Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 192 ( Coklat Panas )


__ADS_3

Malam berarti yang Ayu lewati dengan penuh cinta, dirinya sampai tidak ingin meninggalkan tempat tidurnya yang nyaman, terlebih pelukkan Malik yang menghangatkan jiwanya. Beberapa hari ini hidupnya seakan ada di ujung tanduk dengan berbagai masalah yang muncul mendera rumah tangganya. Hari ini Ayu bisa bernafas lega meski masalah belum benar-benar selesai. Sangat nyaman melihat Malik terlelap di sampingnya tanpa rasa khawatir. Ayu sungguh bersyukur Malik kembali dengan selamat.


Ayu menatap langit-langit setelah puas memandang wajah suami tercintanya. Pemandangan di langit-langit seolah pemandangan langit yang dipenuhi bintang. Sedikit iri karena Kak Ana bisa menuangkan karya seni menjadi rumah yang sangat nyaman. Pantas saja, Kak Ana selalu punya karya-karya yang dicintai banyak orang termasuk Malik. Interior rumah dan kantor dipenuhi lukisan hasil tangan Kak Ana.


Ana dan Rey mendesign rumahnya dengan banyak kamar, tujuannya agar semua keluarganya punya kamar saat datang menginap di rumah barunya. Suasana rumah seperti pegunungan membuat siapa saja yang ada di sana nyaman dan tidak mau pulang. Rey membiarkan Ana menuangkan imajinasinya pada tempat tinggal yang akan jadi tempatnya berteduh bersama keluarga kecilnya.


Tok…Tok…Tok….


Tok…Tok…Tok….


Mata Ayu terbelalak, dia ingat janjinya pagi ini. Ayu melangkah perlahan dari tempat tidur agar tidak mengganggu Malik yang masih tertidur pulas, dia Melani dan Sandra sudah janjian dengan Kak Ana akan bangun pagi untuk melihat sunrise yang siap muncul menerangi dunia menyambut impian para pengejar kesuksesan.


“Uhuk…Uhuk…” Suara batuk Malik membuat Ayu kembali ke tempat tidur dengan cepat. “Kau mau kemana sayang? Ini masih sangat pagi.” Malik melihat jam yang tergantung di dinding. Ayu mengambilkan minum agar Malik bisa sadar sepenuhnya. Malik menggeleng, dia malah menarik tubuh Ayu kepelukannya dan kembali memejamkan mata.


“Ayu…cepat sedikit!” Teriakan Melani dengan suara di tahan tapi masih sangat keras suaranya.


“Hey….!!!” Balas Malik menakuti teman-teman Ayu.


Brukkk….


Melani dan Sandra lari terbirit-birit saat mendengar Malik berteriak. Malik tertawa merasa lucu mendengar teman-teman Ayu lari ketakutan. Rasa kantuk nya kini lenyap.


“Kaka. Kau selalu saja iseng. Aku hanya ingin melihat sunrise Kak.” Malik menyesal melihat Ayu jadi cemberut pagi-pagi buta.


“Baiklah-baiklah, aku akan ikut. Jangan cemberut lagi.” Ayu kembali tersenyum dengan ceria. Malik ke kamar mandi membasuh wajahnya agar lebih segar. “Ayo sayang.” Ayu dengan senang hati menyambut tangan Malik yang terulur padanya.


“Kenapa Kak Malik sangat baik hari ini? Apa karena pengakuan cinta ku yang memalukan?” Ayu tersipu malu mengingat kejadian tadi malam yang membuatnya harus bergadang sampai tengah malam karena Malik tidak membiarkannya istirahat.


Malik menggeleng. “Memang selama ini aku tidak baik pada mu?” Ayu tersenyum. “Kenapa menatap ku seperti itu. Awas! Aku bisa memakan mu pagi-pagi buta!.” Malik berbisik di telinga Ayu dengan nada penuh penekanan. Ayu bergidik ngeri membayangkan keganasan Malik.


“Jangan bicara sembarangan. Bagaimana kalau ada yang mendengar percakapan Kita yang vulgar.” Ayu menengok kanan kiri memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


“Biarkan saja, lagi pula kita kan pasangan sah. Mau melakukan apa saja terserah kita.” Ayu menarik kerah baju Malik menatap nya dengan tajam.


