
Malik meminta Adam membawa Ayu pulang ke rumah besar setelah selesai memperbaiki jahitan di luka tangan Ayu. Semua keluarganya sudah menunggu Ayu di rumah besar milik keluarga Rama Saputra. Malik masih belum menceritakan jika saat ini Sarah di culik bersama Murni. Malik masih belum tega memberi tahukan yang sebenarnya pada Adam.
Rey yang sudah tau keadaan sebenarnya karena Malik memintanya menjaga semua keluarga besar di rumah Rama yang aman. Saat ini semua orang sudah berkumpul agar satu sama lain saling menjaga.
“Aku tidak mau meninggalkan Kak Malik.” Ayu masih melekat di pelukkan Malik. Malik bahagia karena Ayu tumben manja padanya. Biasanya dia akan selalu menurut dan tidak complain dengan permintaan Malik.
“Ada apa?” Malik masih menunggu Ayu dengan sabar sementara Adam mempersiapkan P3K untuk berjaga-jaga. “Kenapa? Apa perasaan mu tidak enak?” Ayu mengangguk. Malik tau perasaan Ayu sangat halus, dia jarang sekali memperlihatkan perasaannya pada orang lain. Tapi kali ini sepertinya dia tidak bisa menahan diri. Bisa saja karena khawatir yang berlebihan, atau bisa saja efek trauma atas apa yang menimpanya.
Malik hanya bisa memeluknya dengan hangat, Ayu tidak akan berkeras hati jika dalam keadaan seperti ini. Dia tau apa yang Malik minta demi kebaikan semua orang. Keadaan kacau dan Ayu harus bisa membantu Malik merasa aman dengan dirinya baik-baik saja. Tidak ada yang bisa Ayu lakukan selain mendukung setiap usaha yang Malik dan semua orang lakukan.
“Apa sudah siap?” Adam tidak kalah sabar dari Malik. Dia juga masih menunggu Ayu menyetujui meninggalkan Malik dengan suka rela.
Hmmmmm……
Ayu menarik panjang nafasnya. “Baiklah, tapi berjanji lah pulang dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun.” Malik tertawa. Dia mencubit ujung hidung Ayu merasa gemas. Malik sebenarnya juga tidak rela berpisah.
“Aku antar sampai ke mobil.” Malik bahkan menyiapkan beberapa pengawal membuat Adam heran. Seperti sedang perang saja.
“Kau gila menyiapkan begitu banyak pasukan.” Adam berbisik ditelinga Malik sebelum masuk ke dalam mobil.
“Ini demi keamanan kalian. Cepat pergi, sebelum Ayu berubah pikiran.” Malik mendorong Adam agar cepat pergi dari tempat berbahaya ini. Sebenarnya Malik takut dirinya berubah pikiran karena tidak bisa jauh dari Ayu.
Adam menyodorkan coklat pada Ayu yang terlihat sedih dan melamun. Dalam keadaan seperti ini makan makanan manis bisa membantu meningkatkan mood. “Makanlah, supaya suasana hati mu jadi manis. Hehehehehe.” Adam tertawa geli sendiri. Ayu jadi ikut tertawa mendengar kata-kata Adam yang jenaka.
“Dokter membujukku dengan coklat? Kak Adam pasti belajar banyak dari Malik. Hehehehehe.” Itu trik yang biasa Malik lakukan saat Ayu ngambek. Membelikan cemilan dan banyak makanan kesukaannya.
Hanya sedikit Ayu memakan coklat kesukaannya. Lidahnya masih terasa tidak enak untuk mencerna rasa manis yang seharusnya sangat dia sukai. Coklat masih ada di tangannya, sementara matanya sedikit demi sedikit tertutup. Tapi Ayu merasa tidak enak jika tidur, dia akan sulit bangun. Ayu berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak terlelap.
Sepertinya Ayu masih terpengaruh obat bius, matanya lengket tidak mau terbuka. Adam sampai tertawa dalam diam melihat Ayu yang menahan kantuk. “Kau sangat lelah?” Ayu mengangguk. “Tidurlah, jangan memaksakan diri.” Akhirnya Ayu terlelap dengan nyaman di bahu Adam. Dengan iseng Adam memotretnya dan mengirimkannya pada Malik. Malik membalas dengan emoticon senyum. Malik senang Ayu saat ini aman.
Tidak lama Adam dan Ayu sudah sampai di kediaman Rama. Rumah sangat ramai membuat Adam sedikit curiga. Ada Mahesa pula yang sedang dalam dekapan Ana yang terlelap di atas sofa.
Pikirannya mendadak kacau, ada yang tidak beres. Kedua orang tua Sarah ada di kamar tamu yang pintu nya terbuka, mereka sedang tidur. Adam sampai tidak sadar Ayu ada dalam gendongannya. Setelah menyadarkan dirinya, Adam membawa Ayu ke kamar Malik di lantai 2. Ada Rama yang sedang duduk di kasur mendekap kemeja Malik. Dada Adam semakin bergemuruh.
“Pelan-pelan. Apa putri ku sudah sehat Dam?” Adam mengangguk. “Kasian sekali dia pasti kesakitan.” Membayangkan luka yang ada di tangan Ayu.
