
“Ayah! Apa yang sebenarnya kalian bicarakan. Kalian membuat Ayu sangat tertekan.” Rey marah pada Rama dan Ferdinan yang sedang duduk bersama di dalam kamar Rama.
“Jangan salah paham, duduk dulu Nak.” Ferdinan bicara sangat lemah lembut. “Ayu sepertinya hanya mendengar satu potong saja. Dia tidak mendengar seluruh pembicaraan kami.” Rey duduk dengan wajahnya yang masih bertekuk-tekuk.
“Benar Nak Rey, kami justru sedang membicarakan keselamatan Malik yang berhasil lolos dari incaran orang-orang jahat yang ingin merebut file yang sedang ada di tangannya.” Rey mengangguk paham, Ayu tidak beruntung karena mendengar bagian tidak menyenangkan dari pembicaraan yang sedang Rama bahas. “Mobil Malik meledak, kami sempat khawatir. Tapi kami bersyukur Malik tidak ada di sana. Dia sudah berhasil pergi sebelum orang-orang jahat itu meledakkan mobil Malik.” Rey bernafas lega mendengar Malik selamat.
“Rey, ternyata kita sedang tidak menghadapi bahaya kecil. Kita semua terancam, kita harus hati-hati dan secara diam-diam pergi dari rumah ini agar tidak jadi sasaran empuk oleh mereka.” Rama terlihat sangat serius.
“Aku punya tempat nyaman meski tidak sebesar ini. Bagaimana kalau kita keluar dari sini secepatnya. Aku jadi khawatir mendengar Ayah bicara seolah itu benar-benar akan terjadi.” Rama tersenyum, dia pasti takut karena selama ini Rey selalu menjaga dengan baik semua orang-orang yang sangat dia sayangi.
“Tenang saja, Ayah sedang mempersiapkan semuanya agar kepergian kita tidak di curigai.” Rama tersenyum bahagia mendapat persetujuan dari Rey.
“Maaf karena aku benar-benar salah paham. Aku marah karena kalian membuat adik kesayangan ku bersedih hati.” Ferdinan menepuk pundak Rey dengan penuh kebanggaan. Benar-benar kehangatan sebuah keluarga yang selama ini sangat Ferdinan rindukan.
Andai Lia ada di sini, dia pasti akan sangat bahagia melihat kebahagiaannya. Lia tetap jadi belahan jiwa Ferdinan meski raga mereka tidak bisa bersama, Ferdinan melepaskan Lia agar dia tidak tertekan oleh dosa yang Ferdinan lakukan. Ferdinan tidak mau Lia menderita karena melihat penderitaannya.
“Fer, jangan bersedih hati. Kita benar-benar beruntung punya anak-anak yang sangat baik dan menyayangi keluarganya.” Rama tau Ferdinan tenggelam dalam isi pikirannya. “Kita bisa menariknya lagi jika kau mau. Jangan menyiksa diri dengan alasan demi kebahagiaannya.” Ferdinan hanya tersenyum karena dia sangat tau isi hatinya.
“Tuan....Maaf saya mengganggu. Semua armada sudah siap Tuan.” Seorang petugas keamanan menyampaikan laporan pekerjaan yang sudah siap dilaksanakan.
“Jangan sampai ada yang mengikuti kita. Kalian sudah paham apa yang harus kalian lakukan?” Petugas mengangguk siap dengan instruski yang sudah di perintahkan.
Semua orang berkumpul di ruang tamu termasuk Ayu yang masih terlihat murung dengan mata bengkaknya di pelukkan Mamih. Rama mengecup puncak kepala putri kesayangannya yang masih bersedih.
“Kenapa kau masih terlihat sedih.” Ayu mengeratkan pelukannya pada Mamih, menghindari tatapan mata Rama yang tajam. “Kau tidak percaya dengan ucapan Ayah!.” Mamih menyingkirkan tangan Rama yang menggoda putrinya. Dia melotot kan matanya pada Rama yang masih tidak mau menyingkir juga.
“Ayah, kenapa kau tidak pergi saja. Kau menggoda putri ku saja bisanya.” Mamih memeluk erat dan pindah tempat agar tidak dekat dengan Rama.
