Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 190 ( Penyerahan File )


__ADS_3

Malik meminta Sandra dan Melani menemani Ayu sampai dirinya kembali. Akan memakan waktu lama karena file yang dia miliki berkaitan dengan kejahatan besar yang menyangkut banyak pihak penting.


Malik sangat takut Ayu akan jadi sasaran karena saat ini dirinya pemilik terakhir file yang coba Murni sembunyikan. Beberapa kali hampir saja dirinya kehilangan Ayu membuat Malik was-was. Tidak mau lagi kejadian-kejadian yang hampir merenggut nyawa Ayu terulang. Malik tidak akan membiarkan polisi memeriksa Ayu sebagai pemilik file terakhir apapun yang terjadi. Semua harus melalui dirinya.


Malik ditemani Pras dan Pak Dodo menyerahkan file yang sudah mereka tunggu. Sedangkan Adam Malik minta untuk mengurus Sarah dan Murni yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit miliknya. Adam juga pasti sudah kelelahan mengikuti dirinya tanpa istirahat.


"Jangan buka mulut tentang Ayu jika mereka bertanya. Kita harus melindungi nya." Pak Dodo dan Pras juga sepemikiran. Jangan biarkan siapa pun menyentuh Nona Ayu.


Malik berjalan di belakang Pras yang melindunginya dari serangan yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Sebelum datang ke kantor Polisi, Pras sudah menempatkan anak buahnya di beberapa titik untuk mengamankan keadaan jika ada hal yang tidak di inginkan.


"Selamat datang Pak Malik." Laki-laki bertubuh tinggi besar tersenyum menyambutnya. Malik membalas senyum dengan ramah. Wajahnya membuat Malik curiga.


Petugas yang menemui Malik mengarahkannya ke ruangan paling ujung. Pras sudah waspada, tentu dirinya tidak datang tanpa persiapan. Kantor Polisi sangat sepi, sepertinya sudah di ketahui kedatangan Malik oleh orang-orang yang ada di dalam organisasi Gunawan.


"Pak Malik silahkan serahkan file nya pada saya. Supaya saya bisa segera proses kasusnya.” Mencurigakan, darimana dia tau kalau aku adalah Malik. Ini pasti orang yang ada di belakang Gunawan yang menyalah gunakan jabatannya.


“Maaf Pak. Apakah anda punya kuasa untuk menangani kasus yang akan kami laporkan? Tolong berikan pada kami tanda pengenal bapak.” Pras bicara dengan kata-kata lembut namun sesuai dengan sasaran.


“Kalian tolong bekerja sama dan jangan mempersulit pihak berwajib, kalian bisa kami tuntut dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan.” Mengancam dengan percaya diri.


“Apa bapak tau saat ini sedang bicara dengan siapa?” Malik berdiri karena merasa kesal. Pras menarik tubuh Malik menenangkannya agar tidak terpancing. Malik kembali duduk dengan raut wajahnya yang masam.


“Kenapa kalian bertele-tele. Aku ada di kantor Polisi, tentu saja saya petugas resmi yang ada di sini.” Nada bicaranya sedikit tinggi.


"Pada siapa saya bicara? Saya tidak akan menyerahkan barang bukti pada orang yang tidak berwenang." Malik tidak mau menyerahkan pada sembarang orang. Raut wajah Laki-laki yang tadi ramah berubah. Dia seperti menahan emosi.


"Jangan main-main dengan pihak berwajib!. Saya juga petugas berwenang di sini." Malik kaget mendengar nada bicara petugas yang sangat kasar.


"Saya akan bekerja sama dengan baik. Kenapa bapak sangat emosional!" Malik yang tidak biasa diperlakukan kasar sangat geram. Berani-beraninya membentak.


"Bukan begitu maksud saya. Saya hanya ingin bapak tau posisi bapak di sini." Bicara dengan nada lebih rendah dari sebelumnya.


Pras mengirim foto petugas yang berjaga diam-diam pada Laskar. Pras juga curiga karena kantor Polisi sangat sepi. Ternyata benar, dia bukan dari bagian tim khusus yang bekerja di bawah kendali laskar.


Laskar mengirim pesan singkat setelah menerima kiriman gambar dari Pras.

__ADS_1


"Jangan katakan apapun. Tunggu saudara saya yang bernama Mars datang." Laskar mengirim foto petugas yang dia maksud.


