Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 65 ( Kasih Sayang )


__ADS_3

Pagi ini Rama tidak bisa berpikir dengan jernih, hati nya terluka. Bahkan seisi rumah kena imbas akibat kemarahannya.


Saat sarapan, tiba-tiba saja seorang pelayan tersandung dan menjatuhkan gelas dari meja makan. Rama langsung naik pitam dan memaki dengan kata-kata yang tidak pantas.


Mamih merasa aneh dengan tingkah suaminya yang berlebihan hanya karena sebuah gelas. Gelagatnya sedari kemaren sudah tidak baik. Gelisah dan lebih banyak diam.


“Apa Ayah baik-baik saja?” Mamih sudah berdiri memeluk dan menenangkan laki-laki yang selama ini jadi tempatnya berlindung.


Rama menyenderkan kepalanya di kursi, rasanya sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perbuatan Malik seorang diri. Rama menarik tangan istrinya, menuntunnya untuk duduk dan mendengarkan apa yag akan Rama sampaikan.


Laki-laki ini kalo sudah begini rasanya membuatku takut dan ingin kabur saja. Semoga kali ini bukan beritan buruk yang akan dia sampaikan. Batin Mamih


“Apa kau menghubungi Malik belakangan ini?”Menatap netra istrinya yang masih cantik meski sudah termakan usia.


“Apa yang terjadi pada Anakku? Apa dia kecelakaan? Dia baik-baik saja kan?” Mamih terlihat sedih membayangkan apa yang terjadi pada putranya.


“Kau ini, jangan terlalu banyak menonton film-film tidak berkualitas. Otak mu jadi seperti drama isinya” Rama memang selalu senang menggoda istrinya. Mereka masih seperti pasangan remaja yang sedang di mabuk cinta. Mamih manyun karena merasa tersindir dan membuat Rama tersenyum.


“Kali ini Malik melakukan hal bodoh yang akan dia sesali seumur hidupnya” Rama menyodorkan tablet yang berisi video Malik dan Ayu.


Mamih terkejut bukan main. Dia membungkam mulut dengan kedua tangannya, tapi anehnya terselip senyum kebahagiaan.


“Kau sudah tidak waras? Kenapa kau tersenyum?” Rama berdiri, tidak percaya dengan reaksi yang Mamih tunjukkan.


“Apa aku salah” Mamih berdiri dan bertolak pinggang. Namun masih tersenyum dengan penuh kemenangan.


Rama mengacak rambutnya, dia pikir istrinya akan menangis histeris setelah melihat perbuatan anak yang selalu dia bangga-banggakan.


“Lihat apa yang anakmu lakukan. Kenapa kamu masih bisa tersenyum!” Rama mendaratkan tubuhnya di sofa.


“Aku pikir anakku selama ini tidak sehat. Aku pikir dia menyukai laki-laki” Mamih sudah duduk merangkul lengan suaminya.


“Maksudmu dia Homo?” Rama sedikit tersenyum. Ternyata istrinya memang selalu ampuh menjadi obat kegundahan hatinya.


“Iya, aku sangat bahagia dia masih waras. Ternyata anakku masih normal.” Mamih mendekap erat tangan kekar suaminya. Senyumnya lekat menghiasi wajahnya.


Kali ini Rama tidak bisa mengajak istrinya untuk mengkhawatirkan hal yang sama dengannya. Tidak tega rasanya setelah melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah cantik wanita yang selalu menemaninya dalam suka dan duka.


“Ayo kita ke apartmen Malik. Aku ingin memberikan selamat padanya.” Mamih langsung berlari ke kamar. Mempersipkan diri karena hatinya sangat bahagia.


“Pras.... Pras!” Rama masih bingung harus berbuat apa kali ini. Menghadapi kenakalan remaja tidak pernah terlintas di benaknya.

__ADS_1


“Iya Tuan. Kebetulan ada perkembangan baru tentang Bos Malik” Pras menggeser slide demi slide foto-foto yang dikirimkan Ed padanya.


“Siapa mereka? Kenapa mereka menemui Malik di apartemennya?” Rama sangat khawatir. Bagaimanapun dia harus melindungi anak semata wayangnya.


“Aldo yang sudah menjemput mereka. Dia tinggal di desa yang sama dengan Ayu. Ada kemungkinan besar mereka adalah orang tua Ayu Tuan.” Pras sebisa mungkin mempercantik kata-katanya agar Rama tidak terlalu terkejut.


“Apalagi yang Malik pikirkan. Kenapa dia sangat ceroboh.” Rama berdiri menyambar jaketnya. Mengalungkan syal di lehernya karena dia sedang tidak sehat akhir-akhir ini.


Tidak lama istrinya juga muncul sudah rapih dengan dandanan sederhana yang selalu di sukai suaminya. Mereka berjalan bergandengan, masih jelas gurat kebahagiaan di wajah Mamih.


“Sepertinya kita hari ini akan menemui calon besan kita”. Rama tersenyum.


“Apa?” Mamih memukul pelan lengan suaminya. Dia merasa bahagia karena tidak ada penolakkan dari suaminta tentang hubungan anaknya.


***


“Pak, Bu. Ada yang ingin saya bicarakan. Tapi sebelumnya saya minta maaf.” Malik tertunduk, tidak mampu menatap mata kedua orang tua Ayu.


“Ada apa?” Lia tersenyum karena terkejut dengan sikap Malik yang sangat serius. Hadi hanya membisu.


“Aku sangat meyesal Pak. Tidak bisa menjaga Ayu dengan baik” Tangan Malik mulai berkeringat. Menahan ketakutan yang hampir memenuhi pikirannya.


