Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 69 ( Kebenaran Yang Terungkap )


__ADS_3

Para tamu undangan kini satu persatu sudah meninggalkan rumah Rama Saputra. Tinggal beberapa keluarga dekat yang masih asik membicarakan bisnis dan seputar kenangan masa lalu antar keluarga.


Ayu merasa sedikit canggung, obrolan orang-orang yang sangat berkelas dan sulit di cerna oleh otak Ayu yang tidak berwawasan luas tentang bisnis.


Malik melihat Ayu yang memaksakan senyum menghiasi wajah cantiknya. Mencoba tersenyum padahal entah apa yang membuat mereka semua tertawa bersama.


“Kau lelah?” Malik berbisik di telinga Ayu. Membuat Ayu sedikit bergidik.


Malik menuntun Ayu ke kamar setelah berpamitan dengan anggota keluarga yang lain.


“Duduklah, aku akan membantu kamu membuka benda-benda yang masih menempel di kepala. Itu pasti sangat berat kan?” Malik mendudukan tubuh Ayu yang sudah sedikit lunglai.


“Aku sangat lelah, apa Kak Malik tidak lelah?” Ayu membiarkan Malik mencopot segala macam benda yang menempel di kepalanya.


“Tentu saja aku lelah, seharian aku tersenyum sampai gigiku rasanya kering.” Malik memamerkan gigi nya yang tersusun rapih. Membuat Ayu tertawa akan kekonyolan yang Malik tunjukkan.


“Apa kita masih bisa jadi sahabat baik? Biasanya pasangan suami istri itu akan lebih banyak waktu berdebat daripada saling mendukung.” Ayu penasaran dengan jawaban Malik.


“Tentu saja bisa, kita akan menciptakan rumah tangga yang penuh dengan keharmonisan. Meskipun pernikahan kita masih tidak bisa kita buka di awak media.” Malik menaruh mahkota kecil diatas nakas setelah bersusah payah membuka peniti yang mengapitnya agar tidak terjatuh.


“Aku harap jangan sampai ada yang tahu. Aku bisa malu kalo ketahuan sudah bersuami, padahal aku masih kelas 2 SMA.” Ayu sedikit meninggi.


“Kau marah?” Malik menatap Ayu dengan tajam. Ayu beringsut mundur selangkah melihat mata Malik yang begitu menakutkan.


“Mana berani aku marah pada Kak Malik, Hehehehe......” Ayu tertawa mengusir kecanggungan. Dada nya bergemuruh menahan rasa malu.


“Istirahatlah, kau pasti sangat lelah.” Malik berlalu setelah mencium puncak kepala Ayu dengan penuh kelembutan.


Ayu sedikit kaget dengan perlakuan Malik yang begitu manis padanya. Dadanya sekali lagi bergemuruh tidak menentu. Untuk kesekian kalinya Ayu jatuh hati pada laki-laki yang selalu menjaganya dengan baik selama ini.


Malik menyenderkan tubuhnya di balik pintu setelah menutup pintu kamar. Masih tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan. Melihat Ayu yang diam mematung membuat hati Malik sedikit malu.


Kenapa tangan dan mulutku ini tidak bisa di kontrol. Padahal aku sudah berjanji akan menunggu sampai Ayu yang memintanya sendiri. Malik mengutuki dirinya sendiri.


Malik menyapa kedua orang tua Ayu yang saat ini sedang duduk di taman. Masih tersisa air mata di pelupuk mata Lia. Matanya terlihat sedikit sembab dan wajahnya sedikit lusuh.


“Apa aku boleh bergabung?” Malik


“Tentu saja Nak. Duduklah.” Lia menggeser sedikit kursi yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


“Ayu sudah istirahat? Dia pasti sangat lelah hari ini.” Hadi menatap Malik dengan mata yang sudah bersahabat. Mencoba menerima laki-laki di hadapannya sebagai pendamping hidup putrinya.


“Ayu sudah saya antarkan ke kamar Pak. Saya harap Bapak dan Ibu bisa percaya pada Malik. Aku berjanji akan mencintai Ayu dengan sepenuh hatiku Pak, Bu.!” Malik meraih tangan Bapak dan Ibu. Menggenggamnya erat menyalurkan tekadnya.


