
Ferdinan gontai keluar dari ruangan Rama. Hati dan pikirannya tidak bisa merespon apapun yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba saja kakinya limbung dan kehilangan keseimbangan.
Ferdinan tidak sadarkan diri, Malik berteriak meminta bantuan pada siapapun yang ada di dekatnya. Tidak lama 2 bodyguard datang membantu Malik memapah tubuh laki-laki yang lemah tidak sadarkan diri.
Malik mengantarkan Ferdinan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Malik merasa iba karena bagaimanapun Ferdinan adalah Ayah kandung dari istrinya.
Malik tidak ingin menyesal memisahkan Ferdinan dari anak kandungnya sendiri.
“Apa dia baik-baik saja?” Suara Rama memecahkan keheningan.
“Dokter sedang menanganinya. Apa yang Ayah katakan sampai Kepala Sekolah pingsan?” Malik penasaran dengan pembicaraan yang tidak bisa di dengar siapa pun.
“Tidak ada. Hanya pembicaraan dua sahabat yang sudah lama tidak bertegur sapa karena kesibukan.” Rama duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan. Menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan menyulitkan dirinya.
Malik tidak melanjutkan pertanyaannya setelah melihat respon Ayah nya. Dia memilih bersandar di dinding yang mampu menyangga tubuhnya tanpa protes.
Deg....
Malik teringat dengan Ayu yang saat ini berada di dalam kamar yang dia kunci. Ayu bahkan belum makan apapun hari ini karena sibuk membantu Ibu dan Bapak.
“Aku harus segera pergi Ayah, tolong jaga Kepala Sekolah. Kabari aku jika dia sudah sadar!” Malik lari sekencang mungkin.
***
“Ayu. Apa kau ada di dalam. Klek...klek...!” Mamih mencoba membuka pintu yang ternyata dalam keadaan terkunci.
“Iya Mih, apa Mamih bisa bantu aku keluar dari sini.” Ayu bicara sedikit keras agar Mamih bisa mendengar suaranya.
“Mamih cari sebentar kunci cadangannya yah.” Mamih berlari meraih ponselnya mencari nomor teknisi yang biasa menangani kendala di rumah Rama Saputra.
Tidak lama seorang laki-laki paruh baya setengah berlari menuju kamar utama yang ada di lantai 2. Dengan cekatan tangannya mengotak atik pintu agar bisa di buka.
Ayu dengan antusias menunggu di balik pintu yang sedang di coba untuk di buka. Mamih sangat khawatir karena Ayu belum makan apapun seharian ini.
“Apa yang kalian lakukan?” Malik sudah sampai di rumah setelah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi seperti pembalap.
“Mamih mau buka pintu. Hehehhe.” Mamih sedikit malu karena bertindak tanpa sepengetahuan putranya.
“Apa Ayu baik-baik saja?” Malik segera mengeluarkan kunci dari kantong celananya setelah sang teknisi mundur beberapa langkah.
Malik langsung memeluk tubuh Ayu yang mematung saat melihat Malik ada di hadapannya. Mamih yang melihat adegan mesra itu langsung menarik tangan sang teknisi agar segera pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kau baik-baik saja? Maaf kan aku karena aku menguncimu di sini.” Malik melepaskan pelukannya. Memandang wajah Ayu yang merona karena belum terbiasa dengan sikap Malik.
__ADS_1
“Aku lapar kak.” Ayu tersenyum. Mulutnya ingin berkata hal romantis seperti layaknya pasangan kekasih, tapi mulutnya tidak merespon dengan baik.
“Maafkan aku, maafkan aku.” Malik berulang kali mengecup kening Ayu dengan lembut.
Ayu meronta-ronta dalam hati. Rasanya ingin berteriak dengan keras karena kegirangan. Tapi Ayu malu menunjukannya pada Kak Malik. Wajahnya merah merona membuat Malik sedikit gemas.
“Tunggu sebentar di sini. Aku akan bawa kan makanan yang paling enak.” Malik segera berlalu setelah mencubit hidung Ayu pelan.
Ya Tuhan, kenapa aku sangat deg-degan begini. Kenapa Kak Malik sangat manis sekali. Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku ini. Hati tolong jangan permalukan diriku di depan Kak Malik yah. Ayu berbicara pada dirinya sendiri.
Ayu berguling di atas tempat tidur saking girangnya bergulat dengan selimut. Sampai tidak bisa mengendalikan gerak tubuhnya dan terjatuh di dalam gulungan selimut yang menyulitkan gerak tubuhnya.
Malik yang baru saja sampai di kamar kaget melihat Ayu yang sedang berusaha mengeluarkan dirinya dari gulungan selimut yang membungkus tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan?” Malik menarik tubuh Ayu berdiri dan melepaskan selimut yang melilit tubuh Ayu.
Melemparkan selimut ke sembarang arah dan menarik tangan Ayu untuk duduk menikmati makanan yang sudah dia siapkan dengan susah payah.
Ayu masih menahan malu karena ulahnya sendiri. Bahkan mulutnya seperti terkunci karena tidak tau harus berkata apa pada Kak Malik yang melihat tingkah gilanya.
“Makanlah, ini semua makanan sudah di cek oleh Cloe.” Ayu tidak mengenal siapa orang itu. Tapi Ayu tidak menghiraukan, dia segera mengisi perutnya yang sudah demo sedari tadi.
“Kaka tidak makan? Cobalah, ini sangat enak.” Ayu menyuapkan makanan dari tangannya. Malik segera meraih tangan Ayu dan mengunyah makanan yang sudah mendarat di mulutnya.
