
Semua penjaga yang ada di rumah Rey sudah sirna, Rama meminta mereka kembali ke rumah besar menjaga kemanan di sana. Tapi sesuai instruksi Malik dan Rey, semua orang yang harus Malik dan Rey lindungi tetap bersembunyi di ruang bawah tanah sampai Malik dan Rey datang menjemput mereka semua. Tidak ada yang diperkenankan menggunkana ponsel karena Malik takut ada ponsel yang di sadap. Hiburan mereka hanya televisi yang kadang gambarnya timbul tengelam karena sinyal kurang bagus dibawah sana.
“Kalian bosan?” Tanya Rama pada semua orang yang hanya berdiam diri dengan pandangan mata kosong. Hanya Jofan yang memejamkan mata meski tidak tidur di pangkuan Ayahnya. “Akan aku ceritakan beberapa kisah yang akan menginspirasi kalian.” Semua mendekat termasuk Ana yang sedang menidurkan Mahesa yang masih betah terjaga.
Malik sangat takut meninggalkan mereka tanpa penjagaan, tapi hanya ini cara satu-satunya yang saat ini bisa dirinya lakukan. Paling tidak saat ini rumah Rey aman dari intaian mata-mata yang tersebar dimana-mana.
Keesokan paginya Malik ditemani Rey, Aldo dan Pras menghadiri siding akhir putusan kasus yang dilaporkannya kepada pihak berwajib. Malik sangat puas karena hukuman setimpal yang didapatkan para penjahat akan terus diingat agar tidak ada lagi pelaku-pelaku kejahatan yang bebas berkeliaran di dunia nyata.
Dari jauh Malik melihat Adam bersama Sarah lari ke arahnya yang sedang berbincang dengan kuasa hukum yang Malik rekrut untuk menangani kasusnya. Malik senang melihat Sarah dalam keadaan sehat tanpa terluka.
Malik memeluk Sarah cukup erat, rasanya lama sekali tidak melihat wajah yang menyejukkan hatinya. “Aku sangat merindukan mu Sar, apa kau tidak terluka?” Malik memeriksa wajah Sarah sampai memutari tubuh Sarah dua kali.
“Aku baik-baik saja.” Sarah menarik tangan Malik agar berhenti menghawatirkan dirinya. Sarah tersenyum kemudian memeluk Malik agar dia yakin dirinya baik-baik saja. “Terimakasih karena kau melakukan segala cara menyelamatkan ku.” Sarah tau Malik kelelahan, dia butuh kekuatan agar tetap kokoh tidak tergoyahkan.
“Semua sudah berakhir. Setelah ini kita semua akan hidup bahagia tanpa gangguan orang-orang jahat.” Malik bernafas lega melihat senyum Sarah. “Bagaimana keadaan Murni?” Sarah menggandeng tangan Malik membawanya ke parkiran mobil.
Sambil berjalan Sarah menjelaskan kondisi Murni yang saat ini sedang dalam pemulihan. Tubuhnya sudah lebih peka terhadap sentuhan, lidahnya yang semula mati rasa sudah bisa merasakan berbagai rasa makanan. Sarah yakin Murni akan segera pulih. Malik sangat berterimakasih atas pertolongan Sarah menyelamatkan orang yang sangat Ayu sayangi.
Malik memutuskan mengikuti Sarah ke rumah sakit dimana Murni dirawat secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa pun. Hanya Sarah dan Adam yang tau lokasi perawatan agar anak buah Ali tidak menemukan Murni.
Malik membawa bubur ayam agar Murni bisa makan, pencernaannya masih belum stabil karena dia koma cukup lama sehingga anggota tubuhnya tidak berfungsi dengan sempurna.
Malik membuka pintu setelah memperkenalkan diri pada penjaga yang ada di depan ruang perawatan. Pemandangan yang menyayat hati, Murni duduk di depan jendela dengan pandangan mata kosong. Dia pasti masih belum bisa lupa bayang-bayang seorang laki-laki yang tega menyiksanya dengan kejam.
“Mbak….Mbak.” Malik mendekat, berjongkok di depan Murni yang sudah menyadari kedatangannya. “Mbak Murni harus bahagia sekarang, ada aku dan Ayu yang akan menjaga Mbak Murni.” Murni tersenyum, meski terlihat sangat berat.
