Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 95 ( Lissa Kembali )


__ADS_3

Malik selalu bahagia saat melihat Ayu tertidur. Wajahnya membuat Malik tenang, membuat rasa cinta nya bertambah besar setiap menatapnya.


Ayu menggeliat, dengkulnya terasa sakit dan kram. Malik menyipitkan matanya, Ayu terlihat tidak nyaman memegang kedua lututnya saat bangun.


Malik berjalan dari meja kerjanya, mendekati Ayu yabg masih setengah sadar karena baru saja terbangun dari tidur singkatnya. Malik menyingkap rok yang Ayu kenakan, spontan Ayu mendorong tubuh menjauh darinya. Malik sampai jatuh terduduk.


"Awwwwww...kenapa memukul ku?" Bangkit degan cepat merasa terkejut melihat respon Ayu atas tindakannya.


"Kenapa membuka rok ku." Ayu sudah menaikkan kedua kakinya di atas sofa.


Sebenarnya Ayu takut karena memukul Kak Malik cukup keras. Tapi tangannya selalu saja bertindak lebih cepat dari kesadarannya. Deru nafas Ayu tidak beraturan, kali ini dia benar-benar berfikir dalam keadaan bahaya.


"Kenapa menatapku seperti itu." Malik merasa canggung.


"Kak Malik yang membuatku terkejut." Ayu melunak, tidak ada yang salah dengan tindakannya. Dia bahkan tidak pernah bertindak diluar batas sesuai janjinya.


"Kau ini. Pikiranmu dipenuhi hal-hal jorok." Malik mengetuk pelipis Ayu pelan sambil tersenyum nakal. Ayu sudah mulai dewasa dan memikirkan banyak hal tentang dirinya.


Malik kembali menarik kaki Ayu, membuka rok yang Ayu gunakan dengan paksa karena Ayu menahan nya cukup kuat. Malik tersenyum melihat Ayu yang memejamkan mata dengan raut wajah penuh ketakutan.


Dasar gadis kecil. Bisa-bisanya dia berpikir yang tidak baik padaku. Kalau aku mau, sudah aku lakukan sejak lama. Malik berbicara dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa ini robek?" Malik memeriksa dengkul Ayu. Mata nya membulat melihat dengkul Ayu yang terluka, tidak terlalu parah. Tapi Malik tau ini pasti ada kaitannya dengan Ayu yang menangis tadi sore.


"Maaf, aku tadi tidak sengaja jatuh saat jalan Kak." Merasa tidak nyaman. Kak Malik pasti akan menyalahkan dirinya.


"Aku sudah pernah bilang, jangan mencoba membohongiku. Jika belum siap bercerita, lebih baik jangan cerita. Tapi jangan berbohong." Malik berlalu meninggalkan Ayu di ruangan kerjanya.


Malik mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan karena menahan emosi. Perasaan bersalah yang memuncak membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya. Malik berusaha menahannya di depan Ayu, tapi melihatnya terluka membuat Malik sangta terpukul.


Setelah berhasil memangkan diri, Malik mencari kotak p3k di meja Rera yang sudah kosong. Rera dan Aldo hari ini Malik perbolehkan pulang lebih awal karena Malik ingin berduaan bersama Ayu.


Bruggg....


Pintu terbuka dengan sangat keras, membuat jantung Ayu berdetak sangat cepat. Kak Malik pasti sangat marah, aku sering kali terluka membuat Kak Malik merasa bersalah.


Tidak keluar sepatah katapun, Malik hanya mengoleskan salep luka dan memberikannya plester.


Malik kembali ke mejanya merapihkan dokumen yang masih berantakan di atas meja. Menyusunnya dengan rapih sesuai dengan list yang harus Malik kerjakan keesokan paginya.


Ayu tidak berani menatap Malik, udara dingin memenuhi ruangan sampai menusuk ke dada. Ayu tidak berani menceritakan apa yang sudah terjadi, Kak Oji selama ini sangat baik. Mungkin dia hanya belum bisa menerima kenyataan Ayu sudah dengan orang lain. Pikir Ayu.

