
Berita penculikan Ayu menyebar dengan cepat ke jajaran para petugas keamanan. Semua akan dikenakan sanksi berat oleh Rama Saputra jika sampai terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada Ayu.
Semua lalai dan tidak menjalankan tugas dengan baik sampai Ayu dengan mudah nya di culik oleh orang tidak bertanggung jawab.
Suasana mencekam di setiap sudut ruangan rumah Rama, tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun bahkan Malik sekalipun.
Malik orang yang paling Rama salahkan atas apa yang terjadi saat ini. Dia tidak menjalankan peran nya sebagai suami dengan baik.
Rama tidak bisa tenang, sudah hampir tengah malam dan belum juga ada kabar dimana Ayu berada saat ini. Malik menangis dalam diam menyesali perbuatan buruknya selama ini. Dia takut Ayu akan pergi selamanya dengan kenangan pahit tentang dirinya.
Rama mengerahkan semua orang kepercayaannya membantu mencari keberadaan Ayu. Rama sangat kecewa, begitu banyak orang yang dia bayar untuk keamanan keluarganya, tapi masih saja kejadian seperti ini tidak bisa dihindari.
Rama terduduk memegang dadanya yang sakit, jantung nya berdetak tidak beraturan karena perasaan khawatir yang berlebihan. Rama mengatur nafasnya, tidak tepat jika penyakitnya kambuh dalam keadaan genting yang membutuhkan perhatiannya.
Mamih menghampiri Rama, memeluknya dengan erat memberikan sedikit ketenangan. Hanya ada pelukan lembut, tidak ada yang berani bicara pada Rama dalam keadaannya saat ini. Hanya akan menyulut amarah nya.
"Apa yang mereka mau dari putriku. Kenapa selalu saja putriku yang mereka sakiti." Rama menahan air matanya, nada suaranya sedikit bergetar.
"Ayu gadis yang kuat, dia pasti akan kembali dalam keadaan sehat Yah. Tenang ya Yah." Mamih hanya bisa mencoba mengendalikan keadaan agar tidak semakin buruk.
Semua bekerja keras agar Ayu ditemukan, tugas Mamih menjaga ketiga laki-laki nya agar tetap tenang dan tidak bersikap gegabah.
"Adam, kita akan cari cara menemukan mereka ya Nak. Tenang ya Nak!" Mamih memeluk Adam setelah memenangkan Rama.
Malik seperti patung, pandangan matanya kosong entah apa yang ada didalam benaknya.
Mamih menggenggam erat kedua tangan putranya. Adam seperti anak laki-laki bagi Mamih. Dia sangat menyayangi Adam seperti dia menyayangi Malik.
"Tuan" Seorang bertubuh tinggi besar menghampiri Rama. Rama hanya mengisyaratkan dengan matanya agar mendekat padanya.
"Mobil ini terlihat di beberapa CCTV sebelum memasuki perumahan. Dan keluar tidak lama setelah mobil terbakar di depan rumah Dokter Adam." Rama menyimak penuh penghayatan.
"Cari keberadaan mobil ini." Semua IT bergerak cepat memeriksa setiap CCTV yang dekat degan lokasi. Berharap keajaiban segera datang agar Ayu dan Sarah segera di temukan.
Malik berdiri dari duduknya melepaskan genggaman tangan Mamih tanpa suara. Mamih mengejar saat melihat Malik meraih kunci mobil dan jaket kulitnya.
"Mau kemana? Jangan membuat masalah semakin rumit. Kita tunggu saja sebentar Nak." Mamih menghalangi jalan Malik. Berbahaya berkendara dalam keadaan tidak tenang.
"Menunggu? Lalu apa yang akan terjadi dengan Ayu. Aku tidak bisa diam saja, aku mau mencarinya." Malik mencoba melewati Mamih tapi masih tidak berhasil.
"Tolong Nak, jangan membuat dirimu juga dalam bahaya." Malik menggeleng, dia diliputi rasa takut kehilangan Ayu.
