
Malik terburu-buru menuju parkiran yang ada di lantai paling bawah gedung pernikahan. Perasaannya sudah tidak karuan sampai tidak memperhatikan jalanan. Tangannya yang tergores sudah tidak lagi terasa sakitnya. Malik melangkah sedikit berlari agar cepat sampai di parkiran.
Brugggg……
Malik yang tidak focus sampai menabrak orang yang sedang berdiri di depan lift. Wanita yang di tabrak sampai terjatuh karena Malik cukup keras menabraknya.
“Awww…..Kenapa tidak hat….” Kata-katanya tercekat.
“Maaf, aku tidak sengaja. Aku….Nikita” Malik tersenyum, mengulurkan tangan membantu Nikita berdiri dari lantai. Senyum ramah merekah dari bibir Nikita yang merah merona.
Nikita menyeret kakinya yang terkilir sepatunya yang tinggi. Malik tidak ada pilihan lain, dia harus membantu Nikita yang celaka karena dirinya tidak hati-hati. Malik memapah Nikita duduk di kursi tunggu tidak jauh dari lift.
“Maaf ya Kak, aku jadi merepotkan Kak Malik.” Malik hanya terseyum, Malik mencoba memeriksa pergelangan kaki Nikita terkilir. Sedikit merah, Malik yakin Nikita tidak sedang berpura-pura.
“Apa kita perlu ke rumah sakit? Sepertinya kaki kamu akan bengkak jika di biarkan saja.” Padahal Malik ingin buru-buru pergi. Dia juga tidak bisa minta bantuan Aldo atau Adam karena ponselnya tertinggal.
“Aku baik-baik saja, Kak Malik pergi saja. Aku tidak apa.” Nikita tersenyum seperti malaikat untuk memikat hati Malik.
“Apa benar, aku saat ini benar-benar harus pergi. Aku khawatir pada Ayuna. Apa kau tidak apa pulang sendiri?” Malik bingung harus bagaimana.
“Iya Kak. Aku tidak papa. Pergilah.” Malik bahagia Nikita ternyata punya hati yang baik. Masa lalu tidak mebuatnya membenci Malik dan tetap baik seperti yang Malik kenal dulu.
Malik melangkah dengan cepat menuju lift, memencet tombol lift berulang kali karena tangannya tidak bisa lagi Malik Kontrol. Pintu lift terbuka, Malik segera melangkah masuk tanpa piker panjang.
Awwww……
Suara jeritan Nikita tiba-tiba saja terdengar menggema, Malik yang sudah masuk lift keluar lagi memastikan keadaan Nikita yang Malik tinggalkan seorang diri. Malik lari dan mendapati Nikita yang duduk di lantai memegangi pergelangan kakinya.
“Nikita, kau kenapa!” Malik memapah tubuh Nikita duduk di kursi.
“Maaf Kak, aku benar-benar tidak bisa jalan sendiri. Hiks….hiks….hiks….” Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi Nikita juga butuh pertolongannya saat ini.
“Aku antar ke rumah sakit. Ayo!” Malik memapah Nikita, ada senyum kemenangan di bibir Nikita. Dia sangat bahagia bisa mencuri waktu Malik sedikit untuk dirinya.
__ADS_1
Malik focus dengan jalanan, dia tau saat ini Nikita tidak berhenti memandang wajahnya. Malik pura-pura tidak tau dan tetap memperhatikan jalanan yang cukup sepi. Nikita tidak berhenti tersenyum. Wajahnya merah merona merasa tersanjung Malik sangat perduli pada dirinya.
Tidak lama Malik sudah memarkirkan mobil di lobby rumah sakit. Petugas parkir dengan sigap mengambil kunci mobil Malik untuk mengambil alih mobil. Malik segera membawa Nikita ke UGD untuk diberikan pertolongan. Seorang dokter jaga menghampiri Malik dan membantu Nikita duduk di kursi roda.
