
Mamih pagi-pagi sudah datang membawa berbagai macam makanan enak dan bergizi tentunya. Ahli gizi keluarganya selalu menempatkan bahan-bahan makanan yang berkualitas tinggi tanpa sedikitpun celah. Mamih sudah lama merasa tidak mengurus keluarganya dengan baik karena sibuk dengan masalahnya di berbagai kegiatan yang dia ikuti.
Suara bising dari dapur membuat Malik terbangun, dia sudah menebak siapa yang datang sepagi ini menganggu tidur nyenyaknya. Tersenyum dengan indah meski tidur nya terganggu.
“Mamih buat apa pagi-pagi begini.” Malik menengok jam dinding yang terpampang di ruang tamu. Sudah cukup siang ternyata, dia dan Ayu bermalas-malasan karena hari ini libur. “Ternyata sudah siang.” Sudah jam 9 pagi. Dia biasanya bangun subuh mengikuti jam Ayu bangun.
“Mamih masak banyak makanan sehat, kamu bisa memakannya dua hari ke depan. Sudah Mamih catat untuk kalian makan jam berapa makanan yang Mamih siapkan.” Malik menggeleng heran, jiwa pengatur yang selama ini hilang telah kembali.
“Kenapa Mamih repot-repot memasak. Aku kan bisa siapkan sendiri. Lagi pula kami hanya berdua disini.” Malik rebahan di sofa ruang tamu sambal menggeser-geser layer ponsel dengan jari jemarinya.
“Apa tidak boleh?” Malik mendengar pertanyaan yang lebih bernada amarah menurutnya. “Siapa lagi yang akan Mamih siapkan semua ini kalau bukan kalian berdua.” Nadanya sedikit kecewa.
Semua Wanita sama saja, mereka mudah sekali naik darah hanya karena perkataan sedikit yang salah dari mulut lelaki. Malik berjalan menghampiri Mamih yang masih merapihkan makanan di atas meja makan. Memeluknya erat degan beberapa kecupan yang mendarat di puncak kepala Mamih.
“Tentu saja aku sangat senang Wanita ini selalu memperhatikan ku. Aku hanya tidak mau kau terlalu Lelah karena harus mengurusku seperti ini.” Malik mengeratkan pelukkannya. “Jangan marah, lakukan semua yang Mamih mau. Tapi jangan terlalu capek. Ingat kau harus sehat agar bisa melihat aku dan Ayu Bahagia.” Mamih luluh dengan rayuan maut Malik.
“Ayu masih tidur?” Malik mengangguk tanpa menoleh. Dia sibuk membalas email pekerjaan yang menumpuk meski di hari liburnya. “Apa yang kau lakukan sampai dia tidak bisa bangun.” Malik sampai menoleh tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Aku tidak seperti itu Mih. Dia tidur seperti orang kelelahan sebelum aku sentuh.” Malik ingat semalam dia di abaikan karena Ayu marah padanya. Ayu bahkan tanpa permisi memejamkan matanya, biasanya dia akan menunggu Malik dengan sabar.
Mamih menutup mulutnya mencoba menyembunyikan tawa. Malik pasti akan bersungut-sungut saat tau Mamih menertawakannya. Mamih menyambar tas mahalnya untuk segera pergi.
“Mamih langsung pulang, Ayah pasti Sudah pulang dari lapangan golf.” Malik mengantarkan Mamih sampai ke lobby apartemen. Di bawah Malik bertemu Aldo yang baru saja datang. Banyak pekerjaan yang tidak bisa ditunda meski libur.
“Kau sudah makan Al?” Aldo mengangguk. Dia sibuk membereskan berkas agar Malik segera menandatanginya. “Kau buru-buru sekali Al.”
"Karena aku ingin cepat pulang Tuan." Jawab Aldo singkat.
“Sebelum kau serahkan dokumen ini, aku mau minta tolong Al. tolong belikan aku makanan di supermarket terdekat.” Mata Aldo membulat tidak percaya, di meja makan sudah tersusun rapih makanan enak, apalagi yang dia cari. “Aku ingin makan mie Al.” Aldo menggaruk tidak percaya dengan permintaan Malik. Dia kan paling anti makan makanan cepat saji.
“Tolong jangan memperkeruh suasana Tuan.” Malik si iseng tidak tinggal diam.
“Tuan, saya bisa jomblo seumur hidup jika seperti ini. Aku bahkan masuk saat semua orang pergi berkencan di hari liburnya.” Aldo memelas. “Aku mohon jangan menambah pekerjaan ku Tuan.” Malik tertawa puas mendengar Aldo yang sangat frustasi.
