
Sandra ditemani Mamahnya menjemput Melani untuk menemani Ayu di rumah sakit agar tidak kesepian. Malik meminta mereka menghibur Ayu yang sedang sedih karena terlalu khawatir pada Murni dan Sarah. Sandra juga khawatir karena Ayu pasti sangat terpuruk dengan apa yang menimpanya saat ini.
“Mel!!!! Kenapa kau lama sekali.” Melani lari membawa tentengan penuh makanan di tangan kanan dan kirinya. Sebelum ke rumah sakit, Sandra dan Melani belanja cemilan kesukaan mereka dan Ayu. Tiga sahabat yang seakan sudah lama tidak bersua, padahal hanya beberapa hari tidak bertemu.
“Kau ini bisanya ngomel-ngomel saja. Bantu aku biar cepat.” Melani balik memarahi Sandra tapi Sandra pura-pura tidak mendengarnya. “Sandra!” Melani kembali berteriak karena merasa di acuhkan. Sandra dengan santai tidak menggubris Melani yang kerepotan.
“Kau ini, sedikit lagi kita sampai ke mobil. Sudah bawa saja.” Sandra sengaja membuat Melani kerepotan karena wajahnya sangat menghibur saat kesal. “Silahkan masuk makanan-makanan kesukaanku!” Melirik wajah Melani yang bertekuk-tekuk.
“Tidak setia kawan. Kita kan harus saling membantu, ingat San. Gotong royong itu meringankan beban pekerjaan.” Tetap berusaha meski makanan sudah mendarat di bagasi.
“Iya…iya….Kita gotong royong menghabiskan kue-kue ini saja nanti yah. Heheheheh” Sandra terkekeh melihat Melani semakin kesal padanya.
Brukkkk…..
Melani mengangkat dan meletakkan kembali makanan dengan cukup keras agar Sandra kaget. Tapi ternyata usahanya tidak berhasil, Sandra mengabaikannya begitu saja. Sandra malah berjalan dengan cepat masuk ke dalam mobil.
“Huhhhh…..” Melani lega tangannya sudah bebas dari beban berat. “Akhirnya kalian bisa rebahan disini. Baik-baik yah sebelum aku menghabiskan kalian semua.” Menepuk lembut bungkus snack warna warni yang menyejukkan mata. Melani bicara dengan snack-snack yang di taro di bagasi belakang, membuat Kalista tersenyum lucu.
“Teman mu sudah tidak waras yah? Hehehe.” Sandra ikut tertawa. “Tapi aku sangat suka dia, Melani tidak pernah bicara kasar pada Mamah.” Sandra meraih tangan Kalista menciumnya. Tersenyum sangat manis seperti bukan Sandra yang biasanya.
“Kalau Mamah juga tidak sering memarahiku. Aku juga akan bersikap manis seperti Melani.” Kalista tau sikap Sandra padanya karena ulah dirinya yang terlalu mengekang Sandra.
Kalista khawatir dan terlalu over protektif pada Sandra, dia tidak mau Sandra melakukan tindakan bodoh yang akan merugikannya kelak di masa depan, sepertinya semua Ibu di dunia melakukan hal yang sama, pikirnya.
Tapi sikap Kalista ternyata membuat Sandra tidak nyaman. Dia terlalu membatasi pergerakan Sandra selama ini. Dia bahkan mengawasi setiap apapaun yang Sandra lakukan. Sandra sampai merasa tidak punya wewenang atas hidup dan mimpinya.
“Apa aku semenyebalkan itu bagi mu?” Sandra tersenyum mendengar pertanyaan dari wanita yang paling dia sayangi.
“Aku tidak mau membahasnya.” Melani masuk dan membuat percakapan berhenti, Melani duduk dengan santai setelah mengatur makanan di bagasi dengan rapih.
“Kenapa udara sangat dingin.” Menyindir suasana canggung yang Melani rasakan. Sandra tersenyum karena sadar Melani tau apa yang baru saja mereka perdebatkan. “Ayo kita lets go….!!!” Melani penuh semangat ingin menemui Ayu, semangatnya memecahkan keheningan. Sandra segera menancap gas melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Kalista duduk di belakang sesuai keinginan Sandra.