“Dia wanita yang sangat kuat. Aku harus meberinya infus karena tubuhnya masih sangat lemah.” Adam tidak berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Apa Malik masih ada di rumah sakit?” Adam mengangguk. Rama pasti sangat khawatir. Hanya mencoba terlihat kuat demi semua orang yang percaya padanya.
“Hari ini sangat kacau. Aku harap tidak ada lagi kejutan untukku hari ini.” Rama menghindari kontak mata dengan Adam. Dia tau tatapan mata Adam mencari jawaban kenapa putra nya ada di sini bersama dengan Ana.
Tentu saja pasti semua orang akan menutupinya dari Adam. Mereka tidak mau keadaan semakin rumit jika Adam bersikeras mencari Sarah. Selesai dengan Ayu, Adam segera turun dan menitipkan Ayu pada Rama untuk mengawasinya.
Adam mengambil alih Mahesa dari tangan Ana. Tidak sengaja Adam malah membangunkan Ana. “Maaf aku tidak bermaksud membangunkan mu An.” Ana mengucek matanya. “Apa dia menyusahkan mu?” Ada tersenyum.
“Tidak apa, tentu saja tidak, dia anak yang sangat baik.” Ana sangat sayang pada Mahesa yang baik hati, dia tidak rewel meski tidur tanpa Mamah nya. “Dokter sebaiknya istirahat. Biarkan anak tampan ini bersama ku.” Mahesa kembali ke pelukkan Ana setelah mendapat ciuman dari Adam. Mahesa masih terlelap dengan nyaman dalam pelukkan Ana.
“Terimakasih sudah menjaga nya. Oh iya, dimana Rey dan Jofan? Apa mereka tidak ada di sini?” Pertanyaan Adam membuat mata Ana membulat. Dia baru sadar saat ini Adam tidak tau keadaan sebenarnya.
“Dokter istirahat saja, besok aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Adam dengan bijak mengiyakan permintaan Ana. Dia pasti lelah, malam pertamanya di warnai dengan berbagai tragedi. Bahkan dia harus menjaga Mahesa yang tubuhnya tidak lagi ringan saat di gendong.
“Kau juga harus istirahat dengan baik An. Kau bisa saja sakit.” Adam membawa Mahesa ke kamar Ayu agar Ana bisa istirahat dengan baik. Ana mengikutinya dari belakang.
“Baik Pak Dokter. Tenang saja, semua pasti baik-baik saja.” Adam menatap dalam bola mata Ana. Tapi Ana menghindar, dia sadar baru saja membuat Adam curiga. “Cepat istirahat, aku juga sangat ngantuk.” Ana mengusir Adam yang tidak juga beranjak.
Adam memeriksa selang infus Ayu sebelum pergi. Semua pasti baik-baik saja, Adam mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan bisa dilewati dengan mudah. Sarah pasti akan kembali padanya. Tidak akan terjadi apapun padanya.
“Aku tinggal ya An, jika Ayu sudah bangun tolong cek suhu tubuhnya. Pastikan dia tidak demam, jika demam berikan obat yang sudah aku siapkan.” Ana bingung.
“Aku ingin istirahat di apartemen. Aku ingin mandi sebentar.” Ana menggeleng.
“Tolong jangan pulang, di sini saja. Kau bisa mandi dan gunakan pakaian Malik. Atau gunakan baju Paman. Jangan tinggalkan Mahesa, bagaimana jika dia menangis?” Adam sudah curiga, dia hanya tersenyum.
“Kalian tidak cerita pun aku sudah paham. Sarah membutuhkan ku saat ini.” Adam pergi dengan wajanya yang penuh kesedihan.
“Dokter, Dok…..” Ana berteriak sampai Mahesa terkejut. Ana tidak bisa mengejar Adam karena harus menjaga Ayu dan Mahesa, yang bisa dia lakukan hanya menelpon Rey.
“Kak Rey…..” Telpon sambil menggendong Mahesa yang menangis.
“Tenang sayang, katakana pelan-pelan.” Rey panik saat Ana bicara begitu keras.
“Kak, Dokter Adam sudah tau saat ini Sarah tidak bersama kita. Dia pergi keluar, pasti Dokter Adam akan mencari Sarah. Cepat kejar dia.” Rey lega, ternyata bukan berita buruk.
“Tenang saja, Paman pasti saat ini sudah mengunci semua area. Adam tidak akan bisa keluar degan mudah.” Ana menyimak meski kesulitan menangani Mahesa yang saat ini menangis. “Apa kau bisa mengatasi bayi besar itu?” Rey takut Ana kelelahan.
__ADS_1
“Tenang saja, dia akan kembali tenang. Tolong jangan terluka, aku tidak bisa hidup tanpa kalian di sisi ku.” Rey terharu.
“Kami akan baik-baik saja. Kau juga jaga diri baik-baik di sana.” Jofan tersenyum mendengar percakapan dua sejoli yang baru saja resmi jadi pasangan suami dan istri.
