
Malik menemani Ayu bergadang sampai pagi karena tidak lagi merasa ngantuk. Ayu Malik biarkan asyik menyaksikan drama korea kesukaannya untuk menghibur hatinya yang sedang sedih. Beberapa kali Malik ikut tersenyum melihat Ayu tersenyum menyaksikan adegan lucu di dalam drama.
Ayu tidak akan bisa jauh dari orang-orang terdekat nya. Padti semua akan kembali normal dalam waktu dekat. Ayu hanya butuh keyakinan yang besar agar bisa menerima semua dengan lapang dada.
“Kak.” Malik terkejut tiba-tiba saja Ayu sudah berdiri di depannya. Hampir saja lapotop yang ada di pangkuannya jatuh. Malik tidak tega memarahi Ayu, padahal hampir saja Malik mengeluarkan suaranya dengan keras.
“Kau mengejutkanku, kenapa sayang?” Bucara dengan nada yang sangat lembut. Malik meletakkan laptop di meja agar Ayu bisa lebih leluasa bicara dengannya.
“Apa tawaran Kak Malik untuk Ayu belajar di rumah masih berlaku?” Sedikit ragu, Ayu merasa tidak enak hati selalu membuat Malik susah. Tapi Ayu memberanikan diri.
“Apa Ayu yakin tidak akan kesepian belajar sendiri di rumah?” Sekarang Malik yang tidak ingin Ayu merasa kesepian. Padahal sebelumnya Malik memaksa agar Ayu tetap berada di rumah.
Ayu hanya tersenyum, alasan apapun pasti Kak Malik tau isi hati Ayu dengan keputusannya yang sulit. Dia gadis yang terbiasa ramah pada siapa saja dan sekarang begitu tertutup. Malik tidak memaksa Ayu untuk menceritakan segala kegundahannya, pasti berat menerima dengan lapang dada seolah tidak terjadi apapun.
“Kak Malik hanya takut Ayu semakin merasa kesepian, kadang Kak Malik harus menyelesaikan pekerjaan Kaka yang tidak bisa Aldo handle seorang diri.” Malik menelusupkan rambut Ayu di balik telinganya. Menarik tangan Ayu dan membawanya ke pangkuan Malik.
“Tapi aku benar-benar butuh waktu untuk bisa bertemu dengan mereka semua.” Ayu menghembuskan kasar nafasnya yang sedikit sesak. Ayu merasa tidak tau malu selama ini selalu menempel dalam kehidupan Kak Rey dan Jofan.
Ayu merasa tidak tau malu padahal dirinya yang sudah menjadi penyebab hancurnya kebahagiaan Jofan dan keluarganya. Jika tau masa lalunya, Ayu tidak akan bisa tersenyum di depan orang lain seperti yang biasa dia lakukan.
“Kau tau apa yang Papah katakan saat bertemu denganku?” Ayu bingung tidak tau siapa yang sedang Malik bicarakan. “Maksudku Kepala Sekolah.” Ayu tersenyum mendengar Malik seenak hati memanggilnya Papah.
“Kenapa memanggilnya Papah.” Penasaran padahal sudah tau alasannya.
“Dia kan Papah kandung Ayu, jadi sudah jelas beliau juga Papah ku juga. Hehehehe.....” Malik tertawa kecil agar Ayu nyaman dengan percakapan mereka.
"Sedikit aneh saat aku mendengar nya."Ayu masih enggan mengakui Ferdinan meski dalam hati mencoba menerima kenyataan yang terjadi.
“Beliau bilang Jofan tidak marah, dia malah lari kegirangan saat tau Ayu adalah adik kandungnya.” Malik mencubit pelan ujung hidung Ayu yang mancung. Ayu merasa terharu mendengar begitu besar cinta Jofan pada dirinya.
“Apa dia tidak malu dengan kehadiranku?” Ayu masih tidak bisa percaya begitu saja. Baginya kehadirannya adalah aib bagi keluarga Jofan.
