Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 185 ( Wanita Hebat )


__ADS_3

Laskar berdiri di depan laki-laki Tua bertubuh tinggi besar bernama Gunawan yang di duga ketua organisasi yang saat ini dirinya intai. Tangannya memegang cerutu yang berasap, sesekali menghisapnya dan menikmati aroma yang dihasilkan dari tembakau yang terbakar. Laskar menahan kakinya yang cukup pegal karena berdiri terlalu lama.


Laskar sudah mengintai kelompok yang mencurigakan ini cukup lama, baru sekarang Laskar bisa membuktikan kecurigaannya. Hanya tinggal mengumpulkan bukti-bukti yang bisa menjerat mereka semua tanpa ampunan. Laskar berjanji pada dirinya untuk menangkap mereka sampai ke akar tanpa tersisa.


“Mau menunggu berapa lama lagi!” Berdiri menaruh kedua tangannya di saku celana sambil memandang wajah Laskar dengan penuh kebencian. Laskar hanya menunduk dan memaki laki-laki tua tidak tau diri dalam hatinya. “Apa masih ada yang bisa kau katakana padaku agar aku tidak membunuhnya!” Mata nya melotot dengan wajah garang menunjuk-nunjuk Laskar dengan jarinya yang bau asap rokok.


“Ma…maaf Tuan. Saya sudah berusaha sekuat dan sebisa saya.” Laskar pura-pura tergagap agar tidak mencurigakan.


“Maaf lagi, maaf lagi! Apa tidak ada kata-kata lain yang bisa saya dengar dari mulut mu. Aku percaya pada mu karena selama ini kau bisa aku percaya. Tapi mana hasilnya. Sampai saat ini bahkan tangannya saja tidak bergerak.” Kesal karena Murni menyimpan rahasia yang akan menghancurkan dirinya dan organisasi yang sudah dia bangun dengan susah payah.


“Saya a..akan berusaha lebih keras lagi. Tolong beri saya waktu sedikit lagi untuk menyembuhkan pasien saya.” Gunawan menyeringai membuat Laskar menunduk.


“Aku ingin membuktikan jika kamu memang benar-benar berkata jujur pada ku.” Jari telunjuknya meminta Laskar mengikutinya. Laskar mengikuti Gunawan tanpa membantah. Ternyata dia menuju ruangan Murni. Apa sebenarnya yang akan dia lakukan.


Brakkkk…..


Prannkkkkk…..


Sarah menjatuhkan nampan alumunium berisi obat yang ada di tangannya karena terkejut. Gunawan berjalan sangat cepat menghampiri Murni yang terbaring di atas kasurnya. Memutari dan memandangi Murni dengan tatapan yang tidak bersahabat.


“Ambilkan jarum.” Perintahnya pada anak buah yang berdiri di pintu masuk. Sarah memandang wajah Laskar yang terlihat sama bingungnya dengan dirinya. Sarah menelan salivanya berulang kali, keringat mengucur deras membasahi keningnya. “Cepat!!!!” Teriakan Gunawan memenuhi ruangan membuat Sarah semakin bergidik ngeri.


“Tuan, pasien bisa saja terganggu dan malah akan mengalami penurunan jika ada tekanan. Sebaiknya…” Laskar mencoba menyelamatkan Murni, tapi Gunawan sudah hilang akal sepertinya.


“Heyyyy….!!!! Kalian jangan membantah perintah ku. Lihat saja dan jangan bicara jika kalian ingin selamat.” Laskar tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini. Tangannya terkepal karena merasa bersalah tidak bisa mencegah perbuatan Gunawan yang akan membahayakan keselamatan Murni.


“Ini Tuan.” Jarum yang cukup besar diserahkan pada Gunawan.


“Aku akan buktikan jika kalian tidak berbohong tentang keadaannya pada ku.” Gunawan mendekati Murni. Sarah memalingkan pandangannya dari Murni, dada nya sakit memikirkan apa yang akan terjadi jika jarum di tusukkan pada tubuh Murni yang sangat lemah. Jika dia bersuara tentu Gunawan akan langsung tau keadaan Murni yang sebenarnya.


Gunawan menusuk sedikit lengan Murni, menusuk lagi sedikit di perut Murni. Merasa tidak puas dengan usahanya, Gunawan menusukkan seluruh jaruh penuh di lengan Murni sebelah kiri sampai mengucurkan darah, mengoyakan sedikit luka agar tusukkan terasa semakin kuat. Gunawan tersenyum kecut melihat kenyataan bahwa Murni tidak bergerak sedikitpun.


Tidak ada yang bisa Laskar dan Sarah perbuat keduanya hanya bisa menahan diri agar Gunawan tidak semakin marah. Sarah tidak bisa menahan air matanya melihat Murni tidak bergerak sedikitpun. Dia benar-benar wanita yang sangat kuat dan berani. Tidak terbayang jika dirinya yang saat ini ada di posisi Murni.


“Kalian akan melihatnya semakin menderita jika dia tidak sadar dalam waktu dekat. Jangan kalian pikir aku akan tinggal diam.” Gunawan meninggalkan Murni dengan jarum yang masih menancap di lengannya.


