
"Apa yang kau lakukan? Kau menghianati kepercayaan ku?" Oji sangat kecewa.
"Aku gelap mata. Aku juga mencintai wanita yang memaksaku melakukan semua ini." Hans menghela nafasnya panjang.
"Selama ini aku tidak pernah mengecewakanmu. Aku selalu membantu semua masalah mu." Menempatkan telunjuk nya di kening Hans.
Hans hanya menunduk, dia sudah tidak bisa mengelak lagi dari Oji.
"Kau harus bertanggung jawab. Kembalikan Ayu padaku." Oji berlalu meninggalkan Hans.
Pikiran Hans sama kacaunya dengan Oji. Bagaimanapun selama ini Oji banyak membantunya.
Meringankan segala kesulitan nya.
Tapi karena cinta yang begitu besar, Hans dibutakan oleh semua itu. Membawanya ke jurang kehancuran dan merusak segala kerja kerasnya selama ini.
***
Adam pulang sangat buru-buru. Rasanya tidak ingin sekejap pun meninggalkan Sarah sendirian.
Klekkkk...
Sarah menatap jam dinding yang tergantung di ruang tamu. Mengerutkan kening karena melihat Adam pulang sangat cepat.
"Kau bolos? Jam berapa ini Dokter Adam!" Menirukan gaya Malik yang sering memarahinya.
"Aku sangat rindu." Adam sudah memeluk erat tubuh istrinya.
Tubuh Sarah seperti candu yang membuat Adam tidak bisa jauh darinya.
"Kau ini. Kita kan bertemu setiap saat. Bagaimana bisa rindu?" Sarah protes keras. Memukul dada Adam yang bidang.
"Bahkan sekarang aku masih rindu." Sarah memukul dada Adam yang dianggapnya sedang gombal.
Awww....
Kali ini Sarah memukul dada Adam cukup keras.
"Ayo kita makan, aku sudah masak makanan kesukaanmu." Sarah menarik tangan Adam.
Adam masih menempel, memeluk tubuh Sarah dengan erat.
"Kau sangat bahagia?" Adam yang sedang meneguk air tersedak mendengar pertanyaan Sarah.
"Apa kau tidak bahagia?" Melempar jawaban merasa kesal.
"Tentu saja. Aku bahkan sudah menantinya sangat lama." Mengelus perutnya yang masih rata.
"Aku merasakan kebahagiaan yang sama denganmu. Kita akan membuat dia bangga memiliki orang tua seperti kita." Adam berkaca-kaca.
Adam bahagia karena penantian panjangnya yang penuh kesabaran dan kerja keras sudah membuah kan hasil.
"Aku akan pulang, aku sudah sangat lama meninggalkan rumah dan keluargaku." Sarah ragu.
"Aku akan antar, kita temui mereka bersama." Adam selalu menguatkan Sarah.
"Kau sudah memaafkan perbuatan mereka?" Hanya tatapan nanar, Sarah membisu.
"Apa aku salah merindukan mereka?" Sudut matanya mulai basah.
"Tidak, aku juga harus berterimakasih karena mereka sudah melahirkan malaikat untukku!" Adam mendekap Sarah erat.
Kenangan masa lalu yang harus Sarah simpan sendiri selama ini.
Hanya Adam dan Malik yang tau masa lalu Sarah. Sampai-sampai gadis ini harus pergi jauh meninggalkan negeri nya untuk menyelamatkan diri.
Cerita yang selalu dia bagikan pada orang lain atas asal usulnya hanyalah karangan. Semua itu tidak benar.
Pahit dan getir kehidupannya dia simpan sendiri. Membiarkan kenangan itu pergi, mengganti dengan cerita yang membuatnya bisa berdiri kokoh.
***
Ayu dan sahabat nya belanja begitu banyak barang. Mereke tidak menghitung berapa nominal yang sudah berkurang dari isi saldo ATM yang ada di tangan Ayu.
__ADS_1
"Sudah cukup. Kalian bisa membuatnya dalam masalah." Menunjuk Ayu yang sama bahagianya belanja tanpa harus memikirkan hari esok tidak punya uang.