Malik menggeleng, dia tau apa yang saat ini menjadi ketakutan terbesar Ayu. Dia pasti tidak akan sanggup jika orang-orang yang selama ini dia sayangi menjauhinya bahkan sampai membencinya.
__ADS_1
“Rey dan Jofan bilang, kamu adalah hadiah istimewa yang Tuhan kirimkan dalam hidup mereka. Kami tidak mungkin tidak mencintaimu. Kamu sumber kebahagiaan untuk kami semua, percayalah. Kita akan menjadi kuat jika selalu saling mencintai sampai akhir.” Ayu sangat terharu mendengar perkataan Malik yang menembus benteng keegiosannya. Rasanya kali ini Ayu seperti wanita paling berharga.
“Apa aku benar-benar tidak menjadi beban dan rasa malu bagi kalian semua?”Ayu masih terlihat gelisah. Dia takut Malik hanya mencoba menghiburnya.
“Apa aku terlihat sedang membohongimu?” Ayu menggeleng, tapi tetap saja hatinya masih sulit percaya begitu saja dengan apa yang Malik ucapkan.
“Bos....Bos....Selamat pagi Bos.” Teriak Aldo yang baru saja masuk, Ayu yang tidak mengenakan hijab langsung lari terbirit-birit ke dalam kamar.
Aku lupa merubah sandi pintu masuk, lihat si brengsek ini masuk tanpa permisi. Malik geram tapi tidak bisa berkata-kata. Hanya bisa mengumpat dalam hati sambil memaksakan senyum di bibir nya.
“Aku lupa jika Nona tinggal di sini. Aku pikir Nona ada di rumah besar bersama Tuan Rama.” Aldo meringis mengakui kecerobohannya kali ini. Pasti bos kesal tapi tidak bisa marah.
“Kau tidak lihat rambut indah istriku kan? Apa yang kau lihat?” Malik melotot seakan siap menerkam Aldo yang masuk tanpa permisi.
Lihatlah laki-laki tua ini. Tentu saja aku lihat, Nona bahkan lari sambil menutupi kepalanya padahal rambut panjangnya tergerai begitu saja. Bicara dalam hati, jika di sampaikan bisa di hajar sampai babak belur oleh Bos nya yang bucin.
“Aku tidak melihat apapun, mataku hanya fokus pada Bos yang sedang duduk.” Lebih baik mencari aman daripada ribut di pagi buta.
“Bagus kalau mata mu itu tau diri. Ada apa datang sepagi ini? Apa ada meeting pagi yang harus aku hadiri?” Memeriksa jadwal hariannya yang Aldo sodorkan. Malik bersyukur karena Aldo sangat tau dirinya tidak bisa pergi ke kantor sementara waktu. Dia bahkan rela pagi-pagi datang agar Malik bisa bekerja dari rumah.
Malik juga rindu dengan rutinitas nya, tapi menjaga Ayu adalah prioritas nya saat ini. Banyak orang-orang di belakang Malik yang begitu perduli agar Malik tidak meninggalkan Ayu hanya demi pekerjaan, Aldo salah satunya.
“Apa kau sedang tidak sehat! Lalu apa tujuanmu datang sepagi ini ALDOOOO!” Malik mulai kesal Aldo datang tapi tidak ada yang penting, padahal hatinya berterimakasih tapi gengsi mengatakan kebenaran nya.
“Aku tidak tau Bos. Pagi ini rasanya aku ingin sekali melihat wajah Bos. Kita sudah hampir dua minggu tidak bertatap muka.” Memasang wajah manis yang membuat Malik merasa geli.
“Hah....Kau membuatku merinding. Apa cintamu pada gadis itu belum juga ada kemajuan? Aku akan memabantumu jika perlu!” Aldo tiba-tiba memeluk Malik yang duduk di depannya.
Bugggg....
Awww.....
