
Ayu tersenyum saat melihat Pak Dodo yang setia menunggunya di kantin sekolah. Ayu diantar teman-temannya yang selalu lengket seperti perangko menuju parkiran dengan selamat. Hari ini Jofan absen karena ada urusan dengan bisnisnya yang mengharuskan dirinya untuk datang.
“Teman-teman aku langung pulang yah. Terimakasih untuk hari ini.” Ayu tersenyum sumringah tapi masih menahan malu.
Hari ini Ayu bertingkah aneh seolah ada yang sedang dia risaukan, Sandra dengan apik mengulik isi hati dan pikiran Ayu sampai Ayu buka suara menceritakan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Sandra dan Melani tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan Ayu padahal dia seharusnya sudah paham dengan hal-hal yang berkaitan hubungan suami istri.
“Jangan lupa berdandan yang cantik malam ini.” Sandra berbisik, Ayu spontan membekap mulu Sandra yang tidak tau tempat. Pak Dodo sampai ikut tersenyum mendengar bisikkan Sandra yang lumayan keras.
“Ayo pak, kita harus cepat meninggalkan teman-temanku sebelum mereka menggila.” Ayu menarik tangan Pak Dodo agar berjalan lebih cepat dari dirinya. Pak Dodo paham dan langsung melesat meninggalkan Ayu bersama sahabat-sahabatnya.
“Kalian jangan bicara sembarangan, aku kan tidak enak jika ada orang yang tau.” Ayu cemberut merasa kesal.
“Ok.” Sandra mengacungkan kedua ibu jarinya tepat di depan wajah Ayu. Dia selalu bisa membuat Ayu tidak bisa marah padanya.
Setelah selesai dengan sahabatnya, Ayu segera menyusul Pak Dodo yang masih berdiri di depan mobil mengawasi Ayu dari kejauhan. Ayu adalah sumber kebahagiaan keluarga Rama Saputra, Pak Dodo harus menjaga dan memastikan Ayu dalam keadaan aman saat berada di sisinya.
“Pak, ayo kita langsung pulang.” Pak Dodo membukakan pintu mobil depan. Ayu tidak pernah mau duduk sendirian di belakang. Dia lebih memilih duduk di sebelah Pak Dodo sambil mengobrol saat perjalanan, itupun jika Ayu tidak ketiduran.
“Tuan Muda bilang kita mampir ke kantor Non.” Ayu sedikit berpikir, padahal Ayu ingin sekali menyiapkan makan malam untuk Malik. “Bagaimana Non?” Tanya Pak Dodo saat tidak mendapatkan jawaban.
“Kita ikuti saja kemauan Tuan Muda, nanti dia bisa ngambek. Heheehe…..” Ayu tertawa mencairkan suasana. Pak Dodo selalu saja bersikap formal padahal Ayu sudah memintanya bicara dengan santai.
“Baik Nona, kita buat Tuan Muda bahagia ya Non.” Pak Dodo sudah mulai sering bercanda meski nada bicaranya masih sedikit kaku.
Tidak lama mobil yang Pak Dodo kendarai memasuki lobby utama gedung yang menjulang tinggi yang saat ini ada di bawah kepemimpinan Malik Saputra. Pak Dodo segera membukakan pintu Agar Ayu segera turun.
“Pak jangan lama-lama yah. Aku tunggu di sini.” Ayu enggan masuk seorang diri, semua orang masih menganggapnya bukan siapa-siapa jika tidak ada Malik atau Rama.
“Nona masuk duluan saja Nona. Tunggu di ruangan Tuan Muda.” Ayu menggeleng, matanya menyiratkan kesedihan. “Kalo begitu, tunggu sebentar Nona!.” Pak Dodo menghampiri petugas parker agar membantu dirinya memarkirkan mobil.
“Pak, kita jangan ke ruangan Kak Malik yah. Aku ingin makan pudding.” Ayu ingat rasa pudding coklat kesukaannya. Pak Dodo tersenyum mendengar keinginan sederhana Ayu.
“Baik Nona, mari.” Pak Dodo berjalan sejajar dengan Ayu. Sepertinya Ayu memang butuh waktu menyesuaikan diri menjadi istri seorang konglomerar. “Nona tunggu saja di sini, saya pesankan sebentar.” Ayu menahan tangan Pak Dodo.