"Tapi Kak, Kak Malik tidak protes. Dia diam saja." Ayu memeriksa ponselnya yang tidak berdering. Tanda aman pikirnya.
"Lagi pula Kak Malik kan memperbolehkan kita gunakan uangnya." Protes Melani.
"Benar, jadilah orang kaya Fan. Supaya bisa traktir kita belanja." Senyum menghiasi wajah ketiga gadis di hadapanya.
Jofan tidak sedikitpun mau menggunakan uang yang Malik berikan.
Hanya menikmati makanan apa saja yang sahabat nya beli dan memaksanya untuk ikut makan.
Tring....tring...tring...
"Iya kak." Wajah ketiga sahabatnya panik.
"Oh...hehehehe. Sudah Kak.....maaf aku lupa." Ayu sedikit khawatir.
Menambah kepanikan yang melanda ketiga sahabatnya karena senyum palsu Ayu.
"Dia bilang akan menghukumku karena tidak mengingat kata-katanya dengan baik." Ayu sedang berpikir keras, bagian kata-kata mana yang dia lupa.
"Apa karena kita belanja terlalu banyak?" Sandra.
Melihat tentengan yang sampai tidak muat di tangan mereka bertiga.
"Bagaimana ini. Apa kita kebalikan saja." Melani.
"Kalian tidak baca, barang yang sudah di beli tidak dapat di kembalikan." Mereka kembali panik. Sekarang Jofan merasa puas karena mereka tidak mendengarkan nasehatnya Sedari tadi.
Mereka sudah kembali setelah puas berbelanja. Duduk di belakang stand sambil menikmati cemilan yang mereka beli.
Tina bahagia saat ini Jofan sudah membuka hati dan bergaul dengan orang lain. Tina tidak mampu menghapus senyum bahagianya.
Para karyawan sampai terbawa suasana ikut bahagia melihat Tina begitu semangat hari ini.
Entah kenapa hari ini toko sangat ramai pengunjung. Sepertinya suasana bahagia mampu menarik hal baik.
"Al, aku baru pernah sekali kesini, saat perusahaan kita membuka stand pameran properti disini. Ternyata semakin ramai." Malik berjalan bersama Aldo menuju butik orang tua Jofan sesuai isi pesan yang Ayu kirimkan.
Tidak lama mereka sudah sampai di depan butik.
Tina merasa mengenal laki-laki yang ada di hadapannya tapi ragu. Jadi Tina hanya tersenyum menyambut nya.
"Saya mau jemput Ayu, dia sahabat Jofan." Malik tersenyum ramah.
"Oh iya sebentar, saya panggil yah. Mereka sedang asyik ngobrol di belakang." Seru Tina menyambut kedatangan Malik.
"Apa Tante masih mengenalku? Kita sudah sangat lama tidak bertemu." Malik mengenal Tina saat masih sangat kecil.
Dahulu keluarga mereka sangat dekat karena Ayah bersahabat baik degan Ferdinan.
Keluarga Ferdinan jadi tertutup setelah tragedi yang menimpa mereka.
"Apa kamu anak dari sahabat Ayah nya Jofan. Wajah kamu tidak asing." Masih belum tau siapa Malik.
"Aku putra dari Rama Saputra." Mengulurkan tangannya.
"Pantas saja wajahmu sangat aku kenal. Kau seperti Ayah mu. Sangat tampan." Tina memeluk Malik.
Malik sangat tampan, tapi apa yah hubungan nya dengan Ayu. Setahuku Malik tidak punya saudara. Apa Ajeng hamil lagi yah? Banyak pertanyaan di benaknya.
"Ayu, Kaka kamu sudah datang. Ayo." Tina mengulurkan tangannya.
Mereka berempat serempak menengok ke arah depan.
"Kalian selalu saja kompa. Aku iri sekali." Tina sedikit memanyunkan bibirnya. Tina larut dalam pekerjaan sampai tidak punya sahabat dekat.
Malik masuk ke dalam toko, melihat tumpukkan kantong belanja dengan merk yang dia kenal karena mendapat laporan detail setiap belanjaan yang mereka beli.
"Lihat matanya, dia pasti akan menghabisi ku. Bagaimana ini." Lagi-lagi Malik tersenyum ke arah Mereke berempat.