“Mamih ingat! Dia juga putriku.” Rama bicara sambil tersenyum meledek pada Mamih. Semua orang hanya ikut tersenyum melihat Rama dan Mamih yang saling berselisih karena memperebutkan Ayu.
Tidak lama semua sudah masuk ke dalam mobil, gerbang utama dibuka dan mobil-mobil pertama yang akan memancing semua mata-mata agar terkecoh. Setelah dipastikan keadaan aman, mobil yang Rama dan keluarganya tumpangi melaju ke tempat yang sudah Rey siapkan.
Tidak lama mereka sudah sampai di rumah yang sangat nyaman, ada danau kecil yang menghiasi pekarangan rumah menjadi terlihat sangat indah dan enak di pandang mata. Banyak bunga-bunga indah bermekaran yang warnanya samar karena kegelapan malam namun menebarkan wangi yang sangat enak di hirup wanginya.
__ADS_1
“Kak Ana, rumah mu sangat nyaman.” Sandra dan Melani kagum melihat keindahan rumah yang mereka datangi.
“Kalian akan sangat suka pemandangan pagi di sini. Sangat indah.” Ana memamerkan perasaan bahagianya. “Besok kalian harus bangun pagi yah, kita lihat matahari muncul bersama-sama.” Sandra dan Melani antusias, pasti akan sangat indah.
“Banyak sekali bunga-bunga yang indah.” Masih saja terkagum-kagum melihat rumah Ana yang sangat indah.
“Kalian tidak mau masuk. Di dalam juga sangat indah.” Ajak Rey sambil menggendong Mahesa yang terlelap di gendongannya.
Sandra dan Melani bergegas berlari memasuki rumah Rey yang sudah terbuka lebar. Ana dan Rey sampai menggeleng heran dengan tingkah mereka. Tapi karena mereka suasana jadi ramai dan ceria. Sandra menggandeng tangan Ayu agar ikut menikmati kebahagiaan yang mereka rasakan.
“Lihat Yu, itu sangat indah. Dimana Kak Rey membelinya.” Melani berteriak melihat kursi cantik yang tergantung di tiang rumah. Tanpa ragu Melani mencobanya. Sandra tidak mau kalah, dia juga dengan antusias ingin mencoba kursi ajaib yang sangat unik.
“Heyyyyyy.....! Kenapa kalian sangat memalukan.” Jofan berteriak merasa heran dengan kehebohan yang tercipta karena 3 wanita yang sangat kekanakan. Ketiganya merendahkan suara mereka agar tidak berisik.
“Kau ini, jangan marah-marah!” Ana marah karena Jofan tidak bisa menjaga emosinya. “Biarkan saja mereka menikmati rumah Kak Ana yang indah.” Ana ikut bergabung bersama tiga gadis muda yang saat ini terdiam karena ulah Jofan.
Entah apa yang membuat hati Ayu tiba-tiba mengingat keadaan Malik yang entah ada dimana saat ini. Ayu menutup wajahnya yang menangis tiba-tiba padahal suasana sedang ceria. Ana yang melihat Ayu menangis langsung memeluknya.
Ayu menangis tersedu-sedu di pelukkan Ana. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulut Ana, dia hanya memberikan pelukkan hangat bagi adiknya yang sedang bersedih hati. Ana meminta semua orang tidak mendekat dan membiarkan Ana menenagkan Ayu yang saat ini masih menangis. Rama membawa Mamih ke kamar agar membiarkan Ayu meluapkan perasaannya tanpa rasa malu.
Suara tangisan Ayu semakin kuat saat tau yang memeluknya saat ini adalah Malik. Suara tangisnya mereda setelah Malik menggendongnya ke halaman rumah di pinggir danau. Malik membelai lembut puncak kepala Ayu dengan penuh perasaan cinta. Malik memeluk erat kembali tubuh Ayu dengan hangat.
“Maaf karena aku terlalu lama meninggalkan mu.” Malik menatap wajah Ayu yang menunduk dengan sedih. Malik mengangkat dagu Ayu agar menatap wajahnya.
“Jangan bersedih, aku menepati janji ku kembali dengan selamat. Kau tidak mau melihat wajah ku? Aku sangat merindukan mu.”
“Maaf karena aku tidak bisa menahan air mata ku.” Ayu merasa bersalah Malik melihat dirinya menangis.