Sarah lari dengan suara tangisan yang mengiringi langkahnya. Menarik jarum yang menyakiti tubuh Murni yang sudah cukup menderita. Sarah membersihkan darah yang masih menetes, tangannya gemetar dan kakinya lemas. Jiwa raganya tidak berdaya saat ini, hanya ada orang-orang gila yang mengelilingi dirinya dan Murni.


Laskar mengulurkan tangannya memberikan perban untuk membalut luka Murni. Sarah menolak dan memukul mundur tangan Laskar dengan kasar. Mata Sarah menyorotkan kemarahan, tapi mulutnya tidak bicara apapun. Laskar tidak menyerah, mencoba untuk yang kedua kali tapi Sarah masih tidak mau menerima. Kali ini dia bahkan tidak melihat tangan Laskar.


Sarah mengambil sendiri kain perban yang dia butuhkan, tangannya sibuk membersihkan luka Murni. Sesekali tangannya menyeka air mata yang tidak berhenti menetes.

__ADS_1


“Kenapa kau tidak mau menerima bantuan ku.” Laskar padahal tau alasannya. Sarah masih diam membisu. “Apa kau marah padaku!” Laskar menunggu jawaban Sarah. “Bukan aku yang menyakitinya. Kau tidak bisa marah pada ku begitu saja.” Sarah tidak menggubris apa pun yang Laskar ucapkan.


Lascar geram, dia tidak tahan karena Sarah diam saja. Laskar menarik pundak Sarah agar menatap matanya. “Dengar!” Dengan tatapan mata yang penuh amarah. “Aku juga menginginkan dirinya selamat. Jangan merasa dirimu paling menderita disini. Aku juga merasakan apa yang saat ini kalian rasakan.” Laskar menghempas pundak Sarah. Sarah hanya bisa menangis tanpa tau apa yang harus dia lakukan untuk keluar dari masalah yang dia hadapi dan bebas dari orang-orang jahat yang menahan dirinya dan Murni.


“Tolong maaf kan aku Murni. Aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkanmu. Andai saja aku bisa membawamu pergi dari sini.” Sarah bicara sendiri sambil menyelesaikan tugasnya sebagai seorang dokter.


“Apa yang terjadi.” Ali masuk setelah mendengar Gunawan menyakiti Murni dengan jarum. Ali mencium kening Murni dengan tangan gemetar. “Katakan apa yang mereka semua katakan tidak benar!.” Sarah membisu.


“Ali!” Laskar muncul di belakang Ali. “Kau jangan memperkeruh suasana. Kau akan membahayakan nyawa Murni jika Gunawan tau kau masih mencintainya.” Laskar mencoba memperingatkan Ali yang selalu saja gegabah.


Ali menarik kerah baju Laskar. Matanya melotot sampai urat-urat di wajahnya menonjol. “Kau tidak pernah tau bagaimana rasanya kehilangan seorang istri yang sangat kau cintai!. Aku tidak akan mengulagi kebodohan ku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya!!.” Melempar Laskar sampai jatuh ke lantai.


Sarah merasa ada yang salah dengan Laskar. Apa sebenarnya yang sedang dia bela, sedangkan dirinya berdiri di garis yang sama dengan para penjahat yang menyakitinya.


“Kau, kenapa kau tidak menjaga nya dengan benar.” Ali mencengkeram tangan Sarah. “Seharusnya kau tidak membiarkan siapa pun menyakitinya.” Sarah mencoba melepaskan tangannya dari Ali tapi tidak berhasil. Ali terlalu kuat.


“Ali, kendalikan dirimu. Kau bisa membuat Tuan marah. Kau mau dia benar-benar membunuhnya.” Ali melepaskan tangan Sarah.


“Apa yang harus aku lakukan?” Ali terduduk lemas di samping Murni.


“Kau harus mencari cara menyelamatannya jika dia tidak juga siuman. Atau jika tidak…” Laskar tidak meneruskan kata-katanya.


“Atau jika tidak apa!” Ali menggeleng frustasi. “Aku tidak akan membiarkan dirinya menderita.” Sarah benar-benar tidak habis pikir, padahal dirinya yang menyeret Murni dalam bahaya. Lalu sekarang seolah dia terjebak dalam bahaya tanpa tau malu.


“Ini semua salahnya.” Ali menari Sarah ke dalam dekapannya. “Kenapa kau tidak bisa berbuat apa-apa.” Sarah sekuat tenaga menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ali.


Laskar menari Ali dengan keras. Memukul wajah Ali karena tidak berhasil menahan amarahnya. “Ahhhhh……” Laskar berteriak keras pura-pura menyesal dengan perbuatannya.


Ali bangkit tanpa mengucapkan sepatah katapun sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.


“Kenapa kau menolongku.” Laskar masih duduk dilantai tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. “Siapa kau sebenarnya!.” Sarah menahan langkah Laskar tapi Laskar tetap pergi tanpa satu patah kata pun.