Kalista tidak protes, diijinkan ikut saja dia sudah sangat bahagia. Biasanya dia akan berdebat dengan Sandra karena menolak diikuti Kalista. Tapi kali ini Sandra mengiyakan saja permintaan Kalista. Tidak ada perdebatan atau penolakan dari putri cantiknya.
Mereka sampai setelah perjalanan panjang penuh drama, dari mulai Sandra yang hamper saja menabrak pesepeda motor sampai kemacetan yang cukup panjang membuat perjalanan menjadi menjenuhkan.
__ADS_1
Suasana rumah sakit sangat mencekam meski sudah aman. Keamanan sangat ketat sampai semua tamu yang datang wajib meninggalkan KTP asli di pintu masuk rumah sakit. Untung saja Sandra membawa Kalista, jika tidak akan ada drama lanjutan dari perjalanan panjangnya menuju rumah sakit.
Tok…Tok…Tok…..
Jofan tidak mengijinkan Ayu bergerak, dia yang memastikan sendiri siapa orang yang datang. Jofan terkejut saat melihat wajah Sandra di depan matanya, begitu juga Sandra. Ponsel yang tidak aktif padahal orangnya sehat wal afiat tanpa cedera sedikit pun. Kedunya membisu, Kalista dan Melani saling memandang karena merasa menganggu pertemuan keduanya.
“Sipa Mas?” Suara Ayu membuyarkan pikiran Jofan.
“Silahkan masuk, maaf aku jadi melamun bukannya meminta kalian semua masuk.” Jofan mengulurkan tangannya ingin membantu Sandra membawa tentengan di tangannya, tapi Sandra langsung masuk sampai Jofan tertabrak oleh pundak Sandra.
“Ayu….” Sandra, dan Melani menghambur masuk. Kalista masih tinggal menyambut tangan Jofan yang menjulur padanya. “Aku sangat merindukan mu.”
“Aku juga, aku sangat takut kemaren.” Melani tidak kalah keras suaranya dari Sandra. Mereka berpelukan, mereka sangat bahagai bisa bertemu dalam kondisi seperti ini.
“Apa yang kalian bawa?” Mata Ayu sudah berbinar-binar melihat begitu banyak makanan kesukaannya, Sandra membuka lebar kantung belanja yang ada di tangannya. “Mamah apa kabar?” Ayu memeluk Kalista yang sudah bisa menerima kehadirannya.
“Aku baik, apa kau sudah baik-baik saja sekarang?” Ayu mengangguk, Kalista belum sepenuhnya menerima Ayu, dan perasaan itu sampai kepada Ayu. Tapi Ayu berusaha menutupi perasaannya agar Kalista tidak canggung.
Sandra dan Melani mulai memamerkan makanan yang dia beli, semua makanan kesukaan mereka bertiga jika sedang berkumpul. “Tara….” Suara Melani setelah selesai menata snack di atas kasur. “Aku sudah tidak sabar!” Melani menggosok tangannya seakan sedang kedinginan. “Apa kita mulai sekarang?” Ketiganya berebut mengambil snack favorit mereka masing-masing.
Bunyi handle pintu yang terbuka membuat semua mata penasaran siapa yang memasuki ruangan. Ternyata Dokter Adam yang masuk dan langsung menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Kalian membuat kamar ini sangat berantakan!” Sandra dan Melani memungut sampah yang berserakan di lantai dengan senyum penuh rasa bersalah. “Apa kau tau, kalau pasien ku tidak boleh makan sembarangan!” Adam melipat kedua tangannya. Ayu menggeleng. “Aku hanya makan sedikit saja.” Suaranya lirih, Jofan melihat Sandra dan Ayu memberikan isyarat agar dirinya membantu, bukannya membantu Jofan malam memejamkan matanya pura-pura terlelap.
“Dam….!!!” Suara Malik yang baru saja masuk, Ternyata Malik juga masuk ruangan tidak lama setelah Adam masuk. “Kau membuat mereka takut.”
“Hehehehe, aku hanya bercanda.” Adam tertawa setelah Malik memarahinya. “Makanlah, makan! Aku mau satu yah.” Adam duduk di sebelah Jofan setelah melihat Ayu baik-baik saja sambil menikmati jajanan anak remaja.
“Tante terimakasih banyak sudah menerima permintaan ku membawa mereka ke sini.” Kalista mengangguk.
