Kak Rey melihat Ayu dari atas sampai bawah. Ayu sampai tidak berani menatap Kak Rey. Bagi Ayu Kak Rey sangatlah menyeramkan.
“ Kak kau tidak boleh galak begitu, dia sahabatku Kak”. Jofan merengek pada Rey, Ayu yang melihat tingakah Jofan yang tidak biasa menahan tawanya.
Senyumnya kembali hilang saat melihat Rey kembali menatapnya.
“ Kau yakin mau belajar di sini? Aku sangat kasar jika ada orang yang tidak disiplin. Aku tidak segan-segan memarahinya di depan umum”. Rey memasang muka terseramnya, ini jurus agar Ayu menyerah tidak mau bekerja ditempatnya.
“ Apa Kak Rey mau memberiku kesempatan? Aku janji akan belajar. Aku akan bekerja dengan giat Kak”. Ayu masih menundukkan pandangannya.
“ Terimakasih Kak Rey, aku akan berusaha sebaik mungkin”. Ayu tersenyum indah, dia bahagia Kak Rey mau memberinya kesempatan.
Kak Rey mengantar Ayu ke dapur, dia memperkenalkan Ayu pada karyawan lain yang akan menjadi rekannya selama bekerja di restaurannya.
Mata Ayu memandang satu persatu orang-orang yang ada didepannya. Dia menganggukkan kepala sebagai tanda perkenalan. Dia melihat ada beberapa perempuan dan laki-laki yang berpenampilan seragam.
Ayu tertarik pada gadis cantik yang kelihatannya tidak terlalu berbaur dengan yang lain. Seragamnya sama dengan yang dia gunakan, mungkin gadis ini akan ada dibelakang sama seperti dirinya.
***
“ Kak tolong jaga Ayu, jika ada apa-apa. Kak Rey orang pertama yang aku cari”. Jofan duduk disofa yang ada di ruangan Rey.
“ Kau berani mengancam? Kenapa tidak dibawa saja bekerja di tempat Bibi? Kenapa kamu bawa kesini?”. Rey memejamkan matanya yang sedikit mengantuk.
__ADS_1
“ Kak, aku serius kak”. Jofan mengoyangkan kaki Rey.
“ Diam Fan, aku ingin tidur. Pergilah ...”. Rey kembali memjamkan matanya.
Bruggg.... (Jofan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Rey).
“ Kau mau mati?”. Rey masih memejamkan matanya “ Angkat kaki dari ruanganku”. Tangannya mencoba menyingkirkan kepala Jofan dari pangkuannya.
Jofan berbalik dan memeluk perut Rey yang seperti roti sobek. “ Aku benar-benar menyayangi Ayu kak, dia seperti adik kecil bagiku”. Jofan mengeratkan pelukannya, dan kali ini Rey membiarkannya.
“ Apa dia sangat istimewa? Dia tidak secantik Arumi”. Rey mengingat adik kandung Jofan yang sudah tidak ada.
“ Tapi mereka hampir sama. Tolong jaga Ayu, aku tidak tau harus berbuat apa. Seandainya aku punya kekuasaan dan pekerjaan seperti Kak Rey. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuat Ayu bekerja keras”. Jofan masih memeluk Rey.
***
“ Hai... aku Ayu ”. Ayu mengulurkan tangannya pada gadis cantik di hadapannya.
“ Hai juga, aku Naila. Panggil saja Nai”. Tidak butuh waktu lama, keduanyapun sudah akrab.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, waktunya restaurant tutup dan para karyawan kembali kerumah masing-masing.
Ayu hendak melangkah ke halte saat tangan Jofan mengagetkannya dari belakang. Ayu pun kaget karena tidak tau Jofan masih menunggunya.
“ Mas Jofan masih menunggu Ayu?”. Matanya kembali sendu melihat Jofan begitu tulus padanya.
“ Ayo aku antarkan pulang”. Jofan mengantar pulang Ayu dengan motornya.
Tidak banyak kata-kata, Jofan memang jarang bicara jika tidak penting. Setelah kurang lebih 30 menit, Ayu sampai dirumah.
"Terimakasih Mas Jofan, Ayu tidak punya apa-apa untuk diberikan. Hanya ucapan terimaksih saja". Ayu menunduk malu, dia sudah banyak merepotkan selama ini.
"Kau tau Yu, seandainya kamu mau jadi adikku. Aku akan dengan senang hati menerimanya". Jofan memilih meninggakan Ayu dan melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Ayu hanya diam mematung mencerna perkataan Jofan. Terkadang perlu ilmu tinggi memahami isi perkataan Jofan.