
Pagi hari menjelang, kicau burung bersautan menyapa surya yang siap bersinar.
Ayu kaget karena dirinya terbangun dan kamar yang ditempatinya sangat asing.
Matanya berkeliling mencari apapun yang dia kenali. Namun nihil, ini bukan tempat Ayu. Kamar ini sangat asing dan tidak pernah Ayu menempati kamar seindah ini.
Ayu melangkahkan kakinya, dia memberanikan diri mencari siapapun yang dia kenal. Dia berjalan sambil mengingat ingat kejadian semalam.
Mata Ayu membulat. Ayu ingat, terakhir kali dia sedang bersama Malik, dia dibawa Malik pergi dari pesta karena ada anak-anak yang berusaha mencelakainya.
Ceklek......( Ayu membuka Pintu kamar )
Matanya semakin terkejut menyaksikan pemandangan indah di hadapannya. Mata Ayu menikmati setiap inci ruangan. Mulutnya tidak berhenti terkagum-kagum, tangannya usil memegang ini dan itu yang menurutnya menarik dan unik.
Tiba-tiba saja ada tangan yang menyentuh pundak Ayu dari belakang, sontak Ayu membalikkan badan dan memukul orang yang menyentuhnya.
Bugggg..... ( Cukup keras pukulannya )
“ Awwww.....” Malik meringis, pukulan Ayu tepat mengenai dadanya yang bidang. Malik menggenggam erat tangan Ayu. Matanya menggoda Ayu dengan pandangannya, muka Ayu bersemu merah.
“ Lepasin Kak” Ayu meronta mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Malik.
“ Kita hanya berdua Yu. Kau tidak takut?” Malik menggoda Ayu. Dia tau betul Ayu akan ketakutan karena ulahnya.
“ Kak, jangan macam-macam. Atau aku akan lapor polisi” Ayu mencoba mengamcam Malik, padahal dia tidak tau kantor polisi ada dimana.
“Hehehehe.... (Malik terkekeh)” Sudah lepas tangan Ayu dari genggaman Malik
“ Kenapa Kak Malik tertawa” Ayu tau sekarang, Kak Malik hanya mengerjainya. Dia tau Ayu akan ketakutan dengan perlakuan Malik.
Ayu berjalan cepat meninggalkan Malik menuju pintu keluar, Malik langsung saja mengejar Ayu dari belakang dan menahan Ayu agar tidak pergi.
“ Ok...Ok....” Malik mengangkat tangannya tinggi “ Tolong jangan marah, aku hanya bercanda” Bibir Malik masih saja tersenyum, dia masih mengingat mimik muka Ayu yang ketakutan.
__ADS_1
“ Kak Ma....”. Ayu tidak sempat melanjutkan kata-katanya. Terdengar sura seseorang yang sedang memencet password pintu apartmen Malik.
Ayu dan Malik saling pandang. Hanya dirinya dan Mamih yang tau password apartmen Malik. Malik segera menarik Ayu dan membawanya kekamar Malik.
Malik bingung mondar mandir mencari tempat persembunyian yang aman dan nyaman. Tapi tidak ada, akhirnya Malik membawa bed cover dan memasangkanya di bathtub kamar mandi.
Tangan dan mata Malik mengisyaratkan agar Ayu masuk dan bersembuyi di dalam bathtub kamar mandinya. Tanpa pikir panjang Ayu pun masuk kedalam dan menidurkan badannya diatas bethtub.
“ Sayang Mamih..... dimana Nak” Mamih berkeliling karena tidak menemukan anaknya. Dia memutuskan masuk ke kamar Malik, benar saja. Mamih melihat Malik keluar dari dalam kamar mandi.
“ Mih, kenapa tidak memeberi kabar kalo akan datang?” Malik memeluk Mamaih yang baru saja tiba. Mamih menyudahi pelukannya, tiba-tiba saja dia ingin pipis.
“ Mamih ingin pipis, lepaskan Nak”. Mamih heran kenapa tumben sekali Malik memeluknya dengan sangat erat, tidak biasanya.
“ Tunggu Mih” Malik menarik kembali Mamih dan membawanya mejauhi kamar mandi.
“ Nak, Mamih bisa ngompol ini” Mamih tidak menghiraukan Malik yang terus-terusan berteriak memanggil namanya.
Cetrek... ( Mamih mengunci pintu kamar Mandi )
Akhirnya selesai sudah hajatnya, Mamih langsung saja melangkahkan kaki keluar kamar mandi setelah bercermin dan merapikan tatanan rambutnya.