“Apa Ayuna baik-baik saja?” Malik mengangguk dengan senyum bahagia. “Aku hidup hanya menjadi beban bagi semua orang. Aku bahkan membuat Ayu dalam bahaya karena perbuatan Ali yang sangat mengerikan.” Mata Murni mulai berkaca-kaca. “Tolong maaf kan segala kesalahan ku. Setelah ini aku akan menghilang dan tidak akan mengganggu lagi kehidupan kalian.” Murni terisak.
__ADS_1
“Itu tidak benar, kau hanya korban.” Murni menggeleng sambil terisak. “Jangan menyalahkan diri Mbak, atau kau akan membuat Ayu semakin terluka. Aku mohon Mbak, aku mohon lepaskan segala beban hidup mu. Aku minta Mbak mulai dari awal lagi dengan penuh kebahagiaan. Aku akan membantu Mbak Murni, kau juga berhak bahagia.” Murni menutup wajahnya merasa malu pada hidupnya.
“Aku benar-benar menyesal, seharusnya aku tidak menutupi kesalahan Ali selama ini.” Murni mengusap matanya dengan kasar. “Aku juga bersalah, aku juga penjahat yang menyembunyikan perbuatan bejad Ali yang seharusnya aku laporkan.” Malik menggenggam tangan Murni yang gemetar. Malik sedih Murni ternyata depresi dan tidak bisa mengontrol emosinya.
“Tenang Mbak, semua sudah baik-baik saja. Mulai sekarang aku yang akan menjaga Mbak, jangan khawatir.” Malik menepuk pundak Murni dengan lembut, Murni masih terisak pilu.
Perempuan mana yang tidak patah hati dan hancur saat suami yang dia cintai dan dia sayangi dengan segenap jiwa raga menghianatinya. Bahkan dia yang seharusnya mengayomi dan melindunginya malah jadi orang yang selalu menyakiti dengan sadar perempuan lemah yang hanya ingin menyelamatkan hidupnya.
“Aku tidak akan punya kesempatan lagi menyelamatkannya. Dia benar-benar akan hilang dan tidak bisa lagi aku temukan.” Malik masih mencerna ucapan Murni, sepertinya dia sudah mulai tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan. “Tolong kasih aku kesempatan memenuinya sekali saja. Aku hanya ingin meminta maaf padanya. Tolon!” Murni benar-benar tulus, sorot matanya penuh harapan. Malik hanya membisu tidak tau harus bagaimana.
Sarah datang setelah Malik menelponnya, Murni sangat tidak tenang. Malik takut dia akan menyakiti dirinya sendiri dengan kondisi jiwanya yang masih terguncang. Sarah tersenyum melihat wajah khawatir Malik.
“Kau bisa jadi tua dalam satu malam.” Malik tersenyum kecut. “Dia tidak seperti yang kau bayangkan, Murni hanya tidak bisa melepaskan laki-laki yang dia cintai. Tapi bukan berarti dia tidak bisa lepas dari baying-bayang Ali. Aku hanya perlu membantunya melakukan terapi ringan. Dia baik-baik saja.” Malik sedikit lega meski masih blum yakin.
“Kau tidak ingin pulang?” Menatap wajah Sarah yang sedang sibuk memasang cairan infus. “Pulangkah, kau pasti sangat rindu pada Putra mu.” Jantung Sarah tiba-tiba saja terpacu sangat cepat. Dia ingat senyum di wajah Mahesa saat terakhir bertemu. “Jangan berpura-pura baik-baik saja di hadapan ku. Aku tau kau juga sangat menderita.”
“Tentu saja tidak, dia aman bersama Ana dan semua orang yang menyayanginya. Dia anak yang sangat hebat, dia bahkan berani buang air besar saat aku sedang menggendongnya!” Malik mencoba mencairkan suasana agar Sarah tidak lagi sedih, agar dia merasa aman Putranya bersama orang-orang baik yang menyayanginya.
“Aku masih belum bisa meninggalkannya.” Menatap wajah Murni dengan rasa iba. “Aku mohon katakana pada Ana aku sangat berterimakasih, Mahesa sangat beruntung punya tante sebaik dirinya.” Malik tersenyum, Sarah sangat professional, dia selalu berjuang sampai akhir dan tidak pernah menyerah dengan keadaan.
“Akan aku sampaikan, tolong kau dan Adam juga harus jaga kesehatan. Aku mau melihat kalian dalam keadaan sehat seperti saat ini.” Kebahagiaan seperti ini yang Malik sangat rindukan, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan kedamaian.
