Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 107 ( Jaga Diri )


__ADS_3

Semalaman Malik galau mencari keputusan yang tepat. Tidak mungkin mengizinkan Ayu pergi begitu saja tanpa pengawalan ketat.


Tapi Ayu menolaknya, dia merasa risih saat teman-temannya memperhatikan dengan tatapan sinis nya.


Malik bisa saja meninggalkan pekerjaan untuk menemani Ayu, tapi dia merasa melepaskan tanggung jawab yang tidak semestinya di tanggung orang lain.


Ayu kali ini sedikit memaksa untuk ikut camping, dia merasa satu tahun belakangan ini tidak punya waktu untuk bersenang-senang.


Dia ingin punya waktu bersama sahabat-sahabatnya. Dia rindu tidur di atas kasur yang sama dengan kedua sahabatnya.


Sampai subuh menjelang Ayu masih setia menunggu jawaban yang masih saja belum Kak Malik berikan.


Ayu ragu dirinya akan dibiarkan pergi begitu saja kali ini. Apalagi ancaman yang mengganggunya belakangan ini semakin nyata.


Ayu duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Berdo'a agar Kak Malik mau memberikan kesempatan pada dirinya.


Malik memperhatikan Ayu dengan getir. Saat ini Ayu masih remaja, masih banyak waktu yang dibutuhkan untuk bersenang-senang dengan teman sebayanya. Kini dia terkungkung dalam sangkar yang membuatnya tidak bisa terbang dengan bebas.


Tapi dia begitu berharga untuk dilepaskan ke alam bebas begitu Saja. Harus ada yang menjaganya dengan segenap jiwa. Malik merasa jadi Laki-Laki yang berdosa, Ayu harus menikahinya di usia yang masih sangat muda.


"Apa Ayu akan sedih jika Kak Malik tidak memberikan ijin ikut camping?" Ayu mendongak mendengar suara Kak Malik.


"Tidak, jangan terbebani. Aku tau keputusan Kak Malik demi keselamatan Ayu." Pasrah dengan pemilihan kata yang tepat. Ayu yakin Kak Malik akan terharu.


"Benarkah? Tapi Kaka akan merasa berdosa jika membuat Ayu sedih karena tidak bisa pergi." Malik duduk di depan Ayu di atas sajadah yang sama.


"Aku tidak sedih. Jangan terlalu memikirkan aku Kak." Ayu tersenyum agar terlihat baik-baik saja. Padahal jiwanya menangis.


"Bukan kah pernah aku katakan! Apapun yang Ayu rasakan jangan disembunyikan. Kalau marah, katakan marah. Kalau Ayu sedih katakan sedih. Jangan bicara sebaliknya seolah-olah semua baik-baik saja." Malik menangkup wajah Ayu dengan kedua tangannya.


Bibirnya bisa saja berkata dia tidak masalah dengan keputusannya. Tapi lihat sorot matanya, bagaimana mungkin aku tega membiarkannya bersedih seperti ini. Malik bicara dengan dirinya sendiri.


"Kak, aku sebenarnya ingin sekali pergi. Tapi kalau mem...." Malik menempelkan telunjuknya di bibir Ayu yang merah merona.


Membuatnya tidak bisa melanjutkan kalimat yang sedang dia rajut.


"Tidak ada kalau ataupun tapi. Kalau mau katakan tanpa keraguan. Agar Kaka juga yakin." Menatap lekat kedua mata Ayu.


"Aku mau ikut Kak. Aku yakin akan baik-baik saja disana. Banyak sahabat dan teman-teman yang akan saling menjaga." Matanya berbinar. Sepertinya Kak Malik akan mengijinkannya pergi kali ini.


"Baiklah, tapi jangan ke beratan jika aku meminta Hans menemanimu di sana."Ayu menyipitkan matanya.


Malik semalaman pusing bagaimana membuat Ayu ikut dengan seseorang yang bisa Malik percaya. Ditengah kebingungan Rama memberikan ide agar Hans diberikan tugas untuk menjaga Ayu. Sekalian Rama ingin membuktikan ketulusannya, apakah benar dia menyesali perbuatannya.


"Kak Hans yang Kaka Kelasku?" Ayu ragu menebak orang yang benar.


Malik mengangguk, pasti masih ada trauma dengan kejadian di masa lalu. Tapi saat ini Hans orang yang tepat karena alumni sekolah yang tau bagaimana kegiatan camping berjalan.


"Baiklah, tapi apa Kak Hans tidak keberatan?" Ayu merasa malu jika ingat Hans pernah melihat tubuh polosnya, meskipun Hans tidak pernah menyukainya.


"Apa Ayu tidak nyaman Hans yang menemani?" Malik merasa ada keraguan.


"Ah tidak, Kak Hans sudah menyesal. Aku tidak punya alasan untuk tidak percaya padanya." Bibirnya mengulas senyum. Kali ini Malik tertipu. Dia tidak bisa membaca isi hati Ayu yang sebenarnya.