Dari kejauhan Malik melihat laki-laki yang sangat dia kenal. Dia terlihat sedang bicara dengan seorang dokter sangat serius.
“Aldo….!” Malik berteriak, dadanya kembali berderu takut hal buruk terjadi pada Ayu. Aldo melotot saat melihat ada Nikita di sebelah Malik.
Aldo tiba-tiba saja meragukan ketulusan cinta Malik pada Ayu. Apa yang dia lakukan dengan wanita lain sementara istrinya pingsan tidak sadarkan diri. Ponselnya bahkan sangat sulit dihubungi karena dia asyik dengan wanita lain. Pikiran jahat Aldo membuatnya tidak bersikap raman pada Malik.
“Aldo…Bagaimana keadaan Ayu.” Adan dan Sarah juga sudah tiba karena Dokter yang memeriksa Ayu menghubungi Adam. Semua itu memang atas perintah Adam, dia mau menangani Ayu dengan baik agar Ayu bisa segera pulih.
Malik lari mendekati Aldo, dia merasa Aldo bersikap tidak wajar. Aldo bahkan tidak mau melihat ke arah Malik berdiri. Dia hanya menceritakan kronologi kejadian pada Adam dan Sarah. Adam segera bicara pada Dokter yang sudah memeriksa Ayu.
“Kau marah padaku? Kenapa?” Malik menajamkan matanya, Aldo akan luluh dan mencari aman jika Malik marah padanya.
Wahhhh…..lihat laki-laki yang pura-pura tidak tau kesalahannya. Dia harusnya meminta maaf pada Nona jika benar apa yang aku pikirkan. Aku tidak menyangka. Aldo hanya membuang kasar nafasnya di depan Malik tanpa rasa takut.
Kali ini Malik paham dengan apa yang saat ini Aldo pikirkan. Matanya tidak henti menatap Nikita penuh dengan kebencian. Dia pasti punya pikiran kotor pada dirinya.
Aldo masih diam tidak mau menanggapi Malik yang terus bicara padanya. Aldo hanya perpikir Malik sedang membela dirinya sendiri yang melakukan kesalahan fatal. Padahal Malik sedang menenangkan pikirannya agar tidak kalut.
Krekkk…..
Pintu ruangan Ayu terbuka, wanita yang sangat Malik rindukan berdiri di depannya saat ini. Malik tanpa malu memeluk Ayu di depan umum. Adam bahagia melihat keharmonisan mereka berdua. Ayu baik-baik saja, dia hanya syok karena memaksakan diri mengingat memory nya yang hilang. Perlahan ingatan Ayu dan kondisinya mulai membaik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Ayu melotot ke arah Aldo. Dia merasa bersalah membuat Malik khawatir pada dirinya. Aldo menghindar dari tatapan mematikan seolah ingin menerkam dirinya.
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir Kak.” Ayu menepuk pundak Malik yang tidak melepaskan pelukkannya.
“Apa Ayu tidak bisa di sini saja, kita harus pastikan Ayu baik-baik saja.” Bicara pada Adam tanpa melepas pelukkanya. Adam sampai menarik tangan Malik takut Ayu tercekik tangan kekar Malik.
“Kau ini, Ayu bisa saja kehabisan nafas.” Adam menggeleng melihat tingkah Malik. “Ayu baik-baik saja, ini pertanda baik karena dia bisa ingat banyak kejadian yang dia lupakan.” Adam tersenyum, Malik menatap wajah Ayu yang juga tersenyum. Ayu mengangguk membenarkan ucapan Adam.
__ADS_1
“Malam semuanya!” Sapa Nikita ramah. Hanya Ayu yang menyambut dengan hangat, yang lain merasa rishi dan tidak suka dengan kehadiran Nikita.
Ayu tersenyum, tidak terpikirkan satu nama pun. Gadis cantik yang berdiri di hadapannya sangat asing. “Apa hanya aku yang tidak mengenalnya!” Ayu merasa bingung.
“Kau tidak ingat?” Sarah maju seperti bodyguard di garis paling depan.
