
Aldo memutar setir mobilnya menghindari para wartawan yang sudah berkumpul di depan apartemen Malik. Sungguh hari yang penuh dengan kekacauan. Ayu masih tidak paham kenapa mereka berputar arah. Masalah di sekolah Ayu sudah paham, tapi kerumunan di depan apartemen Ayu masih tidak paham.
“Apa ada masalah lagi?” Ayu mencoba mencari tau meski takut akan jawabannya. Malik menggeleng dengan senyum yang tampak getir di wajahnya.
“Kita mampir ke tempat Rey Al. Sepertinya perutku kelaparan. Apa kau lapar Al?” Gurauan yang tidak bisa di pahami oleh Ayu dan Aldo.
“I….Iya Bos. Tentu saja aku lapar.” Aldo segera menuju restaurant Rey sesuai instruksi.
“Aku sangat ingin datang ke tempat Mbak Murni, aku tidak bisa berhenti memikirkannya sejak kemaren.” Ayu mengungkapkan isi hatinya, daripada ke tempat Kak Rey, dia ingin sekali mencari tau keadaan Murni.
“Tidak sekarang, kita datang setelah keadaan kondusif.” Malik menghindari tatapan mata Ayu yang saat ini menatapnya dengan intens.
“Apa ada yang kalian sembunyikan? Kenapa aku merasa ada yang aneh!” Sikap Malik sangat tidak biasa membuat Ayu curiga.
“Itu perasaan kamu saja sayang. Aku dan Aldo tidak menyembunyikan apapun.” Tertawa tapi hatinya menangis karena membohongi Ayu lagi.
Restaurant baru saja buka saat mereka bertiga datang. Rey dengan bahagia menyambut kedatangan Ayu. Ana tidak kalah bahagia karena Malik sebelumnya bilang akan menitipkannya beberapa hari.
“Kak Rey sudah buatkan makanan kesukaan kamu.” Rey mencolek ujung hidung Ayu dengan gemas. Gadis yang selama ini dia sayangi dan saat ini jadi belahan jiwanya. Ayu tersenyum bahagia melihat sikap Rey yang sedikit konyol.
“Kak Rey, kemana Mas Jofan pergi? Aku tidak melihatnya di sekolah dua hari ini. Apa ada masalah serius?” Ayu terlihat khawatir, Malik tampak kaget mendengar pertanyaan Ayu. Dia tidak menyadari jika Jofan tidak ada beberapa hari ini.
“Dia baik-baik saja, ada urusan pekerjaan yang mendesak dan butuh campur tangannya.” Malik merasa bangga. Dia bahkan saat ini masih pelajar tapi sudah mengurus bisnis.
“Lalu bagaimana dengan sekolahnya?” Malik bingung.
“Dia tetap absen, sementara waktu Jofan mengikuti kelas online karena dia berada di luar kota.” Malik tidak melihat Jofan dengan baik selama ini. ternyata dia laki-laki yang sangat disiplin dan pekerja keras. Pantas saja dia sangat pintar dan jadi siswa unggulan di sekolahnya. Ayu pintar dalam akademi tapi belum menyentuh ranah bisnis seperti yang Jofan lakukan saat ini. Sepertinya kecerdasan mereka menurun dari kedua orang tuanya.
Rey menarik Malik ke ruangannya agar bisa bicara berdua. Saat melihat Ayu sedang bersantai menikmati makanannya ditemani Ana, Malik bisa dengan tenang meninggalkannya.
“Apa yang terjadi di sekolah hari ini? Apa benar Kak Ferdinan mengundurkan diri?” Malik mengangguk, semuanya terjadi begitu saja. “Dia benar-benar meninggalkan tempat yang selama ini mengisi kekosongan hidupnya.” Rey merasa sedih mendengar kabar yang ternyata benar.
“Tapi Papah melakukannya dengan bangga. Dia bahagia berkorban demi putri yang dia kasihi.” Rey mengernyitkan dahinya tidak paham. Malik mengangguk membenarkan ucapannya sendiri.
__ADS_1
“Apa masalah ini berhubungan dengan masa lalunya?” Malik membuang nafasnya yang berat. “Kita mungkin merasa sedih melihatnya, tapi ini yang Kak Ferdinan harapkan. Dia sungguh ingin mendapat hukuman atas apa yang dia perbuat.” Malik meraih tangan Rey, menguatkan Rey agar tidak goyah dalam keadaan seperti ini.