“Ayu sering menceritakan Nak Malik. Kamu sosok yang sangat Ayu kagumi selama ini.” Lia berkaca-kaca karena jalan yang begitu terjal harus putrinya tempuh.


“Ayu tidak pernah bercerita pada Bapak” Hadi sedikit kaget karena selama ini Ayu hanya menceritakan keadaannya dan sekolahnya saja. Tidak pernah membicarakan soal pria.


“Tentu saja tidak, Bapak kan suka menangis jika Ayu bercerita panjang lebar. Selalu saja beralasan akan pergi, mau kerja, ada tamu.... apalagi yah.” Lia terlihat sedikit berpikir keras.


“Kau ini.” Hadi mencubit hidung istrinya yang menggemaskan di matanya.


Malik bahagia melihat keharmonisan kedua orang tua Ayu. Sama seperti kedua orang tuanya yang selalu harmonis meskipun sudah tidak muda lagi.


Saat mereka sedang asik bercanda tawa, tiba-tiba saja Ferdinan datang menghampiri mereka. Dia berlutut di hadapan mereka dan sontak membuat Malik dan Hadi kaget. Tangan Lia gemetar melihat sosok laki-laki yang sudah dia kubur dalam hadir dan begitu dekat dengan putrinya.


“ Kepala Sekolah kenapa berlutut di hadapan kami. Ada apa ini?” Malik mencoba membantu Ferdinan berdiri. Namun Ferdinan tidak bergeming, ternyata permohonan maafnya bukan untuk dirinya.


Lia menarik tangan Hadi dan mencoba membujuknya agar meninggalkan Ferdinan yang masih berlutut. Hadi merasa curiga dengan sikap istrinya seharian ini. Dia terlihat murung dan tidak bersemangat.


“Jelaskan ada apa ini.” Hadi masih duduk dan mencoba terlihat tenang. Padahal hatinya sangat gundah gulana jika benar laki-laki yang ada di hadapannya adalah Ayah kandung Ayuna.


“Tolong beri saya kesempatan untuk mencintai putri saya.” Suara Ferdinan bergetar. Malik yang berdiri di belakang Ferdinan masih tidak mengerti dengan situasi ini.


Hadi mencoba menenagkan Lia. Memberikannya pelukan agar amarahnya sedikit melunak. Selama ini Hadi mencoba menutupi dari setiap orang siapa Ayu. Hadi sangat mencintai Ayu seperti darah dagingnya. Sampai-sampai tidak ada satu orang pun yang tau jika Ayu bukan anak kandungnya.


Deg...


Malik sangat terkejut mendengar penuturan Ferdinan dan juga Lia. Rasanya dunia begitu kejam pada gadis yang sangat dia cintai. Ayu akan sangat terluka jika tau kebenaran siapa dirinya. Malik hanya membisu, tidak tau harus berbuat apa.


“Boleh kah Tuan duduk dengan kami. Kita harus membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.” Hadi mencoba meraih tangan Ferdinan. Bagaimanapun ini bagian hidup yang harus Hadi dan keluarganya lalui.


“Jangan menyentuh tangannya.” Lia menarik tangan Hadi dari lengan Ferdinan. Mata lia masih memancarkan kemarahan.


“Kita ini bukan anak-anak kecil yang menyelesaikan masalah dengan emosi. Berpikirlah dengan jernih, kita harus pikirkan perasaan Ayu dan juga keluarga Tuan.” Hadi mencoba bertindak bijaksana. Padahal dalam dirinya terbersit ketakutan jika putrinya akan dia ambil begitu saja.


“Saya Ferdinan.” Ferdinan memeluk Hadi dengan erat. Menyalurkan rasa terimakasih nya karena selama ini sudah menjaga dan mengasihi putri kandungnya.


“Tuan, saya minta maaf jika saya lancang. Tapi putri saya baru saja lepas dari masalah besar dalam hidupnya. Dia baru saja di hukum karena perbuatannya.” Hadi menapat lekat netra Ferdinan yang berkaca-kaca.