__ADS_1
Sarah juga dalam keadaan bahaya, Malik tau kandungannya lemah dak Sarah tidak boleh merasa tertekan. Itu akan mempengaruhi kesehatannya dan bayinya.
"Aku akan mencarinya, jangan memintaku menunggu." Malik mencoba menyingkirkan tubuh Mamih yang menghadang langkah nya.
"Aku akan menemaninya, Mamih tenang saja." Adam mencium kening Mamih dan meminta nya minggir dari depan pintu.
"Benarkah, apa kalian bisa Mamih percaya?" Mamih hanya takut mereka juga dalam bahaya.
Adam mengangguk, dia selalu pandai meluluhkan pendirian Mamih. Adam sangat dewasa dan bertanggung jawab di mata Mamih.
Aldo ikut serta menemani Malik dan Adam. Mereka berdua laki-laki yang sama-sama kehilangan wanita yang sangat mereka cintai.
Aldo melajukan mobil dalam kebisuan, tidak biasanya melihat Malik dan Adam tidak saling sapa seperti ini. Aldo merasa kasian pada Malik, baru saja melihatnya begitu bahagia pagi tadi. Keadaan berubah menjadi begitu menyedihkan dalam waktu singkat.
"Ayah, bagaimana dengan Ibu? Apa dia sudah lebih tenang?" Suara Adam bicara dengan orang diseberang telpon memecah keheningan.
"Katakan padanya Sarah akan segera kita temukan. Buat Ibu lebih tenang." Aldo memperhatikan raut wajah Adam dari spion.
Aldo memutuskan menepi agar Dokter Adam lebih tenang dan nyaman bicara, dia terlihat sangat tegang. Pasti kedua orang tua Dokter Sarah juga sangat terguncang.
"Aku harus menemui Ibu sebentar, dia tidak berhenti meracau. Ayah sepertinya takut Ibu akan kembali dalam titik depresinya yang lebih parah." Adam meminta persetujuan Malik untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Malik mengangguk, dia juga harus membantu Adam. Dia pasti sangat khawatir dengan Sarah dan calon anak yang ada dalam kandungan Sarah.
"Baik, aku menyusul ke sana." Adam gusar, pasti berita buruk yang dia terima.
"Ibu pingsan, Ayah membawanya ke rumah sakit." Penderitaannya bertumpuk. Adam menarik panjang nafasnya. Baru kali ini dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya merasa kebingungan.
Aldo segera melajukan mobil menuju rumah sakit yang Adam sebutkan. Untung nya jarak mereka tidak begitu jauh sehingga bisa sampai dengan cepat.
Terlihat Maghda yang terbaring tidak berdaya. Austin sendiri duduk memegang erat tangan Maghda. Matanya basah, Austin pasti sangat menderita.
"Semua akan baik-baik saja." Adam memeluk Austin dari belakang merasakan kesedihan yang sama.
Dia usianya yang sudah Tua, mereke dihadapkan dengan permasalahan yang begitu mencekam. Adam bahkan sampai bingung karena ada orang yang begitu jahat menculik Sarah saat dia sendang mengandung.
Maghda sadar, matanya membulat dan mulutnya meracau seperti ada yang ingin dia sampaikan. Kata-katanya tidak bisa diartikan, semua orang hanya merasa bingung dan kasian.
"Ibu tenang yah, jangan menyakiti diri Ibu seperti ini. Sarah pasti akan sangat sedih." Adam memeluk tubuh Magdha, dia wanita yang 8 bulan terakhir menemani Sarah setiap waktu.
Menjadi pendengar setia Sarah karena saat hamil Sarah lebih banyak bicara. Dia wanita yang tidak pernah mengeluh dengan keadaannya saat ini. Menjadi kekuatan sendiri bagi Sarah dalam menjalani kehamilannya yang penuh dengan rasa sakit.
__ADS_1
Dokter masuk setelah mendengar panggilan. Memeriksa keadaan Maghda yang semakin mengkhawatirkan.