Aldo mengaduh kesakitan. Pukulan keras mendarat di pundak Aldo yang Malik rasa sedang mengalami gangguan percintaan. Pikirannya jadi tidak waras dan bertingkah aneh membuat Malik sedikit ngeri.
__ADS_1
“Jangan macam-macam padaku. Aku masih normal.” Malik melepaskan tangan Aldo yang mencoba memeluknya dan kabur ke dalam kamar.
“Bos jangan tinggalkan aku sendiri, aku kelaparan.” Malik tidak menanggapi teriakan Aldo yang membuatnya sedikit terhibur pagi ini.
“Kenapa kau lari? Apa karena hijabnya tidak kamu pakai?” Ayu mengangguk, Ayu masih sibuk memasang peniti di hijabnya yang baru saja mendarat di kepala nya.
“Aku akan buatkan kopi untuk Kak Malik dan Kak Aldo.” Malik mengekor di belakang Ayu. Menggandeng tangan Ayu yang melenggang begitu saja. Ayu masih suka terkejut dengan sikap Malik yang suka tiba-tiba memeluknya, meraih tangannya, bahkan menciumnya tiba-tiba.
“Nona maafkan aku karena masuk tanpa permisi. Apa mau aku buatkan minuman hangat?” Ayu tersenyum melihat Aldo yang bicara dengan wajah jenakanya.
“Hehehehe, tidak perlu repot-repot aku yang akan buatkan kopi.” Ayu lari sebelum Aldo sampai duluan di dapur. Mereka berebut menggunakan dapur penuh canda tawa. Aldo selalu saja mampu menggunakan pesona nya untuk menghibur orang lain.
Hah, kenapa aku tidak bisa membuat Ayu tertawa seperti itu. Apa aku terlalu kaku yah? Lihat lah dia bisa tertawa lepas dengan laki-laki yang bukan siapa-siapa. Malik hanya berdecak melihat kebersamaan Ayu dan Aldo yang tidak berhenti tertawa.
Selesai menggoda Ayu, Aldo menghampiri Malik yang sedang asik dengan laporan keuangan. Aldo mengibaskan kemeja yang melekat di tubuhnya karena kepanasan. Keringat sedikit membasahi tubuh Aldo yang tinggi besar.
"Kau senang sudah menggoda istri orang!" Malik pura-pura kesal padahal sangat senang bisa melihat Ayu kembali tersenyum. Tapi Malik juga suka sekali iseng pada Aldo.
"Aku tidak menggoda!" Bicara dengan nada suara cukup tinggi. Membuat Ayu menoleh penasaran karena tidak mendengar Jelas apa yang Malik ucapkan.
"Kau tidak bisa bicara pelan sedikit." Malik menggretakkan giginya merasa geram.
"Aku hanya mencoba menghibur agar Nona bisa kembali tersenyum." Berbisik ditelinga Malik yang melotot ke arah nya.
"Cepat ambil laporan yang sudah aku tanda tangani dan pergi." Malik masih bersikap angkuh padahal hatinya sedang berbunga-bunga.
"Siap Bos." Aldo dengan sigap mengemas pekerjaan nya dengan rapih. Dalam sekejap semua dokumen terkumpul rapih di dalam map.
"Nona, terimakasih teh hangatnya. Aku pamit ya Nona. Kalau Nona sedih ingat senyumku ya Nona." Aldo lari sebelum gelas yang Malik angkat benar-benar melayang ke wajahnya.
"Kenapa kau tidak berhenti tersenyum." Malik menyandarkan kepalanya di bahu Ayu yang sedang mencuci piring.
"Aku lebih bahagia jika tersenyum. Apa aku bisa jadi diri aku seperti sebelumnya setelah apa yang terjadi?" Malik mengangguk.
__ADS_1
"Semua orang menunggu Ayu siap menerima semu ini." Ayu tersenyum menatap Malik. Kali ini senyumnya sudah kembali seutuhnya. Tinggal menunggu agar Ayu benar-benar yakin dengan keputusannya.