Muachhh…

__ADS_1


Malik mecium bibir Ayu yang manyun padanya. “Kak Malik!!!” Ayu memukul Malik kesal. “kenapa selalu bertindak seenaknya.” Ayu mengusap bibirnya tapi juga tersenyum tersipu malu. “Ahhhh….” Ayu menenggelamkan wajahnya di dada Malik karena tidak bisa menahan rasa malu.


“Maaf..maaf, kamu sangat menggemaskan. Hahahhaha…..” Malik membelai kepala Ayu dengan lembut. “Sebentar lagi kamu lulus. Setelah itu aku akan umumkan pada dunia siapa pemilik diri ku. Dan tidak ada lagi orang yang boleh melirik mu. Aku bisa menenggelamkan mereka ke dasar lautan.” Jantung Ayu berdetak cepat mendengar perkataan Malik. “Tidak ada lagi yang bisa membuat kita goyah. Kita akan selamanya bersama.” Ayu membalas pelukkan Malik yang hangat.


“Ayu!!!” Teriak Sandra mengganggu romantisme pagi hari. Tangannya melambai dengan senyum menyeringai senang karena berhasil mengganggu Malik dan Ayu. “Cepat! Sebentar lagi sunrise nya akan muncul.” Melani tidak berani menimpali, melihat wajah Malik yang menakutkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


Ayu berlari kecil membuat Malik mengikutinya. Wajahnya sangat cantik pagi ini. dia seperti terlahir kembali setelah banyak sekali ujian dan cobaan yang Ayu lalui penuh dengan kepedihan. Senyumnya membuat hati siapa saja yang melihatnya menjadi damai. Kekuatan Malik ada pada dirinya.


Malik tidak melepaskan tangan Ayu. Saat ini perasaan Malik sangat bahagia, bisa melihat senyum ceria Ayu bersama teman-temannya sangat melegakan. Kekuatannya sedang bersinar terang seperti mentari pagi. Hanya kedamaian yang Malik rasakan saat ini, tidak bisa dibandingkan dengan apapun kebahagiaan yang dia rasakan.


“Kau ikut bangun juga?” Sapa Ana dengan ramah. Dia menikmati waktunya bersama gadis-gadis muda yang dipenuhi semangat.


“Dia memaksaku ikut menyaksikan pemandangan indah katanya.” Ayu meliriknya, Kak malik baru saja berbohong. “Iya…iya, aku ikut karena tidak rela jauh darinya.” Malik memeluk erat Ayu di depan teman-temannya.


Cieee….cieeeee….


Teriak semua orang membuat Ayu tersipu, sepertinya hal seperti ini akan lebih sering Ayu rasakan karena sekarang Malik sudah lebih terang-terangan menunjukkan rasa cintanya pada Ayu.


“Tunggu di sini Kak Malik akan buatkan coklat panas.”


Minuman hangat sangat pas dinikmati saat cuaca sejuk seperti pagi ini. Malik melihat Rey yang memangku Mahesa di sofa ruang tamu dengan tenang. Mahesa memainkan tangannya sendiri sambil mengeluarkan suara bayinya yang sulit di tirukan orang dewasa. Tapi sesekali Rey menirukannya meski tidak sama.


“Dia sudah bangun sepagi ini?” Malik mencium gemas pipi Mahesa yang tembem. Mahesa hanya mampu membalasnya dengan senyuman.


“Anak bayi ini selalu bangun sebelum aku dan Ana bangun.” Rey tersenyum melihat wajah Mahesa yang menggemaskan meski nada bicaranya ketus.


“Kau mau kopi Rey.” Malik mengisi panci dengan air. “Aku mau membuatkan mereka coklat panas.” Tawar Malik pada Rey untuk menghilangkan rasa bosan.


“Boleh, tapi agak pahit sedikit. Mata ku sangat ngantuk.” Malik hanya mengangguk sebagai jawaban persetujuan atas permintaan Rey.


“Bagaimana kelanjutan kasus yang sedang di selidiki?” Malik menatap Rey dengan kesal.


“Kenaap membahasnya, aku sangat tidak senang mengingat perlakuan para penjahat yang sangat merugikan masyarakat.” Wajah Malik jadi tidak bersahabat.


Meski kemarahannya bukan di tujukan pada Rey, tapi Rey jadi tidak enak hati.

__ADS_1


“Jangan kesal padaku, aku hanya ingin tau saja perkembangannya.” Rey merasa bersalah. Malik menyadari raut wajahnya yang tidak bersahabat.