“Jangan berputar-putar. Katakan dengan benar. Apa yang kamu sesalkan? Ayu sudah baik-baik saja bukan?” Menatap Ayu yang berdiri di dapur.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” Hadi sangat khawatir dengan jawaban yang akan terlontar dari mulut Malik.


Lia hanya menangis meraih tangan putrinya yang sedang berlutut di hadapannya. Adam dan Sarah tidak tega melihat Malik yang begitu hancur. Tidak pernah sekalipun mereka melihat Malik selemah itu. Dia selalu terlihat dan bersikap berwibawa dalam segala keadaan. Tapi kali ini mereka melihat betapa lemah sahabatnya.


“Aku telah melakukan perbuatan tidak senonoh pada Ayu dan menodai dia.” Tangan Malik gemetar hebat.


Plakkkkk....


Hadi memukul Malik. Dia tidak mampu megendalikan emosinya. Mendengar putrinya telah direnggut kesuciannya membuatnya naik pitam.


Sudut bibir malik sedikit berdarah. Malik sampai tersungkur tapi lagsung berlutut lagi tidak bergerak. Apapun yang terjadi akan tetap Malik hadapi.


“Kau gadis nakal, apa yang telah kamu lakukan. Kamu sedang membuat tabungan neraka untukku?” Hadi menatap tajam ke arah Ayu.


Ayu hanya menggeleng. Mencoba meraih tangan Bapa, tapi di tangkis dan di tolak dengan kasar. Ayu semakin histeris melihat Bapa begitu marah padanya.


“Ayu tidak salah Pak. Ini semua kesalahanku” Malik tidak tega melihat Ayu begitu terluka.

__ADS_1


“Sejak kapan kamu berani melanggar hukum Agama mu? Kau sudah punya surga sendiri? Kamu sudah bisa berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah? Sampai-sampai perbuatan dosa kamu lakukan?. Jawab! Jangan hanya menangis!” Entah apa yang merasuki Hadi.


Dia tidak lagi mampu berpikir dengan jernih.


Ayu begitu terluka melihat Bapak marah dan menolak tangannya. Biasanya dia akan selalu bersikap hangat padanya.


“Aku minta maaf Pak.” Berkata tidak jelas karena menangis sesenggukkan.


Tiba-tiba saja Hadi berdiri, menyeret tubuh Ayu.


“Tolong Pak, jangan sakiti Ayu Pak. Ini semua salahku Pak.” Malik menahan kaki Bapak, tapi langkahnya tidak goyah.


“Tolong pak, maaf kan Ayu kali ini saja Pak. Dia masih remaja Pak!” Lia mencoba memohon ampun atas kesalahan putrinya.


“Diam kalian semua. Jangan ikut campur” Hadi bahkan menatap tajam pada setiap orang di dalam ruangan.


Hadi menyeret tubuh Ayu, memasukkannya kedalam kamar mandi yang sudah dia kunci dan mengguyur tubuh Ayu dengan air mengalir. Hadi menggosok kasar kepala, tangan dan kaki Ayu dengan sabun.


Ayu tidak berani mengaduh meskipun tangannya di beberapa bagian lecet karena kuku Bapak yang tajam. Dia hanya menangis merasa bersalah. Membuat bapak dan Ibu menanggung dosa karena perbuatannya.


“Ya Allah, maafkan dosa-dosa anakku ini. Dia sudah melewati batas. Dia melakukan dosa besar yang kau benci Ya Allah!” Bapak terisak.


Tubuhnya lunglai di sebelah Ayu. Tubuh mereka basah kuyup. Hanya tangis yang terdengar diantara keduanya.


“Pak, buka Pak. Tolong maafkan Ayu Pak. Buka Pak... tolong Pak” Lia terduduk lemas di balik pintu kamar mandi. Mencegah siapapun masuk ke dalam, dia tau betul suaminya tidak akan menyakiti anak kesayangannya.


Apapun yang dia lakukan hanyalah bentuk kaih sayangnya sebagai orang tua. Tidak ada orang tua yang mampu membenci anaknya, meskipun mereka melakukan kesalahan besar sekalipun. Kasih sayang orang tua selalu menyertai mereka.


“Maaf kan aku Bu.” Malik masih menggengam erat tangan Lia, ikut terduduk di balik pintu kamar mandi menunggu pintu itu terbuka.


Rama dan Mamih Ajeng mendengar semua percakapan mereka. Ada kebanggan karena anak nya sudah dewasa. Dengan gagah berani mengakui perbuatannya di hadapan kedua orang tua Ayu.


Rama menarik lengan istrinya, mencoba mencegah agar tidak ikut campur dengan urusan anaknya terlalu jauh. Mencoba membiarkan Malik menyelesaikan masalahnya seorang diri.


“Anakmu sudah dewasa. Aku bangga karena kamu mendidiknya dengan sangat baik.” Rama mengecup kening istrinya yang masih syok melihat Ayu di seret ke kamar mandi.


Selama ini Rama tidak memperhatikan pertumbuhan Malik. Waktunya banyak tersita dengan pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya.


Dia tidak menyadari memiliki putra yang sangat dewasa dalam mengambil setiap keputusan. Rama bahkan terkejut dengan kedewasaan yang Malik tunjukkan.


Selama ini yang dia lakukan hanya bertengkar dengan putra semata wayangnya karena selisih paham.

__ADS_1


Tidak ada yang mau mengalah. Padahal sikap dan sifatnya tebentuk karena meniru perbuatan Ayah nya.


__ADS_2