“Ok Al, pulanglah. Aku yang akan selesaikan pekerjaan ini.” Aldo mematung tidak percaya. “Benar, atau aku batalkan saja niatku membantu mu kali ini.”
“Jangan Tuan. Kau benar-benar malaikat.” Aldo menjelaskan dengan detail apa saja yang harus Malik lakukan, Malik harus menyerahkan berkas pada perusahaan konstruksi secara langsung hari ini juga karena pihak mereka sudah menunggu.
“Kau sudah selesai?” Aldo mengelap keringatnya yang bercucuran karena terlalu bersemangat.
__ADS_1
“Apa Tuan ingat semua yang aku minta?” Malik menarik berkas dari tangan Aldo.
“Tentu saja, kau lupa berkat siapa perusahaan ini berdiri dengan kokoh di muka bumi ini!” Tersenyum sombong, Aldo hanya nyengir merasa pertanyaannya tidak pantas.
Tentu saja kaulah orangnya Tuan, kau orang yang paling berjasa di muka bumi ini. Tapi janganlah sombong!!!!
“Apa aku sudah boleh pergi?” Malik hanya mengibaskan tangannya agar Aldo segera pergi. Tanpa ragu Aldo melaju pesat layaknya roket. Secepat kilat bayangannya sudah tidak lagi Nampak.
Malik membelai lembut wajah istrinya yang masih terlelap tidur. Tidak tega membangunkannya, tapi Malik tidak mau meninggalkannya sendirian di rumah.
“Sayang, ayo bangun. Ayuna….., cepat bangun. Kita pergi sebentar menyerahkan berkas pada klien ku.” Ayu menggeliat menyadarkan dirinya. Matanya sangat sulit dibuka, dia masih sangat mengantuk.
“Kak…” Malik tersenyum. “Apa aku boleh di rumah saja? Aku tidak bisa membawa badanku, aku sangat lemas.” Malik memeriksa kening Ayu, memastikan Ayu tidak sedang demam.
“Apa kita perlu ke rumah sakit?” Ayu menjawab dengan gelengan kepalanya. “Aku tidak mau kau sakit.”
“Aku hanya perlu tidur, aku benar-benar ngantuk Kak.” Malik jadi ragu meninggalkan Ayu sendirian.
“Apa aku minta Sarah dan Adam saja untuk datang menemani?” Ayu duduk dengan wajah lemasnya.
“Kak, aku hanya butuh tidur. Aku baik-baik saja, jangan merepotkan orang lain hanya untuk menemani orang yang ingin tidur Kak. Aku tidak akan kemana-mana, aku janji. Aku akan baik-baik saja.” Ayu Kembali membenamkan tubuhnya di bawah selimut setelah memberi pengertian pada Malik.
Sebelum pergi Malik menyempatkan diri membuatkan Ayu susu. Meski tidur dia masih harus memberikan energi pada tubuhnya. Meski malas Ayu meneguk susu sampai habis. Hari ini ada jadwal melihat kampus. Meeting batal namun Malik ternyata masih harus mengurus pekerjaan yang tidak mungkin dia tinggalkan.
“Tidurlah, aku akan meminta Jofan datang lebih cepat. Jangan membuka pintu untuk orang yang tidak kamu kenal. Kamu dengar!” Ayu mengangguk di balik selimut. Jofan bahkan tidak ikut serta mencari kampus, dia kuliah di luar negeri.
Malik tidak bisa tenang, dia meminta Pras mengaktifkan CCTV yang bisa dia lihat lewat layer ponselnya. Meski sekarang keamanan sudah Malik tingkatkan, tetap saja dia harus waspada. Bisa saja masih tersisa orang-orang yang ingin menghancurkan keluarganya dan mencelakai keluarganya.
Puas dengan tidurnya Ayu merasa perutnya keroncongan. Ayu segera bangun melihat isi kulkasnya setelah melihat makanan yang ada di atas meja makan tidak menggugah selera makannya. Ayu hanya meneguk air dingin, dia melihat-lihat status orang lain di dunia maya.
Matanya melotot melihat Aldo dan Aleta yang makan seblak siang bolong. Air liurnya hampir saja tumpah. Dengan ragu Ayu menghubungi Aldo.
“Kak Al, maaf mengganggu.” Ayu merasa tidak enak hati.
“Tidak apa Nona, ada yang bisa saya bantu?” Jawab Aldo sopan.
“Aku apa boleh minta dibawakan seblak yang tadi Kak Al makan?” Aldo terdiam, sepertinya dia keberatan. “Kalau Kak Al sibuk tidak usah Kak. Aku bisa beli nanti setelah Kak Malik pulang.”
“Tidak apa Nona, aku akan bawakan. Tunggu 30 menit, aku akan segera meluncur ke sana.” Tentu saja Aldo tidak bisa menolak. Meski dirinya sedang berkencan, Aleta paham dengan posisi Aldo yang selama ini selalu bisa diandalkan.