__ADS_1


“Saya paham, saya hanya ingin Putri saya tau bahwa saya adalah Ayah kandungya.” Ferdinan masih bersikeras dengan keinginannya.


“Jangan bermimpi. Dia bukan putrimu.” Lia mendorong tubuh Ferdinan agar menjauh dari suaminya. Hanya ada kebencian dalam diri Lia.


“Tolong jangan kasar. Tenang lah.” Hadi meraih tangan Lia dan membawanya berdiri di belakang tubuh Hadi agar tidak kembali menyerang Ferdinan.


“Kami suatu saat akan menceritakan semua ini. Tapi tidak hari ini, berikan Ayu sedikit waktu sampai dia siap menerima kenyatan ini.” Kali ini Hadi memohon.


“Aku sudah mencari mereka selama ini. Aku menyesal, aku ingin memperbaiki semuanya.” Ferdinan kembali terisak.


“Jangan pernah bermimpi. Jangan pernah muncul di hadapan Ayuna. Dia tidak akan menerima orang lain sebagai Ayah nya selain suami saya.” Lia menarik paksa Hadi dan meninggalkan Ferdinan bersama Malik yang masih tercengang dengan apa yang dia saksikan.


“Kau bertemu dengnnya hari ini?” Hadi memeluk erat tubuh Lia yang sudah terduduk lemas di tepi kasur. Hanya ada air mata yang menganak sungai.


“Aku tidak mau Ayu bertemu dengannya Pak.” Lia memohon agar Hadi mengabulkan permintaannya.


“Tidak semudah itu. Ayu tetap anak kalian berdua sampai kapanpun. Dan Ayu berhak tau.” Hadi mengusap puncak kepala Lia dengan lembut.


“Tapi kenapa mereka ada di jarak sedekat itu tanpa aku tau.” Lia membayangkan jika Ferdinan sudah jauh meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Ferdinan, Malik mencoba mencari tau kebenaran dari kedua orang tua Ayuna. Malik masih sedikit bingung dan masih tidak percaya sampai tenggelam dengan pikirannya sendiri.


Tok...Tok...Tok...


“Apa aku bisa mencari kebenaran? Aku sangat tidak mengerti dengan semua ini.” Malik masih berdiri di depan pintu kamar yang sudah dia buka.


“Masuklah nak. Jangan sampai Ayu tau pembicaraan ini.” Hadi menarik tangan Malik dan kemudian membawanya duduk di sofa yang ada di kamar.


“Semua yang kamu dengar adalah kebenaran. Ayuna bukan anak kandungku. Dia anak kandung dari laki-laki yang baru saja kita temui.”


“Apa selama ini Ayu tau jika Bapak bukan Bapak kandungnya?” Malik khawatir Ayu akan hancur jika mengetahui kebenarna ini.


“Tidak Nak. Selama ini Bapak dan Ibu tidak sanggup menceritakannya. Kami pikir hal ini tidak akan pernah kami ungkapkan sampai kapan pun.” Hadi tertunduk, dia menyayangi putrinya dengan sepenuh hati.


“Tolong jangan sekarang. Ayu masih sangat rapuh. Dia pasti akan hancur jika kalian menceritakannya sekarang.” Malik memohon dengan penuh harapan.


“Aku bahkan tidak pernah siap jika harus membritahukan kebenaran ini. Aku tidak mau melihat Ayu hancur karena rahasia yang kami pendam.”Hadi menggenggam tangan Malik.


“Kita akan menunggu waktu yang tepat. Saat Ayu siap dan hatinya sudah mau membuka diri dengan keadaannya saat ini.” Hadi tau saat ini Ayu melakukan pernikahan karena dirinya.

__ADS_1


“yah, kita harus menjaga perasaan Ayu. Aku sangat takut jika harus melihat dia kembali menangis dan tidak berdaya.” Malik memeluk Hadi dengan penuh terimakasih.


Lia hanya mampu menyesali keputusannya membiarkan Ayu pergi meninggalkannya dan menetap di Jakarta. Seharusnya dia tahu keputusannya membawa Ayu begitu dekat dengan kebenaran akan siapa dirinya yang selama ini tersimpan rapat.


__ADS_2