__ADS_1
“Aku mau dua yah.” Matanya berbinar, Pak Dodo mengangguk dengan senyum menghiasi bibirnya. “Satu lagi, Pak Dodo pilih yang paling terlihat enak ya Pak.” Pak Dodo menggeleng kali ini. Padahal jika mau, koki yang membuatnya pun bisa setiap saat membuatkan pudding coklat kesukaannya.
Ayu duduk dengan santai menunggu makanan kesukaannya, terlihat segerombolan pria yang baru saja memasuki kantin dengan wajah mereka yang rata-rata masam. Dahinya terlihat berkerut-kerut, sepertinya semua orang sedang pusing dengan pekerjaannya yang pasti tidak mudah.
“Kita harus menjaga nama baik perusahaan, tapi jika Pak Malik punya skandal dengan gadis SMA apa yang akan terjadi.” Seorang bicara dengan nada yang cukup kesal.
“Dia harus memperhitungkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dan akan merugikan kita semua. Dia harus meninggalkan gadis murahan yang sudah merayunya.” Pria lain bicara dengan nada tidak kalah kesal dari pria sebelumnya.
Ayu menahan kedua tangannya yang bergetar karena rasa takut. Ternyata selama ini ada bahaya yang begitu nyata yang bisa menghancurkan Malik dan segala kerja kerasnya. Ayu mengusap ujung matanya yang berair. Dia harus tetap terlihat biasa saja, Malik pasti akan merasa bersalah jika tau dirinya mendengar laki-laki yang menghina dirinya padahal tidak mengenal secara langung.
“Nona” Pak Dodo menyodorkan dua cup Pudding yang sangat menggoda. “Ini yang saya rasa paling cantik tampilannya.” Pak Dodo tersenyum. Ayu segera meraihnya dari tangan Pak Dodo.
Mencoba menghibur diri sendiri menikmati makanan manis yang membuat suasana hatinya sedikit lebih tenang. Hal semacam ini pasti akan terjadi, mengingat Kak Malik bukan laki-laki biasa. Ayu terus menikmati dengan wajah bahagianya agar Pak Dodo tidak curiga.
Cup kedua siap dinikmati. Rasanya ingin memakan sebanyak mungkin, tapi lambung nya tidak sebesar nafsu makannya.
Pak Dodo juga ikut menikmati pudding yang jadi makanan favorit Ayu. Mencoba merasakan dan menikmati apa yang menjadi rasanya begitu istimewa bagi Ayu. Tidak ada yang luar biasa, rasanya sama saja seperti pudding pada umumnya.
"Nona ada Tuan Muda." Ayu tersenyum pada Malik yang berjalan ke arahnya. Ayu segera membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di sekitar bibirnya.
"Tentu saja aku tidak lupa." Paman Kris masih melihat beberapa pemegang saham yang duduk santai di kantin sambil mengobrol.
"Ada apa Paman." Malik memeperhatikan wajah Kris yang terlihat gusar.
"Sebaiknya kita jangan bicara di sini. Kau tau sendiri suasana sedang tidak kondusif." Malik tersenyum. Tidak rela menjadikan Ayu wanita yang sangat dia cintai tidak di akui oleh orang-orang yang seharusnya memberikannya dukungan.
"Aku dan Pak Dodo ingin membeli puding lagi. Kak Malik boleh, mengobrol dengan Paman." Ayu buru-buru lari sebelum Malik menghentikannya. Pak Dodo yang tidak tau apa-apa manut saja mengikuti Ayu.
Ayu memasukkan beberapa makanan kesukannya ke dalam keranjang. Pak Dodo dengan baik hati membantu Ayu membawakan keranjang belanja nya. Setelah puas membeli cemilan yang cukup banyak. Ayu kembali menghampiri Malik yang masih asik mengobrol.
"Kak, aku sama Pak Dodo tunggu di mobil yah. Aku lupa mau mencari handpone. Aku lupa menaruh nya dimana." Pak Dodo bingung. Padahal jelas-jelas tadi Ayu memegangnya dan memainkanya.