Sarah mengantar Malik ke lobby rumah sakit, mereka menyempatkan diri minum kopi bersama Adam sebelum Malik pulang. Obrolan hangat tentang liburan mengalir begitu saja, rasanya tidak salah jika Malik mengajak semua orang liburan agar suasana kembali bahagia dan energy-energi negative hilang tidak berbekas.
"Baiklah, aku harus segera pulang. Sepertinya keadaan sudah aman terkendali." Malik segera menghubungi Rey, Hans, Aldo dan Oji. Saat ini mereka adalah orang-orang yang bisa di percaya.
***
__ADS_1
Malik memutar jalan cukup jauh untuk mengelabuhi mata-mata yang bisa saja saat ini masih mengikutinya. Meski kasus nya sudah selesai hari ini, dan para penjahat sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang mereka lakukan, Malik masih belum bisa tenang. Masih ada kaki tangan yang tidak masuk dalam daftar yang mungkin saja akan mengincar keselamatan keluarganya.
Aldo duduk di sebelah Malik karena tangannya masih belum sembuh benar, Malik juga tidak mengijinkannya membawa kendaraan. Ada senyum bahagia di bibir Aldo yang tidak di sadari Malik. Rey dan Pras yang sudah tau hanya diam saja dari pada menimbulkan keributan.
Malik menginjak rem karena lampu berubah merah, matanya dengan tajam melihat sekeliling dengan perasaan was-was. Malik mengerutkan jidatnya saat menatap wajah Aldo yang sumringah memandangnya. Malik melihat wajahnya penasaran di kaca spion, takut ada ada hal tercela yang menempel di wajahnya. Aldo masih tidak berpaling, dia masih saja menatapnya dengan wajah aneh menurut Malik.
“Kau kenapa menatap ku seperti itu. Apa kau sudah tidak normal?” Malik bergidik ngeri, Aldo hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. “Jangan melihat ku seperti itu Al.” Malik mendorong wajah Aldo menjauh.
“Aku hanya baru sadar Tuan.” Malik menatap galak mata Aldo. Entah kenapa perasaan Malik lampu merah berjalan sangat lambat. “Aku baru sadar kalau aku sangat bergantung pada Tuan selama ini. Aku berhutang budi pada Tuan.”
“Awwww…..Singkirkan tangan mu Al!!!” Malik berteriak karena Aldo memeluknya dengan erat. “Lepaskan! Atau kau akan aku pecattt!!!!!” Rey dan Pras hanya tertawa melihat tingkah Aldo yang membuat Malik berteriak histeris.
Malik meminta Rey pindah ke bangku depan, dia tidak mau duduk dengan Aldo yang saat ini tidak berpikir normal. “Aku rasa otaknya geser Rey, lihat wajahnya. Dia tidak berhenti tersenyum seperti orang bodoh.” Malik menancap gas. Tidak ada tanggapan atas ucapannya, Rey dan Pras hanya puas menertawakan keduanya.
Tidak lama mobil yang Malik kendarai sampai di halaman rumah Rey. Pak Min dengan sigap menghampiri Rey dan menyampaikan laporannya. Mata-mata yang tertangkap basah sudah di amankan. Saat ini keadaan rumah aman terkendali. Rey berterimakasih karena punya Pak Min yang sangat baik membela dan melindungi keluarganya.
Malik segera menuju ruang rahasia dimana seluruh keluarganya ada di sana.
Rey membuka pintu perlahan, semua orang tidur kecuali Ferdinan dan Rama yang masih berbincang di sofa.
"Anak-anak ku. Kalian sudah kembali?" Rama tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang amat bahagia. Memeluk erat Malik, Rey, Aldo dan Pras bergantian. Lega rasanya.
"Sudah aku bilang. Aku akan kembali dalam keadaan baik-baik saja. Kenapa Ayah sangat khawatir!" Rama hanya tersenyum. Orang tua mana yang tidak khawatir saat putranya berjuang melawan orang-orang jahat yang tidak dikenalnya.
"Marahi saja aku, tidak apa. Selama kau baik-baik saja Ayah tidak keberatan." Semua orang tertawa bahagia.
Tawa mereka membangunkan penghuni lain yang terlelap. Suara tawanya sangat keras sampai memekik di telinga. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa, semua bisa berkumpul dalam keadaan sehat dan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Malik menghampiri wanita yang melahirkan nya yang tersenyum dengan derai air mata penuh kebahagiaan. Memeluk Mamih dengan lembut, mengecup kedua pipi dan tangannya berulang kali. Ayu sampai terharu melihat Malik yang sangat hangat, seperti bukan dirinya.