"Dokter Adam, saya akan memberi obat penenang. Jika tidak Ibu Maghda tidak bisa istirahat dengan tenang." Adam menatap Maghda lekat, Adam mengangguk.
Melihat kondisi Maghda saat ini tidak mungkin menolak saran Dokter, ini semua demi kebaikannya. Maghda kembali tenang setelah dokter memberikan obat penenang.
"Ayah, aku akan melanjutkan pencarian. Kabari aku tentang perkembangan Ibu. Besok aku panggil dokter yang merawat Ibu supaya bisa membantunya. Ibu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu tapi kita tidak paham." Austin mengangguk. Pertahanan dirinya sudah lemah dan tubuhnya sudah tidak bertenaga.
Adam menempatkan Maghda di kamar VVIP agar Austin bisa menjaga Maghda dengan nyaman. Tubuh mereka sudah sama-sama lelah dan harus istirahat dengan nyaman.
Sebenarnya Malik punya perasaan yang sama dengan Adam. Maghda tidak berhenti berusaha bicara karena ada yang ingin dia sampaikan. Maghda bisa merasakan sesuatu meski dia terlihat seperti orang yang tidak normal.
Mereka kembali berjalan untuk mencari keberadaan Ayu dan Sarah.
"Maafkan aku, karena aku tidak menjaga Ayu dengan baik sampai Sarah harus hilang seperti ini." Permintaan maaf keluar begitu saja dari mulut Malik.
Adam yang semula jalan dengan gagah berani di depan Malik berhenti. Ada yang membuatnya tercekat dan menusuk dadanya. Perasaan lega karena Malik mengakui kecerobohannya.
"Kau menyesal! Apa akan mengembalikan mereka berdua!" Adam berteriak keras sampai suaranya memenuhi udara.
"Aku tau keadaan tidak akan berubah. Aku menyesal!" Malik memeluk Adam, menangis menyesali perbuatannya.
Adam memukul Malik dengan sekuat tenaga, mencoba melepaskan tubuh Malik yang memeluknya. Perlahan pukulannya melemah, keduanya tenggelam dalam kesedihan.
Aldo hanya memperhatikan keduanya dari dekat tanpa melerai. Ini bukan kali pertama mereka bertengkar seperti anak kecil. Ini awal mereka akan berbaikan jika sudah bertengkar terlalu lama.
Aldo mencarikan nasi goreng untuk kedua pria yang duduk saling menyandarkan kepalanya di bangku taman rumah sakit. Mereka pasti tidak akan makan jika Aldo tidak memaksa mereka makan.
"Bos, dokter. Ayo makan dulu. Aku belikan nasi goreng." Aldo membuka bungkus nasi goreng yang masih mengepul kan asap.
"Aku tidak lapar" Suara Adan dan Malik serempak.
"Apa!" Adam dan Malik terkejut mendengar suara Aldo begitu keras.
Uhukkk....uhukkkk...uhukk....
Aldo pura-pura batuk karena terkejut mendengar suaranya sediri. Malik dan Adam menatap Aldo dengan mata tajamnya. Aldo menghindari kontak mata dengan kedua pria yang menakutkan.
"Bos dan dokter harus makan, kita harus punya tenaga ektra untuk mencari Nona dan Dokter Sarah. Kita tidak boleh lemah saat ini." Bicara selembut mungkin pada kedua laki-laki di depannya.
Adam dan Malik saling menatap, benar juga apa yang Aldo katakan. Mereka tidak boleh menyepelekan kesehatan, mereka harus punya stamina yang prima agar siap dalam keadaan dan kondisi apapun yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
Malik dan Adam meraih sendok dan memakan habis nasi goreng yang Aldo belikan. Sudah selesai satu tanggung jawab Aldo menjaga kedua pria yang berubah seperti anak kecil karena tenggelam dalam duka.
Aldo bisa bernafas lega sementara, setelah ini entah apalagi yang akan terjadi. Mereka harus fokus mencari keberadaan Nona dan Dokter Sarah.