“Masalahnya tidak berhenti sampai di sini Rey. Sekarang wartawan memburu berita tentang skandal yang mereka ciptakan.” Masalah yang lebih rumit.
“Skandal!”
“Ini berhubungan dengan pernikahanku dan Ayu. Mereka menggap aku mengencani gadis di bawah umur.” Rey mencerna setiap ucapan Malik dengan serius. “Mereka memintaku meninggalkan gadis di bawah umur yang aku kencani sebelum ini berdampak buruk bagi perusahaan.” Rey mengacak rambutnya karena kepalanya tiba-tiba terasa panas.
“Apa yang akan kau lakukan!” Malik menggeleng. Saat ini belum tau harus bagaimana menyikapi keadaan yang sedang terjadi. “Apa karena itu kau mau menitipkan Ayuna?” Malik menatap mata Rey yang memerah. Malik mengangguk, dia sendiri bingung karena merasa berat jau dari Ayu.
“Aku tidak bisa jauh darinya. Entah apa yang akan terjadi jika aku tidak melihatnya sebentar saja.” Matanya berkaca-kaca. Rey merasakan kesedihan yang Malik rasakan.
“Tapi jika ini jalan keluar yang terbaik tidak apa, kita harus melindunginya.” Kali ini Rey yang meraih tangan Malik. “Jangan memikulnya sendiri, kami semua bersedia membantu sebisa kami demi kebahagiaan dan keselamatan permata kami yang berharga.” Malik tidak bisa membendung air matanya.
“Masih ada satu masalah lagi yang aku rahasiakan dari Ayu.” Dada Rey bergemuruh, banyak sekali masalah yang menimpa Ayu. Malik menelan saliva nya membasahi tenggorokannya yang terasa kering. “Mbak Murni saat ini kriris. Ini masalah utama yang membuatku mengambil keputusan untuk menitipkan Ayu pada kalian.” Nama yang belakangan Rey dengar setelah bertemu di rumah sakit.
“Apa yang terjadi? Apa benar suaminya yang berbuat jahat padanya?” Malik mengangguk. Rey terduduk lemas tidak berdaya membayangkan kesedihan Ayu.
“Kau tau selama ini kita kesulitan mengumpulkan bukti kejahatannya, saat ini aku punya buktinya. Tapi semua ini tidak ada artinya jika kita akhirnya mebahayakan Ayu.” Rey sedikit marah.
Bruggg…..bruggg….bruggg…..
Suara keras dari langkah kaki seseorang yang berlari di tangga. Malik dan Rey segera keluar memeriksa apa yang terjadi.
“Kenapa berlari?” Rey meraih tangan Ana yang kehabisan nafas.
“Cepat susul Ayu, dia lari kencang keluar. Apa yang kalian bicarakan?” Ana mengeraskan suaranya karen dada nya masih terasa sesak. Malik spontan lari keluar tanpa tau arah tujuan. Rey mengikuti kemana Malik lari.
“Bos ada apa!” Aldo mencegat Malik yang lari dengan gontai.
“Kau darimana? Kenapa tidak menjaga Ayu. Apa yang kau lakukan!” Malik memaki Aldo yang baru saja selesai menerima telpon dari klien perusahaan. Aldo tidak membantah. Dia memang bersalah membiarkan Ayu tanpa pengawasan.
Rey menggeleng menatap Malik yang kebingungan. Tidak menemukan jejak Ayu dimanapun. “Kita berpencar, aku akan kea rah sana.” Malik meraih tangan Rey. Kali ini Malik tau kemana Ayu pergi. “Ada apa. Kita harus cepat!” Malik menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Dia dengar percakapan kita, pasti saat ini dia menuju rumah sakit.” Benar apa yang Malik katakan.
Segera Malik meminta Aldo menyusul Ayu ke rumah sakit. “Perhatikan jalanan, kita bisa saja menemukannya di jalan. Dia tidak membawa uang sepeserpun.” Malik khawatir Ayu bertemu orang jahat.
Benar saja, saat sampai di depan pintu masuk rumah sakit Ayu tampak sedang berbicara serius dengan supir taksi. Dia pasti meminta bayaran dan Ayu tidak punya uang. Malik segera keluar dari mobil dan berlari ke akar Ayu.
