
Hari ini Aldo dibuat panik dengan kehadiran Pak Rama yang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan. Awalnya Aldo bahagia karena Malik sibuk dengan asmaranya, paling tidak Aldo bisa bernapas dengan sempurna hari ini.
“Rera, aku mau ke kantin sebentar yah (Aldo mengedipkan matanya), mau menikmati keindahan hari ini” Langkahnya diiringi siulan yang masih menggema. Rera yang melihat tingkah rekan kerjanya hanya menggelengkan kepalanya.
Bos dan anak buah sama saja, suka sekali menunda-nunda pekerjaan, kalo sudah begini aku juga yang repot menyusun kembali jadwal yang sudah tersusun dengan indah. Nasib-nasib. Batin Rera
Aldo berjalan dengan penuh kebahagiaan, sesekali matanya nakal menggoda karyawan yang berlalu lalang. Sampai langkahnya berhenti dimeja resepsionis. Aldo memang naksir dengan Andin, wajahnya yang khas orang asia dengan hidung mancung dan mata belo membuat Aldo kepincut.
Sering kali Aldo menggoda Andin namun tidak ada respon. Andin lebih memilih menghindari Aldo yang dianggapnya lelaki hidung belang.
“Halo Andin ku sayang, kita makan siang bareng yuk?” Aldo menyandarkan tubuhnya dimeja resepsionis, tangannya nakal membolak-balikkan buku tamu yang ada di tangan Andin.
“Belum waktunya Kak” Andin mencoba tersenyum ramah. Mengingat jabatan Aldo cukup tinggi di perusahaan.
“Tidak papa, kalo ada yang tanya bilang saja diajak Kak Aldo makan siang. Tidak akan ada yang berani marah!” Aldo mencoba meyakinkan Andin.
“Maaf ya Kak Al. Andin tidak berani, masih butuh pekerjaan” Nadanya sudah mulai meninggi karena Aldo keganjenan menoel tangan Andin.
“Kalo Andin nikah sama Kaka, gak perlu kerja lagi. Dirumah saja tunggu Kaka pulang, jaga anak-anak kita” Senyum Aldo tersungging, Aldo tidak pantang menyerah. Rayuan demi rayuan bertaburan memenuhi pendengaran Andin.
“Selamat siang Pak” Andin sudah berdiri dan memberi hormat ketika melihat sang CEO datang bersama sekretarisnya.
Mata Aldo hampir lepas saat melihat Pak Rama sudah berdiri tegak dihadapannya. Pendangannya kosong dan pikirannya hilang untuk sesaat.
Baru saja aku bahagia lepas dari cengkeraman Malik, sekarang datang dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Aku harus bilang apa ini.
Terlihat Pak Rama berjalan santai, tangannya menepuk bahu Aldo yang terkejut dengan kehadirannya.
“Malik ada dimana Al? Kebetulan tadi lewat, jadi sekalian mampir” Pak Rama menghentikan langkahnya tepat dihadapan Aldo.
__ADS_1
“Pak Malik....a...tadi...a” Aldo bingung harus bilang apa, jelas-jelas dia tau kalo Malik sekarang bersama Ayu. Orang yang dibenci Pak Rama.
“Ya sudah...bilang padanya aku akan ikut meeting hari ini” Pak Rama terlihat berjalan meninggalkan Aldo.
Aldo bingung, dia frustasi mengacak-acak rambutnya. Andin tertawa puas karena Aldo kena batunya.
Dasar laki-laki hidung belang. Batin andin.
Rapat sudah berjalan 15 menit, Malik belum juga terlihat batang hidungnya. Terlihat beberapa Kali Pak Rama melirik jam yang terpasang dipergelangan tangannya.
Kali ini matanya menatap tajam ke arah Aldo, mencoba mencari jawaban dari kegundahannya. Tidak biasanya Malik mangkir dari meeting. Padahal sudah sering, tapi tanpa sepengetahuan Pak Rama.
Aldo hanya menunduk, mencoba menghindari kontak mata dengan Pak Rama. Dia takut jika membuka mulut akan salah bicara seperti sebelum-sebelumnya.
Satu jam sudah berlalu, meeting selesai dan hasil kesepakatan sudah didapatkan. Proyek luar kota sudah akan mulai digarap. Pasti 1 tahun ke depan perusahaan akan sangat sibuk.
Pak Rama memutuskan untuk pergi keruangan Malik selesai meeting. Dia berjalan pelan, tapi langkah Aldo masih saja jauh dibelakangnya.
“Pras, bagaimana perkembangan hubungan Malik?” Masih sambil berjalan menuju ruangan Malik
“Sepertinya mereka sering jalan berdua Tuan. Seperti saat ini!” Pras menyodorkan handponenya ke arah Pak Rama. Dibuka slide demi slide, tampak raut wajah Pak Rama berubah menjadi tidak ramah.