Kasus yang berkaitan dengan salah satu petinggi kepolisian membuat semua tim harus berhati-hati saat menentukan langkah. Salah sedikit, barang bukti bisa lenyap tanpa jejak. Bahkan Laskar harus melakuakan operasi secara hati-hati agar dirinya juga bisa selamat dan tidak membahayakn anggota lain.


"Saya apa bisa menunggu di luar saja. Saya menunggu petugas lain." Malik meninggalkan petugas yang mukanya merah padam menahan amarah.


"Pras, perhatikan gerak geriknya. Dia sangat mencurigakan." Pras mengangguk. Malik pasti sangat benci, dia kasar tidak tau sedang berhadapan dengan siapa saat ini.


Tringgg……


"Berpura pura meninggalkan kantor polisi. Temui saya di gedung sebelah." Mars.


Pras menerima pesan singkat. Sebelum bertindak, Pras memastikan nomor ponsel Mars pada Laskar. Laskar membenarkan nomor tersebut dimiliki oleh Mars.


"Pak maaf saya ada urusan. Jadi saya akan kembali lagi 2 jam lagi. Tolong pastikan Bapak ada di tempat saat saya kembali." Malik mencoba mengalihkan perhatian petugas yang mencurigakan tersebut.


Saat mobilnya keluar dari kantor polisi, terlihat mobil sedan hitam yang mengikuti mobil Malik. Ternyata banyak perangkap, pasti suruhan orang-orang yang tidak mau kebusukannya tercium publik. Sangat merepotkan, memang jika isi file resmi di angkat. Banyak orang-orang penting yang akan hancur.


"Pras, kita masuk ke restaurant. Setelah itu kita cari jalan lain agar tidak ketahuan." Pras mengangguk. Banyak sekali mata-mata yang mengikutinya.


Malik dan Pras meninggalkan mobilnya di parkiran restaurant. Mereka keluar dari pintu belakang menuju tempat yang Mars minta menggunakan taksi. Benar-benar harus ekstra hati-hati. Malik sampai lelah terus memikirkan cara terbaik agar tidak ketahuan.


“Sepertinya aman Tuan. Kita bisa langsung menuju lokasi.” Malik mengangguk merasa lega, akhirnya dirinya bisa lolos dari kejaran orang-orang jahat yang mengincar dokumen yang ada di tangannya.


Mars langsung membawa Malik masuk ke ruang rahasia miliknya di salah satu ruangan gedung yang dia tempati untuk markas rahasia penyelidikan kasusnya saat tau Malik sudah tiba di depan gedung.


"Pasti Bapak kesulitan bisa sampai di sini dengan selamat." Mars memberikan apresiasi pada Malik yang bisa sampai dengan selamat tanpa ada siapa pun yang mengikuti.


Mars sendiri sudah memeriksa titik dimana semua CCTV terpasang, memastikan Malik dan Pras datang tanpa ada yang mengikuti. Targetnya kali ini besar, kerja kerasnya juga harus ekstra hati-hati agar tidak berbahaya.


“Kalian benar-benar harus hati-hati. Lawan kalian bukan orang biasa Mars.” Dia hanya tersenyum, tim Laskar sudah biasa menangani kasus-kasus besar dan berbahaya. Mereka terlatih.


“Terimakasih Pak Malik sudah perduli pada kami. Aku akan periksa file sebelum saya kirim ke kantor pusat.” Mars tidak bertele-tele.


“Aku dan anak buah ku istirahat sebentar. Mereka pasti masih berkeliling menunggu kami yang tidak kunjung keluar dari restaurant.” Malik tersenyum puas berhasil mengelabui mata-mata yang mengikutinya.

__ADS_1


“Aku sibuk, sepertinya tidak akan sempat meyanai Pak Malik. Pak Malik boleh ambil minuman dan makanan yang aku miliki di kulkas sendiri ya Pak. Tidak perlu sungkan.” Mars sangat ramah.


“Santai saja, kerjakan saja apa yang jadi prioritas dan pekerjaan utama kamu Mars.” Sok akrab, padahal baru saja ketemu.


Malik memperhatikan raut wajah Mars yang seolah musim panas, merah padam karena kulitnya putih. “Apa kau terkejut? Bukankan kalian sudah tau apa yang saat ini kalian selidiki?” Mars malu terlihat menyedihkan di depan Malik.