“Kak tolong jangan buat aku Malu.” Ayu menarik tangannya dari genggaman tangan Malik.
“Kenapa malu? Ini memang tangan yang akan selalu aku jaga dan aku cintai. Aku berjani tidak akan menyakitimu.” Malik memeluk erat tubuh Ayu yang mematung.
Ayu terharu karena begitu besar kasih sayang Kak Malik pada dirinya. Kak Malik sudah berusaha keras menjaganya selama ini.
Mencintainya dengan tulus tanpa pamrih dan selalu ada di setiap sela kesibukannya.
“Hmm...Hmmmm. Apa Mamih bisa ganggu sebentar?” Mamih sudah duduk di antara Malik dan Ayu nyempil di tengah-tengah.
“Mamih ini, kenapa suka sekali mengganggu kita.” Malik sedikit kesal dengan kemunculan Mamih di keadaan yang tidak tepat.
“Aku ingin bicara hal yang penting dengan kalian berdua. Kamu kan bisa mesra-mesraan nanti malam.” Mamih giliran yang kesal melihat raut wajah putranya.
“Ayu dengarkan Mamih. Jika kalian ingin segera punya anak, Mamih tidak keberatan. Mamih akan bantu jaga dan rawat dia dengan segenap hati.” Mamih menatap serius pada Malik dan Ayu bergantian.
“Mamih membahas sesuatu yang tidak seharusnya di bicarakan sekarang. Malik bisa mengatasinya dengan Ayu.” Malik tidak suka Mamih terlalu ikut campur.
“Kak Malik, maksud Mamih kan baik. Kita harus menghargainya.” Ayu memang selalu bersikap positif pada siapapun.
__ADS_1
“Tapi kita baru saja menikah. Kenapa membahas soal itu.” Malik beranjak. Pembahasan yang akan membuat kepalanya pusing.
Setelah memastikan Malik keluar dari kamar. Ayu meraih tangan Mamih dan tersenyum padanya. Ayu mencoba bersikap sebaik mungkin agar tidak menyinggung perasaan Mamih.
“Mih, aku masih sangat muda. Apa Mamih tidak keberatan jika aku menundanya sampai aku lulus SMA. Supaya aku lebih siap dan lebih matang.” Ayu memancarkan aura positif.
Membuat Mamih tidak bisa berkata apa-apa.
Malik di balik pintu mendengar percakapan Ayu dan Mamih. Malik sudah menduga dengan jawaban yang akan Ayu lontarkan.
Keputusannya sangat tepat karena Ayu begitu muda untuk memiliki seorang anak.
***
“Tuan, Ed sudah menemukan siapa dalang di balik video tidak senonoh Bos Malik.” Pras menyodorkan foto gadis muda dan laki-laki yang seusia dengan gadis di dalam foto.
“Itu perbuatan mereka? Apa mereka masih anak-anak di bawah umur?” Anak-anak di bawah umur yang sudah melakukan tindakan kriminal. Pikir Rama.
Rama masih menunggu Ferdinan yang masih tak kunjung siuman. Dokter menyatakan Ferdinan dehidrasi akut karena tubuhnya tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman dengan baik.
“Benar Tuan, sepertinya mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang. Sampai-sampai Bos Malik terkecoh dengan mereka.” Pras juga bingung anak semuda itu bisa melakukan perbuatan yang mengerikan.
“Undang keluarganya makan malam. Aku ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.” Rama sudah sedikit ikhlas dengan kejadian itu. Karena dengan kejadian yang di luar dugaan ini putranya bisa memiliki gadis yang sangat dia cintai seutuhnya.
Terlihat Jofan berlari menuju ruangan yang menjadi tempat istirahat Papah nya. Jofan selama ini tidak memiliki hubungan yang baik dengan Papah. Tapi bagaimanapun hanya dia satu-satunya orang yang masih menyayanginya selain Kak Rey.
Rama berdiri di depan pintu masuk menghadang Jofan yang akan masuk ke dalam ruang perawatan. Jofan sudah tidak asing dengan laki-laki yang ada di hadapannya. Beliau juga yang menghubungi Jofan dan memberitahu keadaan Papah yang tidak sadarkan diri.
“Apa Papah baik-baik saja?” Mata Jofan terlihat merah manahan air mata.
“Dia sudah di tangani dengan baik. Masuk lah Jofan.” Rama membuka pintu dan mempersilahkan Jofan masuk.
“Aku harus menemui dokter, aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Papah.” Rama mencegah Jofan. Rama melihat dengan jelas putra yang saat ini sangat khawatir dengan keadaan orang tuanya yang terbaring lemah.
“Ferdinan baik-baik saja. Dia akan segera pulih.” Rama menepuk punggung tangan Jofan. Memberikan sentuhan yang menenagkan bagi putra sahabatnya.
“Aku akan menyayanginya. Aku selama ini tidak pernah memperhatikannya dengan baik. Aku terlalu larut dengan kebodohanku.” Jofan terisak. Ada penyesalan dalam diri Jofan karena begitu besar kemarahannya pada sang Papah.
Rama memeluk Jofan, membiarkan Jofan menumpahkan segala keluh kesahnya pada dirinya. Ferdinan harus tau bahwa saat ini masih ada putra yang harus dia rawat dengan baik.
Ferdinan harus tegar dengan segala yang menimpanya saat ini. Semua akibat ulahnya yang tidak berhati-hati dalam segala hal.
Dia harus belajar dari setiap kesalahan untuk menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab kedepannya.
__ADS_1