Selama ini Pak Rama mencoba memberi pekerjaan yang berlebihan pada Malik. Tujuannya agar Malik sibuk dan lupa dengan gadis ABG yang membuatnya mabuk kapayang.
Huffttt
Pak Rama terlihat kesal, bisa-bisanya Malik meninggalkan pekerjaan penting hanya demi gadis yang tidak tau asal usulnya. Lama sekali dia menunggu diruangan Malik, bahkan Aldo pun tidak berani masuk karena menghindarinya.
“Suruh Aldo menemuiku” Jari-jarinya yang sudah mulai keriput tidak berhenti mengetuk meja, kebiasaan yang selalu dilakukan Rama saat hati dan pikirannya tidak tenang.
__ADS_1
“Baik Tuan” Pras segera keluar menuju keruangan Aldo yang tidak jauh letaknya dari ruangan Malik. Sambil berjalan Pras menyunggingkan senyum termanisnya pada Rera. Dia adalah kekasih hatinya yang sekarang bekerja terpisah akibat Pak Rama yang memutuskan untuk bekerja di kantor cabang dekat dengan rumahnya.
Usia nya yang sudah cukup untuk melepaskan perusahaan kepada anak semata wayangnya. Pelan-pelan tapi pasti Rama mendidik Malik untuk selalu siap memegang kendali perusahaan. Dan dibawah kepemimpinan Malik satu tahun terakhir perusahaan mampu membuka beberapa cabang dan berkembang dengan pesat.
Sekarang Rama mulai khawatir karena Malik menyukai gadis yang tidak setara dengannya. Gadis ini bisa kapan saja menghancurkan Malik. Bisa saja dia hanya berpura-pura baik untuk tujuan mendekati Malik dan merampas kekayaannya. Mata nya menerawang membayangkan anak nya yang hanya di bodohi oleh perempuan tidak bertanggung jawab.
Tok...Tok...Tok...
“Masuk” Mata tajam pak Rama selalu membuat bulu kuduk Aldo berdiri. Aldo berjalan pelan menghampiri Pak Rama dengan perasaan was-was. Kepala nya menunduk karena tidak berani menatap mata.
“Dimana anakku?” Pertanyaannya mengintimidasi Aldo seketika, pasti Pak Rama sudah tau dimana anak semata wayangnya. Bukan rahasia kalo selama ini banyak bayangan Rama yang menjaga setiap langkah anak dan istrinya.
Mereka tidak akan dibiarkan pergi tanpa pengawasan. Oleh karena itu, setiap anaknya kabur, mereka tidak akan pusing. Pasti anak buahnya akan memberikan informasi dimana keberadaan sang anak.
“Aku kurang tau Pak” Aldo mencoba mengatur nafasnya. Saat ini dia grogi dan galau harus berbuat apa.
“Mana mungkin!” Nada suaranya mulai meninggi. Rama sengaja menaikkan intonasi agar Aldo segera buka suara.
“Be..benar Pak” Aldo meremas kedua tangannya, masih tetap menunduk. Keringat mulai mengucur membasahi keningnya. Tiba-tiba saja Aldo merasa ingin buang air besar. Padahal sedari tadi dia baik-baik saja.
“Bicara yang jujur. Atau aku akan cari tau sendiri!” Pak Rama memejamkan matanya. Menunggu Aldo berbicara jujur, padahal dia sudah tau apa yang sedang terjadi.
****** aku ini, apa yang harus aku katakan. Siapa yang harus aku lindungi. Benar, aku harus melindungi diri sendiri, mantap Aldo memberanikan diri. Batin Aldo
“Bos tadi keluar Pak, Ayu mengalami kecelakaan ditempat kerjanya dan Bos merasa khawatir Pak” Aldo mencoba memberikan penjelasan apa adanya.
Biarkan saja disemprot Malik. Itu lebih baik daripada harus berhadapan dengan singa tua yang lapar. Aldo berbicara dalam hati
Tiba-tiba saja Pak Rama membuka mata, berdiri dan berjalan menghampiri Aldo. Aldo sudah mengangkat tangan melindungi diri. Siap menangkis jika pukulan tiba-tiba melayang pikirnya.
__ADS_1
“Kenapa kau ini? Mau bergulat denganku?” Rama merasa lucu setiap Aldo kepergok berbohong demi anaknya. Matanya melotot tapi senyumnya tidak bisa hilang dari bibirnya.
Hahahaha....Aldo tertawa dalam hati. Bodoh sekali aku, kenapa aku mengangkat tanganku begitu saja. Dasar sialan.....(Aldo berteriak dalam hati). Pak Rama berlalu pergi meninggalkan Aldo.