“Tidak ku sangka kami dapat ikan Arwana, padahal kami memancing ikan Koi Pak.” Malik tersenyum karena tau maksud dari ucapan Mars.


“Tuan” Wajah Pras sangat tegang. “Mereka meledakkan mobil yang kita parkir di depan Restaurant sampai bagian depan Restaurant ikut hancur.” Malik tidak habis pikir, pelaku sangat nekat sampai benda mati pun jadi sasaran.


“Selesai masalah ini kita bereskan Restaurant seperti sedia kala. Aku kenal pemiliknya.” Pras mengangguk. Malik terlelap tanpa sadar, dirinya sangat kelelahan. Pras dan pak Dodo tidak tega membangunkan Malik. Wajahnya sangat pucat karena kelelahan.


***


Suasana rumah besar sangat ramai karena semua sedang berkumpul bercanda tawa di ruang tamu. Hanya Ayu yang terlihat murung karena tidak tau bagaimana keadaan Malik saat ini.


“Sayang, apa yang kau pikirkan?” Rey dengan lembut membelai rambut Ayu yang terurai. Dia mebuka hijab karena hanya ada keluarganya di sana. Ayu memeluk Rey, dia tidak bisa berkata-kata. “Jangan terlalu banyak pikiran, kau bisa sakit jika terus-terusan murung seperti ini.” Ayu mengangguk. “Ayo istirahat. Kau belum pulih sepenuhnya, sekarang sudah cukup malam.”


Ayu menuruti permintaan Kak Rey, dia juga tidak mau sakit lagi dan merepotkan banyak orang. Ayu perlahan berjalan menaiki tangga bergandengan tangan dengan Rey, tiba-tiba saja dia ingin mengucapkan selamat tidur pada Rama.


“Kak, aku ingin ke kamar Ayah sebentar. Pasti Ayah juga sangat khawatir pada Kak Malik saat ini.” Rey mengiyakan permintaan Ayu. Mengikutinya perlahan dari belakang.


“Mobil Tuan Muda sudah di amankan Tuan. Ledakannya cukup kuat sampai merusak bagian Restaurant.” Ayu mendengar dengan jelas obrolan Rama dan laki-laki yang Ayu tidak tau namanya.


Rey berlari saat melihat Ayu berbalik dengan air mata yang berderai di pipinya. Dia pasti mendengar kabar buruk. “Ada apa! Apa yang kamu dengar?” Ayu hanya memeluk Rey dengan erat. Suara tangisannya bahkan tidak terdengar, Ayu hanya memegangi dadanya pasti terasa sakit.


“Ayah! Tolong.” Rey berteriak memanggil Rama yang ada di dalam Kamar. Rey bingung karena Ayu tidak melepaskan tubuhnya.


“Sejak kapan kalian di sini!” Rama merasa bersalah Ayu mendengar percakapan yang tidak berarti tapi menyakitinya. “Nak.” Rama membelai kepala Ayu dengan lembut. “Malik baik-baik saja.” Tubuh Ayu gemetar. Tidak bisa mendengar dengan baik apapun yang orang lain ucapkan.


“Aku ingin istirahat. Aku sangat lelah Kak.” Ayu menarik tangan Rey, Rama meminta Rey mengikuti kemauan Ayu. Rey sendiri bingung karena Ayu terlihat depresi.


“Nak.” Ayu berhenti karena Rama memanggilnya. “Ayah akan pastikan Malik kembali pada kita dengan selamat.” Ayu mengangguk tanpa menoleh. Air matanya banjir tanpa bisa dibendung lagi.


Rey membantu Ayu naik ke tempat tidurnya, mengusap lembut kepala Ayu. Dia sungguh kuat, beban hidupnya sangat besar padahal tubuhny sekecil ini. Ayu pura-pura memejamkan mata agar Rey tidak khawatir.

__ADS_1


“Jangan takut sayang. Kita semua akan menjaga mu. Kamu tidak akan pernah sendirian.” Rey bicara pada Ayu yang sudah terlelap. Rey mengecup kening Ayu sebelum meninggalkannya untuk mencari tau apa yang Ayu dengar sampai terlihat sangat terpukul.


Rey meminta Sandra dan Melani menemani Ayu. Kedua sahabatnya sangat setia menemani Ayu di masa-masa sulitnya. Mereka selalu jadi semangat dan memberi warna kebahagiaan di saat Ayu terpuruk.


__ADS_2