"Ayo siap-siap, jangan lupa bawa baju hangat. Karena disana lebih dingin dari Jakarta." Ayu mengangguk. Melipat perlengkapan shalat nya untuk segera berkemas.


Padahal Ayu sudah mempersiapkan semuanya dari semalam. Dia sangat antusias bagaimana pun keputusan Kak Malik.


Malik mengeluarkan beberapa baju hangat dari dalam lemari. Menyentuh perlahan satu persatu pakaian yang dia keluarkan dari lemari. Memastikan bahannya akan membuat tubuh Ayu nyaman.


Malik terlihat bingung memilih pakaian hangat yang cocok untuk Ayu. Semuanya terlihat tidak ada yang sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


"Kak, ini cukup hangat untuk aku gunakan di sana." Meraih Hoodie merah muda yang Ayu suka.


"Tidak, itu terlalu tipis bahannya. Nanti Ayu masuk angin." Ayu memutar bola matanya frustasi.


Kak Malik menghabiskan setengah jam miliknya hanya untuk memilih pakaian hangat. Belum lagi sepatu dan perlengkapan lain yang harus dia siapkan. Sia-sia persiapan Ayu semalam, satupun pakaian yang dia pilih tidak ada yang Ayu bawa. Ayu menuruti semua yang Kak Malik minta. Paling tidak Kak Malik memberikannya kesempatan untuk bersenang-senang.


Setelah pertempuran sengit nya dengan perlengkapan camping. Malik dan Ayu sudah turun untuk sarapan sebelum ke sekolah.


Malik membuatkan Ayu 3 lembar roti dengan limpahan Selai coklat dan kacang.


"Jangan kelaparan di sana."Malik menyerahkan 5 lembar uang pecahan RP.100.000,-


"Aku masih punya uang Kak." Bahkan nominalnya saldonya terus bertambah.


"Darimana kau punya uang?" Malik tidak ingat pernah memberinya uang. Ayu mengeluarkan dompet yang ada di dalam tasnya.


"Ada di rekening ini Kak." Menyodorkan kartu ATM di depan Malik.


Oh iya benar, Malik lupa jika selama ini meminta Rera mentransfer uang bulanan ke rekening Ayu.


"Apa kamu menggunakannya dengan baik?" Malik merangkul Ayu ke pelukannya. Rasa nya tidak rela membiarkan Ayu pergi tanpa dirinya.


"Aku belum pernah menggunakannya. Aku bingung, semua kebutuhanku sudah tersedia." Ayu merasa tidak enak hati.


"Kenapa tidak Ayu gunakan? Untuk apa aku bekerja keras banting tulang selama ini kalau Ayu tidak menggunakannya dengan baik!" Malik sedih Ayu tidak membelanjakan sepeserpun uang yang dia berikan.


Seharusnya Kak Malik bahagia karena uangnya aman dan tidak aku sentuh. Batin Ayu.


"Maaf Kak, lain kali akan aku gunakan." Ayu takut Kak Malik berubah pikiran dan mencegahnya ikut camping. Dia harus jadi gadis yang manis pagi ini.


"Traktir teman-teman Ayu di sana. Gunakan uangnya, jika habis kabari Kaka. Akan aku isi saldonya lagi." Ayu menepuk jidatnya mendengar ucapan Malik.


"Baik Kak, akan aku gunakan bersama teman-teman ku." Tersenyum secerah mentari pagi.


***


Pagi ini Melani dan Sandra berangkat bersama diantar Pak Kosim.


"Pak Kosim, titip motor kesayanganku ya Pak. Tolong di sayangi ya Pak." Melani memasang wajah sedih berpisah dengan motor kesayangannya.


"Baik Non. Akan saya sayangi dengan segenap jiwa raga." Pak Kosim tertawa merasa aneh mengikuti keunikan Melani.


"Pak, kalau dia lapar tolong kasih makan, jangan sampai dia sedih karena tidak ada yang memberi dia makan." Sandra geleng-geleng kepala melihat dua orang aneh dengan percakapan yang tidak kalah aneh.


"Kenapa kalian tidak ikut lomba drama. Pasti kalian akan menang dengan kemapuan acting yang luar biasa." Sandra tidak tahan hanya diam saja.


"Benarkan, apa aku bisa menyaingi artis-artis papan atas yang sedang naik daun!" Berkaca di spion menyibakkan rambut panjangnya.


"Non Melani pantas jadi artis." Pak Kosim membuat Melani tersipu malu.


"Jadi artis apa Pak?" Sandra penasaran.


"Artis papan gilesan. Hehehehe....." Tawa pak Kosim membuat Sandra ikut tertawa terbahak-bahak.


Perjalanan mereka di warnai canda tawa sepanjang perjalanan. Tidak terasa mereka sudah sampai di lobby sekolah. Terlihat bus besar yang sudah parkir di halaman sekolah.


Tidak lama mereka sampai, Jofan juga sampai dengan pakaian santai casual yang membuat wajahnya semakin tampan. Tanpa sadar Sandra tidak berkedip melihat ketampanan Jofan.