“Maaf Pak, terimalah.” Supir taksi yang mendapat bayaran lima lembar uang kertas berwarna merah merasa bahagia. Berulang kali berteriak berterimakasih meski Malik sudah berjalan jauh. Ayu tidak mau bicara pada Malik, ngambek karena Malik merahasiakan kebenaran tentang Mbak Murni.
Ayu memeluk Rey saat melihatnya dan menghempaskan tangan Malik. Malik merasa cemburu tapi tidak bisa menahan tawanya karena merasa lucu. Ayu tidak pandai marah, dia malah terlihat menggemaskan saat merajuk. Malik menciumi kepala Ayu yang saat ini sedang memeluk Rey, Malik sangat senang menggoda Ayu.
Rey tau Ayu sangat marah, tapi Malik melakukan semua ini demi melindungi perasaannya. Malik melakukan tugasnya sebagai seorang suami dengan sangat baik. Rey sampai tersentil perasaannya karena selama ini tidak cukup baik memperlakukan Ana. Dia sibuk dengan rutinitasnya tanpa memperhatikan kebahagiaan Ana.
“Jangan marah, dia sangat ketakutan saat kau tidak ada.” Rey berbisik di telinga Ayu. Ayu mendongak menatap wajah Kak Rey yang terlihat jujur. “Dia hanya ingin kau bahagia. Percayalah padaku. Aku bahkan iri ada laki-laki yang mencintaimu melebihi cintaku dan Jofan padamu.” Ayu kembali memeluk Rey, kali ini Ayu menyesal bertindak tanpa mempertimbangkan perasaan Kak Malik.
“Kita tidak bisa melihatnya sekarang, dokter melarang siapa pun masuk karena Murni butuh pemulihan.” Malik menghampiri Ayu dan Rey yang masih menunggu di luar rungan.
“Aku ingin melihatnya sebentar saja.” Memohon. “Please….” Malik menggeleng. Tidak ada toleransi kali ini. Ayu kembali manyun karena Malik bersikeras.
“Ini demi kebaikannya. Kita harus bersabar.” Malik gemas melihat wajah Ayu yang tidak bersahabat tapi terlihat cantik di matanya.
Malik mengelabui Ayu agar tidak memaksa melihat Murni dengan kondisinya sekarang. Ayu pasti akan sangat terpukul jika melihatnya saat ini.
“Kita tidak boleh memaksa, ada baiknya kita mengikuti saran dokter.” Ayu masih tidak mau beranjak, kakinya terasa berat meninggalkan ruang perawatan yang ingin sekali dia masuki. Menatapnya penuh kesedihan.
“Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja.” Malik tidak perduli lagi bagaimana hasil akhirnya, paling tidak Murni sudah berhasil melewati masa kritisnya meski masih belum ada harapan pasti tentang kondisinya.
Tiba-tiba saja lampu darurat menyala, dokter dan suster berlarian memasuki ruang perawatan, Ayu berdiri mematung kebingungan dengan apa yang semua orang ributkan. Tangannya terkepal erat menyembunyikan ketakutan dalam dirinya. Matanya menatap kosong.
Malik memeluk erat wanita yang sangat kecil tubuhnya tapi ujian hidupnya begitu luar biasa, Malik merasa dirinya belum tentu bisa menerima semuanya jika menjadi Ayu. “Semuanya akan baik-baik saja.” Malik kehabisan kata-kata.
“Iya, semua akan baik-baik saja.” Ayu tersenyum, tapi matanya terlihat menderita. Malik merasa takut dengan sikap Ayu. Tidak wajar dia tersenyum dalam keadaan seperti ini.
“Jangan pikirkan apapun, kita pasti bisa melewatinya.” Malik semakin ketakutan melihat Ayu tersenyum sendiri tidak jelas sambil menatap wajahnya.
__ADS_1
Tidak lama dokter keluar dari ruangan dengan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Dokter tersenyum, Malik lega tidak terjadi hal buruk seperti yang dia takutkan. Malik memeluk erat tubuh Ayu yang lunglai di pelukkannya. Tangisnya pecah setelah dia mencoba menahannya sekuat tenaga.
Malik tau senyumnya hanya pura-pura. Dia berusaha percaya tidak akan terjadi hal buruk pada orang-orang yang dia sayangi. Malik merasa tidak berguna saat melihat Ayu berulang kali menderita di hadapannya. Tidak seharusnya Ayu terus menderita karena Malik tidak bisa melindungi orang-orang yang dia sayangi.