Malik mengangguk tanpa curiga, masih ada beberapa hal yang ingin dia bahas dengan Pakan Kris. Malik kira sikap Ayu padanya karena dia masih merasa malu.
__ADS_1
"Nona, apa ada yang membuat Nona risau?" Pak Dodo memang selalu tau perasaan Ayu. "Sebaiknya jangan di tahan. Nona boleh berbagi dengan saya jika Nona bersedia." Ayu merasa tersentuh.
"Sepertinya aku bisa mengatasinya. Bapak sangat baik selalu melindungiku. Terimaksih banyak." Ayu sangat beruntung dikelilingi orang-orang yang sangat baik dan tulus.
"Saya yang merasa sangat bersyukur Nona. Kalian semua tidak pernah memperlakukan orang tua ini seperti orang lain. Padahal Bapak hanya supir." Pak Dodo menepuk tangan Ayu yang masih menempel di lengan nya.
"Kami juga bahagia punya Pak Dodo yang sangat menyayangi kami. Tidak pernah mengeluh atau marah dengan sikap kami selama ini." Saling menyanjung satu sama lain.
"Serius sekali." Malik tiba-tiba saja muncul. Tangannya penuh dengan makanan.
"Apa yang Kaka bawa?" Ayu memeriksa satu persatu makanan yang Malik bawa.
"Pak kita langung pulang yah. Kita makan di rumah saja. Aku akan masak makanan enak untuk kita berempat." Ayu menghitung ulang, hanya ada mereka bertiga di dalam mobil.
"Empat dengan siapa....." Belum selesai pertanyaan yang Ayu lontarkan. Aldo sudah masuk dan duduk di kursi depan dengan wajahnya yang tampak kasut. Untung saja jarak apartemen dengan kantor tidak begitu jauh, jadi mereka bisa sampai dengan cepat.
"Aku mandi ya Kak." Jika ada Aldo. Ayu tidak akan di ijinkan membantu Malik memasak di dapur, dia pasti akan jadi pengangguran yang menanti makanan siap di hidangkan.
"Jangan terlalu lama." Kata-katanya membuat Ayu menyipitkan mata.
"Kenapa" Merasa penasaran, padahal sesi masak paling tidak memakan waktu 45 menit. Jika dirinya lama pun tidak akan jadi masalah.
Malik menggeleng "Nanti aku rindu." Membentuk hati dengan jari-jari tangannya yang panjang. Pipi Ayu merona merasa malu. Lagi-lagi Malik bersikap aneh di depan orang lain yang membuat jantung Ayu berdebar-debar.
Aldo dan Pak Dodo yang mendengar Malik menggoda Ayu ikut tersenyum. Aldo yang merasa iri pasangannya tidak ada di dekatnya. Keromantisan Malik membuat dirinya semakin tersiksa karena tiba-tiba saja merasa rindu.
"Nona, ayo cepat. Nanti Bos tidak jadi masak malah mengikutimu ke kamar mandi." Malik melotot dengan senyum di bibirnya. Aldo segera meninggalkan Malik menuju dapur.
Jelas sekali dia sedang mabuk cinta. Bahkan dia tidak menampakkan kemarahannya padaku. Aldo merasa senang tapi kesal dengan sikap Malik yang berlebihan. Bisa-bisa nya mereka bermesraa saat ada kami di sini. Dasar tidak tau malu.
"Jangan mengumpat ku dalam hati. Aku tidak akan marah." Malik meraih kantong belanja dan mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan yang akan dia olah.
Aldo dan Pak Dodo bekerja sama membantu Malik menyiapkan bahan-bahan makanan. Aldo masih memikirkan tentang rapat siang tadi yang membuat keadaan perusahaan sedikit bergejolak. Ditambah lagi Malik tidak membantah sedikitpun tuduhan yang memojokkannya. Memang tidak mudah keadaannya.
__ADS_1
"Kau tumben diam saja." Malik merasa aneh dengan sikap Aldo. Biasanya dia ribut tidak terkendali saat berurusan dengan peralatan dapur.
"Kali ini keputusannya sangat sulit Bos. Aku juga tidak bisa memberikan saran apapun."Aldo menghela nafasnya panjang. Malik bingung maksud dari ucapan Aldo barusan.