"Dia tidak akan sejahat itu. Dia kan mencintaimu." Sandra mencoba berpikir logis.
__ADS_1
"Tapi apa cinta cukup membuat dia tidak berbuat apapun dan hanya tersenyum seperti sekarang!." Jofan membuat suasana panas.
"Kau akan berbuat apa saja kalo sudah mencintai seseorang." Melani ingat bagaimana Sandra mengorbankan perasaannya selama ini.
"Kau tidak mau pulang? Kemarilah." Malik menjentikkan jarinya.
"Tamatlah riwayatku." Ayu berjalan perlahan. Sedikit ragu tapi tangannya tetap meraih kantong belanjanya.
Malik menggelengkan kepalanya.
"Tante terimakasih sudah menjaga Ayunan. Kami pamit." Malik menggandeng tangan Ayu, merebut paksa kantong belanjaan yang di pegang erat dan menyerahkannya pada Aldo.
Sepanjang jalan mata Ayu tidak berhenti memandang rambut nenek yang mengingatkan masa kecilnya.
"Kau mau?" Ayu menggeleng padahal hatinya mengangguk.
"Yang benar, aku tidak akan menawarkan dua kali." Malik mengancam.
"Mau..." Ayu menjawab spontan mendengar ancaman.
Malik tertawa, dia selalu bahagia membuat Ayu bersikap takut padanya.
Malik membeli beberapa kantong rambut nenek.
Aldo dengan sabar mengikuti adegan demi adegan romantis yang mereka suguhkan.
Kalian tidak lihat ada jomblo di sini. Apa kalian sedang pamer kemesraan? Aku sama sekali tidak iri!!!!! Jerit Aldo dalam hatinya.
Karena sibuk dengan rambut nenek di tangannya. Ayu tidak memperhatikan jalan dengan baik.
Ciiiiitttttt......
Bunyi ban motor yang di rem mendadak bergesekan dengan aspal.
Brakkkkkk....
Sang pemilik sepeda motor sudah mencoba sebisa mungkin menghindar agar tidak menabrak tubuh Ayu.
Tapi tidak berhasil, jaraknya terlalu dekat. Tapi untung nya hanya menabrak kaki kanannya sampai Ayu terdorong.
Malik menangkap tubuh Ayu yang terdorong ke arahnya dengan sangat keras.
Astaghfirullah.....
Ayu sangat kaget da menjatuhkan semua makanan yang ada di tangannya.
"Kau tidak apa-apa?" Ayu mengangguk, tapi tidak meredam kemarahan Malik.
Malik naik pitam, meraih kerah baju sang pemilik sepeda motor dan memakinya.
"Kau buta? Kau punya SIM? Kenapa membawa kendaraan begitu cepat?" Malik mengomel.
" Bukan aku yang...." Aldo segera berlari membekap mulut sang pengendara sepeda motor.
"Bos masuklah, aku akan tangani ini." mendorong tubuh Malik menjauh.
Setelah Malik menjauh, Aldo mengeluarkan kartu nama saktinya.
"Tuan maafkan Bos saya. Dia memang salah, tapi kita jangan membantahnya. Bisa-bisa Tuan dalam masalah." Aldo tersenyum.
Saat melihat kartu nama Aldo, pengendara itu sedikit menciut. Untung saja tidak terjadi kecelakaan. Jika tidak dia bisa di tuntut.
Aldo menyodorkan beberapa lembar uang untuk ganti rugi, meskipun tidak terjadi apapun.
Lebih baik berdamai dan tidak mencari keributan. Hidupnya sudah cukup sulit dengan berbagai masalah yang harus mereka hadapi.
Terlihat Malik masih memeriksa kaki Ayu yang terbalut celana dalaman legging karena Ayu menggunakan rok sekolah.
"Kau benar tidak sakit. Tadi benar-benar sangat keras dia menabrak kamu Yu." Malik sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja Kak." Padahal Ayu menahan kakinya yang sedikit sakit.
Tapi jika Ayu mengaku, pasti akan mempersulit hidup sang pengendara motor tadi.
__ADS_1