Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 77 ( Pengalaman Berharga )


__ADS_3

“Lissa terimakasih karena mau berkata jujur pada kami semua. Aku bahagia karena ternyata tidak terjadi apapun antara aku dan Kak Malik.” Ayu memeluk tubuh Lissa yang masih gemetar hebat.


“Huahua” Lissa tidak bisa menahan tangisnya. Hatinya masih begitu kacau karena terlihat lemah di depan Ayu yang begitu dia benci.


“Sudah Lissa, aku sudah memaafkan semuanya. Aku akan melupakan dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi.” Ayu begitu tulus memberikan maaf pada Lissa.


Padahal dalam hati Lissa, dia begitu benci karena kali ini harus kalah di depan Ayu. Tangisnya palsu, air matanya hanya menggambarkan kekalahannya, bukan penyesalan atas apa yang sudah dia lakukan pada Malik dan Ayu.


Pertemuan sudah usai, semua orang sudah kembali. Malik dan Ayu pulang dengan taxi karena Rama memutuskan untuk berbicara dengan Hans lebih lama.


“Ayah, tolong beri kesempatan pada Kak Hans. Aku tau dia orang yang baik. Selama ini Kak Hans banyak membantuku.” Ayu khawatir Hans akan di hukuman oleh Rama.


“Tenang saja, kali ini Ayah akan berikan hukuman supaya Hans jera dan tidak mengulangi perbuatannya.” Rama memasang wajah sangarnya agar Ayu takut melihatnya.


“Tapi....” Ayu menatap kepedihan di wajah Hans. Dia hanya mampu tertunduk tanpa megatakan sepatah katapun.


“Sudah, jangan ikut campur. Dia tidak mungkin berbuat kasar pada anak-anak.” Malik menarik tangan Ayu dan membawanya keluar dari ruangan.


“Apa kau bilang. Aku ini Ayahmu!.” Malik tidak menghiraukan dan tetap berjalan meninggalkan ruangan. Menyisakkan Hans yang tegang dan Rama di dampingi sekertarisnya.


“Hans, apa kamu sedang mencari pekerjaan?” Rama tau Hans bukan orang berada yang bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Bahkan Hans bisa masuk ke sekolah yang Rama miliki karena beasiswa yang dia dapatkan dengan kerja kerasnya.


“Be..benar Tuan.” Hans memilin ujung bajunya karena tegang.


“Jangan melihatku seperti laki-laki tua yang akan menerkammu Hans! Heheheh.” Rama tertawa mencairkan suasana yang begitu sunyi.


Hans tertawa kecil dengan terpaksa, suasana hatinya tidak bersahabat untuk tertawa saat ini. Hans memikirkan nasib adik dan kedua orang tuanya jika sampai dirinya terkena masalah.


Selama ini Hans bahkan punya pekerjaan sambilan untuk membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Pekerjaan apapun Hans lakukan agar adiknya dan kedua orang tuanya tidak kelaparan.


“Maaf Tuan.” Hans masih tertunduk tidak berani mengangkat kepalanya di hadapan Rama.


“Pras, jelaskan isi kontrak kerja yang sudah kamu buat. Jangan terlewat satupun.” Hans sangat terkejut mendengar kontrak kerja yang Rama sebutkan.


Pras menjelaskan dengan detail isi kontrak yang memberikan gaji 3 kali lipat gajinya di toko toserba tempat kerja Hans. Mengikatnya sebagai karyawan resmi dan bukan karyawan kontrak. Memberikan beasiswa kuliah untuk kelas karyawan dengan bidang yang sangat Hans gemari, IT.


Sudah beberapa kali Hans melamar pekerjaan di perusahaan Rama Saputra yang bergerak di bidang elektronik, namun lamarannya gagal dan tidak pernah sampai. Kebanyakan dari pelamar kerja memiliki hubungan dengan orang dalam dan mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk di terima bekerja di prusahaan.


Tentu saja semua itu diluar sepengetahuan direksi. Semua dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Hans mengusap air mataya, menahan nya sedari tadi membuat dadanya bergemuruh dan tidak mampu untuk berkata-kata.