__ADS_1


"Ayo. Kita makan malam di luar sebelum pulang." Malik meraih tangan Ayu membuyarkan lamunannya.


Malik sudah kembali bersikap lembut. Mencium kening Ayu karena menyesal membuatnya terluka dan ketakutan dengan kemarahan yang tidak di tujukan padanya.


"Jangan takut padaku, aku tidak marah. Kamu tau, aku sangat sakit melihat kamu terluka. Tolong katakan apapun. Jangan menyimpannya sendiri. Pelan-pelan saja, tapi Ayu harus membiasakan diri." Memeluk erat tubuh kurus Ayu.


"Apa aku membuat Kak Malik kesulitan?" Perkataan Kak Malik menusuk relung hati Ayu. Membuat emosinya tidak terkontrol dan tidak bisa menahan air matanya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Malik mengusap air mata yang berderai di pipi Ayu. Mengusapnya dengan lembut penuh kasih sayang.


"Kamu sangat berarti bagiku. Jangan terluka, jangan sakit." Malik tenggelam dengan emosinya.


"Aku akan lebih hati-hati Kak." Ayu tersenyum meski air mata tidak berhenti mengalir.


"Bukan Ayu yang harus berubah, aku yang akan berubah. Kamu harus bahagia Ayuna. Hanya itu yang aku harapkan." Malik menangkup wajah Ayu dengan kedua tangannya kemudian memeluknya kembali dengan erat.


"Aku bahagia." Giliran Ayu yang membalas pelukan Malik erat.


Setelah siraman cinta yang cukup panjang, Ayu dan Malik memutuskan untuk makan malam mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


Padahal Ayu belum lama makan, tapi mendapat tawaran untuk makan di restaurant terkenal tidak membuatnya ingin mencoba. Harga makanan yang sangat mahal, pasti rasanya juga sangat enak. Ayu bahkan tidak bisa membayangkannya.


***


Malam itu Zaldi gelap mata, sudah tidak ada lagi belas kasihan ataupun pengampunan. Baginya perbuatan Lissa sudah tidak bisa di toleransi meskipun Ayu dan Malik memaafkannya.


Lissa begitu terpukul harus menjalani hidup penuh keterpurukan beberapa bulan ini. Semua fasilitas yang biasanya dengan mudah dia nikmati di renggut. Tidak sepeserpun Zaldi memberikannya uang. Dia hanya menerima makanan dan minuman secukupnya layaknya hidup di penjara.


Tidak di per bolehkan keluar dan dijaga oleh beberapa orang body guard di depan kamar kosan yang sangat kecil. Tidak ubahnya sebuah penjara bagi para kriminal. Zaldi berharap Lissa akan berubah dan jera, tidak mengulangi lagi kesalahan yang membuat keluarganya hancur secara tidak langsung.


Setelah kejadian itu Rama memutuskan kerjasama perushaan yang sudah terjalin lama. Rama membuat keputusan sulit dalam hidupnya untuk membuat siapa pun tidak mengambil resiko berhubungan degan keluarganya.


Jika Rama tidak mengambil tindakan atas perbuatan Lissa. Rama pasti akan dianggap enteng oleh siapapun nantinya.


Perusahaan Zaldi terpuruk, dia harus merintis dari awal lagi. Mencari perusahaan lain untuk bekerjasama dengan perusahaannya.


Sungguh hukuman yang Zaldi berikan pada Lissa masih terbilang ringan. Masih ada kasih sayang seorang Ayah yang begitu besar.


“Selamat datang Nak.”Nata memeluk tubuh Lissa yang terlihat lebih kurus dari sebelumya. Nata bahkan tidak bisa menemui Lissa selama beberapa bulan terahkhir.