“Maaf Rey, aku jadi terdengar kesal yah. Hahahaha.” Padahal Malik benar merasa kesal karena jadi ingat kasus yang harus dia selesaikan pagi-pagi buta.


“Wajar kalau kau kesal. Aku saja yang tidak tepat waktu menanyakan hal yang sangat menyakitkan.” Rey sendiri sangat benci kejadian seperti ini menimpa keluarganya, terlebih lagi menyangkut Ayu, adik kecil yang baru saja masuk dalam kehidupannya.


“Selamat menimati. Jika tidak enak kau tidak berhak complain pada ku.” Malik meninggalkan Rey yang sibuk menggoda Mahesa.


Malik berjalan perlahan menikmati terpaan angin sejuk yang membuat bulu kuduknya merinding di tambah pemandangan yang dipenuhi canda tawa orang-orang yang Malik sayangi. Melihatnya membuat Malik tidak mau merusak momen kebahagiaan mereka. Malik duduk di kursi taman mengamati dari kejauhan. Yang diperhatikan asik memotret dengan berbagai gaya meski wajah mereka tanpa riasan.


Ayu menyadari Malik duduk sambil tersenyum-senyum sendiri memperhatikan kelakuan mereka berempat. Ayu berjalan menghampiri Malik dengan wajah cerianya. “Kenapa tidak ke….sana!” Ayu merasa menganggu Malik yang sedang asik sendiri.


“Ah…aku sampai lupa.” Malik berdiri membawa Coklat panas yang masih mengepulkan asap menggoda, aroma manis nya sangat tajam sampai Ayu merasa tidak tahan ingin segera meneguknya.


“Aku mau bawa sendiri boleh Kak.” Malik menggeleng. “Aku ingin mencicipi sedikit saja.” Ayu merengek.


“Kita minum bersama.” Malik sengaja membuat Ayu kesal. Melihat wajahnya kesal membuat Malik senang. “Ayo cepat!” Teriak Malik saat melihat Ayu masih mematung di tempatnya dengan wajah cemberut. Ayu berlari mendahului Malik tanpa menatapnya. Malik hanya menggeleng sambil tersenyum puas berhasil mengerjai Ayu.


“Yeayyyy…..coklat panas sudah datang.” Teriak Melani kegirangan. Masing-masing mengambil satu gelas untuk dinikmati sambil menatap cahaya yang sedikit demi sedikit mulai menampakkan sinarnya.


“Kak, racikan coklat panas Kak Malik sangat pas.” Puji Sandra tulus.


“Benarkah! Baru Sandra yang memuji coklat buatan ku. Orang yang Kak Malik buatkan hampir setiap hari tidak pernah memujinya.” Ayu tau Malik menyindir dirinya, dia tidak mampu berkata-kata. Sandra yang sadar Ayu merasa tersindir jadi merasa bersalah.


“Kau ini.” Ana memukul pundak Malik untuk menyadarkan perbuatannya yang menyebalkan. Ayu cenderung diam tidak membantah apapun yang orang lain katakana tentang dirinya. “Selalu saja bicara seenaknya. Kau harus masuk sekolah tatak rama tau tidak!” Malik melirik Ayu yang tidak mau menatap wajahnya.


“Aku lupa! Aku belum shalat subuh. Aku akan kembali lagi setelah shalat subuh.” Ayu lari tanpa pamit pada Malik. Dia hanya pamit pada kedua sahabatnya dan Kak Ana.


“Ayuna! Ayu….” Malik berteriak pun tidak di gubrisnya.


“Jangan berulah. Kau tidak bisa jadi laki-laki yang manis sebentar saja? Kau sering sekali menyakiti hatinya.” Malik menyipitkan matanya.


“Apa ada yang salah dengan ucapan ku! Aku hanya bercanda An.” Tegas Malik pada Ana yang masih terlihat kesal. Ana menggeleng dan tidak lagi mau melanjutkan perdebatannya.


Malik masuk dan mendapati Ayu yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Malik tersenyum sendiri karena wajah Ayu masih tidak bersahabat, dia pasti kesal merasa tersindir dengan ucapan Malik. Ternyata Ana tau banyak tentang Ayu, Malik harus banyak belajar dari Ana bagaimana memahami perasaan Ayu yang sangat lembut.

__ADS_1


__ADS_2