__ADS_1


“Kenapa kamu menangis? Laki-laki tidak boleh memperlihatkan air matanya pada orang lain. Hanya jika terpaksa saja.” Hans kali ini mengangkat kepalanya, memandang penuh terimakasih pada Rama yang memberinya kesempatan untuk membuktikan diri.


“Iya, semua itu benar. Aku tidak sedang mempermainkanmu Hans!.” Hans bangkit berlari memeluk Rama yang masih duduk santai di kursinya.


Begitu besar kesalahan yang sudah dia lakukan, tapi bukan hukuman yang Hans dapatkan. Melainkan kontrak kerja yang selama ini dia dambakan. Hans menangis, air matanya membasahi kemeja Rama yang berwarna putih.


Dengan lembut Rama membalas pelukan Hans. Hari ini Rama mendapatkan pengalaman berharga menyaksikan jiwa-jiwa muda yang memiliki limpahan kasih sayang untuk orang lain. Rama bahagia karena Ayuna orang yang tepat sebagai pendamping putranya.


***


“Kak Malik, ternyata semua hanya salah paham.” Ayu sangat lega karena dosa besar yang menghantuinya tidak benar.


Seakan dirinya baru saja terlepas dari belenggu yang menahan jiwa raganya dalama kubangan dosa. Rasanya ingin sekali segera mengabarkan berita bahagia ini pada Bapak. Ayu ingin mengangkat beban di dadanya.


“Apa kau sangat bahagia? Tapi semua ini tidak merubah apapun. Kamu tetap istriku, dan tidak akan aku lepaskan sampai kapanpun.” Kekhawatiran yang tidak perlu sebenarnya.


Ikatan pernikahan adalah ikatan yang suci, tidak bisa dipermainkan hanya dengan nama tanggung jawab semata. Ada hal yang lebih besar terkandung di dalam nya. Dan Ayu paham betul bagaimana menyikapinya.


Ayu hanya tersenyum melihat gurat khawatir di wajah laki-laki yang sudah mencuri hatinya sejak lama. Rasanya ingin sekali menggoda, tapi Ayu tidak sampai hati membuat Kak Malik bersedih hati.


“Apa kau pikir aku masih kecil? Aku tau tanggung jawabku atas semua keputusan ini.” Ayu sedikit memajukan badannya memojokkan Kak Malik dengan senyumnya yang menggoda.


Malik gemas melihat tingkah Ayu yang mengikuti gayanya, dia hanya tersenyum dan merasa lega karena Ayu tidak akan pergi meninggalkan dirinya.


“Apa aku boleh pergi ke Ancol. Ah... maksudku Dufan.” Ayu sangat antusias.


“Tentu saja, sebutkan saja kamu ingin pergi kemana. Aku akan membawamu ke sana.” Malik sedang memamerkan kekuasaannya.


Selama ini Malik tidak pernah menggunakan sepeserpun kerja kerasnya untuk bersenang-senang. Nominal semakin bertambah dan tidak tertarik untuk menggunakannya. Tapi sekarang semua nilai yang terkumpul cukup besar untuk membahagiakan Ayuna.


“Aku hanya mau ke sana. Aku sering lihat di TV tapi tidak pernah punya uang lebih untuk mendatangi tempat itu.” Sangat berbanding terbalik dengan Malik.


Malik hidup bergelimang harta tapi tidak tertarik melakukan kegiatan yang membuang waktunya. Waktunya hanya disibukkan dengan belajar dan bekerja.


Malik beranji akan mengimbangi kehidupan Ayu. Pasti sulit untuk Ayu menyamakan kesehariannya yang penuh dengan ketegangan di setiap harinya.Malik tidak mampu berkata-kata, hanya tempat-tempat sederhana yang ada di list perjalanan yang Ayu catat dalam buku kecil yang ada di dalam tasnya.


Akhirnya mereka sampai di rumah setelah perjalanan panjang yang diwarnai kemacetan. Malik menggendong tubuh Ayu yang tertidur pulas di pelukkannya. Malik berjalan perlahan, tangannya dengan susah payah membuka gagang pintu kamarnya.