“Lissa, aku sangat rindu. Setelah ini kita akan menata semuanya bersama-sama ya sayang.” Klara memeluk Lissa, di susul Nata yang memeluk kedua anaknya.

__ADS_1


Betapa keluarga yang saling mencintai terpisah karena kesalahan Lissa. Mereka sudah memaafkan semua perbuatannya, kini tinggal bagaimana Lissa menata kembali masa depannya.


“Apa kalian sudah memaafkan aku? Aku pasti membuat kalian kesulitan!” Lissa meneteskan air mata palsu.


Saat ini yang ada di dalam hati kecilnya bagaimana membalas Ayu. Tidak akan membiarkan Ayu bahagia dan hidup tenang setelah apa yang dia lalui. Lissa berjanji akan membuat Ayu menyesal telah membuatnya menerima perlakuan tidak menyenangkan.


Nata menyipakan begitu banyak makanan lezat, putrinya pasti selama ini tidak makan dengan baik. Tubuhnya bahkan tidak terlihat sehat. Nata harus membuat Lissa bisa melupakan rasa bersalahnya.


Tidak ada pembicaraan di meja makan, masih canggung karena Zaldi masih bersikap dingin pada Lissa. Semua orang diam, menjaga perasaan satu sama lain agar hari ini tidak ada perdebatan. Membiarkan semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


“Jangan mengulangi kesalahan konyol seperti itu lagi. Semua itu perbuatan orang-orang tidak berpendidikan.” Zaldi berlalu meninggalkan meja makan.


Lissa tidak menjawab perkataan Zaldi, wajahnya merah padam karena emosinya memuncak. Nata yang melihat sikap suaminya sedih, ternyata memaafkan bukan perkara yang mudah bagi Zaldi.


“Jangan di ambil hati Lissa, Papa hanya sedang tidak dalam kondisi baik. Kamu mengerti kan bagaimana Papa!” Klara menggenggam tangan Lissa menguatkan.


Lissa hanya mengangguk, membuat semua orang percaya kalau dirinya saat ini adalah orang yang baru. Bukan Lissa lama yang penuh amarah.


***


Pagi ini Melani terlihat terburu-buru lari menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang bercanda tawa di depan kelas.


“Teman, lihat pengumuman yang ada di mading.” Mengatur nafasnya yang tersenggal karena berlari cukup jauh.


“Ada pengumuman apa? Kamu sampai berlari begitu.” Jogan menyodorkan botol minumnya. Melani terlihat sangat kehausan.


Melani menenggak air sampai tandas tanpa sisa. Membuat ketiga sahabatnya heran, menggelengkan kepala tidak habis pikir.


“Kita akan ada camping minggu depan.” Ketiga sahabatnya tidak merespon. Mereka hanya mendengarkan tanpa ada protes sedikitpun.


“Kenapa tidak antusias? Apa camping ini tidak menarik?” Melani sedih tidak mendapat tanggapan yang antusias.


“Jangan sedih, kita semua sudah tau kalau minggu depan kita akan ada camping.” Sandra merangkul Melani ke pelukannya. Ayu ikut memeluk kedua sahabatnya.


“Aku rasanya tidak sabar menunggu minggu depan.” Melani begitu antusias.


“Aku juga sama, kita harus bawa banyak makanan supaya bisa menemani kita bergadang.” Sandra juga bahagia.


“Kenapa? Kamu tidak senang?” Jofan menangkap wajah Ayu yang terlihat sedih. Memang saudara kandung, jadi ikatannya sangat kuat.


“Ah tidak, aku hanya merasa Kak Malik tidak akan mengijinkan aku pergi.” Ayu pesimis.

__ADS_1


“Tenang saja, aku akan bicara padanya. Kita semua pasti bisa datang.” Jofan mencoba menghibur Ayu.


Melani dan Sandra juga ikut terbawa suasana, membayangkan jika Ayu sampai tidak bisa hadir dan tidak ada di tengah-tengah mereka.


__ADS_2