“Sepertinya dia memang tidak bisa kita akui di keluarga kita.” Nikita mundur mendengar ucapan Sarah.
“Maaf aku mengganggu, aku hanya ingin menyapa.” Nikita berbalik, menyeret kakinya yang masih terasa sedikit ngilu.
Ayu mengulurkan tangan tapi tangannya segera Sarah tarik. Sarah tidak tega mengasihani perempuan yang punya hubungan masa lalu dengan Malik dan Adam. Apalagi mereka berdua dulu pernah bermain api dengannya.
“Jangan coba-coba mencuri kesempatan mendekatinya. Kalau aku tau kalian melakukannya. Aku akan buat perhitungan!.” Adam tidak berani berkata-kata. Sarah tidak biasanya bersikap begitu pada perempuan lain. Malik menertawakan Adam dalam hati, Sarah ternyata sangat galak pada perempuan yang bisa saja merebut suaminya.
“Al, tolong antarkan Nikita pulang. Aku yang membuatnya terluka, tolong ya Al!.” Berjalan begitu saja meninggalkan Aldo yang semakin marah pada dirinya.
Kenapa harus aku yang bertanggung jawab atas perbuatannya! Dia yang berbuat, kenapa aku yang harus mengantarnya pulang. Aldo berteriak dalam hati merasa tertindas.
“Jangan punya pikiran jahat, Sarah menjaga Malik sepanjang pesta berlangsung.” Adam berbisik di telinga Aldo. Tetap saja tidak merubah suasana hati Aldo yang sedang marah.
Tinggal Aldo yang saat ini menunggu Nikita di depan ruangan pemeriksaan, Aldo sangat tidak suka pada Nikita. Tapi Nikita tidak terlihat seperti gadis pengganggu terakhir bertemu, dia bahkan tidak dendam saat tau Ayu adalah istri sah Malik. Tapi entahlah, Aldo tetap tidak suka padanya.
“Kau tidak pulang….” Aldo berdiri saat melihat Nikita keluar dari ruang perawatan. Nikita tetap tersenyum ramah meski Sarah bicara kasar padanya.
“Saya diminta Bos mengantarkan Nona Nikita pulang. Mari.” Aldo mengulurkan tangannya membantu Nikita yang kesulitan berjalan.
“Maaf yah, aku jadi merepotkan banyak orang.” Nikita merasa tidak enak hati, tapi ternyata Malik sangat perhatian. Dia bahkan meminta Aldo mengantarnya pulang. Pasti rasa cinta Malik masih ada untuk dirinya, pikiran Nikita berkelana mencari alas an Malik sangat peduli pada dirinya.
Aldo mengantarkan Nikita di sebuah hotel bintang lima, dia hanya tinggal beberapa hari di Jakarta karena undangan pernikahan yang dia dapat dari adik Rera yang sangat dekat dengan dirinya. Ternyata dunia sangat sempit, dia tidak tau jika Rera adalah sekertaris Malik.
Nikita sakit tapi tidak terlihat menderita. Wajahnya bahkan sangat bahagia karena terus tersenyum. Aldo yang melihatnya jadi teringat ucapan Sarah. Aldo sangat takut jika Malik punya perasaan pada Nikita. Dia sangat cantik dan seksi di bandingkan Ayu yang hanya Gadis Desa.
Kepala Aldo berdenyut memikirkan seandainya Malik lebih memilih Nikita daripada Ayu. Aldo tidak rela perjuangan cinta yang selama ini dia bantu sia-sia begitu saja. Malik bahkan melakukan banyak cara untuk mendapatkan perhatian Ayu. Malik banyak berubah saat menjalin hubungan dengan Ayu. Dia jadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab dan tidak kaku.
__ADS_1
Apa jadinya jika Malik memilih Nikita, bisa saja Bos galak nya kembali. Selama ini Ayu sellau bisa meredam emosi Malik yang meledak tanpa alasan.