“Kenapa kau minta maaf, aku sudah bilang jangan menyembunyikan perasaan mu.” Ayu mengangguk. “Jangan bersedih, aku tidak akan pergi lagi. Aku akan selalu ada di sisi mu.”
“Janji ya Kak. Aku tidak bisa membayangkan jika harus hidup tanpa Kak Malik. Aku akan sangat sedih dan tidak tau tujuan hidup ku.” Malik menggenggam tangan Ayu yang gemetar.
“Jangan bicara tidak-tidak. Kau ini sangat bisa hidup mandiri. Kau bisa mengalahkan gadis-gadis manja yang terbiasa hidup di bawah kemakmurah keluarganya. Lihat dirimu, kau bisa hidup dengan mandiri tanpa merepotkan orang lain. Bahkan aku saja tidak pernah kau mintai pertolongan.” Ayu tersenyum.
__ADS_1
“Apa aku bisa, aku sangat takut. Aku tidak mau jauh dari Kak Malik. Aku sangat mencintai Kak Malik.” Malik tersenyum bahagia.
“Aku tidak dengar kalimat terakhir mu. Coba ucapkan lagi kalimat terakhir tadi.” Ayu tersipu malu, tanpa sadar dia menyatakan perasaannya pada Malik. Ayu menggeleng. “Ayo ulangi...aku ingin mendengarnya.” Malik merengek seperti anak kecil.
“Aku mencintai Kak Malik dengan segenap jiwa dan raga ku. Aku tidak akan mampu menjalani hidup tanpa Kak Malik.” Malik memeluk Ayu dengan penuh kebahagiaan. Baru kali ini dia melihat Ayu secara gentle mengakui perasaannya.
“Aku akan memberikan hadiah. Katakan apa yang saat ini kamu inginkan?” Ayu menggeleng.
“Aku hanya ingin Kak Malik ada di sisi ku selamanya.” Malik mencium bibir Ayu yang menggodanya.
Ayu sampai kehabisan hafas karena Malik menciumnya cukup lama. “Kau lupa bernafas? Hahahhahaha.....” Malik tertawa lepas karena wajah Ayu merah padam kehabisan nafas.
“Kau mencium ku secara tiba-tiba. Aku jadi tidak ada persiapan.” Malik semakin tertawa mendengar alasan Ayu yang klise.
“Kau benar-benar perempuan yang sangat aku cintai.” Malik tidak berhenti tertawa sampai Ayu kesal dan memukul dada Malik kesal.
Sandra dan Melani mengintip adegan mesra Malik dan Ayu diam-diam, namanya juga mengintip yah. Mereka tertawa dan saling pukul gemas melihat adegan nakal yang seharusnya tidak mereka lihat.
“Aku benar-benar ingin punya laki-laki seperti Kak Malik.” Melani meremas gemas tangan Sandra.
“Bukan hanya kamu, aku juga mau punya suami seperti Kak malik.” Timpal Sandra yang juga tidak mau kalah.
Ahhhh.......
Tawa jenaka keduanya mengundang rasa penasaran pada Jofan yang duduk di sofa memperhatikan mereka dari jauh. Jofan berjalan perlahan penasaran dengan apa yang dengan mereka lihat.
Mata Jofan melotot saat melihat Ayu sedang begrciuman dengan Malik. Jofan menjewer telina Sandra dan Melani. Menggeleng karena tidak percaya dua gadis nakal yang tidak tau malu melihat adegan mesra suami istri yang sednag bermesraan.
“Auhhhh....” Teriak Sandra dan Melani merasa kesakitan.
“Kalian kenapa nakal sekali. Apa tidak ada kegiatan lain yang bisa kalian lakukan.” Sandra dan Melani merungkuk ketakutan.
“Maaf...” Ucap Sandra pelan.
__ADS_1
“Masuk ke kamar sekarang!. Sebelum aku kehabisan kesabaran.” Sandra dan Melani lari terbirit-birit sambil tertawa meledek Jofan yang terlihat sangat kesal.
Sandra dan Melan tidak menghiraukan kemarahan Jofan. Hati mereka masih menggebu-gebu karena cinta luar biasa yang sedang mereka bayangkan akan ada di masa depan mereka. Jofan menggeleng tidak percaya sambil tersenyum gemas melihat tingkah jenaka Sandra dan Malik.