"Apa kalian sudah lama?" Sapa Jofan. Hanya Melani yang menjawab sapaannya. Sandra masih hanyut dengan lamunannya.


"San..... Sandra." Jofan menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Sandra malu tertangkap basah terpesona dengan ketampanan Jofan.


Wajah Sandra merah merona menahan malu, Jofan tersenyum melihat tingkah Sandra. Jofan sebenarnya tau Sandra jatuh hati padanya, tapi Jofan tidak mau hubungan percintaan yang bisa membuat persahabatan mereka jadi tidak asik lagi.


"Oh iya, apa Ayu akan datang? Aku sangat berharap dia datang." Melani merasa sedih.


"Sepertinya akan lebih aman jika dia tidak ikut. Kak Malik pasti tidak akan mengijinkannya pergi." Sandra juga sedih, tapi semua demi kebaikan Ayu.


"Kita tunggu saja di dalam bis. Kita kebetulan berada di bis yang sama." Jofan terlihat bahagia bisa bersama dengan kedua sahabatnya yang tidak lagi satu kelas dengannya.


Perjalanan Ayu pagi ini dilalui dengan berbagai rintangan tidak terduga. Tiba-tiba saja ban mobil kempes dan Malik harus menggantinya.


"Kak, kita bisa terlambat. Apa boleh aku naik ojeg saja?." Ayu panik dan bicara tanpa berpikir panjang.


Malik menatap Ayu dengan mata menyala, seolah-olah akan menerkam Ayu. Jiwa dan raga Ayu seketika menciut tidak berani bersuara.


"Maaf...." Ayu jongkok di sebelah Malik menunduk.


"Tenang saja, tolong ambilkan kotak di bagasi belakang." Malik menyesal membuat Ayu takut, dia kembali jadi pria yang manis.


Ayu segera mengerjakan apa yang Malik perintahkan. Sudah 1 tahun lebih Ayu hidup bersama, tapi tetap saja rasa takutnya tidak berkurang saat Malik marah padanya.


Akhirnya tidak lama ban mobil sudah terpasang dengan sempurna. Mereka melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda.


Hanya tinggal putar balik ke arah sekolah, tapi kemacetan sangat panjang tidak seperti biasanya. Waktu keberangkatan tinggal menunggu beberapa menit saja.


"Kak, bagaimana ini!" Ayu semakin sedih melihat mobil dan motor yang berjejer panjang di depannya.


Malik berpikir keras, jika dia tetap memaksa kan diri dengan mobilnya pasti akan sangat terlambat. Akhirnya Malik memarkirkan mobil di cafe sebrang sekolah. Malik memutuskan untuk menyebrang jalan agar lebih cepat.


"Ayo turun, kita jalan saja supaya cepat sampai." Malik membukakan pintu Ayu, dia masih mematung karena berpikir Kak Malik akan mampir ke cafe padahal sudah terlambat.


Tapi ternyata dia manis sekali hari ini. Dia rela menyebrang jalan demi dirinya.


Malik menenteng tas di tangan kanannya, tangan kirinya menggenggam erat tangan Ayu agar aman.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah berhasil melewati kepadatan lalu lintas pagi ini.


Malik mengantarkan Ayu mencari tempat duduknya di dalam bus sesuai nomor kursinya.


Kali ini Malik berjalan di belakang Ayu, dia sangat antusias dan tidak sabar menemukan tempat duduknya.


"Ayu......" Spontan Jofan dan Sandra menoleh ke belakang.


Yeayyyyyhhh.......


Teriak Sandra dan Melani memekik memenuhi udara. Jofan dan Malik ikut tersenyum melihat mereka berpelukan seperti tidak bertemu bertahun-tahun.


"Jofan, Sandra dan Melani. Tolong jaga Ayu disana. Kak Malik percaya kalian sangat menyayanginya sama sepertiku." Malik masih belum melepaskan genggamannya.


"Siap Kak, kami akan saling menjaga." Jofan tidak menyangka Malik mengijinkan Ayu pergi.


"Hans juga akan menjadi panitia disana. Dan dia juga akan menjaga Ayu. Tapi tolong awasi juga dia, aku belum tau apa dia benar-benar menyesali perbuatanya atau hanya kedok saja." Malik mengulas senyum.


"Baik Kak, kami akan berusaha menjauhkan Ayu dari bahaya." Sandra terharu Malik begitu mencintai Ayu.


Malik mendekap tubuh Ayu tanpa malu di depan ketiga sahabat Ayu, mengecup keningnya berkali-kali tanpa penolak kan dari Ayu.


Biasanya Ayu akan meronta karena malu jadi pusat perhatian. Kali ini berbeda, ini pertama kalinya mereka akan terpisah jauh 2 hari ke depan.


"Jaga diri, ingat agar selalu aman." Malik membuat Ayu terharu, dia selalu bisa menyentuh hati Ayu dengan kata-kata manisnya.

__ADS_1


__ADS_2