“Jangan sungkan, aku juga merasa bersalah karena sikap ku pada Ayu yang sudah kelewatan. Anggap saja ini pemintaan maaf ku.” Kalista bicara tanpa memandang wajah Ayu.
Malik menggenggam tangan Ayu yang belepotan terkena remah-remah makanan. Dia tau Ayu sangat peka jika ada orang yang tidak tulus padanya. “Tangan mu sangat kotor.” Malik mengambil tissue basah dan membersihkan tangan Ayu dengan telaten.
Sandra dan Melani saling pandang, mau punya satu laki-laki yang perhatian seperti Kak Malik! Suara hati mereka menjerit meronta-ronta.
__ADS_1
“Jofan, sebentar lagi tolong bantu Ayu membereskan barang-barangnya.” Jofan terkejut, apa maksudnya.
“Kenapa? Apa dia sudah bisa di rawat di rumah?” Ayu sama tidak percayanya dengan Jofan.
“Iya, kau lihat saja.” Malik menunjuk makanan yang masih banyak di bawah selimut. “Tenang saja, dia sudah sehat.”
“Baiklah, tapi aku akan kembali lagi setelah mengantarnya pulang.” Malik menggeleng. Jofan tau dirinya akan diminta tetap di rumah menjaga Ayu.
“Kau aku beri tugas menjaga Ayu dan semua orang yang ada di rumah. Karena Adam tidak mau melakukannya.” Jofan memandang sinis wajah Adam.
“Apa itu hanya alasan agar aku tidak membuat kalian repot.” Malik sampai tercengang, Jofan benar-benar sensitive jika menyangkut harga dirinya. “Jangan kalian anggap aku tidak bisa melakukan apapun, aku lebih dewasa dari kalian semua.” Jofan benar-benar marah.
“Justru karena kau sangat dewasa aku lebih percaya pada mu dari pada Adam.” Adam cemberut di caci di depan mata kepalanya. “Kau tidak tau kalau orang yang sangat berharga lebih dari apapun yang aku miliki aku percayakan padamu!” Jofan masih tidak percaya.
“Itu pasti hanya akal-akalan kalian saja supaya aku tidak kalian ikut sertakan.” Semua membisu. Malik sedang mencari kata-kata yang pas agar Jofan mau menuruti permintaannya.
“Mas.” Ayu berjalan mendekat pada Jofan yang masih membisu. “Apa kau percaya pada Kak Malik?” Jofan masih tidak mau melihat wajah Ayu yang berdiri di belakangnya memegangi baju Jofan. “Kalau dia tidak bisa kau percaya, bagaimana aku bisa percaya padanya.” Jofan membalik badannya.
“Apa maksud mu bicara seperti itu! Aku percaya padanya, tapi…” Jofan tidak melanjutkan isi kepalanya yang rumit.
“Kalau kau percaya, aku juga akan coba percaya pada Kak Malik dan semua orang yang membantu masalah yang kita hadapi. Tapi dia harus berjanji kembali dalam keadaan baik-baik saja. Jika tidak, aku tidak akan menemuinya lagi.” Jofan merasa bersalah membuat Ayu sedih.
“Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu.” Jofan memeluk Ayu. “Baiklah! Aku akan pulang, jika kalian tidak ada kabar dalam 24 jam, aku akan menyusul kalian.” Malik setuju dengan permintaan Jofan.
“Tante, apa aku boleh minta tolong?” Kalista pasrah saja apapun yang Malik inginkan akan dia turuti.
“Apa yang aku bisa bantu.” Sandra terharu, ternyata wanita yang selama ini dia suka merasa kesal sangat baik dan bijaksana.
“Apa Tante mengijinkan Sandra menginap di rumah? Aku juga akan meminta ijin Papah Melan supaya mengijnkannya menginap menemani Ayu.” Kalista mengangguk. Bukan hanya Ayu yang bahagia, Sandra lari memeluk Kalista dan menciumi pipinya berulang kali.
“Aku tidak tau kalau Mamah ku ternyata orang yang sangat baik hati.” Kalista mencubit tangan Sandra yang membuatnya malu.
Tringggg…..
“Jangan buang waktu, cepat selamatkan Sarah dan Murni.”
__ADS_1
Pesan singkat yang Malik terima ditengah kebahagiaan yang dia sedang rasakan melihat Ayu dikelilingi orang-orang yang sangat baik dan peduli padanya.