“ Hachimmmm.....” Ayu sudah berusaha keras menahan, tapi bersin tidak bisa hilang. Dia kelepasan dan bersin tidak tau tempat.
Mamih kembali membalikkan badannya, dia mencari sosok yang mengeluarkan suara. Tidak ada siapa pun, bulu kuduk Mamih merinding. Ada suara tapi tidak ada wujudnya.
Setengah berlari membuka pintu kamar mandi dan berteriak. “ Nak...Nak....” Mamih memegang dadanya yang berdetak kencang.
****** aku, Mamih pasti lihat Ayu didalam kamar mandi ( Suara hati Malik ). “ Kenapa Mih, jangan lari nanti mamih jatuh”. Malik menangkap mamihnya yang berlari kearahnya.
“ Kamar mandi kamu angker, masa ada suara orang bersin tadi Nak”. Mamih masih ngos-ngosan. Malik tersenyum, senyumnya tertangkap oleh Mamih.
Mata Mamih menyelidik karena Malik malah tersenyum. “ Kamu mengerjai Mamih?” Mamih menatap tajam mata Malik.
__ADS_1
“ Tidak, lagian Mamih masih percaya saja hal-hal mistis” Malik menghindar dan melangkah keluar kamarnya. Aman guys.... gak jadi ketahuan.
Mamih mengekor dibelakang Malik, masih terngiang suara bersin yang jelas ditelinganya. Tapi kali ini Mamih tiba-tiba berpikir waras.
Bagaiman jika suara tadi adalah wanita yang Malik simpan? Kenapa tidak terfikirkan yah? Langkahnya terhenti, kakinya kembali melangkah kekamar mandi yang baru saja dianggapnya angker.
Krekkkk...... ( Mamih membuka pintu kamar Mandi )
“ Awwww” Malik menarik tangan Mamih cukup keras, sampai Mamih mengaduh kesakitan. Malik langsung saja membawa Mamih keluar dari kamarnya.
“ Kenapa kembali kesana? Kalo memang hantu itu mengincar Mamih bagaimana? Ihhhh......(Malik bergidik)” Malik mencoba mengalihkan perhatian Mamih.
“ Mamih sepertinya mencium bau-bau konspirasi” Mamih tetap kekeh dan bersikeras masuk kekamar mandi. Malik pun akhirnya membiarkan Mamih memenuhi hasratnya.
Mata Mamih berkeliling, tidak ditemukan siapa pun yang ada di kamar mandi. Semakin mencari, Mamih semakin penasaran. Tiba-tiba saja Mamih melihat selimut yang ada di bethtub.
“ Tumben sekali dia meletakkan barang sembarangan, biasanya dia akan menaruh semua barang-barangnya dengan sangat rapih” Mamih mengangkat selimut, netra matanya terkejut melihat Gadis cantik yang bersembunyi di bawah selimut.
“ Kau kah gadis yang disembunyikan Malik?” Tangan Mamih membantu Ayu berdiri, terlalu lama bersembunyi sampai Ayu kedinginan.
Ayu hanya tersenyum, bingung harus berbuat apa. Sebenarnya Ayu juga tidak tau alasan kenapa dia harus bersembunyi.
“ Malik.....Nak....” Mamih bangga karena sudah menemukan apa yang disembunyikan anaknya. Senyum lebar menghiasi bibirnya.
Malik sudah pasrah kali ini, Mamih memang tipe orang yang tidak akan menyerah jika sudah menginginkan sesuatu.
“ Ini gadis cantik yang Aldo ceritakan?” Mamih menarik tangan Ayu mendekapnya. Mamih tersenyum, matanya menyelidik.
“ Dia Ayuna Mih”. Malik menarik tangan Ayu membawanya agar Ayu berdiri dibelakangnya. Malik tau saat ini Ayu sedang kebingungan.
“ Apa yang kalian lakukan disini berdua?” Mamih tersenyum melihat wajah keduanya yang bersemu merah.
“ Tidak ada” Malik membalikkan badan dan menyuruh Ayu untuk duduk. Malik merasakan hawa dingin dari tubuh Ayu.
__ADS_1
“ Kau kedingininan?” Malik memegang kening Ayu, wajahnya tampak pucat pasi.
“ Kau tidak apa-apa?” Mamih masih saja mengganggu Malik dan Ayu. Dia merasa anaknya saat ini benar-benar jatuh cinta pada gasis cantik yang penampilannya jauh berbeda dari teman-teman Malik lainnya.