Ana ingin turun ke bawah saat ada keributan, ini pasti Adam yang tidak di ijinkan keluar. Semua penjaga melakukan tugas sebagaimana perintah yang diturunkan dari atasan. Ana hanya memperhatikan dari lantai 2 sambil menggendong Mahesa yang sudah mulai tenang.
Rama tidak mencegah Adam secara langsung, dia sendiri pasti akan berbuat nekat jika istri tercinta di culik dan dalam bahaya. Dia hanya berdiri di belakang Mamih menyimak.
“Jangan gegabah Nak. Jangan pergi dalam keadaan kalut. Berbahaya.” Mamih dengan sabar menenangkan putra nya yang emosional.
“Sarah membutuhkan ku Mih. Aku harus segera mencarinya. Dia ada di tangan laki-laki jahat tidak berperasaan.” Adam mulai menangis. Dia sudah hilang kendali. Mamih memeluk Adam yang sedang sangat terpuruk.
“Kami ingin yang terbaik untuk kalian semua. Kita harus tenang. Kita tidak tinggal diam, kami berusaha keras. Kau tau siapa suami ku kan?” Mamih sedikit menaikkan nada bicaranya yang biasanya lemah lembut. “Jangan takut, tidak akan ada orang yang berani menyakiti Sarah. Kita akan menemukannya segera. Kau tenang yah Nak!” Adam masih menangis di pelukkan Mamih.
“Kalau begitu biarkan aku ikut mencari. Lebih banyak yang mencari akan lebih cepat ketemu Mih.” Mamih menggeleng. Keras kepala memang kalau sudah menyangkut orang terkasih.
“Tidak sekarang, besok pagi setelah kau istirahat aku akan mengijinkan mu pergi bersama beberapa orang agar kalian bisa saling menjaga. Sekarang istirahat.” Mamih juga sedang khawatir, putra nya masih di luar sana mengamankan keadaan di rumah sakit. Berkutat dengan bom yang kapan saja bisa meledak.
Adam akhirnya menyerah, percuma melawan Mamih dan Rama. Mereka pasti punya seribu cara mencegahnya pergi. Ana bisa tersenyum setelah melihat Adam duduk menyendiri di ruang keluarga. Lebih baik melihatnya terpuruk di depan mata daripada membiarkannya berkeliaran di luar sana tanpa tau arah dan tujuan.
“Kau memang putra ku yang baik.” Adam sudah terlelap karena hari memang sudah hampir pagi. Tenaga nya terkuras sepanjang hari. Mamih menyelimuti tubuh Adam yang masih terbalut pakaian dinasnya.
Rumah sunyi karena semua orang istirahat. Hanya Ferdinan yang terjaga, Ferdinan berkeliling memastikan semua orang baik-baik saja. Dia baru sadar Ayu sudah pulang. Menatap sedih wajah putrinya yang pucat pasi. Dia terpaksa di rawat di rumah karena keadaan di luar sangat berbahaya. Ferdinan memegang jidat Ayu, dia terkejut karena suhu tubuh Ayu sangat panas. Ferdinan tidak tega membangunkan Ana yang terlihat kelelahan mendekap Mahesa.
Perlahan Ferdinan membaca satu persatu obat yang ada di atas nakas. Ferdinan segera menyiapkan obat yang sudah Adam tulis dengan jelas kegunaannya. Menunggu beberapa saat namun suhu tubuh Ayu tidak juga kunjung turun.
Ferdinan memutuskan meminta bantuan Adam. Tidak tega sebenarnya, tapi apa boleh buat. Jika dibiarkan Ferdinan takut Ayu tidak bisa menahannya.
“Nak Adam, Nak....” Ferdinan menggoyangkan kaki Adam. Perlahan Adam membuka matanya, kepalanya terasa pusing. “Maaf aku membangunkan mu. Tapi aku takut akan berbahaya jika tidak segera di tangani.” Adam segera duduk mendengar perkataan Ferdinan.
“Apa yang terjadi?” Adam mengusap wajahnya dengan kasar.
“Ayu demam, aku sudah memberinya obat penurun panas tapi tidak ada perubahan. Suhu tubuhnya masih juga tinggi.” Adam segera lari memeriksa keadaan Ayu.
Benar saja, sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Sepertinya Ayu mengalami demam akibat luka tembak yang bersarang di tangannya. Bisa saja ini efek samping dari obat-obatan yang dia konsumsi. Adam mencoba mengompres Ayu dengan air hangat, tapi tidak juga berhasil.
Di rumah tidak ada selang oksigen, Adam bingung ternyata tubuh Ayu tidak seperti kelihatannya. Tubuhnya mengalami trauma paska operasi, Adam harus segera membawanya kembali ke rumah sakit dengan peralatan yang memadai.
__ADS_1
“Malik, aku harus membawa Ayu kembali ke rumah sakit. Dia demam, aku harus membantunya dengan oksigen. Cepat minta siapa saja menyiapkan ruangan perawatan.” Malik cukup terkejut saat membaca voice note dari Adam. Dia segera meminta perawat menyiapkan ruagan untuk Ayu. Terpaksa dia harus berdesakan dengan pasien lain karena harus menggunakan fasilitas ruang darurat sebelum rumah sakit utama aman.