__ADS_1
Ayu mandi segera, dia bersiap-siap menyambut makanan yang bahkan belum pernah dia makan. Ayu hanya tertarik karena terlihat lezat di gambar postingan Aldo.
Bel rumah berbunyi, Aldo datang Bersama Aleta dan tidak lupa seblak permintaan Ayu. Wajah Ayu berbinar-binar seperti dapat hadiah. Aldo tidak kalah senang melihat senyum di wajah Ayu yang sudah lama sirna.
“Wah enak sekali. Aku belum pernah makan makanan seperti ini.” Aldo hanya tersenyum, Aleta membuatkan Ayu teh agar perutnya tidak kaget makan makanan pedas.
“Apa Nona tidak apa makan makanan pedas dan tidak sehat seperti ini?” Ayu hanya tersenyum menikmati makanan lezatnya.
“Makan apa Ayuna ku.” Suara Malik mengagetkan Ayu dan Aldo. Aldo baru sadar, Malik ternyata tidak ada di rumah. Ayu pasti meminta tanpa ijin dari Malik. Matilah aku ini.
Malik menarik makanan yang ada di tangan Ayu. Melihatnya dengan seksama, bau rempah yang menyengat hidung sampai Malik terbatuk. “Makanan apa ini Aldo! Berani sekali kau memberikannya pada Ayu tanpa seijinku.” Aldo bingung mau menjawab apa.
“Bukan salah Kak Al….”
“Diam!!!” Ayu sampai terjingkat kaget. “Ini makanan pasti tidak higienis Al, kamu saja tidak boleh makan. Apalagi Ayu!” Malik membuangnya ke tempat sampah.
Tidak ada yang bersuara, semua terdiam. Aleta cukup terkejut melihat sikap Malik yang sangat keras. “Jangan mengulangi lagi, apapun yang Ayu makan harus dengan ijinku. Kau dengar Al!” Aldo hanya mengangguk pasrah.
Bibir Ayu naik turun, susah payah Ayu menahan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Malik benar-benar keras dengan aturannya. Ayu tau akan berakhir seperti ini jika Kak Malik tau, tetap saja dia tidak boleh membentaknya seperti itu.
“Bantu aku siapkan makanan Al. Mamih pagi-pagi sudah menyiapkan makanan dengan susah payah. Untuk apa kalian malah makan makanan yang tidak jelas dan tidak sehat.” Aleta mengikuti Aldo membantu Malik menyiapkan makanan.
Ayu masuk ke kamar karena ***** makannnya tidak lagi ada. Dia sedih karena makanan yang sedang dia nikmati dibuang begitu saja ke tong sampah. Ayu memejamkan mata menghilangkan kesedihan yang dia rasakan.
“Tuan” Malik tidak menjawab, masih sibuk dengan makanan di tangannya. “Nona belum makan apapun saat aku datang, dia bilang sedang tidak ***** makan.” Malik baru sadar. Memang benar Ayu tidak makan apapun, bahkan dia hanya tidur setelah meminum susunya pagi tadi.
“Tetap saja, dia tidak boleh makan sembarangan. Dia bisa sakit karena bakteri yang ada di dalam makanan.” Malik masih tidak mau disalahkan.
Kalau nona tidak mau makan juga bisa sakit Tuan! Kau ini kaku sekali, hanya karena makanan kau sampai tidak sadar Nona hampir saja menangis. Aku makan seblak setiap hari tidak ada bakterinya Tuan. Aldo menyimpan sendiri suara hatinya.
Malik masuk kekamar setelah makanan siap. Dia sadar Ayu marah padanya. “Aku marah karena tidak mau kamu sampai sakit.” Ayu tidak bergeming. “Ayuna…..” Ayu segera bangun takut Malik semakin marah.
“Maaf….” Matanya merah meski sudah tidak ada lagi air mata.
“Iya, jangan mengulanginya. Aku tidak mau ada makanan seperti itu lagi di rumah.” Ayu mengangguk, berjalan mengikuti Malik di belakang. Ayu sadar sudah melakukan kesalahan, dia hanya ingin makan makanan hits seperti yang orang lain lakukan.
Dia hanya makan sedikit karena perutnya tidak lapar. Dia benar-benar kehilangan ***** makannya. Malik memaksa seperti apa pun tidak berhasil, mulutnya menolak karena perutnya bergejolak ingin memuntahkan isi didalamnya. Malik menyerah daripada harus melihat Ayu malah muntah.
Malik sekarang merasa bersalah, asam lambungnya pasti sedang bermasalah karena Ayu telat makan.
__ADS_1