Mata malik membulat menyaksikan kamar yang dihiasi berbagai macam pakaian yang tergantung di segala arah seperti pasar malam.


“Astaga Mamih.” Suara terkejut Malik membangunkan Ayu.

__ADS_1


“Ada apa Kak.” Malik lemas dan menurunkan Ayu dari gendongannya.


Ayu tersenyum, dia tidak kalah terkejut melihat pemandangan menakjubkan di depan matanya. Perempuan mana yang tidak tergiur melihat pakaian yang begitu cantik memuaskan mata.


“Mamih, apa Mamih mau buka butik?” Ayu dengan polosnya berlari ke arah Mamih.


Untung saja Ayu tidak marah seperti anak kurang ajar ini. Mamih merasa menang, kesekian kalinya Ayu menyambut baik apa yang dia lakukan meskipun di luar nalar.


Malik memilih meninggalkan dua wanita yang sedang menggila mencoba semua pakaian yang ada. Kepalanya akan pecah karena pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia jawab dengan iya dan tidak. Pasti akan salah, apapun jawabannya. Itulah wanita.


Baru beberapa langkah, suara Ayu memanggilnya dan tidak mungkin Malik hindari. Malik berbalik, langkahnya kembali mendekati dua wanita yang sangat dia cintai.


“Apa aku harus ada di sini? Kenapa tidak kalian berdua saja?” Malik duduk dengan terpaksa meladeni pertanyaan yang akan memusingkan kepalanya.


Ayu keluar dengan pakaian pertamanya. Maju mundur melenggang lenggok bak model international yang sedang memamerkan pakaian designer.


“Bagaimana?” Mamih mulai bertanya.


“Bagus.” Mamih mengernyit dengan jawaban Malik.


“Apanya yang bagus, kamu tidak bisa membedakan pakaian bagus dan tidak? Sepertinya kamu harus di bawa ke sekolah model.” Mamih menarik tangan Ayu membawanya untuk kembali mencoba pakaian berikutnya.


Sudah ku duga, apapun yang aku katakan pasti salah. Rasanya ingin sekali kabur jika bukan atas permintaan Ayu.


“Bagaimana? Apa kali ini cantik” Pertanyaan yang hampir sama.


“Menurutku terlalu mencolok. Warnaya....”


Tidak selesai dengan kalimatnya.


“Wah...wah. Kamu benar-benar tidak tau mode, kamu tidak bisa di ajak kerjasama.” Ayu tersenyum melihat suaminya yang frustasi menahan amarah.


Rambut yang biasa klimis dan rapih sudah berantakan setelah pakaian ke tiga muncul. Ayu menahan tawa membuat Malik sedikit bahagia meskipun kesal dengan Mamih yang selalu menghakiminya.


Setelah mecoba semua pakaian dengan berbagai model, Mamih memisahkan begitu banyak pakaian yang sudah dia pilih. Ayu bahkan tidak berkomentar sedikitpun, apapun yang Mamih pilih selalu indah di mata Ayu.


“Sudah selesai, besok Mamih akan ajak Ayu belanja tas dan sepatu.” Mamih bahagia mempunyai teman untuk di ajak shooping.


“Tidak, besok aku akan membawa Ayu jalan-jalan dan Mamih tidak boleh mengganggu.” Malik sudah tidak mau bertoleransi lagi. Dia butuh waktu berdua bersama Ayuna.


“Kau ini, baiklah. Kalo begitu kita lusa saja perginya.” Mamih masih berharap.

__ADS_1


“Tidak bisa, Ayu harus istirahat karena sudah masuk sekolah 2 hari lagi.” Malik tidak mau Ayu terlalu lelah meladeni Mamih seharian.


Ayu tidak menjawab, hanya Malik dan Mamih yang berdebat dengan argumen mereka masing-maisng. Sedikit lucu perdebatan diantara mereka, tapi membuat Ayu bahagia karena begitu dicintai.


__ADS_2