***


Ayu terlihat melamun, Malik dengan sengaja menyenggol tangan Ayu yang sedang memegang sendok.


Suara sendok yang jatuh di atas lantai membuat Ayu sadar dari lamunannya. Tersenyum hambar pada Malik yang saat ini berdiri di depannya dengan wajah manisnya.


"Apa yang kau pikirkan?" Menatap netra Ayu dengan penuh kasih sayang. Ayu menggeleng, mencoba menutupi kekhawatiran yang melandanya. Ayu takut akan menambah beban pada diri Malik. "Apa aku kali ini tidak berhak tau?" Ayu kembali menggeleng.


"Bukan Kak, aku tidak memikirkan apapun. Aku hanya lelah saja." Ayu merebahkan tubuhnya yang lelah. Malik ikut tidur di samping Ayu, memeluk Ayu yang Malik tau saat ini sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa ada yang Kak Malik sembunyikan dari ku?" Malik terkejut. Takut jika Ayu tau keadaan sebenarnya.


"Mana mungkin." Malik membelai puncak kepala Ayu, menciumi bagian belakang kepala Ayu berulang kali. "Saat ini yang aku butuhkan kau baik-baik saja." Memeluk erat tubuh Ayu. "Selebihnya percaya saja padaku."


Tok....Tok...Tok.....


"Tuan maaf." Pras muncul dengan wajah tegang. Malik menatap Pras yang berdiri di depan pintu masuk. "Apa saya bisa bicara sebentar Tuan?" Malik mengangguk.


"Baik Pras, kau keluar dulu. Aku segera menyusul." Pras segera pergi sesuai permintaan.


"Apa aku boleh ikut." Malik memanyunkan bibirnya.


"Tentu saja tidak. Aku akan meminta Sandra dan Melani datang bersama Jofan sepulang sekolah." Ayu cemberut. Dia benar-benar merasa bosan hanya tinggal di dalam kamar tanpa melakukan apapun.


Malik sudah pergi meningalkan dirinya sendiri di dalam ruang perawatan. Tentu saja di luar ruangan ada petugas yang menjaga Ayu agar tetap aman. Malik tidak mau kejadian yang menimpa Sarah dan Murni menimpa Ayu juga.


Ayu iseng menelpon Kak Ana karena bosan. "Halo Kak Ana. Aku sangat bosan di sini." Ana terlihat sangat kerepotan menerima panggilan telpon darinya.


"Kau harus cepat sehat yah, supaya kita bisa jalan-jalan lagi dan kau tidak bosan." Tampak wajah bayi besar yang tidak asing. "Diam sayang, Tante Ayu sedang bicara." Ana bicara sendiri dengan Mahesa.


"Apa Mahesa dengan Kak Ana sejak semalam?" Ana mengangguk dengan polos, tidak ada yang memberitahu jika Ayu tidak tau apa yang terjadi. "Apa Dokter Sarah masih belum di temukan?" Ayu hanya menebak dan mencoba mencari tau.


Ana menggeleng dengan wajah sedih. "Dia pasti baik-baik saja. Kita harus percaya dengan semua orang yang saat ini sedang mencari keberadaannya." Benar dugaan Ayu.


Ayu memutuskan panggilan telponnya. Ayu segera keluar mencari keberadaan Malik ditemani petugas yang menjaganya.


"Nona, apa tidak sebaiknya menunggu Tuan kembali saja?" Ayu menggeleng. Petugas terpaksa mengikuti keinginan Ayu.


Tampak Malik terlihat sangat serius berbicara dengan Pras, Rey dan juga seorang yang berseragam. Suaranya menggema namun tidak terlalu jelas. Ayu perlahan mendekat agar Malik tidak mendengar langkahnya. Ayu meminta orang yang mengikutinya berhenti.


"Kita harus cepat bertindak, bagaimana jika orang gila itu berbuat nekat pada Murni dan Sarah." Mendengar ucapan Malik dada Ayu tiba-tiba terasa sesak. Tidak hanya Dokter Sarah.


"Benar, kita harus menyusun rencana." Ayu terduduk lemas, kakinya tiba-tiba saja tidak bertenaga.


"Nona!!!!" Teriak petugas yang mendampingi Ayu saat melihat Ayu jatuh terduduk. Semua orang menengok ke belakang. Malik terkejut melihat Ayu ada di sana, begitu juga Rey.


Malik dan Rey segera lari menolong Ayu. "Kau tidak apa-apa!" Malik meraih tangan Ayu yang gemetar. "Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja." Malik mengangkat Ayu dan membawanya dalam pelukannya.


"Kau harus menenagkannya." Malik mengangguk.


"Tolong kabari aku secepatnya rencana kalian." Rey mengiyakan permintaan Malik. Rey sangat khawatir melihat Ayu yang wajahnya sangat pucat.

__ADS_1


"Sayang, tolong beri kami semangat. Jika kau bahagia kami juga akan kuat." Ucapan Rey membuat air mata Ayu meleleh. Ayu mengangguk di sela-sela tangannya yang menyeka air mata.


__ADS_2